Say Hello

Say Hello
SH 10



Lea mempercepat langkah kakinya agar tak ketinggalan bus. Ia pulang sedikit terlambat karena membantu petugas kebersihan membereskan ruang rapat. Hal itu ia lakukan karena tak tega melihat petugas kebersihan yang sudah berumur namun masih bekerja, sehingga hati nuraninya memaksa untuk membantu.


Suara klakson mobil menghentikan langkah kaki Lea. Perempuan itu menoleh, melihat Chan yang melambaikan tangan dari balik jendela mobil. Tanpa menunggu aba-aba, Lea segera mengitari mobil mewah berwarna hitam yang sedang menepi, membuka pintu di kursi samping kemudi, lalu duduk dengan nyaman di sana.


“Tangan Anda sudah sembuh?” Tanya Lea sambil memegang pergelangan tangan Chan yang sudah tidak terbungkus perban.


“Hmmm...” Chan refleks menarik tangannya karena terkejut dengan tindakan Lea yang tiba-tiba.


Lea pun ikut terkejut setelah menyadari kecerobohannya, “Maaf, saya benar-benar tidak sengaja” Ujarnya sambil tersenyum canggung.


“Ah, iya... ada yang ingin saya sampaikan pada Anda” Lea terdiam sejenak, menarik napas dalam sebelum akhirnya kembali melanjutkan kalimatnya, “Hari ini saya mengikuti rapat dengan lancar, meskipun awalnya sempat mengalami hal yang tak mengenakan”


Melihat Chan bingung sampai keningnya mengkerut, membuat Lea segera menjelaskan. “Kepala divisi keuangan dan asistennya yang bernama Yuna sepertinya tidak suka jika saya ikut rapat. Bahkan, mereka berkata bohong di depan kak Felix dengan mengatakan kalau akulah yang tidak mau mengikuti rapat hari ini. Tindakan mereka juga sangat mencurigakan. Sepertinya, mulai sekarang saya harus mengawasi kedua orang itu. Apa lagi, waktu yang Anda berikan hanya satu bulan” Lea terdiam beberapa detik, lalu kembali berkata, “Anda tidak perlu khawatir, saya akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa menemukan bukti kecurangan pada divisi keuangan. Percayakan saja pada saya” Lea berkata dengan optimis sambil menepuk pelan dadanya seolah ia adalah pejuang sejati.


Chan berdecak, “Aku punya dua pertanyaan untukmu. Pertama, siapa yang menyuruhmu masuk ke mobilku? Kedua, sejak kapan kau menjadi dekat dengan Felix sampai memanggilnya kakak?” Lelaki itu bertanya sambil menatap dengan lekat lawan bicaranya.


Lea menelan salivanya, menghela napas dalam lalu dihembuskan perlahan. Dalam hatinya, ia mengumpat Chan karena mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak penting. Padahal, ia sudah bicara panjang lebar tetapi Chan malah gagal fokus.


“Anda tadi melambaikan tangan, jadi saya kira Anda memanggil saya. Dan juga... bukankah kemarin Anda mengatakan akan mengganti uang bensin saat saya mengantar Anda ke lokasi syuting, jadi saya kira ini adalah gantinya” Tutur Lea dengan hati-hati.


Chan kembali berdecak, “Kau ini benar-benar tak mau rugi, ya?!” Tanyanya kemudian.


“Tentu saja. Lagi pula, memang ada orang yang mau rugi di dunia ini?”


Chan hanya menghela napas melihat ekspresi wajah Lea yang bertanya dengan polos.


“Kau belum menjawab pertanyaanku yang kedua?”


“Itu... apa pentingnya hal itu untuk Anda? Dia sendiri yang meminta untuk dipanggil kakak”


“Kau ini benar-benar, ya. Membuat kaget saja!” Ujar Chan karena Lea berkata dengan suara yang sedikit meninggi.


Melihat Lea hendak membuka pintu mobil, membuat Chan kembali bertanya, “Kau mau ke mana?”


“Untuk apa saya tetap di sini jika Anda tidak berniat mengantar pulang”


“Baiklah, anggap saja perkiraanmu tadi benar!” Ujar Chan, lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukannya. Sedang, Lea yang ada di kursi penumpang tersenyum girang karena bisa pulang dengan gratis.


Di tengah perjalanan, Lea tak bisa lagi menahan rasa laparnya hingga tanpa bisa dicegah cacing di perutnya berbunyi dan tentu saja hal itu membuat Chan tertawa.


“Apa kak Felix mu tidak memberi makanan saat rapat tadi? Atau memang perutmu yang seperti muatan truck?”


Lea hanya diam dan menatap keluar jendela, mengabaikan pertanyaan ejekan dari Chan.


“Baiklah... karena kau sudah bekerja dengan baik hari ini, jadi aku akan membelikanmu makanan”


Mata Lea berbinar mendengar ucapan Chan. Ia merasa bersyukur karena tidak hanya pulang dengan gratis tetapi juga mendapat makanan.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Chan memasuki kawasan restoran cepat saji. Lea menoleh ke luar jendela karena Chan terus melajukan mobilnya melewati parkiran.


“Kenapa tidak berhenti?”


