Say Hello

Say Hello
SH 14



‘Say Hello’ : Satu pesan diterima, begitulah notifikasi yang tertera di layar ponsel milik Lea. Beberapa menit kemudian, ia tersenyum lega karena Matahari akhirnya membalas pesannya. Lea sempat khawatir jika Matahari marah karena ia menolak untuk bertemu.


“Ehemmm”


Lea menoleh pada Chayra yang menatapnya dengan perasaan ingin tahu, lalu memberikan ponselnya pada sahabat baiknya itu.


“Jadi begini kalau orang sedang kasmaran?!”


Lea melotot, merasa tidak setuju dengan penuturan Chayra. “Kami hanya berteman. Tapi, karena dia adalah teman laki-laki pertamaku jadi aku merasa senang”


“Iya, terserah kau saja mau mengatakan apa. Kau takut dia marah, ya?” Tanya Chayra.


“Dari pada marah, sebenarnya aku lebih takut dia kecewa” Jawab Lea dengan lirih.


Chayra menganggukkan kepala, paham akan sifat sahabatnya. Keadaan keluarga Lea yang berbeda dari kebanyakan orang, membuat perempuan itu tumbuh dengan hati yang sensitif. Meski begitu, Lea adalah perempuan yang kuat. Ia bisa menyembuhkan trauma dan berdamai dengan diri sendiri, hal itu yang membuat Lea akhirnya mudah menyayangi orang lain.


“Dia cukup dewasa juga. Bahkan, dia tidak menanyakan alasan kenapa kau belum siap untuk bertemu” Ujar Chayra lagi.


“Seperti yang pernah ku katakan, dia adalah orang yang bisa memahamiku selain dirimu!” Ucap Lea sembari mencubit kedua pipi tembem Chayra hingga membuat perempuan itu mengaduh.


“Sakit... kemari kau!!!” Chayra mengusap kedua pipinya, lalu mengejar Lea yang berlari menjauh sambil tertawa puas.


Chayra menarik tangan Lea setelah berhasil mengejarnya, “Ayo beli minum, aku sangat haus karena mengejarmu”


“Ayo, aku juga haus”


Setelah memesan minuman dan makanan ringan, keduanya duduk di bawah pohon yang rindang, salah satu tempat favorit yang sering mereka tuju untuk makan, mengerjakan tugas, atau sekedar bersantai menunggu mata kuliah berikutnya.


“Setelah ini temani aku belanja, ya!” Ujar Chayra memecah keheningan.


“Tidak bisa, aku harus ke kantor” Jawab Lea sambil menggelengkan kepala.


“Ayolah, kita sudah berpikir keras hari ini. Bahkan, otakku seperti hilang sebagian. Kau kan juga sudah izin” Rengek Chayra, namun Lea tidak mengindahkan dan malah asyik memakan siomay kesukaannya.


“Ayolah” Rayu Chayra lagi.


“Aku harus menyelesaikan tugas sebelum bulan ini berakhir. Mana bisa aku main-main, waktuku tinggal dua minggu lagi”


“Aku yang akan bicara pada kakak agar waktu magangmu diperpanjang” Mendapat tatapan tajam dari Lea, membuat Chayra terdiam. Namun, beberapa detik kemudian kembali membeo, “Setidaknya kakak harus memberimu waktu sampai kelulusan. Jika hanya sebulan, sama saja dengan penindasan. Kau jangan mau dibodohi kakakku!”


Lea menghela napas dalam, memikirkan sejenak perkataan Chayra. Sebenarnya sulit menyelesaikan tugas dari Chan dalam waktu sebulan, namun ia tidak ingin berada lebih lama di perusahaan tersebut. Meski perusahaan milik Chan tengah berkembang pesat dan banyak diminati para pencari kerja, namun Lea tidak mau berhutang budi lebih banyak pada orang lain. Ia ingin sukses dengan usahanya sendiri.


“Tidak bisa. Aku harus menyelesaikannya dalam satu bulan, jangan coba merayuku lagi!” Ujar Lea dengan tegas.


“Dasar keras kepala. Setidaknya, biarkan aku mengantarmu ke kantor. Ayo!” Dalam hatinya, Chayra tetap akan meminta pada Chan agar Lea diberi waktu sampai kelulusan mereka. Ia melakukannya karena ingin membantu Lea agar tidak kerja paruh waktu dengan gaji yang kecil.


Lea tersenyum dan mengekori Chayra yang berada di depannya.


***Kantor***


‘Aku jadi ingin mencolok mata mereka’ Gumam Lea setelah duduk dengan nyaman di kursinya.


