
Nara tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan menatap Ray dengan mata lucunya.
"Ray, bisa kamu katakan pada pihak sekolah kalau aku akan bertanggung jawab untuk kebakaran kemarin?"
Ray menatap Nara dengan tidak suka. Apa maksudnya? Dia mau bertanggung jawab untuk hal yang tidak dia lakukan? Kekasihnya ini sudah kehilangan kewarasannya ya?
Nara mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin libur. Biarkan aku mendapatkan skors saja."
"Kamu bisa libur kalau kamu mau. Untuk apa harus sampai mendapatkan skors?"
"Loh bisa?"
Si manis menegakkan tubuhnya. Menatap Ray dengan tidak percaya. Dia bisa libur kapan pun dia mau? Tapi apakah itu tidak beresiko? Dia malas kalau harus dipanggil lagi seperti tadi. Dia kan hanya ingin libur saja. Huph
"Nara, nenek adalah pemilik universitas ini. Kamu bisa libur kapanpun kamu mau. Aku akan mengurusnya."
Nara melihat Ray dengan mata berbinar. Apa ini artinya dia bisa membolos sesuka hatinya? Hehehe....
"Tapi apa nenek tidak akan marah kalau aku begitu?"
Ray menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku, Jerry, dan Hansel juga sering membolos pelajaran karena bosan. Dan tanggapan nenek biasa saja."
Ya tentu saja nenek seperti itu padanya. Mereka kan pintar juga sudah mulai mengambil alih perusahaan keluarga. Bersekolah seperti ini hanyalah formalitas dan seperti penghilang rasa bosan untuk mereka.
Tapi lain cerita dengan Nara. Ayah Jay sudah dengan murah hati membiayai perkuliahannya dan Cein. Dia kan jadi tidak enak kalau seperti ini. Walaupun ini universitas milik nenek, mereka juga setidaknya harus memberikan timbal balik yang sesuai. Seperti rajin dan pintar.
"Sudah tenang saja. Aku yakin nenek hanya akan membuatmu libur lebih lama atau dia bahkan mungkij akan memberikan tiket pesawat untuk mu liburan."
Nara membulatkan matanya. Tidak mungkin sampai seperti itu kan? Dia hanya ingin libur beberapa hari karena malas. Situasi di tempat ini juga membuatnya muak. Harus terus menghadapi mereka itu juga melelahkan meskipun dia sudah sering melakukannya.
Tapi kalau di berikan pun Nara tidak akan menolaknya. Hehe. Sayang sekali kan. Kapan lagi dia dapat liburan gratis. Ah, apa ini salah satu keuntungan dari memiliki hubungan baik dengan keluarga Noordien? dan sekarang dia menjalin hubungan dengan Ray?
Kepala Nara seketika kosong. Menyetujui permintaan Ray untuk mengizinkannya bersamanya itu bukan keputusan yang salah kan? Dia tidak salah mengambil keputusan kan? Apakah setelah ini hidupnya akan lebih ramai lagi? Cynthia saja belum selesai dia urus, bagaimana kalau ada lagi yang lain-lain?
Ah sudahlah. Pikirkan saja itu nanti. Sekarang yang terpenting adalah libur. Dia sudah lama tidak bolos seharusnya tidak apa-apa jika dia seperti ini. Ayah Jay juga pasti sudah tahu kelakuannya ketika di Vancouver jadi untuk apa berpura-pura menjadi anak baik?
"Kalau begitu besok aku tidak akan masuk ya, hehehe."
Ray merasa gemas melihat Nara yang tersenyum dengan mata berbinarnya. Jangan sampai dia meminta Nenek untuk membuat peraturan baru.
Ray menguyal kedua pipi Nara. Kekasihnya ini lucu sekali. "Apa kekasih ku ini senang karena bisa meliburkan diri besok?"
Nara mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya sangat lebar dan manis. Sangat berbanding terbalik dengan keadaan tadi. Ray berjanji kalau dia tidak akan membiarkan siapapun membuat Nara menangis. Termasuk dirinya. Dia akan berusaha untuk membuat Nara bahagia apapun caranya. Pasti.
Di cafetaria, Eve yang sedari tadi menunggu kakak-kakaknya hanya bisa menghela napas. Kemana perginya mereka? Tadi Jerry mengatakan kalau dia akan menyusul nanti dan memintanya bersama Hansel. Tapi sampai sekarang dia tidak menemuinya padahal dia sudah pergi ke perpustakaan dulu tadi.
