
Keesokan harinya, Lea berbelanja bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat bolu kukus. Kali ini, ia akan membuat berbagai rasa, mulai dari rasa original yang seperti bolu kukus zaman dulu sampai masa kini seperti tiramisu, keju, green tea, cokelat, dan strawberry.
Lea juga sudah membuat akun media sosial untuk mempromosikan dagangannya. Dayyan juga akan membantu Lea dengan cara membawa bolu kukus tersebut ke sekolah lalu menitipkannya di kantin.
Walaupun berjualan, Lea tetap semangat mencari pekerjaan. Sepulang dari mencari pekerjaan, Lea mulai membuat kue, lalu setelahnya menjual kue-kue tersebut di ruko yang ia sewa dengan harga murah karena pemilik ruko tersebut adalah pemilik rumah yang juga disewanya.
Lea tersenyum lega karena di hari pertama berjualan, bolu kukusnya sudah laku banyak. Beberapa pesanan melalui media sosial juga sudah Lea terima, meski tidak sebanyak pembeli secara langsung.
Sembari menunggu Dayyan menjemput, Lea membuka media sosial untuk kembali mempromosikan dagangannya. Tengah asyik mengunggah beberapa foto dan video, Lea mendapat pesanan dari seseorang dan memintanya untuk mengantar pesanan tersebut. Awalnya, Lea merasa senang dan siap mengantar sesuai permintaan pembeli, namun ia menjadi ragu saat tahu alamat yang akan dituju.
‘Inikan alamat apartemen Pak Chan’ Gumam Lea pelan. ‘Masa bodoh, toh bukan dia saja yang tinggal di sana’ Gumam Lea lagi.
Setelah Dayyan datang, Lea langsung mengajaknya mengantar pesanan ke alamat apartemen yang juga ditinggali oleh Chan.
Selang tiga puluh menit, Lea dan Dayyan sudah tiba di depan gedung mewah yang tinggi menjulang dengan gagah.
“Kau tunggu di sini saja, biar kakak yang masuk” Titah Lea sambil menenteng bolu kukus yang sudah dibungkus dengan rapi.
“Yakin tidak mau ditemani?” Tanya Dayyan meyakinkan.
“Iya” Jawab Lea sambil berlalu dari hadapan Dayyan.
Kali pertama bagi Lea memasuki apartemen tersebut. Sebelumnya, ia hanya tahu dari Chayra jika kakaknya tinggal di sini. Lea mencari letak pos keamanan untuk bertanya dan ternyata pemesan tersebut adalah petugas keamanan itu sendiri.
“Apa saya boleh menumpang ke toilet?” Tanya Lea yang sudah tak tahan lagi ingin buang air kecil.
“Silakan, tapi toilet di pos sedang rusak. Anda bisa ke toilet yang ada di tempat parkir” Ujar penjaga keamanan seraya menunjukkan letak toilet tersebut.
Lea melenggang mengikuti arahan dari lelaki paruh baya itu setelah mengucapkan terima kasih.
Seperti bocah yang mendapat mainan baru, Lea tersenyum sumringah saat menemukan letak toilet yang dicarinya. Lea terkejut karena melihat seseorang yang dikenalnya berjalan mendekat, ia segera sembunyi dibalik dinding. Lea diam terpaku saat melihat Chan dan Celia berjalan beriringan menuju mobil yang pernah ditumpanginya. Pikirannya mulai tidak tenang, banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan. Kenapa Celia ada di apartemen Chan? Kenapa mereka keluar bersama? Ke mana mereka akan pergi? Apa Chan sudah benar-benar menerima perjodohan itu? Kenapa Chan ataupun agensinya tidak membuat klarifikasi apa-apa?. Tanpa terasa butiran bening mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya.
‘Dasar bodoh! Mereka sangat serasi, kenapa aku jadi serakah begini?’ Gumam Lea, lalu beranjak dari tempat persembunyiannya.
Melihat Lea kembali dengan wajah yang tidak ceria seperti sebelumnya, petugas keamanan bertanya, “Apa kau sudah menemukan letak toiletnya?”
Lea hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Apa tadi terjadi sesuatu? Apa ada orang yang mengganggumu atau pintu toiletnya rusak?” Cecarnya lagi.
Lea menggelengkan kepala, “Saya baik-baik saja, terima kasih sudah bertanya dan memesan dagangan saya” Ujarnya, lalu berlalu meninggalkan petugas keamanan yang masih bingung namun tak berani lagi bertanya.
Sama seperti petugas keamanan, Dayyan juga bingung melihat Lea berjalan sambil melamun.
“Ada apa?” Tanya Dayyan.
Lea menggelengkan kepala, “Ayo, pulang” Serunya.
“Apa kakak sudah bertemu dengan pembelinya?”
Lea menganggukkan kepala, “Ayo, jalan” Ujarnya sambil menepuk pundak Dayyan yang mulai menghidupkan mesin sepeda motornya.
.
.
Lea membuka toko kuenya di pagi hari dengan penuh semangat. Ia tak mau terus-terusan terbawa perasaan oleh Chan.
‘Aku yakin, aku tidak menyukainya. Pasti hanya rasa kagum, bukan suka’ Ujar Lea meyakinkan diri sendiri.
Suara siulan membuat Lea menoleh karena terkejut, “Chay... membuat kaget saja”
Chayra tersenyum lebar, membuat mata sipitnya semakin tak terlihat, “Hari ini, aku mau membantumu sampai toko tutup”
Lea berdecak, “Apa kau sedang kabur?”
