
1 bulan kemudian...
Lea duduk sambil merenungi nasib, keyakinan yang semula sangat jelas kini berlahan memudar. Semangat yang tinggi juga mulai menurun. Satu bulan sudah berlalu, tapi ia masih belum mendapatkan pekerjaan, sementara uang tabungannya sudah sangat menipis.
Lea hampir frustrasi menghadapi permasalahan yang seolah tak ada habisnya. Meski begitu, Lea tetap ingin menyangkal pemikiran orang-orang tentang kerja dengan bantuan relasi. Baginya, setiap orang hidup dengan takdir masing-masing dan tidak bisa disama ratakan.
Setelah menghabiskan cokelat hangatnya, Lea bersiap untuk menemui Felix. Entah apa yang akan lelaki itu katakan sehingga meminta bertemu di hari kerja.
30 menit berlalu, Lea sudah tiba di kafe tempat Felix menunggu. Lelaki itu melambaikan tangan agar Lea mengetahui keberadaannya.
“Apa kakak sudah lama menunggu?” Tanya Lea sambil menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengan Felix.
“Tidak, aku punya cukup banyak waktu luang hari ini” Jawab Felix sambil tersenyum.
“Syukurlah. Bagaimana keadaan kantor?”
Felix mengangkat bahu, “Tidak ada perubahan yang mencolok selain kepergianmu” Ujarnya.
Lea tertawa mendengarnya. Dalam hati, ia ingin menanyakan kabar Chan tapi tak mampu untuk mengutarakannya. Sejak kejadian di SUN house, jarak antara Lea dan Chan semakin jauh. Jangankan untuk bicara, bertemu saja tidak.
“Apa kau sudah mendapat pekerjaan?”
“Belum” Jawab Lea sembari tersenyum canggung.
“Aku tidak bermaksud menyinggung, tapi... jika kau mau, aku bisa membantu” Ujar Felix dengan pelan namun terdengar jelas.
Lea menganggukkan kepala, “Terima kasih” Jawabnya.
Tanpa Lea dan Felix sadari, sepasang mata tengah melihat dengan tajam dari luar kafe. Sepasang mata itu milik Chan. Lelaki itu kebetulan sedang melewati kafe yang letaknya di pinggir jalan, dinding kafe yang terbuat dari kaca membuat Chan bisa dengan jelas melihat Felix dan Lea meski dari dalam mobil.
.
.
Lea segera menemui Chayra setelah pembicaraannya dengan Felix selesai. Chayra meminta agar Lea menginap karena ibunya sedang berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang sedang mengadakan acara syukuran atas kelahiran cucu pertamanya.
Ketika memasuki kawasan rumah mewah berwarna putih itu, Lea berharap bisa bertemu dengan Chan walaupun kemungkinannya sangat kecil karena Chan sudah mempunyai tempat tinggal sendiri.
“Kau sudah datang? Ayo, masuk!” Ajak Chayra dengan antusias dan diikuti Lea dari belakang.
Suara pintu kembali terbuka, membuat kedua perempuan itu terkejut. Chayra beranjak dari duduk untuk memeriksa langkah kaki yang semakin mendekat.
“Kakak... membuat takut saja” Gerutu Chayra.
“Apa yang kau takutkan, memangnya ada hantu di sore hari? Di depan juga ada satpam” Jawab Chan.
Chayra mayun mendengar jawaban kakaknya, “Kenapa kakak ke sini?” Tanyanya.
“Ibu yang menyuruhku. Apa kau tidak senang jika aku pulang ke rumah?!” Tanya Chan sambil menoyor kening adiknya.
Chayra mengusap keningnya, “Bukan begitu, tapi aku sudah ditemani oleh Lea”
Chan terkejut melihat Lea yang tengah menonton TV, ‘Harusnya aku sudah tahu hal ini akan terjadi’ Gumamnya pelan.
“Kakak kenapa melamun di situ? Ikutlah menonton bersama kami, acaranya sangat seru!” Ujar Chayra sambil menunjuk acara televisi yang tengah ditonton.
Chan menyunggingkan senyuman mengetahui adiknya dan Lea tengah menonton program ‘Cerita SUN’, namun ia enggan bergabung dan memilih berdiam di kamar untuk istirahat.
Setelah menyelesaikan satu episode, Lea meninggalkan Chayra untuk memasak makan malam. Ia sengaja memasak sendiri, mau mengajak Chayra juga percuma. Sahabatnya itu tidak akan membantu sama sekali, justru malah membuat kekacauan di dapur. Meski ada asisten rumah tangga, tapi ibunya Chayra biasa memasak sendiri untuk anak-anaknya. Jika ibunya sedang pergi, Chayra akan makan di luar atau memesan makanan melalui aplikasi.
Tiga puluh menit berlalu, tiga jenis masakan sudah tersaji dengan rapi di atas meja. Ada ayam goreng, sambal kentang, serta tumis toge kesukaan Chan dan Chayra. Lea sengaja memasak untuk tiga porsi karena mengira Chan akan ikut bergabung. Setelah semua siap, Lea mengajak Chayra untuk makan malam.
