Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 09: Mansion Noordien



Selesai dengan kegiatan disana, mereka segera pergi dari sana dengan kendaraan mereka. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di mansion besar milik keluarga Noordien. Ketika masuk kedalam rumah, mereka disambut dengan Kakek, Nenek, Ayah Jayden, Bunda Ryn, Evelyn, dan Zea sedang duduk diruang tengah. Mereka menonton TV sembari memakan cemilan yang disiapkan oleh maid yang dipekerjakan di mansion.


Jayden yang melihat ketiga anaknya yang baru pulang, sudah bisa menebak darimana mereka. Ketiga anaknya itu memang kejam dan sering berhubungan dengan dunia bawah. Tapi mereka bertiga malah lebih menyukai berada di rumah dibandingkan mengikuti balap liar atau ke club malam.


Dia bahkan dulu pernah meminta mereka untuk pergi keluar dan bersenang-senang. Tapi mereka menolak dan memilih untuk menghabiskan waktu entah di Gym, di ring tinju, di kolam renang, di tempat menembak, atau di kandang Hope di mansion mereka.


Bahkan ketika Raymond meminta mereka untuk mencari kekasih pun mereka mengatakan kalau mereka tidak tertarik. Kalau mereka memiliki pacar pun mereka pasti akan membawanya pulang ke mansion.


Ryn yang melihat ketiga anak memasuki rumah meminta mereka untuk membersihkan diri. Ketiga anak laki-laki tampan itu segera menuruti permintaan dari sang bunda.


Ketika selesai dengan aktivitas itu, mereka kembali ke ruang keluarga dan memilih untuk bergabung bersama anggota keluarga lainnya. Hal ini seperti sudah menjadi agenda rutin bagi seluruh keluarga untuk meluangkan waktu mereka sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama diantara kesibukan mereka masing-masing.


Disaat seluruh keluarga sedang asik menonton acara TV, tiba-tiba saja Ray terpikir sesuatu. Dia sedikit penasaran dengan suatu hal yang sepertinya dia membutuhkan bantuan dari Ayah dan Bundanya.


“Ayah.” Jayden mengalihkan pandangannya dan menatap pada anak keduanya. Dia melihat wajah anak keduanya yang terlihat memiliki sedikit banyak pemikiran mendalam di kepalanya.


“Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?” Seluruh anggota keluarga ini mengalihkan atensi mereka pada Ray, mengabaikan siaran TV yang sedari tadi mereka tonton.


“Aku ingin bertanya, bagaimana Ayah dan Bunda saling jatuh cinta dulu?” Pertanyaan itu berhasil membuat mereka semua heran. Pasalnya ini pertama kalinya Ray mengungkit sesuatu mengenai percintaan. Ray sama sekali tidak tertarik dengan percintaan sebelumnya. Lalu apa yang membuatnya menanyakan hal seperti ini?


“Kenapa? Apakah ada seseorang yang membuatmu tertarik?” tanya Ayah Jayden. Anak keduanya ini pasti sedang bingung karena ada seseorang yang membuatnya bertindak tidak seperti dirinya yang biasanya.


“Jawab dulu pertanyaanku, lalu aku akan menjawab pertanyaan Ayah.” Jayden hanya tersenyum. Anak keduanya ini memang tidak mudah dibujuk apalagi dihasut seperti ini.


“Kamu ingin tahu bagaimana Ayah dan Bunda saling jatuh cinta atau kamu ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta?” Bunda Ryn juga merasa tertarik dengan anak keduanya yang sepertinya mulai merasakan jatuh cinta, hanya saja dia masih tidak menyadari atau malah bingung.


“Keduanya. Ceritakan apa yang Ayah atau Bunda rasakan ketika jatuh cinta.”


“Ketika Ayah jatuh cinta pada Bundamu ini, saat itu Ayah sedang masih berkuliah. Bunda mu adalah mahasiswa baru. Ketika melihatnya rasa seperti mata Ayah tertuju dan terkunci hanya padanya seorang. Ayah terus merasa jantung Ayah berdetak lebih cepat dari biasanya. Apapun yang dilakukannya semuanya tampak sempurna dan menggemaskan. Lalu muncul rasa ingin melindungi dan menjaganya dari bahaya dan masalah. Ingin mengenalnya lebih jauh, merasa tidak senang ketika ada laki-laki lain yang dekat dengannya. Ingin memilikinya dan menjadikannya milik Ayah. Saat bersamanya semuanya terasa begitu nyaman dan tentram. Semua rasa lelah terasa hilang begitu saja ketika bersamanya.”


Mendengar penjelasan dari ayahnya, membuat Ray berpikir lagi apa yang dirasakan olehnya hari ini. Jantungnya berdetak dengan kencang ketika bersamanya apalagi ketika mengingat apa yang terjadi pada mereka berdua tadi.


Semuanya terasa begitu sempurna pada Nara. Terlebih mata Nara yang sangat menarik perhatiannya. Dia juga entah mengapa merasa kesal saat mengingat Nara yang terluka tadi karena Azura. Apakah mungkin dia jatuh cinta pada Nara?


