Say Hello

Say Hello
SH 41



Mendengar langkah kaki seseorang, Lea dan Chan mengira jika Chayra kembali lagi, “Kenapa kau kembali lagi?” Tanya Chan tanpa menoleh. Tak mendapat jawaban, Chan dan Lea lantas menoleh pada seseorang yang baru saja datang.


“Ah… kau sudah pulang?!” Ujar Chan. Seseorang yang baru datang itu ternyata Dayyan.


Lea menarik kursi di sampingnya, memberi komando agar Dayyan ikut bergabung, “Ayo, makan” Ajaknya, dan langsung diikuti oleh Dayyan.


“Karena kalian sudah berkumpul, ada yang ingin kusampaikan”


Chan dan Dayyan menatap Lea, menunggu perempuan itu menyelesaikan ucapannya.


“Aku mendapat undangan wawancara di perusahaan yang cukup besar” Ujar Lea sembari tersenyum sumringah.


“Benarkah? Kapan?” Tanya Chan antusias.


“Besok. Tolong, doakan aku agar semua berjalan lancar” Pinta Lea pada Chan dan Dayyan.


Dayyan menganggukkan kepala, “Tentu saja, aku pasti mendoakan kakak. Apa nama perusahaannya?” Tanya Dayyan.


“Namanya EM Fashion, salah satu Industri Konveksi milik Madava Group” Terang Lea.


Mata Dayyan berbinar mendengar penjelesan kakaknya. Madava Group adalah salah satu perusahaan besar yang cukup berpengaruh di dunia bisnis. “Wah... selamat kak, semoga semua berjalan lancar. Kakak memang keren” Ujar Dayyan.


Chan hanya diam mendengar penjelasan Lea. Ia ingin memberitahu jika Madava Group adalah perusahaan milik ayahnya Khai, namun jika mengatakannya, ia takut Lea akan berpikir kalau ia terlibat dalam proses wawancara tersebut.


Lea menggoyangkan lengan Chan agar tersadar dari lamunannya, “Kenapa kakak diam? Kakak tidak ingin memberiku selamat?” Tanyanya.


“Ah... iya, selamat. Akhirnya, kau mendapat kesempatan yang bagus” Ujar Chan gugup. Ia lantas ikut tersenyum melihat Lea dan Dayyan tersenyum sumringah.


***Keesokan Harinya***


Chan bersiul, matanya memperhatikan penampilan Lea yang nampak anggun dengan pakaian kerja, “Melihatmu begini, aku jadi khawatir”


“Khawatir kenapa?” Tanya Lea bingung.


“Jika nanti ada pria lain yang menyukaimu bagaimana?”


Lea tertawa melihat ekspresi polos lelaki di depannya, “Aku yang seharusnya lebih khawatir”


Chan mengubah posisi duduk agar bisa melihat Lea yang berjalan menuju meja makan mengambil air minum, “Kenapa?” Tanyanya kemudian.


“Seperempat wanita di bumi ini adalah penggemar kakak, bagaimana bisa aku tenang jika setiap hari mereka selalu melamar kakak?!”


Chan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan terus terang dari Lea, “Aku bisa menjaga hati, kau sudah membuktikannya sendiri, kan?”


“Walaupun begitu, tetap saja aku khawatir” Ujar Lea sembari berjalan menghampiri Chan.


“Aku sudah teruji, justru kaulah yang sulit dipercaya. Kau bahkan pernah kencan dengan Felix” Tutur Chan.


Kening Lea mengkerut hingga alisnya hampir bertaut, “Kencan?” Tanyanya.


Chan menganggukkan kepala, “Aku pernah melihatmu bertemu Felix di kafe, kalian terlihat akrab dan bahagia”


Lea diam sesaat, mencerna setiap perkataan Chan, setelah mengingat sesuatu, ia berkata “Oh... itu bukan kencan. Kak Felix hanya mengajak bertemu saja” Terangnya.


Chan mendengus, dengan tegas berkata, “Setiap kali kau memanggil Felix dengan sebutan ‘Kak’, telingaku terasa panas. Jadi, berhentilah memanggilnya kakak” Saking kesalnya, telinga Chan sampai memerah. Meski begitu, Lea justru tersenyum melihatnya.


“Tuan muda jangan kesal begitu, nanti kerutan di wajahmu semakin terlihat jelas. Aku akan berangkat sekarang, sampai bertemu nanti malam” Ujar Lea sembari mengedipkan mata.


Chan berdecak, “Kau berusaha merayuku? Dasar bocah...” Ujar Chan.


“Hati-hati, segera beri kabar jika sudah selesai wawancara” Ujar Chan lagi.


Lea menganggukkan kepala, “Baik” Jawabnya sambil melenggang dari hadapan Chan.


Di tempat parkir, sopir pribadi Chan sudah menunggu Lea. Lelaki itu meminta sopir pribadinya untuk mengantar Lea lantaran ia tak bisa mengantar karena harus menghadiri rapat di kantor dan akan latihan bersama para member. SUN akan mengadakan konser dalam waktu dekat, itu sebabnya ia harus lebih giat berlatih demi menunjukkan penampilan maksimal di depan ‘My Spring’.


.


.


