
Saat jam istirahat, Lea pergi ke salah satu toko perhiasan yang letaknya tidak jauh dari kantor. Tabungannya tidak cukup untuk membayar uang sekolah adik serta membantu ibunya, sehingga ia terpaksa menggadaikan cincin peninggalan neneknya. Dalam hati, Lea berdoa supaya secepatnya bisa menebus kembali cincin tersebut. Sebenarnya, ia sangat sedih karena harus menggadaikan satu-satunya barang berharga miliknya, tapi demi adik dan ibunya, Lea rela melakukan apa saja.
Saat hendak keluar dari toko perhiasan, Lea melihat kepala divisi keuangan dan Yuna yang berjalan keluar dari toko perhiasan tersebut. Lea sengaja tak menyapa, ia justru menghindar agar kedua rekannya tidak menyadari keberadaannya. Setelah memastikan keduanya benar-benar pergi, Lea menghampiri salah satu karyawan yang tadi berbincang pada Yuna sebelum perempuan itu keluar dari toko.
“Permisi... apa saya boleh bertanya sesuatu?” Tanya Lea dengan hati-hati.
“Iya, apa yang ingin Anda tanyakan?”
“Perempuan yang baru saja keluar tadi...”
“Ibu Yuna, maksud Anda?” Tanya karyawan tersebut sebelum Lea menyelesaikan kalimatnya.
Lea menganggukkan kepala, “Benar, Anda mengenalnya?”
“Tentu saja. Beliau langganan di toko kami. Pacar beliau sangat baik, perhiasan apa pun yang Bu Yuna mau pasti langsung dibelikan” Karyawan tersebut berbisik pada Lea sambil menoleh sekitar, memastikan tak ada yang ikut mendengarnya.
Lea terkejut mendengar ucapa karyawan tersebut, “Pacar?!” Tanyanya memastikan.
“Iya, laki-laki tadi adalah pacar Bu Yuna” Menyadari sesuatu, karyawan tersebut segera menutup mulut dengan telapak tangan, “Maaf, tolong lupakan saja perkataan saya tadi” Ujarnya dengan panik.
“Jangan khawatir, saya berteman dengan Yuna. Tadi saya ingin menyapa, tapi karena kami sudah lama tidak bertemu jadi saya sedikit takut jika salah orang” Terang Lea sambil tersenyum dan karyawan toko tersebut juga ikut tersenyum lega.
.
.
.
Lea kembali ke kantor setelah urusan di toko perhiasan selesai. Namun, ia masih memikirkan perkataan karyawan toko perhiasan tersebut. Meskipun belum pernah memastikan secara langsung, tapi Lea pernah mendengar dari beberapa karyawan yang sedang bergosip jika kepala divisi keuangan sudah mempunyai istri dan dua anak.
‘Aku kan tidak tahu siapa istrinya, kalau ternyata dia memang istrinya, bisa malu aku karena sembarangan menuduh. Tapi... jika bukan dia, bukankah itu berarti... akh, entahlah’
“Istri siapa yang kau maksud?”
Suara seseorang membuat Lea tersentak, dengan cepat ia menoleh pada rekan kerja yang telah berdiri di sampingnya sambil membawa setumpuk dokumen.
“Jadi, istri siapa yang kau maksud?” Rekan kerja Lea yang bernama Lyli kembali mengulang pertanyaannya.
“Tidak ada. Tadi malam, saya membaca novel tentang konflik rumah tangga jadi tiba-tiba terpikir saja” Jawab Lea sembari tersenyum lebar.
Lyli menganggukkan kepala, “Baiklah. Oh iya, ini berkas laporan keuangan dua tahu terakhir yang kau minta kemarin” Ujarnya, lalu meletakkan dokumen tersebut di meja kerja Lea.
“Terima kasih. Eum... kak...”
“Kenapa lagi?” Potong Lyli sebelum Lea menyelesaikan kalimatnya.
Lea menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, ia ingin bertanya pada Lyli namun ragu dan khawatir jika rekan kerjanya akan salah paham.
“Kau mau bicara apa?” Lyli kembali bertanya.
“Apa Pak kepala divisi sudah menikah?” Tanya Lea memastikan.
Lea menggelengkan kepala, “Tidak, saya hanya ingin bertanya” Jawabnya kemudian.
“Sebenarnya, aku tidak perlu mengatakan ini. Tapi sesama wanita, kita harus saling mendukung dan melindungi. Kau harus berhati-hati pada kepala divisi, karena beliau sedikit mata keranjang. Tapi kau tidak perlu terlalu takut, karena penampilanmu biasa saja dan kau juga dekat dengan Pak Chan. Jadi besar kemungkinan, beliau tidak akan tertarik”
Mata Lea membola mendengar ucapan Lyli. Sungguh, rekan kerjanya itu sangat menyebalkan. Meskipun berkata jujur itu baik, tapi gaya bicaranya yang sombong membuat Lea kesal.
