
Lea melambaikan tangan sembari menatap mobil yang dikendari oleh Chan menjauh dari pandangan. Perempuan itu lantas melenggang masuk ke rumah sambil bernyanyi riang persis bocah yang baru pulang dari taman wisata.
Dayyan memperhatikan Lea yang nampak senang, “Apa ada roh yang sedang mengikuti kakak? Dari tadi tersenyum terus” Ujarnya.
Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Lea justru bertanya, “Adikku tersayang ada di rumah rupanya. Apa kau sudah makan?”
Dayyan berdecak, merasa geli melihat kakaknya yang sedikit tomboy namun kali ini bertingkah imut, “Menggelikan! Lebih baik kakak cepat mandi dan tidur sana”
Lea tersenyum, “Baiklah yang mulia, akan hamba laksankan perintah yang mulia” Ujarnya, lalu melenggang dari hadapan Dayyan.
‘Menakutkan! Apa otaknya terbentur sesuatu?’ Gumam Dayyan.
Di kamarnya, Lea masih terjaga. Matanya enggan tertidur meskipun sudah hampir tengah malam. Secara bersamaan, ia merasa bahagia dan takut. Walaupun Chan sudah menepis semua keraguannya, namun bayang-bayang kesedihan tetap mengganggu pikirannya.
‘Karena sering mengalami kesulitan, aku jadi takut jika merasakan bahagia yang berlebihan’ Gumam Lea.
‘Tapi... aku juga tak ingin terus terpuruk pada perasaan ini. Aku harus hidup lebih baik’ Gumamnya lagi, lalu perlahan tertidur setelah lampu kamar dimatikan.
.
.
Selesai membersihkan toko, Lea menyusun bolu kukus di etalase sesuai jenis rasanya. Sambil menunggu pelanggan, ia membuka laptop untuk mencari info lowongan pekerjaan. Semangatnya semakin terpupuk karena mengingat Chan yang selalu memberi dukungan. Tak hanya berjuang untuk dirinya dan Dayyan, tapi kini ia juga berjuang untuk Chan. Lelaki yang siap menerima apa adanya, tanpa mempermasalahkan latar belakang. Bak cerita dongeng yang penuh drama, di era serba canggih dan banyaknya perempuan cantik, namun lelaki seperti Chan justru memilih Lea sebagai pasangan. Seperti kata pepatah, kesabaran akan memberikan hasil terbaik yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia.
Lea mengulang kembali materi kuliah yang pernah dipelajarinya setelah mengirim lima lamaran pekerjaan sekaligus melalui email. Sepuluh menit kemudian, kegiatannya terhenti oleh pelanggan yang ingin membeli bolu kukus.
“Saya senang membeli bolu kukus di sini” Ujar seorang nenek yang ada di depan Lea.
Lea tersenyum, “Nenek selalu datang sejak pertama saya membuka toko ini, terima kasih”
“Kau sangat ramah pada pelanggan, itu sebabnya saya senang kemari. Bolu kukus buatanmu juga enak” Sang nenek terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan perkataannya, “Saya sangat suka makan bolu kukus, tapi ketika saya pergi ke toko kue yang lebih besar dan terkenal, pelayan di sana memperlakukan saya dengan tidak baik karena pendengaran saya sudah berkurang. Pelayan muda itu kesal saat saya terus bertanya tentang bolu kukus mereka. Menjadi tua memang sulit, tapi orang tua juga pernah merasakan muda dan orang muda pun akan merasakan tua” Terang sang nenek dengan raut wajah bersedih.
Lea mengusap lembut lengan wanita tua di depannya, “Tidak apa-apa. Mungkin pelayan itu sedang lelah, makanya bersikap seperti itu. Jika nenek mau bertanya tentang bagaimana cara membuat bolu kukus ini, atau apa saja bahan untuk membuatnya, atau hal lain, nenek tanyakan saja pada saya”
Sang nenek tersenyum, “Ternyata benar kata pepatah, permata akan tetap menjadi permata di mana pun tempatnya. Meski toko ini kecil, tapi tetap lebih nyaman dari pada toko besar yang tidak bisa menghargai pelanggannya”
“Terima kasih. Besok, datanglah lagi. Saya akan buatkan bolu kukus khusus untuk nenek”
Sang nenek mengangguk dan berpamitan pada Lea, lalu berjalan menjauh dari pandangan.
Lea terperanjat karena suara dering telepon, buru-buru ia memeriksa ponselnya.
‘Ini kan alamat apartemen kak Chan. Apa penjaga keamanan itu memesan lagi? Tapi namanya berbeda’ Gumam Lea setelah membaca tulisan pada layar ponselnya.
Lea bergegas menyiapkan pesanan meski tak tahu persis siapa yang telah memesan dagangannya.
Setibanya di tempat tujuan, Lea langsung menemui penjaga keamanan yang menyambutnya dengan senyuman.
“Nona yang kemarin... saya tidak memesan karena sedang tidak punya uang” Ujar penjaga keamanan sembari tersenyum lebar.
“Kenapa nona ke sini?” Tanyanya.
Lea tesenyum mendengar kejujuran penjaga keamanan itu, “Saya mau mengantarkan pesanan ke unit ini” Terang Lea sambil menunjukkan ponselnya.
“Khusus untuk unit itu, biar saya saja yang mengantar”
“Kenapa?” Tanya Lea penasaran.
“Tidak sembarang orang diizinkan ke unit itu”
“Tapi pelanggan itu meminta agar saya yang mengantar langsung” Terang Lea, lalu menunjukkan pesan dari pelanggan tersebut.
