Say Hello

Say Hello
SH 8



Meskipun agak kesusahaan mengetik pesan di layar gawai karena tangannya terkilir, namun Chan tetap semangat saat mendapat balasan pesan dari Tara. Wajah lelaki muda itu sangat sumringah seperti bocah yang tengah mendapat hadiah.


Matahari :


“Apa kabar hari ini?”


Tara :


“Setidaknya, hari ini berjalan lebih baik dibandingkan kemarin”


“Bagimana denganmu?”


Matahari :


“Iya, hari ini tidak terlalu buruk”


“Suatu saat... ayo, bertemu sungguhan”


Tara :


“Kenapa tiba-tiba?”


Matahari :


“Aku hanya ingin bertemu temanku, hahaha”


Tara :


“Bertemu atau tidak, jauh atau dekat, kita tetaplah teman. Selagi ada di bawah langit yang sama, kita pasti bisa bertemu nantinya”


Matahari :


“Wahhh... apa itu kata-kata mutiara? Hahaha"


Tara :


“Eum, itu adalah kata mutiara yang baru saja muncul karena aku lapar”


Matahari :


“Hahaha... kau ini ada-ada saja, cepat makan sebelum para cacing berdemo!”


Tara :


“Baiklah. Aku makan dulu, ya. Sampai nanti”


Matahari :


“Selamat menikmati makanannya ^-^”


Karena terlalu asyik berbalas pesan dengan Tara, Chan sampai tak menyadari kehadiran Dza. Mulanya, Dza ingin mengajak Chan untuk minum teh bersama sembari mengobrol sebelum tidur, namun ketika masuk ke kamar Chan dan melihat pria itu tengah sibuk pada gawainya, Dza jadi tak tega mengganggu.


“Ahhh!!!” Chan berteriak karena terkejut saat melihat Dza ada di sampingnya. Sementara, Dza langsung menoyor bahu Chan karena berteriak tepat di telingannya.


“Sejak kapan kakak di sini?” Tanya Chan sambil mengusap bahunya.


“Aku sudah di sini hampir dua puluh menit. Kau sedang berbalas pesan dengan perempuan itu, ya?” Tebak Dza dan Chan hanya menganggukkan kepala tanpa menjelaskan.


“Sebaiknya, jangan terlalu akrab dengan perempuan itu. Kalian tidak saling mengenal dengan benar” Dza kembali bergumam.


“Tapi, kami sama-sama tidak memberitahu identitas asli. Jadi, dia pasti tulus berteman dengaku” Jawab Chan.


“Kau yakin bisa terus menganggapnya teman? Kau cukup sering membicarakannya. Bahkan, setiap berbalas pesan dengannya, kau terlihat sangat senang dan tidak peduli pada sekelilingmu. Tadi saja, kau sampai tidak menyadari kedatanganku”


Chan hanya diam mendengar ucapan Dza. Apa yang dikatakan kakaknya itu memang benar.


“Aku bukan mau mengaturmu, tapi carilah orang yang wujudnya bisa kau lihat. Aku hanya tidak mau kau terjebak dalam situasi yang sulit” Pesan Dza sebelum pergi dari kamar Chan.


Chan menghela napas berat, menatap Dza yang perlahan menghilang dari balik pintu. Perkataan Dza beberapa menit lalu, terus terngiang di kepalanya. Ia juga ingin bertemu Tara, tapi untuk saat ini rasanya masih sulit. Terlebih, ia belum berani memberitahu profesinya pada Tara.




Di hari minggu yang cerah, seorang wanita muda justru bersusah payah menghentikan air matanya yang terus menetes. Beberapa menit lalu, adiknya mengatakan jika sedang membutuhkan uang untuk biaya sekolah. Ibunya yang kini sudah mempunyai keluarga baru, juga meminjam uang karena keadaan ekonomi yang sedang tidak stabil semenjak suami barunya mengalami kebangkrutan akibat ditipu rekan bisnis.



‘Aku harus membantu ibu dan membayar uang sekolah Dayyan, tapi bagaimana caranya? Bahkan, aku belum mendapat gaji. Sekalipun sudah mendapat gaji, aku juga harus mengganti uang Chayra. Belum lagi, semua keperluan dapur, biaya sewa, listrik, air, dan keperluan lainnya. Akh... kepalaku seperti akan pecah! Kenapa diusia muda bebanku sudah sebanyak ini!!!’



