Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 10: Apartement Nara dan Cein



Semua keluarga Noordien kini sudah berada di dalam kamar mereka masing-masing. Zea memilih untuk tidur bersama dengan Evelyn karena dia ingin lebih dekat dengan kakak perempuannya. Akhirnya ada orang yang bisa dia ajak untuk berbicara. Kedua kakak laki-lakinya tidak asik untuk diajak berdiskusi tentang sesuatu. Setidaknya Evelyn adalah yang paling normal dan rasional diantara mereka semua.


Didalam kamarnya, Ray hanya terdiam menatap langit-langit kamarnya. Dia masih memikirkan ada apa sebenarnya dengan dirinya. Apakah dia benar-benar menyukai Nara? Sepertinya dia masih harus memastikan lebih jauh lagi.


Ray memejamkan matanya, membiarkan dirinya masuk kedalam alam mimpi.


Keesokan harinya, mansion keluarga Noordien telah diramaikan oleh Evelyn yang meminta pada Hansel untuk mengantarnya ke apartement milik Nara dan Cein.


Ray yang baru saja turun dari kamarnya dibuat bingung oleh sang adik yang memohon-mohon pada Hansel untuk mengantarnya pada Nara dan Cein. Bunda Ryn, Kakek, dan Nenek hanya menatap mereka dari meja makan.


“Kenapa Eve? Kamu kan bisa bertemu mereka di sekolah nanti.” Ray menghampiri Evelyn dan mengusap puncak kepala adiknya.


“Kak, tolong antarkan aku pada mereka. Perasaan ku tidak enak tentang mereka.” Evelyn menatap Ray dengan memelas. Melihat mata Evelyn yang terlihat begitu lucu membuat Ray jadi sedikit tidak tega.


“Memangnya kenapa sayang? Mereka akan baik-baik saja kok, Bunda yakin.” Bunda Ryn mendekati Evelyn dan mulai membujuknya untuk tidak perlu khawatir dengan mereka. Tapi Evelyn tetap kukuh dengan keinginannya.


“Begini saja. aku dan Hansel akan mengantar Evelyn ke apartement Nara dan Cein. Nanti Jerry akan menyusul kami langsung ke kampus. Bagaimana?” usul Ray dan segera di angguki oleh Evelyn.


“Ya sudah. Kalian hati-hati ya. Ray, Hansel, jaga Evelyn dengan baik.” Ray dan Hansel menganggukkan kepalanya lalu mereka bertiga keluar dari mansion.


Ryn terus menatap ketiga anaknya yang keluar dari mansion. Sejujurnya dia bingung, mengapa Evelyn mengatakan hal seperti itu? Apakah akan terjadi sesuatu pada Nara dan Cein?


“Sepertinya selama tinggal bersama dengan Ken, Evelyn telah belajar banyak hal. Instingnya berjalan dengan cepat tentang sesuatu yang buruk. Tapi kurasa memang akan ada kejadian nanti di universitas.” Nenek menunjukkan tablet miliknya kepada Ryn yang langsung diambil oleh si cantik.


“Yah, mereka pasti bisa menghadapinya. Mereka bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi. Tikus tidak akan pernah menang melawan kucing. Apalagi kucing yang dilawan adalah kucing liar.” Ryn tersenyum miring ketika membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Nenek juga merasa apa yang akan terjadi nanti adalah sesuatu yang menarik. Ah, dia tidak sabar menunggu tanggal main mereka.


---


Diapartement Nara dan Cein, mereka berdua sedang asik menyiapkan makanan untuk mereka. Jam masuk kampus masih 2 jam lagi, jadi mereka bisa berangkat lebih siang dari biasanya. Nara membantu Cein untuk menyiapkan bahan sedangkan sang kakak yang akan memasak.


Ketika masakan hampir selesai, mereka mendengar bel apartement berbunyi. Nara memutuskan untuk membuka pintu. Dia melepaskan celemeknya dan beralih melihat pada intercom untuk mengetahui siapa yang datang.


“Siapa, Na?”


“Apa yang membuatmu datang Eve? Kita akan bertemu juga kan nanti di kampus. Apa kamu merindukan masakan kakakmu ini?” tanya Cein setelah melihat Evelyn berjalan menghampirinya setelah tadi memeluk Nara dengan erat.


