Say Hello

Say Hello
SH 37



Lea membereskan meja makan setelah mengantar Dayyan hingga di ambang pintu. Adiknya akan pergi ke sekolah diantar oleh sopir pribadi Chan. Mulanya, Dayyan enggan ke sekolah lantaran tak mau meninggalkan Lea di apartemen hanya berdua dengan Chan, tapi ketika Chan mendapat telepon untuk rapat di kantor, ia jadi lega karena kakaknya tidak akan bersama lelaki itu sepanjang hari. Setidaknya, Dayyan lebih tenang jika kakaknya sendirian di apartemen dari pada berdua dengan Chan.


“Kau tak perlu repot-repot, aku bisa meminta orang untuk membersihkannya” Ujar Chan sambil berjalan mendekat pada Lea.


“Tidak apa-apa, aku sudah biasa berberes” Jawab Lea tanpa menoleh pada Chan, tangannya sibuk membereskan piring-piring kotor yang tadi mereka gunakan untuk sarapan.


Chan berdiri di samping Lea, memperhatikan gerakan cekat wanita itu, “Tapi aku merindukanmu...” Ujarnya dengan ekspresi memelas, mirip bocah yang sedang minta dibelikan mainan.


Lea menghentikan gerakannya, lalu menoleh pada Chan, “Sejak kapan kakak jadi pintar merayu begini?” Sedetik kemudian, ia meralat perkataannya, “Eh tidak... sejak awal memang kakak pintar merayu!”


Chan mengacak rambut Lea dengan gemas. Meski penampilannya sederhana, dan sangat jarang merias wajah, namun Lea memiliki aura positif yang membuatnya nampak menarik. Cara perpikir yang dewasa juga membuatnya semakin berkarisma. Bagi Chan, apa pun yang ada dalam diri Lea sangat menarik perhatiannya. Memang banyak perempuan yang lebih cantik dari Lea, tapi karakter yang dimiliki perempuan itu membuatnya terlihat bersinar dimata Chan.


Lea berdecak sambil merapikan kembali rambutnya, “Sudah jangan mengganggu, aku mau membereskan ini”


“Biar kubantu” Ujar Chan, lalu mengambil piring dari tangan Lea dan membawanya ke dapur.


Lea mengikuti Chan dari belakang, senyuman tersungging kala melihat lelaki itu hampir terpeleset kakinya sendiri.


“Aku bisa semakin dihujat karena sudah membuat artis terkenal mencuci piring. Sini, biar aku saja” Titah Lea sembari mengambil alih piring dari tangan Chan.


Chan mengulum senyum, “Kita seperti pengantin baru, ya” Ujarnya malu-malu.


Lea melirik lelaki di sampingnya, lalu mengibaskan tangan yang basah hingga airnya terpercik ke wajah Chan, “Aku tidak bisa berberes jika kakak terus di sini. Kakak kan ada rapat, lebih baik pergi ke kantor sekarang”


Chan mengusap wajahnya yang sedikit basah, “Tidak mau. Aku rela membatalkan semua jadwal agar tetap di rumah. Aku sudah membayangkan bisa serumah dengamu. Dan sekarang hal itu terjadi, masa aku mau menyianyiakan kesempatan”


Lea memutar kedua bola matanya, entah apa yang telah merasuki lelaki itu hingga menjadi budak cinta seperti remaja yang sedang kasmaran.


“Tuan harus ingat usia, jangan bertingkah kekanak-kanakan seperti ini!” Seru Lea.


“Jadi, kau mau aku bertingkah dewasa?” Tanya Chan sembari mengedipkan sebelah matanya.


Lea mundur selangkah, menghindari tatapan Chan. Ia paham jika Chan sudah mengedipkan mata, tandanya lelaki itu sedang berpikir untuk menjahilinya. Meski tahu Chan hanya menggodanya, tapi Lea tetap merasa malu bahkan wajahnya bisa memerah seperti udang rebus.


“Kau meminta pria dewasa bertingkah dewasa, kau benar-benar berani. Kau bisa dalam bahaya jika bicara seperti itu pada orang lain. Jadi, jangan bicara begitu selain padaku. Mengerti?”


Lea menganggukkan kepala, tak mau mendebat Chan. “Aku sudah paham. Sekarang, cepat pergilah ke kantor”


“Adegan dewasanya bagaimana?” Tanya Chan sambil tersenyum lebar bak iklan pasta gigi.


