
Setelah bertemu Dza, Chayra langsung menuju apartemen Chan untuk menemui Lea. Ia merasa bersalah karena tak memberi kesempatan sahabatnya untuk bicara.
Setibanya di sana, Chayra yang memang mempunyai akses keluar-masuk apartemen Chan, tanpa permisi dan langsung masuk untuk mencari keberadaan Lea. Chayra berlari kecil menghampiri Lea yang sedang memasak di dapur, lalu memeluk sahabatnya.
Lea menoleh, terkejut karena seseorang memeluknya secara tiba-tiba. “Chay...” Panggil Lea pelan.
“Maafkan aku” Ujar Chayra disela isak tangisnya.
Lea menggelengkan kepala, “Kau tidak bersalah, aku yang harusnya minta maaf” Ucap Lea sambil membalas pelukan sahabatnya.
Lea menghapus air mata yang berjatuhan dipipi Chayra, “Jangan menangis...” Ucapnya lagi.
Chayra melepaskan pelukannya, menghapus air mata, lalu berkata, “Dasar bodoh. Seharusnya, kau memaksaku agar mendengarkan penjelasanmu”
“Kau sangat keras kepala, bagaimana bisa aku memaksamu? Sudah jangan menangis lagi”
“Kau melarangku menangis, tapi kau sendiri juga menangis. Sahabatku emang tidak waras” Ujar Chayra sambil menepuk bahu Lea.
Kedua wanita itu tersenyum, lantas kembali berpelukan.
Menyadari ada keanehan, Chayra dan Lea kompak menoleh ke arah kompor yang sedang menyala. Mata kedua wanita itu melotot sempurna, dengan cepat Lea mematikan kompor yang hampir saja menggosongkan masakannya.
“Huft... syukurlah masih bisa diselamatkan” Ujar Lea lega. Ia lantas menyelesaikan masakannya dan meminta Chayra menunggu di meja makan.
Tiga puluh menit berlalu, masakan Lea sudah tersusun rapi di atas meja makan. Ia juga menyiapkan buah sebagai pencuci mulut.
“Wah... pantas saja kakakku menyukaimu, dia kan senang makan” Ujar Chayra sembari memindahkan seiris daging yang dimasak lada hitam ke piringnya.
Lea tersenyum, “Kakakmu sudah terkena racunku, makanya dia sangat tergila-gila padaku” Ujarnya bangga.
Chayra berdecak, “Aku benar-benar tidak menyangka jika kau akan menjadi kakak iparku. Ya... meski sejujurnya, aku pernah berharap kau menjadi kakak iparku, tapi ketika kau mengenal teman di aplikasi itu, lalu melihat interaksimu dan kakak tidak begitu baik, aku jadi pesimis untuk menjodohkan kalian” Chayra diam sesaat, setelah menelan daging lada hitamnya, ia kembali berkata, “Omomg-omong, kau belum menjelaskan tentang Matahari yang ternyata adalah kakakku”
“Aku juga belum lama tahu jika Matahari adalah kak Chan. Mulanya, aku juga tidak menyadari, tapi saat tahu kakakmu akan dijodohkan, aku merasa kesal. Lalu berita kencan mereka muncul di media sosial, aku kira perjodohan itu berjalan lancar, makanya aku mau bertemu dengan Matahari. Saat kami bertemu, ternyata Matahari adalah kakakmu” Terang Lea.
Chayra menganggukkan kepala sembari tersenyum menyeringai, “Ternyata, kau memang sudah menyukai kakakku, ya? Pantas saja selalu menolak saat Matahari mengajak bertemu” Selidiknya.
Lea menggaruk tengkuknya, tiba-tiba merasa malu mendengar pertanyaan Chayra. “Takdir memang lucu, ya. Aku juga tidak pernah mengira kakakmu akan menggunakan aplikasi itu. Aku kira, seorang artis tidak akan mau mencari teman atau pasangan melalui aplikasi karena pasti sudah banyak yang mau berteman dan menyukainya”
“Aku juga berpikir begitu. Tapi, sepertinya kakakku memang aneh” Ujar Chayra sambil tertawa puas.
Selesai makan dan istirahat sejenak sembari bercerita, Lea beranjak dari duduk, membereskan meja makan yang berantakan, lalu mengambil piring kotor untuk dicuci.
“Kenapa kau berberes?” Tanya Chayra, manik matanya mengikuti gerak langkah Lea yang berjalan ke dapur.
“Aku tidak mungkin hanya berdiam saja di sini. Lagi pula, aku sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah” Jawab Lea.