“Wah... rasanya seperti ada ibu di rumah” Ujar Chayra sambil mengamati masakan Lea.
“Jangan berlebihan, ini hanya masakan sederhana” Ujar Lea. “Apa kakakmu tidak ikut makan?” Tanya Lea dengan pelan.
“Dia akan turun kalau sudah lapar. Ayo, kita makan”
“Benarkan kataku” Ujar Chayra lagi, sambil menunjuk Chan yang berjalan ke dapur.
Chan ke dapur bukan untuk makan, tapi hanya mengambil air putih dari lemari es. Lalu berpamitan pulang ke apartemennya.
“Kakak tidak makan dulu? Ini semua Lea yang memasak, ada tumis toge dan ayam goreng kesukaan kakak juga” Ucap Chayra.
Chan melirik sekilas ke arah meja makan, tapi tidak berkomentar apa-apa. “Karena kau sudah ada yang menemani, jadi aku akan pulang” Ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Dengan eksperesi kesal, Chayra berkata, “Kakak macam apa yang tega meninggalkan adiknya di rumah saat ibu sedang bepergian!”
Chan mengacak rambut adiknya, “Jangan bicara saat mulut penuh makanan. Kau bukan anak kecil lagi, kan?” Ucap Chan, lalu melenggang meninggalkan Chayra dan Lea.
Lea menatap punggung Chan yang semakin menjauh dari pandangan. Dalam hati, ia benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap lelaki itu. Mungkin, ia yang terlalu berharap jika Chan akan minta maaf. Sekarang, justru Chan tidak pernah menganggapnya ada.
.
.
Chayra sudah tidur sejak satu jam lalu, tapi Lea masih terjaga. Gadis itu tidak bisa tidur lantaran memikirkan banyak hal. Mulai dari pekerjaan yang belum didapat, bayaran uang sekolah Dayyan, Chan yang semakin menjauhinya, orang tua yang tidak menghubunginya sejak ia memberikan undangan kelulusan. Semua hal itu selalu berputar di kepala Lea menjelang tidur.
Tara :
“Apa kau sudah tidur?”
Tidak sampai satu menit, ponsel itu bergetar memberi tanda ada sebuah pesan masuk.
Matahari :
“Belum. Kau kenapa belum tidur selarut ini?”
Tara :
“Aku tidak bisa tidur😁”
Matahari :
“Kali ini apa yang kau pikirkan?”
Tara :
“Kau memang sangat peka”
“Tadi aku bertemu mantan bosku, tapi dia seperti tidak melihatku sama sekali”
Matahari :
“Tolong kenalkan aku pada mantan bosmu”
Tara :
“Untuk apa?”
Matahari :
“Aku ingin memaki dan menghajarnya. Aku sungguh membenci orang yang kau sukai”
Tara :
“Ayolah, aku tidak bermaksud membuatmu menjadi orang jahat. Aku hanya ingin bercerita saja”
“Tak hanya itu, aku juga belum mendapat pekerjaan sampai sekarang”
Matahari :
“Kapanpun kau siap, datanglah padaku”
“Aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan, atau kau mau aku pinjami uang?”
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung”
Tara :
“Apa maksudnya? Kau selalu berkata begitu”
“Tidak. Kau mau mendengarkan omong kosongku saja sudah cukup”
Matahari :
“Mungkin ini terdengar konyol, tapi aku ingin mengakuinya. Aku... menyukaimu”
“Aku tahu ini aneh karena kita belum pernah bertemu”
“Aku hanya ingin jujur, tolong jangan menjauh karena ini. Aku sangat senang mempunyai teman sepertimu”
“Baiklah. Kapanpun kau butuh bantuan, aku siap membantu”
Tara :
“Terima kasih”
Lea membalas singkat pesan dari Matahari sembari menatap ponsel di tangannya, pikirannya semakin rumit karena pengakuan dari Matahari. Jangankan bertemu, melihat fotonya saja belum pernah tapi sudah mengaku menyukainya. Sejauh ini, Matahari memang teman yang baik dan asyik diajak bicara tapi Lea tidak pernah berpikir akan tertarik pada orang yang tidak dikenal secara nyata.
Sementara itu di kamar, Chan merutuki kebodohannya. Tanpa disadari, ia malah mengakui perasaannya pada Tara. Orang yang tidak pernah ditemuinya, bahkan melihat fotonya saja belum pernah. Chan mengakui perasaannya karena merasa kesal pada Tara yang terus tertuju pada mantan bosnya.
‘Akh!!! Dasar bodoh, jika dia menjauh bagaimana?’
‘Harusnya aku tidak gegabah!!!’ Umpat Chan pada dirinya sendiri.
...***...
Happy reading...
Jangan lupa like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih 🙏🏻🤗