Chayra melotot, sedetik kemudian tersenyum sumringah seolah tanpa dosa, “Luar biasa... kau peka sekali”
Lea menggelengkan kepala, sudah paham akan sifat sahabatnya, “Kali ini kenapa lagi?” Tanyanya.
“Kakak tidak mengizinkanku kuliah di luar negeri. Padahal, aku sudah menepati janji untuk lulus tepat waktu. Aku tahu, nilaiku memang pas-pasan, tapi... yang penting kan aku sudah lulus sekarang” Keluh Chayra.
“Bagaimana ibumu? Apa beliau mengizinkan untuk kuliah di luar negeri?”
Chayra diam, nampak berpikir sejenak, lalu berkata “Asal kakak mengizinkan, ibu juga pasti setuju. Akh... dia memang menyebalkan. Ingin sekali aku menghajarnya”
“Benar, dia memang menyebalkan. Aku juga ingin menghajarnya sampai masuk rumah sakit!” Jawab Lea tanpa sadar.
Alis Chayra bertaut mendengar ucapan Lea, “Barusan, kau bilang apa?” Tanyanya.
“Hah?... Ak... aku kan membelamu. Bukankah, kau ingin menghajar kakakmu?!” Ujar Lea dengan kikuk.
Chayra langsung memeluk Lea dengan haru, “Kau memang paling memahamiku. Aku memang ingin menghajar kakak, tapi aku tidak rela jika orang lain yang melakukannya” Protesnya pada Lea.
Lea hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Walaupun sering bertengkar, tapi Chan adalah laki-laki yang sangat Chayra hormati. Chan bukan hanya kakak tapi juga ayah bagi Chayra.
“Kau harus bersyukur pada hidupmu. Di luar sana pasti banyak yang iri padamu. Dari pada sepertiku... aku berjuang sendirian, bahkan harus berjualan kue karena belum mendapat pekerjaan” Ujar Lea sambil tersenyum getir.
Chayra menatap Lea, ia jadi merasa bersalah karena telah membuat sahabatnya bersedih, “Maaf, aku tidak bermaksud...”
Belum selesai Chayra bicara, Lea lebih dulu bergeming, “Tidak apa-apa. Sekarang, bantu aku menyusun ini kalau mau dapat makan siang. Kau ke sini bukan hanya untuk menontonku berjualan, kan?”
Chayra berdecak, lalu mengambil nampan yang berisi bolu kukus dengan berbagai rasa dan menyusunnya di etalase.
.
.
Lea dan Dayyan pulang setelah mobil milik Chayra menjauh dari pandangan. Tentu saja Chayra tidak pulang dengan tangan kosong, Lea membawakan sekotak bolu kukus untuk Chayra dan ibunya. Karena sudah lelah, Lea langsung menuju kamar untuk istirahat setibanya di rumah. Sedari pagi, Lea sudah berbelanja bahan untuk membuat bolu kukus, lalu membuatnya sendiri, menjaga dan melayani pembeli sampai toko tutup.
‘Karena menjaga toko sambil mengobrol dengan Chayra, aku jadi tidak memeriksa ponsel hari ini’ Ujar Lea sambil mengambil benda pipih dari dalam tasnya.
Karena takut mempunyai perasaan pada Chan, Lea akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Matahari. Jika bertemu secara nyata, mungkin ia bisa lebih dekat dengan lelaki itu.
Tara :
“Hai”
Matahari :
“Wahhh... ada hal baik apa sampai kau menyapa begini?”
Tara :
“Hmmm... jangan mengajakku ribut”
Matahari :
“Hahaha... maafkan saya tuan putri, saya hanya bercanda”
“Ada apa?”
Tara :
“Apa kau besok ada waktu luang?”
Matahari :
“Sepertinya, aku cukup sibuk. Kenapa?”
Tara :
“Tadinya, aku ingin mengajak bertemu, tapi lupakan saja”
Matahari :
“Aku hanya bercanda. Aku punya banyak waktu luang besok”
“Ayo, bertemu”
Tara :
“Kau serius?”
“Jika memang tidak bisa, jangan dipaksakan”
Matahari :
“Aku benar-benar akan menjadi pengangguran besok. Makanya, ayo bertemu”
Tara :
“Hahaha... baiklah”
Matahari :
“Aku saja yang memilih tempatnya, bagaimana?”
“Tapi, kenapa tiba-tiba ingin bertemu?”
Tara :
“Iya, terserah kau saja”
“Aku ingin mengenalmu secara nyata, dan... aku tidak ingin punya perasaan pada mantan bosku. Aku ingin membuktikan bahwa aku hanya mengagumi bukan suka”
Matahari :
“Hotel KH, bagaimana?”
“Ternyata kau menjadikanku pelampiasan, ya?”
Tara :
“Hotel???...”
“Tidak. Aku benar-benar ingin berteman denganmu secara nyata karena kita tinggal di kota yang sama, jadi... kurasa tidak akan sulit jika berteman”
Matahari :
“Kau takut, ya?”
“Kalau begitu, bertemu di kafe seberang hotel KH saja”
“Iya, aku juga ingin lebih akrab denganmu”
Tara :
“Terima kasih. Aku mengantuk. Sampai bertemu besok”
Matahari :
“Selamat tidur, mimpilah yang indah”
...***...
...Happy Reading......
Jangan lupa bersyukur, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih 🙏🏻🤗