Chayra beranjak dari duduk, lantas menyusul Lea yang sedang mencuci piring di dapur.
“Kau sungguh-sungguh mau menikah dengan kakakku, kan?” Tanya Chayra.
Lea menyusun piring yang sudah dicuci ke dalam lemari, mengelap tangan yang basah, lalu mengambil dua cangkir kecil untuk membuat teh.
“Ayo mengobrol sambil minum teh” Ajak Lea sambil memberikan secangkir teh hangat pada Chayra. Perempuan itu lantas mengekor di belakang Lea.
Kedua wanita itu duduk di ruang televisi, menikmati secangkir teh hangat dan biskuit cokelat sembari mengobrol.
“Jangan khawatir, ibu bukanlah orang tua yang suka memaksa anaknya. Kak Chan sudah banyak mengalami kesulitan demi untuk menghidupi kami, sekarang saatnya dia bahagia dengan pilihan hatinya. Hanya saja... tolong jaga kakakku. Meski menyebalkan, tapi dia sangat serius jika menyayangi seseorang” Ucap Chayra, matanya mengembun seperti sedang menahan tangis.
Chayra menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu kembali bergeming, “Saat ayah meninggalkan kami, kakak sangat frustrasi hingga berkata jika dia tidak akan pernah mau menikah. Ibu menjodohkannya dengan Celia karena khawatir dengan ucapan kakak kala itu. Kami juga banyak mengalami kesuliatan sejak ayah pergi, tapi semua jadi baik-baik saja berkat kakak. Jadi, siapapun pilihan kakak, kami tidak akan melarangnya. Terlebih orang itu adalah sahabatku”
Lea menatap haru pada Chayra, “Terima kasih sudah mempercayaiku” Ujarnya.
Kedua sahabat itu tengah hanyut dalam suasana haru, namun suara teriakan seseorang membuat Chayra dan Lea terperanjat .
“Sayang... calon suamimu pulang”
Lea dan Chayra saling pandang, lalu menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Chayra menyunggingkan senyuman pada Chan yang terlihat salah tingkah. Meski Chayra adik kandungnya, tapi Chan tidak pernah memanggil seorang wanita dengan sebutan sayang di depan keluarganya.
Chayra menghampiri Chan, menatap lekat pada lelaki itu, “Tidak pulang, tidak memberi kabar, dan sekarang malah mengajak wanita ke apartemen, kakak benar-benar keterlaluan!”
Chan tersenyum lebar meski tahu kesalahannya, “Maafkan kakakmu yang tampan ini” Ujarnya sambil mencubit pipi adiknya.
Belum mendapat respon dari Chayra, Chan kembali bergeming, “Kalian sudah berbaikan?”
Lea tersenyum sumringah, “Iya” Jawabnya, lalu berdiri menghampiri kakak-beradik itu.
“Mau aku siapkan makan?” Tanya Lea.
Chan menganggukkan kepala, “Kau pasti masak enak lagi hari ini” Seru Chan sembari melenggang menuju meja makan diikuti Lea dari belakang.
‘Wah... apa-apaan ini? Apa aku tidak terlihat di mata mereka?!’ Gerutu Chayra, lalu menyusul kakak serta sahabatnya.
Chan duduk berhadapan dengan Lea, sementara Chayra berdiri di antara keduanya.
Chan tersenyum bangga, “Masakanmu selalu enak, aku jadi ingin makan terus. Hmmm... aku harus lebih rajin lagi berolahraga kalau begini”
Lea juga ikut tersenyum, dengan pelan berkata, “Aku jadi semakin semangat untuk membuatkan kakak makanan setiap hari”
“Kau harus belajar masak dari Lea, agar nanti suamimu betah di rumah!” Titah Chan sembari melirik Chayra.
Chayra berdecak, “Kalian berdua benar-benar menyebalkan! Berhenti bertingkah seperti bocah yang baru pertama kali jatuh cinta!” Kesal Chayra.
Lea dan Chan saling pandang, lalu menoleh bersamaan pada Chayra, kedunya lantas tertawa puas hingga membuat Chayra semakin kesal.
“Aku mau pulang!” Ujar Chayra, lalu melenggang dari hadapan Chan dan Lea.
Lea menatap Chayra yang semakin menjauh, “Adikmu memang aneh” Serunya.
Chan menganggukkan kepala, “Itu sebabnya, terkadang aku tak mau mengakuinya sebagai adik”
Lea menggelengkan kepala mendengar pengakuan Chan, lalu tertawa melihat Chan makan dengan lahap. Benar-benar mirip bocah kelaparan.
...***...
...Happy reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗
Terima kasih 🙏🏻❣