“Jadi apa yang membuatmu sampai menanyakan hal ini pada kami? Kamu benar-benar jatuh cinta? Pada siapa? Kenalkan pada kami.” Raymond sangat penasaran siapa yang bisa menarik hati Ray yang beku selama ini. Dia hampir mengira kalau Jayden tidak akan mendapatkan menantu dari anak keduanya.


“Jangan bilang orang yang kakak maksud adalah Kak Nara?” Evelyn melihat Ray dengan sengit. Seluruh anggota keluarga seketika melihat pada Evelyn lalu kembali melihat pada Ray seolah meminta penjelasan darinya.


Jerry dan Hansel yang notabenenya sudah mendengar cerita dari Evelyn tetap menatap pada pusat perhatian mereka sekarang. Mereka terutama Jerry masih ingin mendengar langsung apa yang sebenarnya dirasakan oleh Ray.


Mendapatkan tatapan sengit dan penasaran dari semua orang tentu saja membuat Ray merasa risih.


“Aku tidak tahu.” Ray masih tidak yakin apakah dia benar-benar menyukai Nara atau hanya sekedar kagum dan ketertarikan sesaat saja.


“Apa maksudnya kamu tidak tahu? Kalau suka ya suka, kalau tidak ya berarti tidak. Kenapa membingungkan seperti itu?” Kakek sedikit tidak senang ketika Ray menjawab tidak tahu. Seorang penerus dari keluarga Noordien tidak boleh ragu-ragu dalam membuat suatu pilihan.


“Kak, aku sudah mengatakannya sebelumnya. Kalau kakak ingin berkencan dengan Kak Nara, maka kakak harus meminta izin dariku dulu.” Ryn menatap pada Evelyn dengan pandangan bertanya.


“Eve, apakah kakak kedua mu ini benar-benar menyukai Nara? Nara anak Ken bukan?” Evelyn menggelengkan kepalanya tapi setelahnya menganggukkan kepalanya. Tentu saja hal itu membuat Ryn bingung. Yang mana yang benar? Iya atau tidak?”


“Kak Jerry mu juga menyukai Nara? Mereka berdua menyukai orang yang sama?” Nenek benar-benar terkejut. Benarkah kedua cucunya menyukai orang yang sama? Kasihan sekali mereka.


“Bukan begitu Nek. Aku tidak menyukai Nara. Eve, jangan membuat orang bingung. Sejak kapan aku mengatakan kalau aku menyukai Nara?” Jerry menjawab dengan kelabakan. Dia melambaikan kedua tangannya dengan terburu-buru, takut bila nanti Nenek akan salah paham dengan ucapan Evelyn.


“Memang bukan Kak Nara, tapi Kak Cein. Tadi saja aku melihat Kak Jerry terus melihat pada Kak Cein saat pulang sekolah tadi. Memangnya aku anak kecil yang tidak bisa mengerti arti dari tatapan itu. Kakak pasti terpesona dengan Kak Cein kan?” Evelyn menyipitkan matanya pada Jerry yang mengalihkan tatapannya ke arah lain, berusaha untuk menghindari tatapan semua orang. Siapa yang tahu kelakuannya tadi ternyata tertangkap basah oleh sang adik.


Dia memang sempat memandangi Cein tadi karena dia memang merasa terpesona dengan Cein yang begitu menyayangi Evelyn begitu juga Nara. Dia bisa melihat dari bagaimana dia memperlakukan Evelyn. Dia seperti melihat sosok ibu kandungnya pada diri Cein walaupun sudah lama sejak dia bertemu sang ibu. Tapi untuk mengatakan dia menyukai Cein...dia masih belum yakin.


“Tunggu-tunggu, jadi Ray menyukai Nara dan Jerry menyukai Cein? Bukankah kalian baru bertemu kemarin?” Tanya Bunda Ryn.


“Tidak ada batasan waktu untuk menyukai seseorang sayang. Aku saja menyukaimu pada pandangan pertama. Jadi bukan tidak mungkin mereka menyukai orang yang baru mereka temui kemarin.” Jayden mengeratkan rangkulannya pada pinggang Ryn. Dia menyecup puncak kepala istrinya dan mengusakkkan hidung bangirnya dirambut panjang Ryn.


Ray hanya memutar mata malas. Dia sudah bosan melihat pemandangan seperti ini setiap hari. Ayahnya terlalu bucin dengan bundanya. Ya bukan berarti itu hal yang buruk. Hanya saja, dia bosan melihatnya. Belum lagi Kakek dan Neneknya pun sama saja. Bayangkan saja ada dua pasangan yang lupa dengan umur mereka, dan dengan seenaknya bermesraan dihadapan anak dan cucu mereka.


