Say Hello

Say Hello
SH 35



Khai berniat menemui CEO TOP management agar menghentikan kekonyolan yang dilakukan oleh Celia. Namun belum sempat Khai melakukannya, Celia telah membuat kekacauan baru yang melibatkan Lea. Tak hanya Chan, tapi kelima member bahkan Pak Arsel dan Pak Sugara dibuat marah oleh Celia. Tindakan Celia kali ini benar-benar keterlaluan, ia sengaja memberitahu media mengenai latar belakang Lea. Akibat dari ulahnya, Lea manjadi incaran para wartawan.


Beberapa wartawan nampak mendatangi rumah Lea, bahkan Dayyan jadi tak bisa ke sekolah lantaran para wartawan itu tak bergerak sedikitpun dari rumah kontrakan mereka.


Untuk kesekian kalinya, Dayyan mengitip ke luar rumah, tapi keadaannya masih sama. Beberapa wartawan masih berada di pekarangan rumah. Dayyan mengepalkan tangan, wajahnya memerah karena kesal, meski tengah dipenuhi amarah, tapi ia tetap memikirkan keadaan kakak semata wayangnya. Sejak pagi, Lea mengurung diri di kamar.


Suara dering telepon membuat Dayyan tersadar, ia lantas menerima panggilan suara tersebut setelah melihat nama seseorang di layar ponselnya.


“Lama tak ada kabar, jadi hanya ini yang ingin ibu katakan?! Sungguh menyedihkan, kami punya ibu seperti Anda!” Ujar Dayyan sembari memutus telepon secara sepihak.


Dayyan menoleh, tersenyum lega melihat Lea yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. “Kak...” Panggilnya.


“Kenapa kau membentak ibu ? Kakak tidak pernah mengajarimu seperti itu, kan?!”


Dayyan diam sesaat, menarik napas dalam lalu berkata, “Wanita itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak menanyakan keadaan kakak. Dia menelepon karena lelaki itu merasa terganggu oleh wartawan yang mendatangi rumah mereka. Dia hanya ingin meminta kakak untuk menghentikan para wartawan itu” Terang Dayyan. Lea hanya diam, tak menanggapi perkataan Dayyan, bahkan tatapan matanya kosong.


Tak tega melihat kakaknya, Dayyan ingin mendatangi Chan agar membereskan kekacauan yang tengah terjadi, namun ia tak bisa meninggalkan Lea di rumah sendirian. Mau menelepon Chan juga percuma, lelaki itu tidak bisa dihubungi sejak sehari lalu.


Air mata jatuh begitu saja dari kedua sudut mata Lea. Ia sengaja keluar dari kamar karena mendengar suara Dayyan saat menelepon ibunya. Tapi, apa yang Lea harapkan ternyata salah. Ibunya menelepon bukan karena khawatir, melainkan ingin meminta Lea mengusir para wartawan lantaran ayah tirinya merasa terganggu.


“Kak...” Ujar Dayyan sambil mengusap pundak Lea, lalu memeluknya dengan erat. Dayyan benar-benar tak tega sekaligus kesal melihat keadaan kakaknya. Meski kakaknya tak mengatakan apa pun, tapi Dayyan tahu jika kakaknya merasa sakit hati dengan komentar buruk para penggemar Celia. Hujatan tak hanya diberikan kepada Lea, tapi juga kedua orang tuanya yang bahkan sudah berpisah sejak lama.


“Kenapa mereka jahat sekali...” Lirih Lea.


Dayyan mengusap air matanya yang mengalir, “Kakak jangan pedulikan mereka. Aku ada di sini untuk kakak” Ujar Dayyan.


Bagai jatuh tertimpa tangga, berita terbaru muncul dari media yang berhasil mewawancarai ibu tiri Lea. Berbeda dengan suami baru ibunya yang merasa terganggu dengan para wartawan, istri baru dari ayahnya justru meladeni para wartawan dengan senang hati. Ibu tirinya bahkan bersikap seolah sangat dekat dengan Lea, padahal hubungan mereka tidak baik sejak awal ayahnya menikahi ibu tirinya.


Dayyan mengusap wajah dengan kasar, “Sial!!! Kenapa wanita ini ikut campur!” Umpatnya. Lea hanya diam membaca artikel yang baru muncul itu, ia enggan menanggapi sikap ibu tirinya.


“Mereka benar-benar orang tua terburuk yang pernah ada di dunia. Ibu yang seharusnya menenangkan anaknya justru hanya memikirkan pria lain. Ayah yang malah mendukung kesalahan istrinya dari pada melindungi anak-anaknya. Sial... hidup menyebalkan!” Ujar Dayyan, sorot matanya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.


