Say Hello

Say Hello
SH 12



Sebelum meninggalkan toilet, Lea melihat pantulan dirinya di cermin. Gadis itu berputar sambil memperhatikan penampilannya. Menurutnya, tidak ada yang aneh sama sekali tapi penampilannya kerap dinilai tidak menarik. Sekali lagi, Lea menoleh ke kanan-kiri memperhatikan dengan detail wajahnya yang dihiasi riasan tipis. Lalu, tersenyum lebar dan mengambil potret dirinya di depan cermin.


Lea adalah gadis yang cuek dan sedikit tomboy, ia justru bersyukur jika banyak yang tidak tertarik dengannya, karena itu berarti ia terbebas dari lelaki hidung belang yang hanya menyukai fisik atau penampilan saja. Suara ponsel yang tiba-tiba berbunyi membuat Lea terkejut dan hampir menjatuhkan benda pipih itu.


‘Aku harus lembur agar besok bisa izin untuk ke kampus’ Ujar Lea setelah membaca pesan dari teman kuliahnya. Setelah menyimpan gawainya, Lea melenggang dengan santai keluar dari toilet.


Seperti yang telah Lea rencanakan, hari ini ia memutuskan untuk lembur karena besok harus menemui dosen pembimbing skripsinya. Lea menggeliat sembari menoleh sekeliling, rekan kerjanya telah menyelesaikan pekerjaan sejak satu jam lalu. Namun, ia masih harus memeriksa laporan keuangan yang masih tersisa satu dokumen lagi.


Lea mendongak, menatap seseorang yang baru saja meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja kerjanya, “Terima kasih” Ujar Lea sembari tersenyum.


Felix menganggukkan kepala, “Kenapa kau lembur hari ini?” Tanyanya.


“Aku mau menyelesaikan pemeriksaan laporan keuangan karena besok harus ke kampus” Jawab Lea, lalu menyeruput kopi pemberian Felix.


Felix menarik kursi kosong yang ada di dekatnya, lalu duduk bersampingan dengan Lea.


“Kakak juga lembur?” Tanya Lea.


“Tidak. Aku hanya menemani Pak Chan menyelesaikan pekerjaannya karena besok dia akan syuting seharian” Terang Felix.


Dari kejauhan, seseorang tengah memperhatikan Felix dan Lea yang asik mengobrol.


‘Sejak kapan mereka seakrab itu? Apa aku sudah melewatkan banyak hal dalam beberapa hari ini?’ Gumam Chan, lalu berjalan menghampiri kedua karyawannya.


“Dari tadi aku menunggumu, tapi kau malah asik mengobrol di sini” Ujar Chan sambil menatap Felix dan Lea secara bergantian.


“Kau sudah biasa lembur, sedangkan Lea baru pertama kali. Wajar jika aku lebih memilih untuk menemaninya” Jawab Felix dengan santai.


Chan berdecak sambil berkacak pinggang, “Ayo, pulang sekarang! Aku harus kembali ke SUN house”


“Tapi ini sudah malam, untuk apa lagi ke SUN house?” Tanya Felix. Pasalnya, ia tahu jika Chan dan member lain sudah tidak menetap lagi di SUN house. Mereka hanya sesekali menginap di sana.


“Jangan katakan, kau akan latihan. Benar begitu?” Felix kembali bertanya karena Chan hanya diam tak menjawab.


“Hah... kau memang gila kerja, ya?!” Cibir Felix lagi.


“Berhentilah mengomel seperti ibuku. Ayo, cepat!” Jawab Chan akhirnya. “Kau juga pulanglah, ini sudah malam” Ujar Chan dengan pelan namun terdengar jelas di telinga Lea.


“Baik” Ujar Lea, lalu menyimpan dokumen yang sudah diperiksa ke dalam laci dan menguncinya.


‘Apa tidak apa-apa jika dia bekerja terlalu keras begitu?’ Gumam Lea sambil melihat Chan yang berjalan menjauh diikuti Felix dari belakang. Menyadari perkataannya, Lea segera menutup mulut dengan kedua telapak tangan, ‘Kenapa aku peduli padanya?!’ Gumamnya lagi.


***SUN House***


“Terima kasih, aku masuk dulu” Ujar Chan setelah mobil yang dikendarai oleh Felix berhenti di depan SUN house.


Felix mengedipkan sebelah matanya sembari berkata, “Iya, jangan terlalu lama latihan. Anda juga harus istirahat, bos!”


