Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 12: Forum



Dari ujung matanya, Nara melihat ada beberapa orang yang sedang berjalan mendekatinya. Dia mengeluarkan earphone miliknya dan memasangkannya pada telinga Evelyn.


Tepat setelahnya beberapa gadis mengetuk meja didepan Nara dengan kuku-kukunya yang panjang. Nara sempat berpikir apakah kuku-kuku tersebut tidak menghalangi dan merepotkan? Memikirkan kuku penyihir berada dijari-jarinya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


Perlahan Nara mendongakkan kepalannya menatap perempuan yang tampak seperti blasteran luar negeri. Dia menaikkan satu alisnya seolah bertanya. Dia banyak menebak atas alasan apa mereka mendatanginya. Hanya satu yang mungkin. Pasti ada kaitannya dengan Azura atau ada kaitannya dengan prince yang membantunya kemarin.


Apakah tebakannya benar?


“Kau memiliki hubungan apa dengan Ray? Ah tidak, kamu tidak perlu menjawab pertanyaan itu karena aku tidak ingin mendengarnya. Yang ingin ku tekankan adalah jauhi Ray. Kau tidak pantas bersama dengannya.”


Bingo!


Nara benar-benar merasa geli dengan ucapan gadis didepannya ini. Sebenarnya ada apa dengan orang-orang disini. Mengapa mereka senang sekali melarang-larangnya?


“Atas dasar apa kau melarangku seperti ini? Kamu mau bilang kalau kamu kekasihnya seperti gadis kemarin? Mengapa Ray memiliki banyak sekali kekasih? Dia seorang player atau kalian yang mengaku-ngaku? Kalian seperti ini bukankah karena kalian terlalu senggang sampai mengurusi kehidupan orang lain?” sarkas Nara. Baru dua hari dia bersekolah dan dia sudah mendengar ancaman dan larangan yang ditujukan untuknya.


“Kau berani menghina Ray? Dia bukan seorang player! Jangan kira karena kau masuk forum dengan Ray membuat mu bisa bersikap seenaknya ya.” Gadis itu menunjuk tepat di depan wajah Nara.


Nara menepis tangan itu dan menatapnya dengan ekspresi menantang. Sangat menyenangkan rasanya melihat ekspresi kesal di wajah orang yang menantangnya ini.


“Oh? Aku masuk forum bersama Ray? Lalu mengapa kau terlihat kesal seperti itu? Jangan-jangan belum ada seorang pun disini yang pernah menyeret nama Ray bersamanya ya? Wah, aku sangat tersanjung. Terimakasih sudah memberitahuku.” Nara tersenyum dengan manis pada orang-orang itu.


Senyuman Nara berhasil membuat mereka kesal setengah mati. Seharusnya Nara takut, bukan malah seperti ini. Mereka mendatanginya dengan ramai-ramai, bukankah seharusnya dia takut dibully?


“Kau pasti bertanya kenapa aku tidak takut pada kalian kan? Dengarkan satu hal, aku tidak takut dibully oleh kalian. Karena bagaimanapun dan berapa banyak dari kalian yang mengangguku, aku pasti akan mengingat wajah kalian dan membalasnya lebih buruk lagi.” Gadis cantik didepannya kembali mengangkat tangannya dan menunjuk Nara dengan jari telunjuknya. Rasanya Nara ingin sekali mematahkan kuku-kuku panjang itu.


“Jangan macam-macam ya. Kami semua yang bersekolah disini bukan orang yang mudah untuk kau jatuhkan. Kami berasal dari keluarga kalangan atas. Jangan kira kau bisa berbuat macam-macam dengan kami!” Nara terkekeh. Mereka sama saja dengan Azura yang mengancam dengan kekuasaan. Dia kira kali ini akan berbeda. Sayang sekali, ternyata tidak seseru yang dia kira.


“Benarkah? Sayang sekali aku tidak takut. Orang-orang seperti kalian hanya mengandalkan kuasa yang tidak seberapa besarnya untuk mengancam orang lain yang lebih lemah. Tidakkah kalian malah menunjukkan kalau kalian lebih lemah daripada mereka yang kalian tindas?” Semakin Nara membalas ucapan mereka, semakin naik pula rasa kesal mereka.


“Selain itu, tidakkah kalian seharusnya berpikir lagi untuk mengancamku seperti ini? Bagaimana jika aku benar-benar memiliki hubungan dengan Ray lalu aku mengadukan kalian padanya. Mmm, omong-omong aku tidak melihat gadis kemarin yang mengangguku di cafetaria. Apa kalian ada melihatnya?” beberapa gadis didepannya ini terkesiap. Benar juga, sedari tadi mereka tidak melihat Azura. Jika ada gadis itu pasti sudah menghampiri Nara dari tadi karena urusan mereka kemarin. Tapi mereka tidak melihat batang hidungnya sama sekali.


Mereka lalu menatap pada Nara dengan tatapan horror. Sedangkan si empu hanya tersenyum dengan manis pada mereka. Dia sebenarnya sudah menduga kalau dia pasti tidak akan melihat Azura lagi, apalagi setelah dia menyakiti Evelyn. Memangnya dia kira keluarga Noordien akan diam saja ketika anak perempuan kesayangan mereka diperlakukan seperti itu?