“Aku akan menggunakan layanan pesan, kita bisa menjadi pusat perhatian jika masuk ke dalam”


Lea memutar bola matanya dengan malas, namun tidak memberikan komentar apa pun.


“Kau mau pesan apa?” Tanya Chan saat mobil mereka sampai di tempat pemesanan.


“Pesan apa saja, saya tidak pilih-pilih makanan” Jawab Lea sambil membungkuk karena mengambil gawainya yang jatuh. Ketika ia hendak membenarkan posisi duduknya, Chan justru menahan kepala gadis itu agar tetap membungkuk karena pelayan restoran tersebut adalah penggemar SUN.


“Apa yang Anda lakukan?! Anda berencana memutilasi saya, ya?” Tanya Lea saat pesanan mereka selesai dan mobil sudah menjauh dari restoran tersebut.


Chan tertawa mendengar tuduhan Lea, “Orang bodoh mana yang mau melakukan mutilasi di tempat ramai?! Lucu sekali kau ini”


Lea berdecak, menatap Chan dengan sebal, “Apa ini? Seorang CEO dan artis terkenal tapi hanya membelikan karyawan terbaiknya makanan cepat saji” Ejeknya.


Chan melotot pada Lea, “Kau ini benar-benar, ya?! Aku bisa saja mengajakmu makan di tempat yang paling mahal, tapi sekarang aku sedang buru-buru dan hanya restoran ini yang searah dengan rumahmu!”


“Jadi artis merepotkan, tapi hasilnya juga sesuai dengan apa yang dikorbankan” Ujar Lea mengalihkan pembicaraan.


“Eum, begitulah. Aku sudah terbiasa menjadi bahan pemberitaan, tapi kau pasti belum pernah. Jika tadi ada yang memfoto kita, kau pasti menjadi tidak nyaman karena media akan mencari tahu tentangmu, bahkan masa lalu dan keluargamu juga akan dikulik”


Lea menutup mulut dengan kedua telapak tangan untuk menahan tawa, “Apa Anda baru saja khawatir?” Ujarnya dengan sengaja menggoda Chan.


.


.


.


Setelah tiba di rumah, Lea mengajak Dayyan makan malam. Lalu mengobrol sebentar sebelum membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat.


Tiga puluh menit berlalu, tapi Lea masih terjaga. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk bermain ponsel barang sebentar. Ia membuka aplikasi ‘Say Hello’ dan mengirim pesan pada teman di dunia mayanya.


Tara :


“Hai. Apa kabar?”


Setelah mengetik pesan, Lea menekan lambang 'kirim' dengan sedikit ragu. Tapi, keraguannya hilang karena Matahari membalas pesannya dengan cepat.


Matahari :


“Hai. Kabarku baik. Kau bagaimana?”


“Sepertinya, akhir-akhir ini kau sangat sibuk”


Tara :


“Aku juga baik”


“Iya, aku sedikit sibuk😁”


Matahari :


“Jangan terlalu sibuk, nanti kau bisa sakit 😥”


Tara :


“Padahal, kau lebih sibuk tapi masih bisa berkata seperti itu🤔"


Matahari :


“Haha... kau sangat ingin menyadarkanku, ya”


“Maaf, aku ada pekerjaan. Nanti ku hubungi lagi, ya 😊”


Tara :


“Dasar raja sibuk 😅”


Setelah mengakhiri obrolannya, Lea bermaksud untuk tidur tapi tiba-tiba sebuah notifikasi muncul hingga membuatnya mengurungkan niat.


‘Padahal, aku tidak pernah mengikuti sosial medianya, tapi kenapa pemberitahuan siaran langsungnya muncul? Akh, pasti ini ulah Chayra’ Monolog Lea. Lalu, terpikir olehnya untuk menjahili Chan yang tengah melakukan siaran langsung. Setelah menekan tombol tonton, wajah Chan memenuhi layar ponsel Lea, hingga membuat gadis itu terkejut karena baru pertama kali menonton siaran langsung di media sosial.


Melihat interaksi Chan dan para penggemarnya membuat Lea terharu. Dibalik sikap Chan yang terkadang menyebalkan, ternyata dia benar-benar baik dan ramah. Chan juga berusaha menjawab semua pertanyaan dari para penggemarnya dengan sabar.


‘Chayra benar, walaupun jahil tapi kakaknya baik dan perhatian. Kalau diingat-ingat, dia juga tidak pernah marah sungguhan jika aku melakukan kesalahan’ Monolog Lea, lalu menekan tulisan ‘tinggalkan ruang’ pada layar ponselnya.


Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi kembali muncul. Nama BOSSAN tertulis dengan jelas di layar ponsel Lea. BOSSAN adalah nama yang Lea berikan untuk Chan. Ia memberi nama BOS karena Chan adalah bos di kantornya dan SAN (SUN) adalah ejaan dari nama grup milik Chan.


BOSSAN :


“Padahal, baru beberapa jam yang lalu kita bertemu, tapi kau sudah rindu sampai harus menonton siaran langsungku, ya?!”


Lea berdecak, bahkan keningnya mengkerut karena membaca pesan dari Chan, ‘Ku tarik kembali kata-kata pujian untuknya beberapa menit lalu’ Gumamnya kemudian.


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih🤗😘🙏🏻