
Diperjalanan, Lea dan Chan tidak banyak bicara. Keduanya seolah tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Chan juga langsung pulang setelah mengantar Lea.
.
.
Di kamar yang tidak begitu luas, serta ranjang tua dengan ukuran sedang namun cukup lebar jika hanya digunakan sendiri, seorang gadis tengah mengurut pinggangnya menggunakan minyak urut ala orang tua.
‘Ahh... pinggangku sakit karena terlalu lama duduk’ Ujar Lea sembari merebahkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, ia meraih ponsel dari atas nakas, lalu memeriksa pesan yang baru saja di terimanya.
Matahari :
“Apa saja yang kau lakukan hari ini selain bekerja?”
“Ayo ceritakan”
Tara :
“Aku bertemu dua bocah yang sangat keren hingga membuatku kagum”
Matahari :
“Sepertinya memang sangat keren sampai bisa membuatmu terkagum”
“Aku jadi iri pada mereka...”
Tara :
“Kenapa kau iri?”
Matahari :
“Karena aku juga ingin dikagumi olehmu hahaha”
Tara :
“Yang benar saja, memangnya kau idol?”
Matahari :
“Jika aku benar-benar idol bagaimana? Apa kau percaya?”
Tara :
“Eum, aku sangat percaya. Aku akan jadi penggemarmu dan membentuk komunitas khusus untukmu hahaha”
Matahari :
“Wah... aku sangat berharap itu benar-benar terjadi”
Tara :
“Jangan bicara konyol. Menjadi idol itu bagus tapi sangat berat, lebih baik kita hidup tanpa dikenal banyak orang. Aku mengantuk, selamat tidur”
“Sampai besok”
Matahari :
“Iya, kau benar. Aku juga tidak pernah punya cita-cita menjadi idol saat kecil”
“Selamat istirahat 🤗"
Di tempat lain, tepatnya di kamar yang nyaman dengan nuansa klasik, Chan mengurut pelipisnya setelah membaca pesan terakhir dari Tara. Niat untuk memberitahu Tara mengenai profesinya semakin terkubur dalam. Tara sangat tertutup dan tak suka keramaian, sangat bertolak belakang dengan kehidupannya yang setiap hari selalu dipantau kamera.
***Pagi Harinya***
Sembari sarapan bersama, Lea menceritakan pada Dayyan tentang dua bocah yang ditemuinya semalam. Sesuai dugaan Lea, adiknya sangat antusias dan ingin bertemu dengan dua bocah tersebut. Lantas keduanya sepakat akan menemui dua bocah penjual koran itu di akhir pekan.
Selesai sarapan, Dayyan mengantar Lea bekerja sebelum berangkat ke sekolah. Sebenarnya, Dayyan juga bersedia menjemput Lea setiap pulang kerja, namun perempuan itu menolak dengan alasan tak ingin membuat Dayyan repot.
Tiba di persimpangan jalan yang tak jauh dari kantor, Lea melihat mobil kepala devisi keuangan tengah menepi. Mulanya, Lea bermaksud mengabaikan namun saat melihat seorang perempuan keluar dari mobil tersebut, ia jadi mengurungkan niatnya.
“Kak... sampai kapan kita berjalan sangat pelan begini?” Tanya Dayyan yang mulai kesal karena Lea memintanya untuk mengurangi kecepatan.
“Diam dulu, ini pekerjaan penting tahu!” Ujar Lea sambil menepuk pelan pundak adiknya. Sedangkan, Dayyan hanya bisa pasrah menuruti perkataan kakaknya meski sebenarnya ia khawatir akan terlambat ke sekolah.
“Memangnya siapa mereka?” Tanya Dayyan lagi.
“Orang yang kakak kenal. Ayo, cepat... kau sudah hampir terlambat, kan?” Ucap Lea sambil kembali menepuk pundak Dayyan agar mengikuti perkataannya.
.
.
“Ini data yang kau minta” Ujar Lyli sambil meletakkan dua buah dokumen di atas meja kerja Lea, membuat perempuan itu menghela napas karena terkejut.
“Terima kasih” Ucap Lea.
“Kau sudah menyelesaikan yang kemarin?”
Lea menoleh pada lawan bicaranya sambil menganggukkan kepala, “Iya”
“Wah... cepat juga, ya? Apa kau menemukan yang kau cari?”
Sebenarnya, Lea sudah menemukan titik terang, namun ia belum berani mengatakan pada siapa pun. Ia masih harus memeriksa beberapa dokumen lagi agar benar-benar yakin. “Aku masih berusaha mencarinya?” Jawab Lea kemudian.
“Hah... sudah kuduga. Baiklah, lanjutkan saja pekerjaanmu”
“Tunggu...”
Lyli menoleh pada Lea yang telah menghentikan langkahnya, “Kenapa lagi?” Tanyanya.
“Apa kakak tahu siapa istri kepala divisi keuangan?”
Lyli menyipitkan mata, seolah tengah mengintimidasi Lea.
“Tolong jangan menatap seperti itu. Saya hanya bertanya” Ujar Lea yang merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam rekannya.
“Kau bisa berhenti menyebut dirimu ‘saya’ tidak?! Jangan terlalu formal padaku” Bukannya menjawab, Lyli justru mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa kau ingin tahu istri kepala divisi?” Tanya Lyli lagi.
