Say Hello

Say Hello
SH 22



Sesampainya di rumah, Lea terus merasa tidak tenang. Bahkan, matanya sulit terpejam meski sudah tengah malam.


‘Perasaan tidak menyenangkan macam apa ini?! Hah... aku akan menghubunginya’ Gumam Lea, lalu mengambil gawai dan menghubungi Matahari.


Lea mengirim pesan pada teman di aplikasinya untuk menceritakan tentang rasa kecewanya pada Chan.


Matahari :


“Apa kau menyukai bosmu?”


Tara :


“Tentu saja tidak, kenapa kau berpikir begitu?”


Matahari :


“Entah kau sadar atau tidak, tapi kau sering menceritakannya”


Tara :


“Tapi semua yang kuceritakan tentang kekesalan padanya”


“Aku kesal karena dia meremehkan mimpiku. Aku sangat berusaha keras agar mendapat beasiswa dan belajar setiap hari agar nilaiku tetap stabil meskipun bekerja. Dia juga mengatakan bisa mendapatkan wanita yang berjuta kali lebih baik dariku, meskipun memang bisa tapi tidak seharusnya dia bicara begitu di depan teman-temannya”


Matahari :


“Kau kesal karena kecewa padanya. Kau merasa sudah dekat dengannya tapi dia malah tega berkata begitu, itu sebabnya kau merasa kesal”


“Sebenarnya, aku iri pada bosmu tapi karena kita belum pernah bertemu secara langsung maka aku bisa memakluminya. Tapi... jika kau sudah tak menyukainya lagi, maka datanglah padaku”


Lea keluar dari aplikasi ‘Say Hello’ dan menyudahi percakapan dengan Matahari. Niat awalnya hanya untuk bercerita agar perasaannya lega. Namun setelah bercerita, perasaannya malah semakin kacau.


‘Apa maksudnya? Masa aku menyukai Pak Chan, dan kenapa Matahari memintaku untuk datang padanya? Akh... bukannya menemukan solusi, aku justru semakin pusing’ Monolog Lea.


.


.


Menjelang kelulusan, Lea merasa sedih juga bahagia. Meskipun keluar dari perusahaan milik Chan adalah keinginannya, tapi ada rasa sesak yang juga ia rasakan. Lea ingin membuktikan bahwa ucapan Chan tidak benar. Ia masih bisa mendapat pekerjaan walaupun tanpa relasi.


Di minggu terakhirnya bekerja, Lea semakin giat karena tak ingin meninggalkan pekerjaan saat resmi berhenti. Ia tak ingin memberikan beban kepada penggantinya kelak.


“Apa kau benar-benar akan mengundurkan diri?”


“Ya Tuhan...” Lea terkejut karena Lyli berada tepat di belakangnya.


Lyli mendongakkan dagu, memberi kode agar Lea menjawab pertanyaannya.


“Iya”


“Kenapa? Saat menjadi karyawan magang saja, kau sudah berjasa apa lagi ketika menjadi karyawan tetap. Apa kau tidak merasa rugi jika tidak mengajukan lamaran ke perusahaan yang sudah pasti menerimamu?”


Lea menggelengkan kepala, lalu berkata “Aku sudah memikirkan semua dengan baik. Terima kasih atas saran dari kakak”


Lyli menarik napas, lalu dihembuskan dengan kasar, “Jika itu pilihanmu, maka aku tidak bisa melarangnya. Tapi...” Lyli menjeda kalimatnya, nampak memikirkan sesuatu, lalu kembali berkata, “Bagaimana jika kita bersenang-senang selama kau masih bekerja di sini?”


Sembari tersenyum, Lea menganggukkan kepala. Lalu meminta Lyli agar kembali ke meja kerjanya.


***Jam Istirahat***


Felix mengajak Lea makan siang bersama di kantin perusahaan. Meskipun banyak yang memperhatikan, namun keduanya tidak ambil pusing dan justru asyik mengobrol.


“Kau benar-benar ingin mengundurkan diri setelah kelulusan?” Tanya Felix.


“Iya, aku ingin berusaha mencari pekerjaan tanpa bantuan orang lain”


Lea tersenyum, “Terima kasih atas tawarannya, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin” Ujar Lea penuh keyakinan. Ucapan Chan beberapa waktu lalu semakin membuat Lea semangat dan tak ingin bergantung pada siapa pun.


“Karena kau akan keluar dari perusahaan, jadi aku ingin mengajakmu berkeliling kantin selama satu minggu, sesuai dengan janjiku dulu”


Sembari tersenyum, Lea kembali mengucapkan terima kasih. Saat sedang asyik mengobrol, Lea tak sengaja melihat Chan yang juga akan ke kantin. Tapi lelaki itu mengurungkan niat saat matanya dan mata Lea tak sengaja bertemu.