Chan berdecak, merasa geli akan perkataan Felix, “Cepat pergi, kau menakutkan!” Jawab Chan, lalu melenggang meninggalkan Felix yang mulai melajukan mobilnya.


.


.


.


“Kakak sedang apa?” Tanya Chan sambil berjalan ke arah Zal yang tengah sibuk di dapur.


“Memasak mie instan, kau mau?” Tawar Zal.


Chan menganggukkan kepala, “Iya, aku mau” Jawabnya.


“Ku kira kau tidak akan datang” Ujar Zal, tangannya sibuk memotong sosis dan sayur sebagai pelengkap mie instan yang tengah di masaknya.


“Aku mau latihan”


Zal menoleh, menatap Chan yang juga menatapnya, “Ini sudah malam, berlatihlah besok pagi. Kau juga dari kantor, kan?” Tanyanya.


“Aku takut tidak maksimal saat syuting music video karena beberapa kali tidak ikut latihan” Chan berjalan mengambil gelas, mengisinya dengan air dingin lalu menenggaknya hingga habis tak tersisa.


“Meski takut, tapi kau juga harus istirahat. Ayo, makan selagi masih hangat” Ujar Zal sambil memberikan semangkuk mie buatannya pada Chan.


“Sejak kita tidak tinggal di sini, kakak semakin banyak berubah. Tidak merusak barang lagi dan jauh lebih hati-hati” Chan tersenyum dengan manis sebelum Zal memarahinya.


Chan mengekori Zal yang berjalan menuju meja makan, “Kakak tidak pulang hari ini?” Ujarnya lagi.


“Tidak, aku ingin menginap di sini malam ini”


Chan menganggukkan kepala, mengerti akan jawaban Zal, “Kalau kita menikah, kira-kira apa yang akan terjadi? Apa SUN akan berakhir?” Tanya Chan mengalihkan topik pembicaraan.


Zal terkejut mendengar perkataan Chan, bahkan ia hampir menyemburkan air yang baru saja diminumnya.


“Tidak akan terjadi. Meskipun kita menikah atau bahkan memiliki cucu, SUN tidak akan berakhir. SUN akan menjadi legenda walau hanya di dunia kita sendiri” Zal berkata dengan lirih pada kalimat terakhirnya.


“Sama seperti kak Khai. Jika kita memiliki keluarga, tentu kita akan pulang. Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu?” Zal kembali membuka suara.


Chan terdiam sejenak, menarik napas dalam lalu dihembuskan perlahan. “Aku... sepertinya, aku menyukai seseorang” Ucap Chan dengan lirih.


“Maksudmu, perempuan yang kau kenal di aplikasi itu?”


Chan menganggukkan kepala tanpa berkata-kata.


Zal mengusap wajah dengan kasar, “Bagaimana bisa kau menyukai orang yang tidak pernah kau temui?!” Tanyanya.


“Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya, hanya saja... aku merasa tenang jika bicara dengannya. Dia memperlakukanku sebagai Chan, bukan karena aku idol atau CEO” Terang Chan. Dan memang benar, Tara hanya menganggapnya sebagai Chan. Dia tidak peduli apa profesi lelaki itu, yang dia tahu, Chan adalah matahari untuknya.


“Ajaklah dia bertemu, setelah itu... kau bisa mengetahui apa kau benar-benar menyukainya atau hanya merasa nyaman sebagai teman” Titah Zal dan Chan hanya menganggukkan kepala menyetujui.


Setelah selesai makan, Chan datang ke studio untuk berlatih barang sejenak. Ia juga akan menginap di SUN house menemani Zal. Meski sedang berlatih, tapi pikirannya tidak bisa fokus karena terus teringat perkataan Zal. Chan memutuskan untuk istirahat sejenak dan setelah memikirkan dengan matang, ia akhirnya mengikuti saran dari Zal. Diambilnya gawai yang terletak di atas meja, lalu membuka aplikasi ‘Say Hello’ dan mencari riwayat percakapan di sana. Chan mengetik pesan untuk Tara setelah kembali meyakinkan diri.


Matahari :


“Apa kau sudah tidur?”


“Maaf, jika membuatmu tidak nyaman karena mengirim pesan tengah malam. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mengatakannya di sini. Apa besok kita bisa bertemu?”


“Aku janji tidak akan lama, hanya sepuluh menit saja. Apa kau mau?”


Chan menghela napas dalam karena sudah tiga puluh menit berlalu, namun pesannya belum juga terbalas, ‘Mungkin dia sudah tidur’ Gumamnya pelan.


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih🤗😘🙏🏻