Lea mendengus kesal, lelaki itu benar-benar menguji kesabarannya. “Aku benar-benar akan memukul kakak jika terus saja bicara omong kosong!”


Chan memiringkan tubuh hingga wajahnya mendekat pada Lea, “Aku mau dipukul”


Lea berdecak, lalu mengambil sepatula yang ada didekatnya dan langsung memukul kening Chan, pukulan yang cukup keras membuat lelaki itu meringis sambil memegangi kening.


“Bisa-bisanya kau menganiaya artis tampan ini” Gerutu Chan, namun tidak digubris oleh Lea. Wanita itu justru tertawa puas.


Suara dering ponsel membuat keduanya terperanjat. Lea berlari kecil mengambil ponsel yang ada di atas meja makan.


“Siapa yang menelepon?” Tanya Chan.


“Kak Felix” Jawab Lea. Ia hendak menjauh dari Chan, tapi dengan cepat ditahan oleh lelaki itu.


“Jawab saja di sini, aku mau dengar apa yang akan dia katakan” Titah Chan, tanpa menunggu persetujuan Lea, ia sudah menjawab telepon tersebut dan menekan tombol pengeras suara agar bisa ikut mendengar pembicaraan Lea dan Felix.


Felix : “Lea... kau di mana? Apa kau baik-baik saja?”


Lea : “Iya, aku baik-baik saja. Ada apa kak?”


Chan ingin menjawab perkataan Felix tapi buru-buru dihalangi oleh Lea, hingga membuat lelaki itu menggerutu tak jelas.


Lea : “Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku”


Felix : “Jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku tidak keberatan jika kau mengandalkanku”


Lea : “Baiklah, terima kasih atas tawarannya. Ada hal yang harus kukerjakan, aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa”


Lea lantas memutus panggilan telepon karena jika tidak segera diakhiri, Chan benar-benar akan mengeluarkan kata-kata mutiara untuk Felix.


“Beraninya dia mengkhawatirkanmu? Hah... mengandalkannya?! Dia benar-benar ingin mati di tanganku!” Gerutu Chan.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku? Kau senang ya jika ada pria lain yang mengkhawatirkanmu?!” Ujar Chan lagi.


Lea hanya bisa menghela napas kala melihat Chan kembali bertingkah seperti bocah.


“Kakak cemburu pada kak Felix?”


“Kau bertanya karena ingin mengejekku, ya?” Bukannya menjawab, Chan justru ikut bertanya.


Tak mendapat jawaban dari Lea, Chan segera bergegas menuju ruang kerjanya. Sepuluh menit kemudian, lelaki itu keluar dengan pakaian yang sudah rapi.


“Mau ke mana?” Tanya Lea ketika Chan berjalan melaluinya.


“Membunuh Felix!” Jawab Chan asal.


Lea menggelengkan kepala sembari menatap Chan yang berjalan menjauh, lalu menghilang dari balik pintu.


Lima menit kemudian, pintu kembali terbuka. Lea menduga Chan kembali karena ingin mengambil barangnya yang tertinggal, tapi ternyata dugaannya salah.


“Apa ada barang kakak yang...” Lea tertegun, tak meneruskan perkataannya.


“Ternyata, kau sembunyi di sini?!” Tanya Chayra.


“Chay... aku bisa menjelaskan ini. Ayo, kita bicara”


Chayra menepis tangan Lea yang hendak menggandengnya.


“Aku datang karena ingin menemui kakakku, tapi sepertinya dia sedang tidak di rumah” Ujar Chayra, lalu melenggang dari hadapan Lea.


“Chay tunggu... tolong dengarkan dulu. Aku benar-benar minta maaf” Ujar Lea lirih.


Chayra diam sejenak, lalu dengan lantang berkata, “Kau tidak bersalah, akulah yang salah karena menganggapmu berbeda dari teman-temanku yang lain. Aku benar-benar tidak menyangka jika kau sama saja seperti mereka. Kau mendekatiku karena kak Chan, kan?! Karena dia artis dan CEO?! Kau sama saja seperti mereka!!!”


Lea menggelengkan kepala, “Tidak... kita bahkan sudah berteman sejak aku belum mengenal kakakmu”


Chayra berdecak, “Aku memang bodoh sampai bisa tertipu dengan wajah polosmu!” Ujarnya sambil berjalan menjauh, meninggalkan Lea yang masih terdiam di tempatnya.


...***...


...Happy reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗


Terima kasih 🙏🏻❣