
Dari kejauhan, Dayyan melihat Chan berjalan menghampiri mereka sambil dikelilingi beberapa orang yang ternyata penggemar SUN.
“Itu kak Chan...”
Ucapan Dayyan membuat Lea, Chayra, serta ibunya menoleh bersamaan.
Senyum Chayra mengembang melihat kakaknya semakin mendekat, “Aku sudah tahu kalau kakak pasti datang”
“Kau bisa membuat kehebohan jika begini” Ujar wanita paruh baya itu sambil tersenyum pada penggemar anaknya.
Chan sedikit membungkuk, lalu berbisik pada ibunya, “Aku juga tidak tahu akan jadi seheboh ini. Saat ke sini, aku sudah diam-diam”
“Hei... kenapa kau cemberut? Aku sudah di sini, kan?” Tanya Chan pada Chayra.
“Semua orang jadi mau berfoto dengan kakak, padahal aku yang seharusnya jadi bintang utama”
Chan tertawa mendengar keluhan adiknya. Ia merangkul adik semata wayangnya, sambil berkata, “Ayo foto, aku tidak punya banyak waktu”
Chan, Chayra, serta ibunya lantas berfoto bersama. Tak lupa, Chayra juga mengajak Lea dan Dayyan ikut serta. Setelah mengambil beberapa foto, ibunya Chayra yang tidak mengetahui perang dingin antara anak sulungnya dengan Lea, meminta keduanya foto bersama. Lea ingin menolak karena Chan tidak menyapanya sama sekali, namun saat hendak menghindar, Chan justru menarik tangan Lea dan akhirnya mereka foto bersama.
Penggemar Chan semakin ramai, sehingga lelaki itu bergegas meninggalkan lokasi kelulusan adiknya agar tak membuat heboh.
Lea menatap punggung Chan yang semakin menjauh sambil bergumam, ‘Ternyata, aku yang terlalu berharap. Mana mungkin dia datang untuk minta maaf, menyapapun tidak. Baiklah, aku juga akan membuktikan jika ucapannya tidak benar sama sekali. Aku akan menjadi sukses dengan jalanku sendiri’
.
.
Lea dan Dayyan kembali ke rumah setelah acara kelulusan selesai. Sebuah notifikasi dari gawainya membuat Lea tersenyum antusias, tapi seketika senyumnya memudar.
“Ada apa?” Tanya Dayyan.
Lea menggelengkan kepala, “Aku pikir ibu atau ayah yang mengirim pesan” Ujarnya lirih.
Dayyan menghela napas, “Jangan mengharapkan apa pun dari mereka, sekalipun hanya kata-kata” Ujarnya, lalu melenggang menuju kamar, meninggalkan Lea yang masih duduk di ruang tamu.
Lea memaklumi sikap Dayyan, rasa kecewa adiknya pada kedua orang tuanya masih melekat sampai saat ini. Meski demikian, Lea selalu berdo’a agar Dayyan mau menerima takdir yang sudah terjadi. Kelurganya memang tidak akan pernah kembali utuh seperti dulu, tapi setidaknya mereka bisa hidup tanpa saling membenci.
Mengingat sesuatu, Lea segera memeriksa gawai yang tergeletak di meja. Sebuah pesan dari Matahari.
Matahari :
“Selamat atas kelulusannya. Kau pasti menjadi lulusan terbaik”
Tara :
“Terima kasih, bagaimana kau bisa tahu?”
Matahari :
“Kau kan pintar dan rajin belajar. Usahamu tidak akan sia-sia, kedepannya juga pasti begitu”
Tara :
“Terima kasih sudah sangat percaya dan mendukungku 😊”
Matahari :
“Aku akan selalu berada di garis terdepan untukmu, jadi... coba lihatlah ke arahku”
Tara :
“Apa maksudnya?”
Matahari :
‘Andai yang bicara seperti ini adalah Pak Chan, aku pasti...’ Menyadari dengan apa yang diucapkan, Lea langsung memukul keningnya dengan geram.
‘Bisa-bisanya aku menyamakan orang baik seperti Matahari dengan orang jahat, aku pasti sudah sangat lelah sampai melantur seperti ini’ Gumam Lea.
***Keesokan Harinya***
Seorang perempuan tengah bersiap untuk mencari pekerjaan. Berpenampilan rapi, senyum yang mengembang, serta semangat yang seolah tidak ada habisnya. Pertama, Lea akan mengajukan lamaran ke perusahaan yang besar, lalu perusahaan menengah, hingga perusahaan rintisan atau start-up.
Lea beristirahat di sebuah kafe setelah hampir seharian berkeliling, tak hanya mengajukan lamaran secara langsung tapi ia juga mengajukan lamaran melalui berbagai media.