Lea mengurut pelipisnya berulang kali, matanya sudah sangat lelah mengamati angka-angka yang bertaburan di kertas. Tapi, hal itu tidak membuatnya menyerah. Ia justru semakin tertantang untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil maksimal.


‘Kenapa biaya operasional pemasaran selalu berbeda dari yang tertulis di laporan keuangan? Ini semua dibuat menggunakan sistem, mana mungkin ada kesalahan hitung. Atau... tim administrasi yang salah menginputnya? Tapi rasanya tidak mungkin, bukankah ini sudah di audit?! Jika sudah di audit, kenapa dia malah menyuruhku memeriksa ini semua?! Tim audit tentu lebih profesional dariku. Sebenarnya, dia ingin mengerjaiku atau memang ingin mencari kecurangan?’ Monolog Lea.


Walaupun tidak tahu apa tujuan Chan sebenarnya, tapi Lea tetap berusaha bekerja sebaik dan secepat mungkin. Ia bahkan meminta data mentah dari tim administrasi untuk melakukan pemeriksaan ulang. Data yang diberikan tim administrasi sangat banyak, hingga tanpa disadari, jam kerja telah berakhir dan Lea masih berdiam di tempatnya.


Karena terlalu fokus, Lea jadi tidak menyadari jika seseorang tengah memperhatikannya. Hingga suara dering ponsel, membuatnya tersadar dan hampir berteriak karena terkejut. Belum sempat Lea mengucap salam, suara di seberang sana telah lebih dulu bergema.


“Keruanganku sekarang!”


“Baik Pak” Menyadari suara si penelepon, Lea kembali ingin membuka suara namun panggilan telepon tersebut sudah terputus secara sepihak.


‘Bukankah, dia tidak akan datang hari ini. Kenapa memintaku ke ruangannya?’ Gumam Lea, lalu meninggalkan meja kerjanya untuk menemui Chan.


.


.


.


Ruangan yang elegan dan nyaman itu tiba-tiba menimbulkan hawa tak mengenakan saat Lea memasukinya. Tatapan Chan yang mengintimidasi semakin menambah kesan mistis ruangan tersebut.


“Aku tidak membayarmu untuk lembur, kenapa kau malah terus-terusan bekerja sampai malam?”


Lea bingung harus menjawab apa, ia juga tidak tahu kenapa bisa bekerja sampai lupa waktu. Padahal, besar kemungkinan Chan hanya mengerjainya tapi entah kenapa ia tetap ingin menyelesaikan pekerjaannya. Karena prinsipnya, apa pun yang sudah dimulai maka harus diselesaikan.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Chan kembali bertanya, “Kau memang senang mengabaikan lawan bicaramu, ya? Atau kau hanya bersikap seperti itu padaku?”


Dalam hati, Lea bermonolog, ‘Ya Tuhan, kenapa bisa ada orang tua dengan kesabaran setipis tisu seperti ini?! Aku bahkan sedang merangkai kata-kata mutiara, tapi dia sudah berkomentar’ Lea lalu menjawab dengan tegas pertanyaan Chan sebelum lelaki itu kembali berkomentar. “Saya menemukan kejanggalan, biaya operasional pemasaran dalam dua tahun terakhir selalu berbeda dari data yang ada di laporan keuangan. Karena tim audit sudah profesional dan semua perhitungan menggunakan sistem, jadi kemungkinan letak kesalahan ada pada saat penginputan data. Itu sebabnya, saya meminta data mentah dari tim administrasi. Karena datanya sangat banyak, saya jadi lupa waktu”


‘Ternyata, dia bekerja dengan sepenuh hati. Aku jadi merasa bersalah’ Batin Chan, meski begitu, ia tetap bersikap tenang untuk menjaga wibawanya.


“Kau tidak dibayar untuk lembur, kenapa tidak melanjutkannya besok saja?” Chan kembali bertanya.


Lea menarik napas dalam, lalu berkata, “Anda hanya memberi waktu satu bulan, mana bisa saya bersantai sementara letak kecurangannya belum ditemukan!”


‘Ya Tuhan, kenapa bisa bocah ini memiliki kesabaran setipis tisu?! Padahal, aku sengaja tidak memberinya lembur agar dia masih punya waktu untuk mengerjakan tugas kuliah, tapi dia malah berkata dengan lantang seolah tengah kesal padaku’ Batin Chan bermonolog. Namun kali ini, ia juga menatap lekat pada Lea.


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih🤗😘🙏🏻