Tak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai kepala divisi, Lea justru bertanya hal lain, “Kenapa kakak berpikir bahwa saya dekat dengan Pak Chan?”
Lyli berdecak sembari berkacak pinggang, “Semua karyawan di kantor sudah tahu jika kau masih punya hubungan keluarga dengan Pak Chan, bahkan ada yang mengatakan bahwa kau adalah...”
“Apa?” Tanya Lea karena Lyli menggantung kalimatnya.
“Tapi, kau janga tersinggung. Aku hanya mendengarnya dan tidak tahu siapa yang menyebarkan pertama kali” Ujar Lyli meyakinkan.
“Iya, jadi apa yang ingin kakak katakan?”
“Ada yang mengatakan jika kau adalah anak dari asisten rumah tangga Pak Chan. Apa itu benar?” Tanya Lyli sambil tersenyum lebar dan mengangkat kedua jarinya membentuk simbol perdamaian.
Lea menghembuskan napas dengan kasar, tak habis pikir dengan para karyawan yang suka menyebar berita tanpa tahu kebenarannya.
“Sebenarnya, saya tidak perlu memberitahu ini. Tapi, saya ingin meluruskan agar tidak ada salah paham lagi. Saya tidak dekat dengan Pak Chan dan bukan juga anak dari asisten rumah tangganya. Karena kesalahan yang tidak sengaja saya lakukan, hingga membuat Pak Chan merasa dirugikan. Dan sebagai gantinya, beliau meminta saya bekerja di sini. Padahal, saya juga merasa dirugikan tapi dia malah tidak peduli dan hanya memikirkan diri sendiri!” Tutur Lea dengan kesal. Sementara, Lyli terkejut karena Lea berkata jujur tanpa rasa takut.
Lea mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum lebar, “Maaf, saya kelepasan bicara” Ujarnya.
“Bisa-bisanya kau mengumpat atasan saat masih di kantor. Tapi, aku suka kejujuranmu. Mulai sekarang, kita berteman dan jangan bicara formal lagi padaku. Karena itu sangat menggangu” Ujar Lyli, lalu mengangkat tangan Lea dan mengajaknya tos. Sedangkan, Lea menggelengkan kepala sambil menatap Lyli yang sudah berjalan menjauh dari meja kerjanya.
Lea membuka dokumen yang tadi dibawakan oleh Lyli selaku staf pemasaran. Baru beberapa lembar memeriksa berkas tersebut, ia sudah merasa tidak nyaman karena ingin buang air kecil. Dengan cepat, Lea berlari menuju toilet. Saat sedang buru-buru, ia malah melihat Chan, tentu saja Lea segera berbalik arah agar tidak bertemu dengan bosnya. Bukan tanpa alasan, Lea sengaja menghindar supaya tak mendengar ejekan Chan karena telah menonton siaran langsung pria itu.
‘Kenapa dia malah mengobrol di situ? Dia bahkan baru datang di siang hari, menjadi CEO memang bebas, ya?!’ Monolog Lea sembari mengamati Chan dari balik dinding.
Meski telah sepuluh menit berlalu, tapi Chan masih mengajak Felix mengobrol dan hal itu tentu membuat Lea semakin gusar.
‘Aku tidak peduli dia mau mengobrol berapa lama, tapi kenapa harus di tengah jalan begitu? Kalau saja ada jalan lain, pasti tidak akan menyedihkan seperti ini. Akh... membuat kesal saja’ Gerutu Lea yang sudah seperti cacing kepanasan.
Karena tak bisa lagi bertahan dan harus segera ke toilet, Lea memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Namun, ia kembali mengurungkan niat saat Chan berjalan ke arahnya. Lea menundukan kepala menatap lantai, berlagak tak melihat Chan.
“Ehmmm...”
Lea mendongak, menatap Chan yang kini berdiri di depannya. Mata Lea membola karena Chan mengedipkan sebelah matanya dan berlalu tanpa mengucapkan apa pun. Bahkan, Chan melambaikan tangan seolah tengah mengejek Lea.
‘Dia sengaja melakukannya karena tahu aku di sini sejak tadi. Kalau begitu, sia-sia saja aku berdiam diri sampai rasanya hampir mengompol. Entahlah, aku butuh toilet sekarang!’ Ujar Lea sambil berlari. Dari jauh, Chan tertawa melihat tingkah lucu Lea.
...***...
Happy reading...
Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih🤗😘🙏🏻