Say Hello

Say Hello
SH 39



Pagi harinya, Chan pergi ke SUN house untuk bertemu para member, tak hanya membahas pekerjaan, tapi juga untuk menepati janjinya pada Lea. Jarak apartemen ke SUN house tidaklah jauh, sehingga tak sampai satu jam ia sudah tiba di depan bangunan berwarna serba putih tersebut.


Chan langsung menuju tempat parkir yang berada tepat di samping rumah utama atau asrama para member. Nampak empat mobil dengan merk dan warna yang berbeda telah berjejer rapi di sana, itu artinya masih ada satu member lagi yang belum datang.


Chan bersiap hendak meninggalkan tempat parkir setelah ikut menjejerkan mobilnya di antara mobil para member, namun langkahnya terhenti lantaran suara klakson mobil yang sangat nyaring. Ia menoleh, melihat ke arah seseorang yang kini melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.


Chan berdecak, “Dasar bocah gila!” Umpatnya pada member termuda SUN.


Jika Zhi mendengar umpatan Chan, sudah pasti ia akan membalasnya, tapi sayangnya member termuda SUN itu tidak mendengarnya karena sedang memarkirkan mobil. Kedua member itu lantas berjalan beriringan menuju rumah utama untuk bertemu keempat member lain.


.


.


Zhi tersenyum sumringah pada keempat member, “Selamat pagi para tuan muda” Sapanya sambil membungkuk.


“Kalian selalu saja datang terlambat!” Ujar Khai penuh penekanan.


Mendapat intimidasi dari keempat kakaknya, Zhi dan Chan malah tersenyum. Tanpa rasa bersalah, kedua member termuda itu langsung melahap roti panggang yang ada di atas meja.


“Baru juga sepuluh menit” Ucap Chan sambil menyilangkan ibu jari dan jari telunjuk membentuk simbol hati lalu diarahkan pada Khai.


Ez, Zal, dan Dza, menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua adiknya, sementara Khai hanya menyunggingkan senyuman.


“Bagaimana kabar Lea?” Tanya Zal pada Chan.


Chan menghabiskan roti bakarnya, menenggak sebotol air mineral yang tak tahu milik siapa, lalu berkata, “Dia sudah aman di apartemenku”


Kelima member terkejut mendengar jawaban Chan, tapi lelaki itu justru asyik memakan sepotong pizza.


“Siapa yang mengajarimu membawa perempuan ke apartemen?” Tanya Dza.


“Dia benar-benar mau membuktikan ucapannya sebagai playboy!” Seru Ez.


Khai menatap sinis pada Chan, “Bisa-bisanya kalian tinggal bersama!”


Zal menggelengkan kepala, “Kau benar-benar berani, ya” Ujarnya.


Zhi tersenyum lebar, dengan malu-malu berakta, “Jadi... apa yang kalian lakukan? Tidak mungkin kalian hanya menonton TV bersama”


Kelima member menoleh, lalu secara bersamaan menoyor kening Zhi.


“Diam kau bocah!” Titah Khai.


“Otakmu masih terlalu dangkal untuk tahu urusan orang dewasa!” Ez juga ikut bicara.


Zhi memegangi keningnya, kesal dengan perlakuan kelima member. Sementara, Zal, Dza, dan Chan justru tertawa senang.


Setelah diam sejenak, Chan akhirnya membuka suara, “Ada yang mengirim surat ancaman ke rumah Lea, bahkan kaca jendela rumahnya dilempar batu oleh orang tak dikenal, itu sebabnya aku meminta Lea dan adiknya tinggal di apartemenku untuk sementara waktu. Selain aku, dia tidak punya tempat untuk berlindung” Chan kembali diam, menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan, “Meski aku menyukainya, tapi aku bukan pria tidak bermoral yang tega mengambil sesuatu dari wanita” Ujar Chan lagi.


Kelima member menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari Chan. Mereka tahu jika Chan tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri dan orang lain.


“Ah, iya... bagaimana cara kakak menghentikan para media?” Tanya Zal sambil menoleh pada Khai.


“Kakek dari CEO TOP management adalah teman lama ayahku. TOP management tidak akan pernah ada tanpa bantuan dari kakek Mark. Aku hanya bicara pada ayah, lalu beliau langsung mengurusnya” Terang Khai sambil tersenyum bangga.


“Kekuatan tuan Madava memang tidak diragukan lagi” Ujar Dza diiringi tepuk tangan.


“Kenapa tidak meminta bantuan ayah kakak saat TOP management mengusik kita?” Tanya Zhi.


“Aku juga baru tahu setelah berbaikan dengan ayah” Jawab Khai.


Chan beranjak dari duduk, mendekat pada Khai, lalu memeluknya, “Terima kasih, kak” Ucapnya tulus.


Khai membalas pelukan Chan, “Jangan sungkan, kita harus saling membantu satu sama lain” Khai lantas memberi kode pada keempat member agar mendekat. Ketiga member menuruti Khai, namun Ez justru masih diam di tempatnya.


Keenam member saling merangkul hingga membentuk lingkaran. Bagi SUN, masalah satu member adalah masalah bersama, yang mana mereka juga akan memikirkan jalan keluarnya. Saling bergandengan dan menurunkan ego adalah kunci dari kekuatan SUN.