‘Padahal tadi mengajakku makan siang, tapi setelah melihatku malah kabur. Dasar tidak jelas’ Lea menggerutu karena mengingat pesan dari Chan sebelum Felix mengajaknya makan siang bersama.


Dilain tempat, di ruang kerjanya Chan tengah kesal karena Lea mengabaikan ajakan makan siangnya dan malah memilih makan bersama Felix.


‘Apa mereka sudah sedekat itu?... Padahal, aku ingin berdamai dengannya tapi dia malah terus mengibarkan bendera perang’


Chan mengusap wajah dengan kasar, lalu kembali bermonolog, ‘Sebenarnya aku kesal karena Tara menyukai bosnya, tapi melihat bocah itu mengabaikanku dan terus mengindar, aku semakin kesal. Hah... kenapa tidak ada yang berjalan dengan lancar? Pekerjaanku juga makin banyak tiap harinya’


.


.


Tepat hari ini, Lea mengundurkan diri dari perusahaan milik Chan. Dan tiga hari kemudian, ia akan melangsungkan upacara kelulusan di universitasnya.


Setelah berpamitan pada rekan kerjanya, Lea bermaksud menemui Chan untuk berpamitan secara pribadi. Namun sayangnya, Chan tidak bisa ditemui karena sedang syuting. Sejak kejadian di SUN house, Lea dan Chan tidak pernah lagi terlibat pembicaraan selain urusan pekerjaan. Meski begitu, Lea tetap menyayangkan karena dihari terakhirnya berada di kantor justru tidak bisa bertemu dengan lelaki itu.


‘Aku benci perasaan tidak nyaman ini’ Gumam Lea sambil menatap meja kerjanya.


***Hari Kelulusan***


Dihari kelulusannya, Lea hanya didampingi oleh Dayyan karena kedua orang tuanya berhalangan hadir. Namun, Lea tidak bersedih karena sejak dulu kedua orang tuanya jarang menghadiri acara pentingnya.


Lea menjadi lulusan terbaik dengan nilai yang nyaris sempurna. Tentu saja hal itu membuat Chayra bangga. Sebenarnya... Chayra sedih karena hubungan Chan dan Lea belum membaik, namun ia memilih diam karena tak ingin ikut campur dalam urusan pribadi kakak serta sahabatnya.


Setelah acara resmi selesai, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama teman kelas serta teman satu angkatan, Lea dan Chayra menghampiri ibunya Chayra serta Dayyan yang telah siap menyambut keduanya.


Ibunya Chayra memeluk Chayra dan Lea secara bergantian sambil berkata, “Ibu sangat bangga pada kalian berdua”


“Terima kasih, bu. Tapi sayangnya, aku bukan lulusan terbaik seperti Lea” Ujar Chayra.


“Kau ini bicara apa?! Bisa lulus tepat waktu seperti ini saja sudah membuat bangga” Ujar ibunya Chayra sambil mengusap bahu putrinya.


“Lagi pula, kau tidak mungkin bisa menyaingi Lea yang pintar sejak lahir” Ujar wanita paruh baya itu lagi. Sontak saja, ucapannya membuat Chayra cemberut namun menjadi tawa untuk Lea.


“Kakak sungguh tidak datang?” Tanya Chayra mengalihkan pembicaraan.


“Kakak sedang syuting, yang penting ada ibu, Lea, dan Dayyan di sini”


“Kakak benar-benar keterlaluan, di hari bahagiaku malah sibuk bekerja! Kita jadi tidak bisa memajang foto kelulusanku karena akan sangat aneh jika hanya foto berdua tanpa kakak” Gerutu Chayra.


“Jika kak Chan ada di sini, pasti akan langsung menarik perhatian semua orang. Bukankah, jadi semakin sulit untuk kakak” Ujar Dayyan dengan polos.


“Benar sekali. Dayyan saja mengerti, masa kau tidak. Kita juga masih bisa mengedit atau foto di studio nanti. Lagi pula... kita berempat, ada Lea dan Dayyan di sini”


Mendengar perkataan ibunya, Chayra diam dan berhenti mengomeli kakaknya. Sementara, Lea dan Dayyan hanya tersenyum melihat tingkah ibu dan anak yang sangat harmonis itu.


Dalam hati, Lea sedikit merasa kecewa karena Chan tidak hadir. Namun, logikanya bersyukur karena tidak bertemu Chan di hari bahagianya.


‘Mulai lagi... kenapa hati dan logikaku bertolak belakang saat memikirkan orang menyebalkan itu!’


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😘


Terima kasih🙏🏻🤗