Say Hello

Say Hello
SH 25



Chan mengusap wajah dengan kasar, pikirannya jadi kacau setelah mengakui rasa sukanya pada Tara. Entah apa yang akan perempuan itu pikirkan, Chan tidak peduli. Mau dianggap aneh bahkan gila sekalipun, ia tidak keberatan, yang penting Tara tetap mau berteman dengannya.


Ponsel Chan berbunyi, memberi tanda bahwa ada sebuah email yang baru saja diterimanya. Meski lesu, Chan tetap membaca email tersebut. ‘Akh, dasar tak tahu situasi. Perasaanku sedang kacau, kau malah minta tanda tangan. Kau kira, aku ini sapi perah?!’ Gerutu Chan.


3 Hari kemudian...


Chan diminta oleh ibunya untuk mengantarkan Celia pulang. Ibunya Chan sengaja mengundang Celia untuk makan malam bersama karena ingin mengenalkannya dengan Chan. Celia dan Chan bekerja di industri yang sama, besar kemungkinan mereka akan cepat akrab dan mudah memahi profesi masing-masing, itulah yang menjadi alasan ibunya Chan ingin menjodohkan keduanya.


.


.


Pagi hari, Chan sudah menuju kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena harus syuting dan melakukan pemotretan. Lelaki itu sengaja menyibukkan diri agar tidak terus berpikir tentang Tara. Karena sejak pengakuannya, Tara tidak lagi mengirim pesan, bahkan pesan yang dikirimnya hanya dibalas singkat, sangat beda dari biasanya.


‘Mau di kantor atau di rumah, tetap saja aku kepikiran. Akh!!!’ Chan mengoceh sambil melempar beberapa map yang ada di atas meja.


“Ada apa ini? Apa karirmu terancam?” Tanya Felix saat melihat map dengan beberapa warna berserakan di lantai.


“Kenapa kau tidak mengetuk pintu?” Bukannya menjawab, Chan malah balik bertanya.


Felix menunjukkan tangannya seraya berkata, “Sudah sepuluh kali aku mengetuknya. Tanganku sampai sakit”


“Kau belum menjawab pertanyaanku, karirmu benar-benar teracam karena berita ini, ya?”


Chan menaikkan sebelah alis, bingung akan pertanyaan lawan bicaranya. Ia lalu menarik ponsel yang ada di tangan Felix. Matanya melotot saat membaca tulisan yang tertera di layar ponsel milik Felix.


“Gila... padahal baru beberapa jam yang lalu, tapi sudah ada di berita!!! Apa mereka memasang CCTV di sepanjang jalan yang kulalui?!” Gumam Chan.


“Tuan adalah artis terkenal, apa tuan lupa?” Goda Felix.


Chan memelototi Felix yang telah menggodanya. “Ini tidak benar. Orang bodoh mana yang menulis berita sampah seperti ini?!”


Felix mengangkat kedua tangan, “Mana aku tahu. Media sekarang memang sangat kejam” Ujarnya.


Chan mengambil jas yang tadi diletakkannya secara sembarang di atas meja, lalu pergi setelah berpamitan pada Felix.


***SUN House***


Begitu keluar mobil, Chan bergegas masuk tanpa menoleh sekitar. Apa yang dipikirkannya benar, kelima member, Pak Arsel, dan Pak Sugara telah menunggu untuk meminta penjelasan darinya.


“Kau benar berkencan dengannya?” Tanya Pak Sugara tanpa basa-basi.


Chan menggelengkan kepala, “Mana mungkin aku berkencan tanpa memberitahu kalian lebih dulu. Dia adalah anak dari teman ibuku. Aku hanya mengantarnya pulang karena ibu yang menyuruh. Ibu memang berniat menjodohkan kami, tapi aku belum menerimanya” Terang Chan dengan serius.


“Apa kau tahu dia berada di agensi mana?” Tanya Pak Sugara lagi.


Chan kembali menggelengkan kepala, “Aku tidak sepenasaran itu tentangnya. Kami bahkan baru bertemu satu kali”


Tak hanya Chan, tapi kelima member juga sama terkejutnya. TOP management adalah salah satu agensi besar dan populer. Namun sayangnya, agensi tersebut tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Pak Arsel dan Pak Sugara lantaran pernah memperebutkan salah satu lagu SUN. TOP management pernah membuat berita dan menuntut SUN karena menggunakan karya dari salah satu kompeser agensi tersebut, tentu saja hal itu membuat Pak Sugara naik pitam dan menuntut pihak TOP management karena telah mencemarkan nama baik SUN. Meski berakhir dengan damai, tapi hubungan TOP management dan Pak Sugara tidak sebaik sebelumnya.