Penjaga keamanan itu mengangguk, “Baiklah kalau beliau yang meminta, silakan” Ujarnya sambil mempersilakan Lea untuk masuk.
Setelah memastikan dengan benar, Lea mengirim pesan pada pelanggan tersebut jika ia sudah berada di depan huniannya. Tak lama kemudian, pelanggan itu keluar, Lea dibuat terkejut karena pelanggan itu menarik tangan Lea dan langsung menutup pintu begitu saja.
Lea hendak memukul lelaki di depannya, namun dengan cepat lelaki itu menangkis tangan Lea.
“Kakak... membuat takut saja” Kesal Lea pada Chan.
Chan tersenyum lebar, “Maaf. Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggu dari tadi"
“Mana bisa cepat, aku ke sini menggunakan kendaraan umum bukan pesawat pribadi”
Chan hanya tertawa mendengar ucapan Lea.
“Kakak sengaja melakukannya, kan?”
“Eum... aku sangat ingin menemuimu, tapi saat ini gerak gerikku sangat diawasi karena berita kencan dengan Celia. Aku jadi tidak bisa bebas” Ujar Chan dengan cemberut, persis bocah yang kehilangan mainan.
“Kenapa tidak membuat klarifikasi jika kalian tidak kencan?” Tanya Lea hati-hati.
Chan mengambil bolu kukus yang tadi Lea letakkan di atas meja, lalu memakannya dengan lahap, “Calon istriku pintar juga membuat kue rupanya” Ujar Chan sambil mengedipkan sebelah mata.
Lea menunduk, tak berani menatap Chan. Ia yakin wajahnya sudah memerah saat ini. Setiap Chan menyebutnya calon istri, Lea merasa senang tapi juga malu.
Lea menoleh sekitar, “Kakak tinggal sendirian di sini?”
Chan menganggukkan kepala, “Ya. Kau dan Dayyan tinggal di sini saja, aku juga jarang pulang”
“Jangan bicara hal yang tidak masuk akal” Sergah Lea.
Chan tersenyum, niat untuk menjahili Lea tiba-tiba muncul di kepalanya, “Kalau begitu, ayo kita lakukan hal yang masuk akal” Ujar Chan dengan pelan.
Lea menoleh, memperhatikan Chan yang mendekatinya, “A...apa maksudnya?”
Dalam hati, Chan tertawa puas melihat Lea gugup. Meski perempuan itu menutupi kegugupannya, namun sorot matanya tidak bisa berbohong.
“Awas saja kalau kakak berani macam-macam!”
“Aku tidak mau macam-macam, hanya satu macam saja” Ujar Chan yang semakin mendekat pada Lea.
Lea memalingkan wajah karena Chan semakin mendekat. Sebenarnya, Chan masih ingin menjahili perempuan di depannya, namun Chan tak bisa lagi menahan tawa, hingga akhirnya ia tertawa terbahak-bahak karena ekspresi Lea yang ketakutan.
“Dasar menyebalkan!” Umpat Lea sembari memukul lengan Chan.
“Kau kira aku akan melakukan apa?”
Lea hanya diam tak menjawab pertanyaan Chan.
Chan beranjak dari duduk sambil berkata, “Aku benar-benar percaya jika kau tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun”
“Kau mau minum apa?” Tanya Chan.
“Terserah” Jawab Lea.
Chan tersenyum, lalu melenggang meninggalkan Lea yang masih kesal.
‘Aku justru tidak percaya jika dia tidak pernah punya pacar’ Gumam Lea sambil menatap Chan dari jauh.
Beberapa menit kemudian, Chan kembali sambil membawa beberapa jenis soft drink dan air mineral.
“Kau bilang terserah, jadi kubawakan semua yang ada di dapur” Ujar Chan, lalu kembali duduk di samping Lea.
Lea mengambil sekaleng soft drink, lalu menenggaknya hingga tandas.
Chan terheran melihatnya, “Wah... calon istriku sangat mandiri, ya. Kebanyakan perempuan akan minta dibukakan meskipun bisa membukanya, tapi kau justru melakukannya sendiri” Ujarnya sambil bertepuk tangan.
“Jangan berlebihan, aku bukan bayi”
Chan tersenyum lebar, “Kalau bukan bayi, berarti kau bisa membuat bayi?”
Lea melotot, lalu melempar bantal yang ada di sofa hingga mengenai wajah Chan.
"Aku jadi benar-benar tidak percaya kalau kakak tidak pernah punya pacar!” Ucap Lea.
Chan tertawa terbahak-bahak, “Aku hanya begini saat bersamamu. Aku tidak bohong!”
Lea menarik napas, lalu menghembuskannya sembarang, “Aku mau pulang, daganganku masih tersisa banyak”
“Jangan pulang dulu... bayinya bagaimana?”
Lea kembali memukul Chan dengan bantal, “Bisa-bisanya aku menyukai orang gila ini!” Ujar Lea lalu beranjak dari sofa berwarna abu tua.
“Jangan terus-terusan serius, nanti kau cepat tua. Aku senang melihatmu bisa lebih berekspresi seperti ini” Ujar Chan dengan tulus.
Lea menganggukkan kepala, “Aku pulang dulu”
“Aku ingin mengantarmu, tapi tidak bisa... aku harus melakukan siaran langsung sekarang” Ujar Chan. “Kau hati-hati, ya. Langsung beri kabar jika sudah di rumah” Ujar Chan lagi.
Lea menautkan ibu jari dan jari telunjuk hingga membentuk lingkaran, “Ok” Ucapnya sembari berjalan menjauh dari Chan.
...***...
...Happy reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih 🙏🏻🤗