
Toko kembali dibuka setelah Lea pulang dari apartemen Chan. Lima menit setelah toko dibuka, beberapa pelanggan yang sudah menunggu langsung menyerbu bangunan kecil tersebut. Dengan senang hati dan penuh kesabaran, Lea meladeni semua pelanggannya. Meski terkadang ada pelanggan yang menyebalkan bahkan menguji kesabaran, namun Lea tetap berusaha tersenyum demi kenyamanan para pelanggannya.
‘Karena toko langsung ramai, aku jadi lupa memberi kabar kak Chan’ Ujar Lea sambil merogoh saku celana untuk mengambil benda pipih yang disimpannya.
Pesannya tak kunjung dibalas meski sudah lima menit berlalu, Lea akhirnya memutuskan untuk menonton siaran langsung Chan. Sebenarnya, Lea tak masalah jika Chan lama membalas pesan, Lea sangat memahami profesi Chan, namun niat untuk menjahili lelaki itu muncul begitu saja karena ia merasa bosan.
‘Kenapa mereka bisa menggoda laki-laki dengan mudah seperti ini?’
‘Bahkan ada yang mengajaknya menikah. Enak saja... kak Chan hanya akan menikah denganku!’
‘Wah... mereka pintar sekali merayu’
Lea mengomel sambil menonton siaran langsung yang dilakukan oleh Chan di sosial media. Ingin rasanya Lea membalas komentar para penggemar yang merayu Chan, namun ia tak mau membuat keributan yang bisa membuatnya rugi.
Lea kesal karena tengah asyik membaca komentar para penggemar Chan, namun tiba-tiba ada yang mengirim pesan hingga membuatnya harus menjeda kegiatan tersebut.
BOSSAN :
“Kau bisa kepikiran hingga tak tidur semalaman jika menonton siaran langsungku sampai akhir”
“Kusarankan, berhentilah”
LEA :
“Awas saja jika macam-macam”
BOSSAN :
“Kan sudah kukatakan, hanya satu macam 😁”
“Jangan khawatir, aku pintar menjaga perasaan”
LEA :
“Jangan terus mengirim pesan, perhatikan saja penggemar kakak. Anda harus profesional, tuan”
BOSSAN :
“Baik tuan putri”
“Akhir pekan aku libur, mau piknik bersama?”
LEA :
“Akan kupikirkan nanti”
BOSSAN :
“Aku tidak memberimu waktu untuk berpikir. Jika kau menolak, aku akan menyebut namamu dalam siaran langsung ini”
Lea menotot membaca pesan dari Chan. Pria itu benar-benar bisa membuatnya terkena serangan jantung tiba-tiba.
LEA :
“Baiklah”
“BOSSAN :
“🤗🤗🤗”
‘Pintar menjaga perasaan’ Ujar Lea membaca pesan dari Chan. Apa yang Chan katakan memang benar. Siaran langsungnya kali ini berbeda dengan siaran langsung yang pernah Lea tonton dulu. Saat dulu Lea menonton siaran langsung Chan, jumlah penontonnya mencapai tiga juta dan hampir semuanya adalah perempuan. Ketika ada penggemar yang merayu, Chan akan meresponnya dengan baik. Bahkan, Chan juga sering membalas rayuan penggemarnya. Tapi kali ini berbeda, Chan sama sekali tak memberikan respon atas rayuan penggemarnya, ia justru mengalihkan topik pembicaraan dengan mengajak para penggemarnya bermain game atau menceritakan sesuatu.
‘Terima kasih, kak’ Ucap Lea pelan.
Lea kembali memeriksa ponselnya setelah menyadari sesuatu. “Aku belum mengganti nama kontak kak Chan’ Ujarnya.
Perempuan itu diam sejenak, mencari nama yang cocok untuk mengganti nama kontak milik Chan. Setelah mengubahnya beberapa kali, Lea akhirnya tersenyum sumringah. ‘My Sunshine’ Ujarnya lagi, lalu menyimpan benda pipih itu dan kembali fokus pada pekerjaannya.
.
.
Setelah melihat pantulan dirinya di cermin dan mengambil tas yang tergantung di samping lembari kayu berwarna putih, Lea bergegas menemui Dayyan yang sudah menunggu. Hari ini, ia akan diantar oleh Dayyan menuju perusahaan yang mengundangnya untuk wawancara.
Semalaman, Lea mempersiapkan diri agar tak salah menjawab pertanyaan yang akan diberikan oleh HRD perusahaan tersebut.
Lea tetap optimis meski kandidat yang mengikuti wawancara tak hanya dirinya. Sembari menunggu giliran, Lea membaca buku yang ia pelajari semalam.