Cein dan Nara juga tidak terlihat dari tadi. Biasanya dia akan melihat kedua kakaknya itu sedang makan atau sekedar memakan cemilan yang dibeli sambil berbincang-bincang. Tapi mereka tidak ada hari ini. Apa mungkin terjadi sesuatu pada mereka?
Namun, dia tidak mendengar apapun dari keluarganya atau kakaknya mengenai Nara dan Cein. Kemarin juga dia tidak melihat Nara. Padahal katanya dia akan menyusul. Kakak keduanya yang mengatakan akan menyusul Nara juga tidak kembali.
Mereka tidak mungkin pergi berdua tanpa memberitahunya kan? Atau jangan-jangan kakak keduanya itu memaksa Nara untuk pergi bersamanya? Awas saja kalau dugaannya itu benar. Dia tidak akan membiarkan kakaknya itu mengambil keuntungan dari Nara.
Tapi saat pulang, Cein mengatakan kalau Nara ada urusan karena itu tidak bisa menyusul mereka dan Ray mengantarnya. Karena itu juga kakak keduanya tidak kunjung kembali. Tapi...apa itu benar? Kenapa dia mencium bau-bau mencurigakan?
Sudahlah, nanti dia akan menanyakannya langsung pada Nara atau Ray. Berdoa saja semoga mereka akan mengatakannya dengan jujur. Kalau tidak juga dia akan memaksa mereka untuk mengatakannya.
"Eve."
Hansel memanggil Eve karena merasa perempuan didepannya ini tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Dia jadi takut kalau Eve akan kemasukan hantu nanti. Kan tidak lucu kalau Eve yang imut dan menggemaskan ini tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan dan mengamuk karena dirasuki. Hih! Dia jadi takut.
"Eve."
"Apa yang kamu pikirkan sampai seperti itu? Memikirkan kakak-kakakmu?"
Eve menganggukkan kepalanya.
"Mereka akan baik-baik saja terutama Nara dan Cein. Kedua kakakmu itu tidak akan membiarkan siapapun hidup tenang setelah mengganggu Nara dan Cein."
Evelyn kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bukannya tidak percaya kalau kedua kakaknya akan menjaga Nara dan Cein. Mereka pasti akan menjaganya. Karena mereka sudah jatuh cinta.
Evelyn bisa melihat tatapan mereka. Walaupun sudah lama tidak bertemu, tapi Evelyn tetap bisa mengerti kalau kakanya itu benar-benar jatuh cinta dengan kedua kakaknya yang lain.
Dia tidak akan terkejut kalau salah satu atau kedua kakanya mengatakan kalau mereka sudah berpacaran dengan Nara dan Cein. Karena dari yang dia tau, kakaknya bukan laki-laki lamban yang terus mengulur-ngulur. Mereka senang mengekspresikan perasaan mereka sesuai dengan kepribadian mereka.
Kalau kakak pertamanya yaitu Jerry, mungkin dia lebih bertindak dalam diam. Dia tidak menunjukkan kalau dia melindungi Cein, tapi dia melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuannya. Tapi dia juga akan senang mengekspresikan sifat-sifat aslinya di hadapan Cein.
Untuk kakak keduanya yaitu Ray, dia menyalurkan perasaannya melalui tindakan. Dia akan memperlakukan Nara dengan segala kelembutannya, rasa sayang, dan rasa perhatiannya. Dia juga akan menunjukkan sifat jahilnya seperti yang dia tunjukkan pada keluarga.
Yang berbeda antara mereka berdua hanyalah kepribadian. Ray menunjukkannya terang-terangan dan berani menunjukkan tindakannya untuk melindungi orang yang dicintainya. Sedangkan Jerry cenderung samar-samar. Mungkin jika Cein bukan orang yang peka, dia harus berusaha ekstra untuk mengetahui kalau Jerry menyukainya dan ingin menjaganya.
Tapi setahunya Cein adalah orang yang sangat peka. Dia jauh lebih peka dari Nara. Baik itu secara perasaan ataupun tindakan. Beruntunglah Jerry kalau mendapatkan Cein yang peka. Mereka tidak akan miskomunikasi nanti.
Hansel yang melihat Evelyn kembali melamun hanya menggelengkan kepalanya. Evelyn ini kenapa suka sekali melamun sih. Sebenarnya sebanyak apa hal yang ada di pikirannya sampai-sampai dia terus melamun ketika tidak ada hal yang dia lakukan.