“Aku mau meminta bantuan untuk satu hal lagi” Ujar Chan.


Kelima member kompak menoleh ke arah Chan, memberi kode agar lelaki itu menyelesaikan ucapannya.


“Tolong, kak Dza bujuk Chayra agar mau memaafkan Lea. Dia marah karena mengira Lea menjadi temannya demi untuk mendekatiku. Dia juga kesal karena Lea tidak memberitahukan kedekatan kami sejak awal” Pinta Chan.


Zal, Ez, Zhi, dan Khai menoleh pada Dza, berharap member yang paling terkenal lembut itu mau membantu Chan. Semua member tahu jika Dza cukup dekat dengan Chayra lantaran sering menginap di rumah Chan saat libur.


Dza menganggukkan kepala menyetujui permintaan Chan. Keenam member tersenyum, lalu kembali merangkul satu sama lain.


.


.


Dza akan menemui Chayra untuk menepati janjinya pada Chan. Kini, lelaki itu tengah menunggu Chayra di sebuah kafe yang terletak dekat hotel KH. Dza sengaja meminta bertemu di kafe itu karena pemiliknya sudah mengenal para member SUN dengan baik dan bisa dipastikan jika tempat itu aman dari paparazzi. Setelah setengah jam menunggu, Chayra akhirnya muncul.


Dza melambaikan tangan agar wanita itu melihatnya.


“Maaf terlambat. Apa kakak sudah lama menunggu?” Tanya Chayra sembari menarik kursi yang ada di depan Dza, lalu duduk di sana.


Dza menggelengkan kepala, “Tidak. Minumlah, kau pasti lelah karena berlari” Ujarnya sambil menggeser segelas lemon tea ke arah Chayra. Dza sudah memesankan Chayra minuman karena tahu jika adik dari sahabatnya menyukai lemon tea.


Tanpa ragu, Chayra langsung meminumnya hingga tersisa setengah, “Terima kasih. Tapi, bagaimana kakak tahu jika aku berlari?”


“Kau berkeringat” Dza menunjuk kening Chayra, memberikan sapu tangan pada perempuan itu agar mengelap keringatnya.


Chayra tersenyum lebar, untuk kedua kalinya mengucapkan terima kasih pada sahabat kakaknya.


“Ada masalah apa sampai kakak meminta bertemu?” Tanya Chayra.


Dza diam sesaat, mencari kata-kata yang pas agar tidak menyinggung perasaan Chayra.


“Sebelumnya, aku minta maaf. Aku sama sekali tidak berniat ikut campur, atau mau membela satu pihak dan menyalahkan satu pihak lainnya. Tapi... bisakah kau memaafkan Lea?” Tanya Dza lirih.


Chayra diam, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Apa mereka yang meminta kakak menemuiku?”


“Tidak penting siapa yang meminta. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman agar kau tak kehilangan sahabat yang sangat kau sayangi” Ujar Dza.


Chayra senyum menyeringai, “Sahabat yang kusayang? Tidak ada sahabat yang tega membohongi sahabatnya seperti ini. Aku sangat percaya pada Lea, tapi dia justru merusak kepercayaan itu. Selama kami berteman, aku selalu memaklumi keadaannya, tapi tidak untuk kali ini”


“Aku tahu kau kecewa, tapi dia juga sangat tertekan dengan situasi yang terjadi belakangan ini. Lea adalah Tara, teman Chan di aplikasi ‘Say Hello’”


Mata Chayra membola sempurna mendengar perkataan Dza, “Kakak serius? Bagaimana bisa?” Tanyanya.


Dza menganggukkan kepala, “Mereka sudah saling menyukai meski belum pernah bertemu. Kau salah paham jika mengira Lea berteman denganmu karena ingin mendekati Chan. Justru Lea adalah perempuan yang menerima Chan apa adanya tanpa melihat status. Alasan Lea tidak memberitahumu mengenai hubungan mereka karena dia tidak percaya diri. Saat ini, dia sedang berjuang mencari pekerjaan agar kakakmu tidak diremehkan karena memiliki pasangan sepertinya. Dia ingin menjadi wanita yang pantas mendampingi Chan. Dia berjuang sendiri tanpa menerima bantuan dari kakakmu. Jadi, kau salah jika menganggapnya mendekati Chan karena profesi Chan sebagai artis ataupun CEO” Dza diam sesaat, lalu kembali bergeming, “Kau tahu kan, memiliki pasangan artis bukanlah hal mudah. Sekali ketahuan, kehidupanmu juga akan dikulik habis-habisan. Dia sangat sedih, bahkan sampai mengurung diri karena kau mendiamkannya”


Butiran bening jatuh dari kedua sudut mata Chayra. Dadanya terasa sesak mendengar penjelasan dari Dza. Padahal, ia tahu bagaimana rasanya jadi adik artis yang kerap diikuti paparazzi hingga terkadang membuatnya muak. Tapi, ia malah membiarkan sahabatnya mengalami hal yang sama sepertinya sendirian.


Dza beranjak dari duduk, lalu berdiri di samping Chayra sambil mengusap lembut pucuk kepala wanita itu, “Tidak apa-apa, semua sudah baik-baik saja sekarang. Temui Lea dan minta maaflah. Kalian harus berbaikan”


Chayra hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab perkataan Dza.


...***...


...Happy reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗


Terima kasih 🙏🏻❣