Lea merapalkan doa sebelum memasuki ruangan yang ada di depannya saat ini. Berkali-kali ia menarik napas untuk mengurangi rasa gugup, lalu dengan yakin mengetuk pintu ruangan tersebut dan melangkah masuk setelah mendapat izin dari seseorang yang ada di dalam.


Kegugupan Lea hilang seketika kala lelaki paruh baya selaku HRD perusahaan tersebut tersenyum ramah menyambutnya. Meski tak banyak mengajukan pertanyaan, namun lelaki paruh baya itu memberi sinyal yang baik.


‘Aku akan memberitahu kak Chan saat di rumah nanti’ Ujar Lea sembari menyimpan kembali ponselnya dalam tas.


30 menit berlalu, Lea sudah tiba di apartemen yang belakangan ini menjadi tempat tinggalnya. Dengan penuh semangat, Lea langsung menuju dapur untuk memasak. Ia akan menyiapkan makanan spesial untuk makan malam.


Suara pintu terbuka, Dayyan pulang tepat saat semua menu telah tersusun rapi di atas meja. Lea menoleh, lalu kembali melanjutkan kegiatannya menyusun piring untuk makan malam.


“Sudah pulang? Cepat mandi dan kita makan malam bersama” Titah Lea.


Dayyan memperhatikan kakaknya yang terlihat sangat bahagia, “Apa hasilnya sesuai harapan kakak?” Tanyanya.


Lea menganggukkan kepala, “Eum...”


“Benarkah? Wah... selamat, kak”


“Terima kasih. Semoga ini adalah awal yang lebih baik untuk hidup kita” Ujar Lea tulus.


Dayyan menganggukkan kepala, “Iya. Nanti kakak harus menceritakan secara detail, aku mau mandi dulu” Ucap Dayyan, lalu berlari menuju kamarnya.


.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Dayyan dan Lea sudah duduk di ruang makan sejak tiga puluh menit lalu, namun Chan belum juga pulang. Ponselnya juga masih belum bisa dihubungi. Lea sedikit khawatir, tapi tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu kepulangan lelaki itu.


“Kau makan saja duluan” Ujar Lea pada Dayyan.


“Kakak tidak makan?”


Lea menggelengkan kepala, “Kakak belum lapar. Oh iya, apa kau sudah menentukan akan mendaftar ke universitas mana?”


Dayyan diam sejenak, menatap kakaknya secara diam-diam, “Apa tidak apa-apa jika aku kuliah tanpa beasiswa seperti kakak?” Tanyanya hati-hati.


“Tentu saja. Apa pun yang terjadi, kau tetap harus melanjutkan pendidikan ke universitas. Kakak juga sudah bekerja sekarang” Tegas Lea.


Dayyan menghela napas, “Baiklah. Terima kasih, kak” Ujar Dayyan tulus.


Selesai makan dan mengobrol bersama kakaknya, Dayyan langsung kembali ke kamar. Kini, perempuan itu beralih duduk di ruang TV menunggu Chan pulang. Ia juga memutar lagu milik SUN agar tak merasa bosan.


‘Seharian ini, dia tidak ada kabar sama sekali. Apa nantinya juga akan begini?... Yah, aku harus mulai terbiasa. Calon suamiku adalah orang penting, jadi aku harus memakluminya’ Gumam Lea sambil melihat Chan dari layar televisi.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, berulang kali Lea menguap karena menahan kantuk, namun ia enggan tidur selagi Chan belum pulang. Hingga tanpa terasa, ia akhirnya tertidur juga.


Suara pintu terbuka, Chan melenggang masuk tanpa melihat Lea yang sudah tertidur di sofa. Lelaki itu segera berbalik kala menyadari sesuatu.


‘Dia menungguku sampai tertidur di sini. Dasar bocah keras kepala’ Ujar Chan sambil berjalan mendekat pada Lea.


Lelaki itu memanggil Lea agar terbangun, namun sudah dipanggil berkali-kali, perempuan itu tetap tak bergeming.


Karena tak kunjung bangun, Chan berniat ingin memindahkan Lea ke kamar. Ia membungkuk, bersiap mengangkat Lea, namun perempuan itu justru terbangun dan langsung memukul wajah Chan karena terkejut.


“Akh...” Ujar Chan sambil memegang hidungnya.


Lea tersenyum lebar, “Maaf... tapi, kakak mau apa?” Tanyanya.


Chan mendengus, “Ak..” Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum menyeringai, “Aku mau tidur di sampingmu” Ujarnya santai.


Mata Lea membola sempurna, “Jangan macam-macam!”


“Kenapa?” Tanya Chan pelan.


Lea begidik melihat tatapan Chan yang menyeramkan, “Aku mau tidur” Ujarnya, lalu berlari dari hadapan Chan. Sialnya, Lea malah tersandung kakinya sendiri hingga membuatnya terjatuh.


Chan terkejut, lalu hendak membantu Lea, namun perempuan itu sudah berdiri tegap dan langsung berlari begitu saja tanpa mempedulikan panggilan lelaki itu. Chan tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat perempuan yang semakin jauh dari pandangannya.


...***...


...Happy Reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😘


Terima kasih🙏🏻🤗