Hansel menangkup wajah Evelyn, membuatnya sedikit mendongak ke arahnya. Dia menekan kedua pipi Evelyn sampai membuat bibir Evelyn yang terlapisi dengan lipbalm itu mengecurut maju.
Evelyn segera sadar dari lamunannya ketika Hansel mulai menggoyang-goyangkan kepalanya secara acak. Dia menatap Hansel dengan tidak suka. Tangannya memegang kedua tangan Hansel berniat untuk melepaskannya dari wajahnya.
Tapi karena tidak mau lepas, Evelyn memukul-mukulnya. Entah apakah pukulannya ini terasa atau tidak. Yang penting laki-laki ini melepaskannya. Astaga pipinya ditekan terus. Bisa-bisanya dia melakukan ini padanya. Dasar tidak berperike-evelyn-an! Huph!
Sebenarnya Hansel ini tidak kalah tampan dari kedua kakaknya. Hanya saja dia ini menyebalkan menurut Evelyn. Dia selalu melakukan hal-hal seperti ini contohnya. Dia kan jadi kesal kadang. Tapi dia juga tidak bisa membencinya. Karena dia tampan. Hehehe
Bunda dan Ayahnya memang memiliki mata yang bagus ya makanya memilih membawa Hansel bersama mereka. Habisnya dia tampan. Dia kuat juga pandai bertarung seperti kedua kakaknya.
Sejak dulu Evelyn menginginkan memiliki kekasih yang kuat dan bisa membelanya juga menjaganya. Walaupun dia memiliki keluarga juga kakak-kakaknya. Tapi mereka juga pasti akan memiliki orang yang ingin mereka lindungi.
Evelyn juga tau kalau dia tidak boleh terus mengandalkan orang lain. Karena itu sekarang Evelyn diam-diam berlatih menggunakan pistol tanpa sepengetahuan Kakek, Ayah, dan kedua kakaknya juga Nara dan Cein. Yang mengetahui hal ini hanya Nenek, Bunda Ryn, dan Hansel. Yang mengajarinya juga Hansel jadi wajar kalau Hansel mengetahuinya.
Beruntung Hansel bersedia menyembunyikannya. Kalau tidak bisa-bisa dia akan di introgasi oleh mereka yang tadi dia sebutkan.
Habisnya kan seluruh anggota keluarganya semuanya pandai berkelahi juga menggunakan senjata. Dia juga ingin paling tidak dia harus bisa melindungi dirinya sendiri.
Sehingga mereka tidak perlu terus mengkhawatirkan dirinya dan menjaganya seperti dulu. Dia juga ingin bisa bergabung bersama keluarganya, bukan hanya menjadi pihak yang dilindungi di belakang mereka.
"Lagi-lagi melamun. Kamu ini kenapa senang sekali melamun sih? Apa kamu tidak takut dirasuki hantu karena terlalu sering melamun?"
"Memangnya kenapa? Melamun itu seru! Kamu tidak pernah mencobanya?"
"Untuk apa aku melamun? Kalau aku melakukannya, maka aku bisa saja kehilangan sebuah kejadian yang bisa saja terjadi di depanku."
"Padahal seru."
"Kamu jangan coba-coba untuk seperti ini saat sedang sendirian. Bagaimana kalau ada yang ingin berbuat sesuatu padamu dan kamu tidak menyadarinya? Selain itu jangan pernah melamun saat sedang memegang senjata, mengerti?"
Evelyn menganggukkan kepalanya ribut. Wajahnya masih ditangkup oleh Hansel. Dia menyerah berusaha melepaskan tangan laki-laki ini. Yang ada dia lelah sendiri. Hansel ini kebanyakan bergaul dengan kakak-kakaknya jadi seperti ini. Dia sangat jahil.
Masa dia pernah mengatakan kalau di kakinya ada serangga disaat dia sedang berlatih menembak. Alhasil tembakannya jadi meleset jauh. Rasanya Evelyn ingin sekali menembakkannya pada Hansel. Atau paling tidak biarkan tembakannya meleset mengenai Hansel.
Sayangnya dia mana berani melakukan. Yang ada dia yang lebih dulu di jatuhkan oleh Hansel. Kemampuannya setara dengan kedua kakaknya sedangkan dia masih pemula yang menembak saja belum begitu baik. Bagaimana bisa menang melawannya?
Mungkin nanti ketika dia sudah lebih lihai. Hehehe.