“Hai... apa aku boleh duduk di sini?” Tanya seorang wanita yang juga kandidat wawancara.
Lea menoleh pada wanita itu, lalu menganggukkan kepala, “Silakan” Ujarnya.
“Namaku Celia. Kau...?”
Dalam hati, Lea mengumpat karena nama kandidat itu sama dengan nama perempuan yang akan dijodohkan dengan Chan.
“Namaku Lea” Jawab Lea dengan singkat, lalu kembali fokus pada bacaannya.
“Apa ini pertama kalinya kau ikut wawancara?” Tanya kandidat itu lagi.
Lea kembali menganggukkan kepala, “Iya. Apa aku terlalu mencolok?”
“Tidak, hanya saja... kau membaca buku jadi aku bisa menebaknya dengan mudah”
Kening Lea mengkerut mendengar pernyataan kandidat itu, “Apa hubungannya?”
“Biasanya, orang-orang yang baru pertama kali mengikuti wawancara akan belajar selagi menunggu giliran”
“Berarti ini bukan pertama kalinya untukmu?” Tanya Lea.
Perempuan itu menganggukkan kepala, “Iya, ini sudah ke delapan kalinya aku ikut wawancara. Mencari pekerjaan sangat susah, meski sudah delapan kali, aku tetap saja gagal”
“Jangan menyerah meski susah. Semoga kali ini beruntung” Ujar Lea lalu meninggalkan kandidat tersebut karena gilirannya untuk wawancara sudah tiba.
‘Dia memberi semangat untuk saingannya. Sebenarnya, dia baik atau bodoh?’ Gumam kandidat perempuan itu sambil memperhatikan Lea dari jauh.
30 menit berlalu, Lea telah selesai melakukan wawancara. Tak ingin berlama-lama di sana, Lea segera beranjak menuju halte bus untuk pulang ke rumah. Untungnya, ia tak lama menunggu sampai bus tiba. Lea memilih bangku dekat jendela agar bisa bersandar. Pikirannya jadi kacau karena wawancaranya tidak berjalan dengan lancar. Di luar dugaan, apa yang telah dipelajarinya sama sekali tidak ada dalam pertanyaan saat wawancara.
‘Kenapa perusahaan itu aneh sekali! Mereka ingin kandidat yang berpengalaman, tapi bagaimana kami yang baru lulus bisa mendapat pengalaman jika tidak beri kesempatan untuk kerja! Jadi, aku harus bekerja dulu atau mencari pengalaman dulu?!’ Gerutu Lea sambil memejamkan mata.
Sudah hampir sebulan sejak ia membuka toko kue, tapi belum juga mendapat pekerjaan. Meski toko kue miliknya ramai pelanggan, tapi Lea ingin bekerja di perusahaan. Bukan hanya tentang uang atau hubungannya dengan Chan, tapi bekerja di perusahaan besar adalah cita-citanya sejak kecil.
‘Menyebalkan! Padahal ini di bus, tapi aku malah ingin menangis!’ Gumam Lea pelan dengan mata yang masih tertutup.
.
.
“Dayyan, buka pintunya” Lea sedikit berteriak agar terdengar oleh adiknya.
Tak sampai lima menit, pintu sudah terbuka. Lea masuk setelah mengucap salam.
“Kenapa tidak memintaku untuk menjemput kakak? Hasilnya bagaimana?” Tanya Dayyan dengan antusias.
Lea menarik napas sebelum akhirnya berkata, “Tidak ada hal baik yang bisa diceritakan”
Dayyan menganggukkan kepala, “Tidak apa-apa, kakak bisa mencari kerja di tempat lain. Mandilah, biar aku yang menyiapkan makan malam” Ujar Dayyan.
Dengan pelan, Lea berkata, “Maafkan kakak”
Dayyan menatap lekat pada kakaknya, “Kenapa minta maaf? Kakak tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku yang harusnya minta maaf karena terus menjadi beban” Dayyan menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Sebentar lagi, kakak pasti bisa mendapat pekerjaan. Bersabarlah sebentar”
Lea tersenyum, “Ah... adikku sudah dewasa. Nantinya, kau yang harus mengurus kakakmu ini” Ujarnya sambil mengusap pucuk kepala Dayyan.
Dayyan tersenyum, “Jangan terus menganggapku anak kecil. Sekarang mandilah dan ayo makan. Aku kelaparan karena menunggu kakak”
Lea berdecak, “Baiklah, awas saja jika masakanmu tidak enak!”
Dayyan tertawa melihat ekspresi kesal kakaknya, sementara Lea juga tertawa melihat adik kecilnya sudah tumbuh dengan baik.
...***...
...Happy reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih🙏🏻🤗