“Kalian benar-benar menyukai mereka? Bukan berarti kami melarang kalian. Tapi kalau memang kalian tidak serius lebih baik kalian tidak perlu mendekati apalagi menjadikan mereka sebagai kekasih kalian. Ayah tidak ingin memiliki anak yanghanya tahu bagaimana menyakiti perempuan. Kalau kalian seperti itu, ayah akan mengurung kalian dan menghentikan semua aktivitas kalian untuk mengajari kalian bagaimana harus menghormati perempuan.” Jayden sangat tidak menyukai laki-laki yang tidak memiliki sikap hormat pada perempuan. Dia membenci orang yang menganggap laki-laki memiliki tingkatan lebih tinggi daripada perempuan dan menindas perempuan seolah mereka lemah.


Raymond, ayah Jayden sekaligus kakek Ray dan Jerry itu tidak pernah mengajari Jayden untuk memperlakukan perempuan dengan buruk. Lalu dia juga tidak akan pernah mengajarkan Ray untuk bersikap buruk pada perempuan, kecuali orang itu adalah orang yang sudah menyakiti keluarganya.


Anak-anaknya telah masuk dalam dunia gelap di umur yang masih kecil, tentu saja hal itu membuat hati anak-anaknya menjadi kejam. Karena memang di dunia ini tidak diperbolehkan untuk berlembut hati. Sekali berlembut hati maka dia kalah. Tapi ketika berhubungan dengan dunia pribadi dan perasaan tentu saja itu berbeda cerita.


Pada intinya, Jayden pasti akan menghukum anak-anaknya jika mereka berbuat salah apalagi sampai menyakiti perempuan tidak bersalah.


“Memangnya ayah pikir kami orang seperti apa? Bunda dan Nenek ada disini. Jika kami melakukan itu bayangkan betapa mengerikannya hukuman yang akan mereka berikan pada kami.” Selain Jayden tentu saja Raymond dan kedua ratu dirumah itu akan menghukum mereka juga. Bahkan terasa lebih parah daripada kedua raja di sana.


“Bagus kalau kalian mengerti. Bunda yakin kalian bukan anak seperti itu. Bunda yakin kalian bisa mengambil keputusan dengan baik, jangan menyakiti mereka, mengerti?” Ray dan Jerry menganggukkan kepalanya.


“Lalu bagaimana dengan Hansel? Kamu ada menyukai seseorang?” tanya Raymond. Jerry dan Ray menyungging senyum mengejek pada Hansel. Mulut mereka tentu saja gatal untuk mengatakan sesuatu, tapi tentu saja mereka tidak akan mengatakannya sekarang. Kalau tidak bagaimana mereka bisa menggoda teman kecilnya ini?


“Dia punya, tapi dia tidak ingin memberitahu terlebih dahulu. Katanya waktunya belum tepat.” Jerry menjawab mewakili Hansel yang bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.


Ray merangkul dan menepuk pundak Hansel dengan kencang. Sedangkan si empu hanya bisa merutuk dalam hati. Mengapa dia bisa memiliki dua teman yang sangat jahil dan senang menggodanya.


“Ayah, Bunda, Kakek, Nenek, Kak Ray, Kak Jerry, Kak Hansel, Zea, aku pergi ke kamar dulu, aku sudah mengantuk.” Setelah mendapatkan anggukan dan jawaban dari semua anggota keluarga, Evelyn segera menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Dia masih memiliki sedikit jetlag karena perbedaan waktu yang cukup jauh. Tadi saja saat pulang dari kampus, dia sudah tertidur sampai malam tiba.


Dia bangun untuk makan bersama dan menikmati waktu bersama keluarganya yang lain untuk sebentar. Dia ingin melanjutkan tidurnya lagi sehingga besok dia tidak akan mengantuk saat di sekolah.


Setelah kepergian Evelyn, semua anggota keluarga menatap lagi pada Hansel yang tadi melihati kepergian Evelyn dari sana.


Merasa di tatap, dia menoleh dan menemukan semua pasang mata tengah menatapnya dengan pandangan penuh arti. Dia mengangkat kedua alisnya. Ada apa dengan suasana ini?


“Ayah tidak akan melarang kamu untuk mendekatinya, tapi sepertinya kamu perlu melewati dua orang lainnya yang bisa saja lebih kejam daripada kedua kakaknya.” Ucapan Jayden membuat Hansel sedikit mengerutkan keningnya. Apa maksudnya?


“Kenapa kau berubah menjadi begitu bodoh Hansel? Menjawab pertanyaan menjebak milik dosen saja kau bisa, tapi kenapa kamu tidak bisa menangkap maksud perkataan yang sangat mudah untuk dimengerti ini?” Ray benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran dan kinerja otak Hansel. Dia saja mengerti mengarah kemana ucapan ayah berjalan.


“Mau ku bantu, brother?” Jerry menepuk pundak Hansel dua kali. Temannya ini sepertinya sedikit telmi ketika berurusan dengan urusan percintaan.


Hansel masih bingung. Apa maksud pembicaraan ini? Kenapa dia tidak mengerti? Apakah ayah tahu siapa yang dia sukai? Siapa dua orang lainnya? Hah...sudahlah dia tidak mengerti. Biarkan saja. Nanti juga dia akan mengerti sendiri.