Say Hello

Say Hello
SH 27



‘Setelah ini, aku yakin kau hanya akan melihat ke arahku’ Gumam Chan penuh percaya diri. Ia beranjak dari tempatnya menuju lemari yang terdiri dari tiga bagian pintu kaca, lantas memilih baju yang akan dikenakan untuk bertemu Tara esok hari.


***Keesokan Harinya***


Lea melihat pantulan dirinya di cermin, meski hanya menggunakan riasan sederhana namun tetap terlihat menawan. Karena sering mendapat kritikan dari Chan mengenai penampilan, Lea jadi mengurangi sedikit ketomboyannya. Tidak sepenuhnya karena Chan, hanya saja setelah dipikir, apa yang lelaki itu katakan ada benarnya. Penampilan memang tidak selalu menggambarkan karakter seseorang dengan benar, namun tidak ada salahnya jika berpenampilan baik agar tidak diremehkan oleh orang lain.


Setelah yakin, Lea bergegas menuju tempat yang telah disepakatinya dengan Matahari. Tak sampai satu jam, ia sudah tiba di tempat tujuan. Lea mendongak, memastikan nama kafe itu benar seperti yang tertulis di layar ponselnya.


Sadar ada hal yang terlupakan, Lea segera menghubungi Matahari untuk menanyakan baju apa yang sedang dikenakan pria itu agar Lea bisa mengenalinya. Lea melangkah masuk ke dalam kafe dengan penuh percaya diri setelah mendapat balasan pesan dari Matahari.


Lea menjadi gugup saat berada di depan ruang VVIP yang sudah dipesan oleh Matahari. Meski begitu, ia akhirnya membuka pintu ruangan tersebut.


“Permisi... apa kau...” Lea tak mampu menyelesaikan ucapannya karena sangat terkejut melihat seseorang yang ada di depannya.


Tak beda jauh dengan ekspresi Lea, lelaki itu juga berulang kali mengerjapkan mata.


“Kau / Bapak” Ujar Lea dan Chan bersamaan.


“Yang benar saja? Jadi, kau...” Ucap Chan sambil mengcak rambutnya.


“Anda... Matahari???” Tanya Lea meyakinkan.


“Wahhh / Wahhh” Keduanya kembali berkata dengan kompak.


“Anda mempermainkan saya dengan mengaku sebagai Matahari?!” Tuduh Lea pada Chan.


Chan berdecak, “Bukankah kau yang sengaja mempermainkanku dengan mengaku sebagai Tara?!” Ujar Chan tak mau kalah.


“Jangan sembarangan menuduh. Jika tahu itu Anda, mana mungkin saya mau bertemu seperti ini!” Jawab Lea.


Chan kembali berdecak, “Kau adalah Tara? Akh... ini benar-benar gila!”


Lea menarik napas dalam dan menghembuskannya secara sembarang, “Kenapa Anda mengaku sebagai Matahari?”


“Matahari adalah nama lain dari grupku. Aku tidak menggunakan sembarang nama sepertimu!”


Lea melotot mendengar tuduhan Chan, ia benar-benar dibuat kesal dengan pria yang berkacak pinggang di depannya, “Saya juga menggunakan nama asli. Tara adalah kependekan dari Talea Amara”


“Akh... kenapa aku bodoh sekali?! Aku sama sekali tidak menyadarinya” Gumam Chan.


“Baguslah kalau sudah sadar” Ejek Lea.


Perdebatan keduanya terhenti karena seorang pramusaji datang membawakan makanan dan minuman yang sebelumnya sudah Chan pesan.


Chan mempersilakan Lea duduk sambil berkata, “Makanlah dulu, baru kita bicara lagi”


Lea menganggukkan kepala, menuruti perkataan lelaki yang ada di hadapannya. Entah lelaki itu Matahari atau Chan, Lea tidak peduli, ia hanya ingin makan karena perutnya sudah berbunyi sejak di perjalanan menuju ke kafe.


Tiga puluh menit berlalu, menu utama sudah kandas tak tersisa. Hanya makanan penutup yang masih utuh di atas meja. Chan dan Lea tersenyum sumringah karena merasa sudah kenyang, lalu tanpa disengaja, mata mereka bertemu, keduanya lantas memalingkan wajah secara bersamaan karena merasa canggung.


“Ehem... ayo, bicara” Ujar Chan lebih dulu. Sedangkan, Lea hanya menganggukkan kepala.


“Kenapa kau menggunakan aplikasi itu?” Tanya Chan.