“Aku hanya khawatir. Tadi malam aku bermimpi buruk tentang kalian. Jadi aku datang kesini.” Evelyn cemberut dan memeluk Cein yang memakai celemek. Tangannya memegang spatula membuatnya tampak mirip seperti seorang ibu.


Tiba-tiba sebuah bola cahaya muncul diatas kepala Hansel. Dia mengeluarkan ponselnya dan memfoto kejadian itu lalu mengirimkannya pada Jerry. Hehehe, dia harus menggoda balik temannya. Memangnya hanya Jerry saja yang bisa menggodanya. Dia juga bisa. Lihat saja nanti. Jerry pasti akan semakin terpesona begitu melihat apa yang dikirimkan olehnya.


Nara melihat pada Hansel yang terkikik sambil melihat ponselnya. Dia menyerngitkan dahinya. Matanya beralih menatap Ray yang berada di sampingnya. Mata mereka kembali bertemu, tapi Ray segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia mengigit bawah bibirnya sendiri, takut sekaligus malu jika Nara menyadari kalau dia memperhatikannya sejak tadi.


“Kalian sudah makan? Kami memasak lebih, kalau mau, kalian bisa ikut makan bersama.” Tawar Nara dengan sopan. Nyatanya dia dan Cein memang memasang lebih. Entahlah, Cein mengatakan kalau dia ingin memasak lebih saja, kalau pun tidak habis mereka bisa membagikannya nanti.


“Terimakasih, tapi aku sudah makan. Kalau boleh, tolong ajak si datar ini untuk makan, dia belum memakan sarapannya tadi karena Eve mengajak untuk mendatangi kalian.” Hansel menepuk pundak Ray dengan keras. Dia lalu melirik pada Ray yang menatapnya dengan tajam, tapi dia berpura-pura tidak perduli.


“Seharusnya kau berterimakasih padaku, bodoh. Aku ini sedang membantumu untuk menyadari bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Nara.” bisik Hansel pada Ray.


Ray beralih menatap pada Nara yan juga menatapnya dengan mata bulat miliknya. Oh tidak, kenapa gadis ini begitu lucu? Ray menggigit pipi dalamnya, menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.


Hansel lagi-lagi menepuk pundak Ray dengan keras sampai membuat si empu tersadar lagi. Ray mendelik kesal pada Hansel yang menganggu aktivitasnya mengagumi objek menggemaskan didepannya.


“Tolong ya Nara, dia ini sangat sulit ketika disuruh makan. Bunda Ryn saja sampai pusing menghadapinya yang menolak ketika disuruh untuk makan.”


“Kau tidak memakan sarapanmu?! Apa kau sudah bosan hidup?!! Ayo ikut aku, kita makan.” Tanpa sadar Nara menarik tangan Ray untuk mendekat pada meja makan dan mendudukkannya disana.


Nara sangat-sangat sensitif dengan makan. Cein dan Evelyn sangat mengetahui betapa Nara sangat memaksa mereka untuk mengutamakan makan terlebih dahulu. Bahkan Ayah Ken pernah dimarahi oleh Nara karena melewatkan sarapan hanya karena Ayah Jayden memberikan tugas padanya dan memintanya untuk mengerjakannya secepatnya.


Jadi wajar saja jika Nara akan berperilaku seperti itu pada Ray yang notabenenya baru dia kenal. Dia juga pernah memarahi Ayah Jayden karena menelepon Ayah Ken untuk melaksanakan tugas disaat mereka akan makan. Kejadian itu terjadi ketika mereka masih di Vancouver.


Alhasil sejak saat itu Jayden tidak akan memberikan tugas dan menelepon ketika sedang jam makan. Nara tidak akan ragu-ragu untuk memarahi siapapun jika hal itu berurusan dengan makan. Siapapun itu mau itu lebih tua, lebih kuat, lebih berkuasa darinya, dia tidak perduli. Baginya apapun itu yang terpenting adalah makan.


Sudah kurang tidur, kurang minum air, juga tidak makan, mau jadi apa dia? Mayat hidup?


Cein dan Evelyn melihat kejadian itu hanya bisa menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah Ray yang tampak terkejut. Tidak ada siapapun yang bisa menghentikan Nara saat ini. Dia hanya bisa menurut pada Nara. bahkan Evelyn saja tidak berani berbicara apalagi menyelamatkan Ray.