“Untuk sementara waktu, kakak jangan melihat sosial media. Bila perlu, jangan aktifkan nomor ponsel kakak” Titah Dayyan.


Lea menganggukkan kepala, energinya sudah habis karena memikirkan banyak hal. Mentalnya benar-benar dipermainkan saat ini.


“Kakak mau makan?” Tanya Dayyan. Lea hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab.


Dayyan menghela napas dalam, “Jika tidak ingin makan, istirahatlah. Kakak harus tetap sehat, hanya kakak yang kupunya di dunia ini” Ujarnya sambil kembali memeluk Lea.


Air mata yang sudah mengering, kini kembali berjatuhan saat mendengar perkataan Dayyan. Lea membalas pelukan adiknya sembari berkata lirih, “Maafkan kakak. Kau jadi tidak bisa ke sekolah karena kakak. Kita juga tidak bisa membuka toko, dan... kekurangan keluarga kita jadi bahan konsumsi publik saat ini”


“Kak Chan tidak mungkin sejahat itu pada kita. Dia juga tidak bisa muncul saat ini, setidaknya dia harus menunggu sampai keadaan sedikit normal” Ujar Lea. Meski kecewa pada Chan, tapi Lea percaya jika Chan tidak mungkin membiarkan hal ini terus berlarut. Tekanan yang Chan rasakan saat ini juga pasti sangat besar, dia juga tidak bisa bertindak gegabah.


“Kakak benar-benar menyukainya? Kenapa kakak tidak cerita sejak awal?” Tanya Dayyan.


Lea menarik napas, menghirup udara sebanyak yang ia bisa sebelum akhirnya berkata, “Kakak takut... kau tahu kan status sosial kak Chan bagaimana? Kakak merasa tidak percaya diri, itu sebabnya kakak meminta hubungan kami dirahasiakan, setidaknya sampai kakak mendapatkan pekerjaan” Lea menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Sejak awal memang tidak seharusnya begini. Kakak bukan putri di negeri dongeng, kakak hanyalah upik abu di dunia nyata”


Dayyan menggelengkan kepala, “Kakak adalah perempuan yang hebat, tidak akan kubiarkan orang lain berkata buruk tentang kakak. Tapi... bagaimana tanggapan kak Chayra dan Bu Cindy?” Tanya Dayyan hati-hati.


“Chayra marah pada kakak karena tidak memberitahunya sejak awal. Bu Cindy... entahlah, kami belum bertemu”


“Istirahatlah, kakak terlihat pucat” Titah Dayyan lagi, dan kali ini diikuti oleh Lea.


***SUN House***


Chan mengurut pelipis, pikirannya terus tertuju pada Lea. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Lea. Meski sudah mengirim orang untuk berjaga di dekat rumah Lea, namun ia tetap tak tenang jika belum melihat perempuan itu secara langsung. Ia ingin memastikan jika Lea dan Dayyan baik-baik saja saat ini.


“Ibumu meneleponku” Ujar Dza seraya menghampiri Chan.


Chan menoleh pada Dza, “Apa yang ibu katakan?” Tanyanya.


“Kenapa kau tak menjawab telepon ibumu? Chayra dan ibumu sangat khawatir, mereka sampai mau menyusul ke sini kalau saja tidak kularang” Terang Dza.


“Akh... aku sedang tidak ingin bicara apa-apa. Aku hanya ingin menemui Lea. Dia pasti ketakutan saat ini”


Dza menepuk pelan bahu Chan, “Bersabarlah sebentar. Setidaknya tunggu sampai kak Khai memberi kabar atau sampai Pak Sugara dan Pak Arsel mengizinkanmu untuk keluar”


Chan mengacak rambut dengan kasar, “Akh... aku sudah bosan diam di sini tanpa melakukan apa pun. Aku sudah biasa menjadi bahan pemberitaan, tapi tidak dengan Lea. Ini pertama kalinya dia mendapat perhatian publik, dia pasti terkejut membaca komentar kejam dari orang-orang yang menghujatnya. Aku yakin dia tidak baik-baik saja saat ini”


Dza memeluk Chan yang nampak frustrasi seperti orang kehilangan arah, “Semua akan baik-baik saja. Jangan lupakan kisah kak Khai dan Emira satu tahun lau. Kau dan Lea juga pasti bisa melaluinya”


Zhi dan Zal yang baru datang juga langsung berhambur memeluk Chan. Keempat lelaki itu saling tatap, meski tak ada sepatah kata yang keluar, namun mereka saling memahami perasaan masing-masing.


...***...


...Happy reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻❣


Terima kasih 🙏🏻🤗