‘Padahal, teman-teman seusiaku masih bermanja pada orang tuanya. Tapi, aku malah sudah banyak pikiran seperti orang tua. Akh... semakin mengeluh, semakin membuatku sakit hati’ Monolog Lea.



Lea memegang perutnya yang baru saja memberi signal agar segera diisi sesuatu. Rupanya, gadis itu belum memakan apapun sejak pagi. Dengan langkah cepat, ia segera menuju ke dapur, tapi sayangnya... ia tak menemukan sesuatu apapun yang bisa dimakan.



‘Apa-apaan ini, bahkan tak ada makanan di rumah! Benar-benar membuat frustrasi saja!’ Gumam Lea, lalu bergegas keluar untuk membeli makanan dengan sisa uang yang masih disimpannya.



Untungnya, hari ini Dayyan libur sekolah jadi Lea bisa meminjam sepeda motor milik adiknya sehingga tidak berjalan kaki untuk membeli makanan.




Namun, perjalanannya kali ini tidak semulus yang dibayangkan. Lea menepikan sepeda motornya karena melihat mobil yang sudah tidak asing baginya. Ia mengetuk kaca jendela setelah memastikan plat nomor mobil tersebut. Detik berikutnya, kaca jendela mobil itu sudah terbuka dengan sempurna.



“Ternyata benar. Kenapa Anda ada di sini?” Tanya Lea. Dari raut wajahnya, ia terlihat lega karena sebelumnya sempat khawatir jika mobil tersebut tidak dikendarai oleh Chan.



“Kau sendiri kenapa di sini? Kau mengikutiku, ya?!” Bukannya menjawab, Chan justru bertanya pada Lea.



Lea menghela napas kasar, kesal karena Chan berbicara dengan nada ketus. Padahal, kemarin saat di kantor, bos sekaligus kakak dari sahabatnya ini bersikap baik.



“Untuk apa saya mengikuti Anda? Kalau...” Lea tidak melanjutkan ucapannya karena Chan mengangkat telapak tangan, memberi kode agar perempuan itu diam sejenak.



Sebenarnya, Lea ingin segera pergi karena sepertinya Chan akan lama berbicara pada seseorang yang tengah meneleponnya, tapi ia merasa tidak enak hati jika pergi tanpa berpamitan. Akhirnya, Lea memilih untuk menunggu sampai bosnya menyelesaikan pembicaraan via telepon tersebut.



Lima belas menit berlalu, Chan akhirnya memutus panggilan teleponnya.



“Antarkan aku ke gedung SN sekarang!”



Tak hanya Lea, tetapi lelaki paruh baya yang duduk di kursi kemudi juga ikut terkejut mendengar ucapan Chan.



Lea menunjuk dirinya sendiri sambil berkata, “Sa... saya?”



Chan menganggukkan kepala, “Kau pikir ada orang lain di sini?”



“Sudah jangan banyak protes. Aku harus ke lokasi syuting sekarang” Ujar Chan lagi.



“Apa Anda yakin, Tuan?” Tanya lelaki paruh baya selaku sopir pribadi Chan.



“Iya. Bapak tunggu di sini saja, sebentar lagi akan ada orang bengkel yang datang” Ujar Chan. Semenit kemudian, lelaki itu sudah berdiri di depan Lea.



Lea menunjuk sepeda motornya sambil berkata, “Saya yang mengendarai...?”


Nampak mengerti dengan maksud pertanyaan Lea, Chan segera menganggukkan kepala sebelum perempuan itu menyelesaikan ucapannya. Lelaki itu juga menunjukkan pergelangan tangannya yang masih dibalut perban.



‘Dasar mobil menyebalkan! Padahal, aku hanya menyenggolnya sedikit, tapi langsung lecet dan harus membayar ganti rugi. Sekarang, kau mau kembali menyusahkanku!’ Gumam Lea.



“Kau baru saja menggerutu dan memaki mobilku?!”



Lea menggelengkan kepala, terkejut karena Chan mendengar ucapannya meskipun ia berkata dengan lirih. Karena Chan terlihat sedang buru-buru, Lea akhirnya memutuskan untuk mengantar lelaki itu ke lokasi syuting. Toh, ia juga tidak mungkin menolak permintaan bos sekaligus kakak dari sahabatnya itu.



...\*\*\*...



**Happy reading**...



**Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁**



**Terima kasih🤗😘🙏🏻**