Lea diam sejenak, mencari jawaban agar tidak membuat Lyli curiga dan terus bertanya.
“Eum... sebenarnya...” Lea mendekat pada Lyli dan berkata dengan pelan, “Pak Chan akan mengadakan undian dan pemenangnya bisa mendapat tanda tangan serta melakukan panggilan video secara pribadi dengan beliau”
Dengan mata berbinar, Lyli berkata, “Kau tidak bohong kan? Bagaimana cara mengikuti undian itu? Aku juga mau mendaftar”
Berbeda dengan Lyli yang nampak senang, Lea justru panik karena Lyli memberitahu teman-temannya agar mengikuti undian itu juga.
“Terima kasih sudah memberikan info yang sangat penting. Tapi, apa hubungannya dengan istri kepala divisi?” Tanya Lyli masih dengan rasa penasarannya.
“Aku ingin memberi undangan khusus agar istri beliau ikut” Jawab Lea. Ya, tujuan Lea memang ingin memberi undangan pada istri kepala divisi agar tahu siapa istri kepala divisi sebenarnya sehingga ia tidak berpikir buruk pada Yuna.
“Kau mau cari muka, ya?”
Lea menggelengkan kepala, lalu menjelaskan, “Sama sekali tidak. Beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja mendengar para karyawan tengah bergosip di toilet dan mereka membahas tentang Pak Chan. Jadi... aku pikir tidak ada salahnya memberitahu secara khusus pada istri Pak kepala divisi. Mungkin saja... istri beliau salah satu penggemar Pak Chan”
“Terserah kau saja. Yang penting, aku tidak akan melepaskan kesempatan emas ini” Ujar Lyli dengan antusias. Suara Lyli yang kencang membuat karyawan lain berkumpul karena ingin mengikuti undian yang sebenarnya hanya karangan Lea.
“Kebetulan sekali, istriku juga penggemarnya Pak Chan. Aku bisa memberikan tiket undian itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Lea, aku juga mau ikut” Ujar salah seorang karyawan.
“Pacarku juga penggemar Pak Chan. Bahkan, dia yang mendaftarkanku bekerja di sini. Aku juga boleh ikut kan?” Tanya seorang karyawan lagi.
“Kami juga mau ikut” Seru tiga karyawan perempuan secara bersamaan.
Lea memukul kening, merutuki kebodohannya. ‘Akh... kepalaku jadi pusing! Kali ini, Pak Chan pasti benar-benar akan membunuhku!’ Gumamnya pelan.
“Jadi, bagaimana cara mengikuti undian itu?” Tanya Lyli lagi.
Lea menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, “Tulis saja nomor telepon dan alasan kenapa kalian mengagumi Pak Chan” Jawab Lea asal.
“Kami adalah penggemar SUN, tapi kenapa hal seperti ini tidak ada pemberitahuannya di komunitas?” Tanya seorang karyawan wanita, Lyli dan beberapa orang lainnya menganggukkan kepala menyetujui. Mereka juga menuntut penjelasan dari Lea.
Tak ingin menimbulkan salah paham, Lea akhirnya menjelaskan, “Tidak ada pemberitahuan karena Pak Chan yang meminta. Beliau sengaja melakukannya agar para karyawan mendapat kesempatan lebih besar. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin baik”
“Benar juga. Kalau begitu, ini nomor telepon dan alasanku mengagumi Pak Chan” Ujar karyawan tersebut, lalu tak beberapa lama menyerahkan selembar kertas yang sudah berisikan alasannya mengagumi Chan.
Tiga puluh menit berlalu, meja kerja Lea sudah dipenuhi kertas berisikan berbagai alasan dari para karyawan wanita dan pria yang mewakili istri atau pacar mereka. Dan sekarang, Lea jadi kebingungan karena tak tahu harus mengatakan apa pada Chan. Yang pasti, lelaki itu tidak akan dengan mudah menuruti permintaan konyol Lea. Tapi, apa pun yang terjadi... Lea sudah bertekad akan membuat Chan mau membantunya.
‘Inilah alasan kenapa berbohong itu dilarang. Aku jadi susah sendiri sekarang! Akh... benar-benar ya, kenapa mereka bisa sesuka itu pada pria seperti dia?’ Gumam Lea, lalu mengambil beberapa kertas dan membacanya. Beberapa menit kemudian, mata Lea membola, ‘Wah... ternyata Pak Chan sangat populer, ya. Bahkan, ada yang mengatakan dengan jujur bahwa alasannya bekerja di sini supaya bisa melihat wajah Pak Chan setiap hari. Ada juga yang mengatakan jika Pak Chan adalah suami idaman karena lembut dan manis. Yang benar saja, apa dia menyamakan Pak Chan dengan es krim?!’ Gumam Lea lagi, lalu menyimpan tumpukan kertas tersebut.
Sayangnya, Lea tidak tahu siapa penulis kata-kata aneh itu dikarenakan mereka hanya memberikan nomor telepon dan alasan mengagumi Chan tanpa memberitahu nama. Hal itu Lea lakukan karena tak ingin membuat karyawan malu atau merasa canggung jika Chan membacanya. Bagaimanapun juga, mereka harus tetap profesional dalam bekerja.
...***...
Happy reading...
Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih🤗😘🙏🏻