“Saya hanya ingin mencari teman. Meskipun saya menggunakan nama Tara, tapi apa yang saya katakan di aplikasi itu tidak bohong”Terang Lea. “Anda kenapa menggunkan aplikasi itu, seperti kurang kerjaan saja?” Lea balik bertanya pada Chan.


“Jawabannya sama sepertimu. Dan... berhenti bicara formal denganku. Aku bukan bosmu lagi!” Ujar Chan, pria itu diam sejenak, lalu kembali bergeming, “Bos???” Chan lantas tersenyum sumringah, ide untuk menjahili Lea tiba-tiba muncul di kepalanya.


“Jadi sejak kapan?” Tanya Chan sambil tersenyum simpul.


“Kau menyukaiku sejak kapan?” Tanya Chan lagi.


Lea memalingkan wajah karena Chan terus menatapnya. Ia benar-benar malu karena Chan adalah Matahari, orang yang selama ini mendengarkan semua ceritanya.


“Bukankah tujuanmu mangajak bertemu karena ingin menyangkal kalau kau menyukaiku?”


Melihat ekspresi mengejek serta mendengar pertanyaan dari Chan, membuat Lea malu juga kesal. Namun, Lea tersenyum senang karena mengingat sesuatu. “Matahari juga menyukai Tara. Bahkan, Matahari lebih dulu mengakuinya. Apa Anda kenal dengan Matahari?” Sindir Lea.


Chan menjadi kikuk mendengar perkataan Lea. Apa yang perempuan itu katakan benar. Memang ia yang lebih dulu menyukai Tara dan mengajaknya bertemu.


Lea kembali menyindir Chan dengan berkata, “Hmmm... ini benar-benar mengejutkan. Matahari menyukai Tara yang ternyata adalah Lea”


“Dari pada mengejutkan, ini lebih membingungkan. Matahari menyukai Tara yang ternyata adalah Lea, sedangkan Lea menyukai Chan yang ternyata adalah Matahari. Itu berarti, kita saling menyukai” Ujar Chan dengan lantang.


Lea terbengong mendengar penuturan Chan yang sangat santai dan tanpa rasa canggung sedikit pun.


“Jangan bicara omong kosong, ini hanya salah paham saja. Karena pembicaraan sudah selesai, saya akan pulang sekarang” Ujar Lea, lalu beranjak dari kursinya.


Chan segera menahan Lea agar tidak keluar dari ruangan tersebut, “Jangan pergi sebelum selesai bicara!” Ujarnya.


“Apa lagi? Semua sudah dibicarakan. Saya adalah Tara dan Matahari adalah Anda”


“Hanya kau yang menganggap pembicaraan ini selesai, tapi aku belum. Jadi... kau tidak kuizinkan keluar!” Kali ini, Chan berkata dengan serius. Tatapan tajamnya membuat Lea terdiam dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan tersebut.


10 menit berlalu, tapi Chan tetap diam sambil terus menatap perempuan yang duduk di depannya. Entah apa yang sedang lelaki itu pikiran, yang pasti sikapnya telah membuat Lea geram.


"Mau diam sampai kapan? Padahal, tadi Anda sangat bersikeras menahan saya" Protes Lea.


Dengan ekspresi wajah serius, Chan bertanya, "Kau benar-benar menyukaiku?"


Lea diam, tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya, ia juga belum yakin dengan perasaannya saat ini.


"Aku sudah yakin dengan perasaanku" Ujar Chan lagi.


Sontak saja perkataan Chan membuat Lea terkejut sekaligus panik.


"Anda menyukai Tara bukan saya" Ucap Lea dengan pelan.


Chan mengusap wajah dengan kasar, "Sudah kukatakan, jangan bicara formal lagi. Atau... kau berniat menjadi karyawanku lagi?"


Dengan cepat Lea menggelengkan kepala, menolak perkataan Chan. "An... maksud sa.." Lea menjeda ucapannya, lalu menarik napas agar lebih tenang, "Kakak belum menjawab pertanyaanku" Ucapnya kemudian.


Chan menatap Lea dengan tatapan tak mengerti, "Tara dan Lea adalah orang yang sama" Ujarnya penuh penekanan.


"Jadi kesimpulannya..."


Chan menghela napas berkali-kali, dengan tegas berkata, "Jangan bertele-tele lagi, dengarkan baik-baik ucapanku. Aku menyukaimu, mau Lea atau Tara, bagiku sama saja"


Lea terbengong mendengar pengakuan Chan, ingin mengatakan sesuatu namun lidahnya kelu, otaknya juga belum bisa berpikir dengan jernih saat ini.


...***...


...Happy reading......


Jangan lupa bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih 🙏🏻🤗