“Maafkan aku. Nanti akan kubicarakan hal ini pada ibu” Ujar Chan dengan pelan.


“Sudahlah, semua sudah terjadi. Kita masih banyak kerjaan, jadi lupakan saja berita ini” Ucap Pak Arsel sambil menunjuk layar ponselnya.


Sementara itu di tempat lain, Lea terkejut saat membaca berita yang muncul dibeberapa media. Ia ingin sekali mencari kebenarannya pada Chayra, namun logikanya menolak.


‘Ternyata perjodohannya berjalan lancar, ya? Pantas saja dia terasa semakin jauh’ Gumam Lea. ‘Baru saja menerima email jika lamaran kerjaku ditolak, sekarang malah berita seperti ini muncul. Apa hidupku memang semalang ini? Aku sudah lelah berharap pada apa pun, satu-satunya hal yang masih ingin kuharapkan adalah pasangan hidup. Tapi, sepertinya aku juga tidak bisa berharap soal itu. Lelaki mana yang bisa memaklumi kehidupan malang ini?’ Gumam Lea lagi.


Lea mengurut pelipisnya, dan kembali berkata, ‘Apa yang baru saja kukeluhkan? Bisa mengenal seorang bintang terkenal serta CEO perusahaan saja sudah baik. Jika bukan karena Chayra, mana mungkin aku mengenal orang sepenting itu’


Lea memupuk kembali semangatnya, ia membuka laptop dan mencari lowongan pekerjaan. Setelah menemukan beberapa pekerjaan yang cocok dengan kemampuannya, Lea segera mengirimkan surat lamaran. Sembari menunggu lamaran kerjanya mendapat respon dari pihak perusahaan, Lea kembali mengulang materi yang telah dipelajari saat masih kuliah.


Karena tidak melalukan apa pun, Lea jadi merasa jenuh. Mau bermain ponsel juga sudah bosan, terlebih lagi karena banyak berita mengenai Chan dan Celia. Lea lantas melenggang menuju dapur, membuat bolu kukus untuk cemilan Dayyan. Lea menggulung lengan baju, lalu mengikat rambut panjangnya agar bebas bergerak, dan mulai mengolah bahan yang sebelumnya telah ia siapkan. Berkat kecanggihan teknologi, Lea jadi tidak kesuliatan membuat bolu kukus yang bahkan baru pertama kali dibuatnya. Saat hendak membuat bolu kukus, Lea memasukkan semua bahan tanpa mengukurnya terlebih dulu, sehingga setelah matang hasilnya cukup banyak dan tidak akan habis jika hanya dimakan bersama Dayyan.


Lea akhirnya memutuskan untuk membagi bolu kukus tersebut pada para tetangga.


“Maaf jika rasanya tidak enak, saya baru pertama kali membuatnya” Ujar Lea jujur.


Wanita paruh baya itu mencicipi bolu kukus buatan Lea, lalu berkata, “Ini sangat enak untuk pemula. Jarang sekali ada anak muda yang mau membuat makanan zaman dulu seperti ini. Kalau kau menjualnya pasti akan laku”


“Benar, ibu-ibu seperti kami pasti akan membelinya dengan senang hati” Timbal seorang wanita paruh baya lagi.


“Kau hanya perlu mengembangkan rasanya, pasti akan laku keras. Anak-anak muda juga akan suka jika banyak pilihan rasanya”


“Kau bisa menjualnya di media sosial. Anak-anak zaman sekarang kan selalu bermain media sosial setiap saat”


Lea tersenyum, “Terima kasih atas saran dari ibu-ibu, tapi saya masih belum percaya diri untuk menjualnya” Jujurnya.


“Jangan ragu, coba saja dulu. Makanan yang dijual di aplikasi juga banyak yang tidak enak”


Pengakuan jujur dari wanita paruh baya itu membuat orang-orang yang mendengarnya tertawa.


Lea kembali ke rumah setelah berbincang dengan ibu-ibu yang tadi tengah berkumpul. Suasana hatinya jadi lebih baik setelah membuat kue dan sedikit mengobrol dengan beberapa tetangganya. Mungkin, apa yang dikatakan ibu-ibu tadi ada benarnya. Selagi menunggu lamaran kerjanya diterima, ia bisa berjualan agar tetap dapat penghasilan.


‘Karena uang kontrakan baru akan dibayar bulan depan, jadi aku bisa memakainya untuk modal. Kalau begitu... dalam sebulan, modal itu harus sudah kembali. Aku akan memulainya besok. Semangat, aku pasti bisa melakukannya’ Ujar Lea penuh keyakinan.


...***...


Happy reading...


Jangan lupa bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih 🙏🏻🤗