‘Hari ini sudah dua puluh perusahaan yang kudatangi, dan lima belas perusahaan yang kukirimkan lamaran melalui email. Sebelum uang tabunganku habis, aku harus sudah mendapatkan pekerjaan. Uang sekolah Dayyan juga harus dibayar. Semangat Lea’ Ujar Lea memberi semangat pada diri sendiri.
“Selamat menikmati” Ujar seorang pramusaji sembari meletakkan pesanan Lea di atas meja.
Lea tersenyum ramah, “Terima kasih” Ujarnya.
Pramusaji itupun berpamitan dan berlalu dari tempat Lea duduk.
Saat hendak menikmati makanannya, seseorang yang tak dikenal menghampiri Lea dan meminta izin untuk duduk bersama karena kafe tersebut sudah dipenuhi pengunjung lain.
“Maaf, aku jadi membuatmu tidak nyaman” Ujar perempuan asing itu.
Lea menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa. Lagi pula, aku juga sendirian”
Perempuan itu tersenyum ramah. Melihat amplop cokelat yang ada di atas meja, perempuan itu kembali bicara, “Apa kau juga sedang mencari pekerjaan?”
“Iya” Jawab Lea sambil menganggukkan kepala.
“Hah... sekarang ini sangat sulit mencari perkerjaan tanpa relasi. Aku sudah lima bulan yang lalu lulus dari universitas, tapi sampai saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. Padahal, nilaiku tergolong tinggi saat kelulusan. Temanku yang saat kuliah dan lulus dengan nilai yang biasa saja, justru sudah menjadi karyawan di perusahaan besar. Dia bisa dengan mudah medapat pekerjaan karena bantuan dari orang tuanya” Terang perempuan itu dengan lesu.
“Hidup kadang tidak adil, tapi kita tidak boleh menyerah. Aku percaya jika masih ada perusahaan yang mencari karyawan dengan cara yang murni” Ujar Lea dengan percaya diri.
Perempuan itu menghela napas dalam, “Saat awal lulus, aku juga punya keyakinan serta semangat yang besar sepertimu. Tapi sekarang aku sadar dan mulai jenuh dengan keadaan. Orang yang tidak berusaha dengan keras bahkan tidak berusaha sama sekali bisa mendapat sesuatu dengan mudah, sedangkan kita yang sudah setengah mati berusaha tetap saja ada di garis awal” Ujarnya.
“Diantara banyaknya manusia curang di bumi ini, aku yakin masih ada setitik kejujuran. Semoga saat nanti bertemu lagi, kita sudah menjadi orang yang sukses. Aku permisi” Ucap Lea, lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan perempuan asing itu.
Disepanjang jalan, Lea terus memikirkan perkataan perempuan asing tadi. Apa yang perempuan itu katakan persis seperti perkataan Chan. Tiba-tiba, rasa khawatir muncul di hatinya. Ia takut jika tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, sementara hidupnya harus tetap berlangsung.
‘Akh... lagi-lagi aku memikirkan ucapan orang yang bahkan tidak kukenal’ Monolog Lea sambil menyusuri jalanan menuju halte bus.
Bus datang setelah sepuluh menit Lea menunggu. Karena bus tersebut sudah penuh penumpang, terpaksa Lea harus berdiri. Samar-samar, Lea mendengar percakapan dua ibu paruh baya mengenai putra mereka yang tengah mencari pekerjaan.
Ternyata, kedua ibu itu mempunyai keluhan yang sama tentang putra mereka yang ditolak berkali-kali oleh perusahaan. Bahkan, putra dari salah satu wanita paruh baya itu sudah membayar sejumlah uang untuk bisa bekerja, tapi sampai sekarang putranya masih menjadi pengangguran.
Setelah cukup lama saling berkeluh kesah, kedua wanita paruh baya itu turun di halte pemberhentian. Lea bernapas lega karena tak lagi mendengar hal-hal yang bisa membuatnya stres.
‘Untung saja mereka sudah turun, aku bisa tidak tidur semalaman karena memikirkan perkataan orang-orang hari ini. Setiap orang mempunyai takdirnya masing-masing, meski perempuan di kafe tadi dan putra kedua ibu tadi mengalami jalan yang tidak mudah saat mencari kerja, tapi belum tentu aku juga begitu. Walaupun nantinya ada kesulitan, tapi aku yakin bisa melaluinya’ Ujar Lea penuh optimis.
...***...
Untuk yang lagi ada dimasa sulit, apa pun itu masalahnya, semangat ya! Say Hello mendukung kalian semua🤗
Happy reading...
Jangan lupa like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih🙏🏻🤗