“Ada apa ini? Kalian memiliki urusan dengan Nara?” Suara Cein terdengar dari samping. Dia baru saja sampai di kelas dan melihat bebapa mahasiswa di kelas sedang berdebat dengan Nara. Dia melihat ekspresi mereka yang sedikit memancarkan ketakutan membuatnya menyadari kalau Nara menang dalam perdebatan ini.


Melihat ketiga laki-laki yang juga berada dibelakang Cein, membuat mereka segera melarikan diri dari sana. Mereka tidak berani untuk mencari masalah dengan Ray, Jerry, dan Hansel.


Begitu mereka pergi Jerry langsung menyodorkan ponselnya pada Nara. Disana terdapat forum yang menunjukkan foto ketika Nara dan Ray berada di Rooftop di mana Ray sedang tertawa menghadap pada Nara.


“Aku sudah mendengarnya dari anak-anak tadi. Tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya. Hanya seperti ini saja bukan masalah besar untukku.” Sikap santai Nara justru membuat ketiga laki-laki itu merasa tidak tenang.


“Ada apa dengan wajah kalian itu? Selama bukan Eve maka tidak akan ada masalah apapun. Akan bagus jika fokus mereka tertuju padaku, dengan begitu Eve tidak perlu takut dan kalian hanya perlu membantuku untuk menjauhkannya saja. Masalah selesai.”


Tiba-tiba saja Ray mendudukkan dirinya di sebelah Nara. Cein sudah duduk disebelah Evelyn. Disebelahnya terdapat Jerry diikuti Hansel.


Nara melihat Ray yang mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Nara sempat mengintip apa pesan yang dikirimkan dan itu mengenai forum. Ray meminta orang untuk menghapus berita itu dari forum.


“Kau tidak senang masuk dalam forum atau tidak sedang karena kehidupan pribadimu dicampuri oleh orang lain?” Tebak Nara namun berhasil membuat Ray mengalihkan perhatiannya pada gadis manis yang tubuhnya lebih kecil dari Ray. Laki-laki itu menatap pada Nara dengan intens


“Jawab pertanyaanku, jangan hanya melihatiku saja.” Ray tersenyum tipis. Tidakkah gadis ini setidaknya merasa takut atau menghindarinya karena telah membuatnya berada dalam kesulitan untuk seterusnya.


“Kau tidak takut kehidupanmu setelah ini menjadi tidak tenang?” Nara sepertinya mengerti. Ray merasa kalau dia bertanggung jawab atas diganggunya Nara tadi.


“Aku tidak takut. Aku menyukai tantangan. Lagipula, aku bisa menghadapi mereka dengan mudah. Mereka hanyalah anak yang menggunakan kekuasaan keluarganya untuk menindas orang lain. Bagiku, mereka tidak lebih dari orang-orang lemah yang hanya berusaha kuat dengan cara yang salah. Mereka bukan orang yang mudah, tapi aku juga bukan orang yang mudah ditindas begitu saja.” Nara menyeringai. Dia tiba-tiba mengingat ketika dia berada di Vancouver dulu. Semua anak-anak yang dulunya membullynya malah bertekuk lutut padanya.


“Selain itu, jangan terlalu merasa bersalah. Aku menikmatinya. Jadi lebih baik kau juga nikmati saja. Ini akan menyenangkan.” Melihat wajah Nara yang terlihat begitu senang dengan situasi ini. Kenapa dia begitu menikmati hal seperti ini yang seharusnya membuat orang takut?


“Ku kira kamu adalah orang yang menyukai ketenangan.” Ray sejak awal mengira kalau Nara tidak akan suka ketika kehidupannya mulai terusik dan akan berusaha untuk membuat hidupnya kembali tenang.


“Aku memang suka hidup dengan tenang. Tapi hidup terlalu tenang juga tidak menyenangkan. Akan lebih baik jika kita memberikan sedikit bumbu sehingga hidangan akan menjadi lebih menggugah selera.” Ray terkekeh. Mengapa gadis disebelahnya ini begitu unik? Pantas saja dia menaruh perhatian padanya sejak awal.


“Omong-omong aku ingin menanyakan satu hal padamu.” Ray menaikkan kedua alisnya, memperbolehkan Nara untuk mengajukan pertanyaan.


“Gadis kemarin dan kedua temannya. Pasti keluarga kalian yang mengurusnya kan?” Ray menatap Nara dengan pandangan sulit diartikan. Antara dia tidak ingin memberitahukannya atau ragu mengatakannya secara jujur pada Nara.


“Sudah ku bilang jawab pertanyaanku. Jangan hanya menatapku seperti itu.” Nara menyentil pelan dahi Ray dengan jari telunjuknya. Dia gemas melihat Ray hanya diam menatapnya setiap dia bertanya.


“A-ah itu, ayah yang mengurusnya.” Awalnya Nara sedikit tidak percaya tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya. Dia menoleh kepada Evelyn yang masih sibuk dengan dunia novelnya bahkan tidak menyadari kalau ketiga kakaknya sudah berada didekatnya.


Di sebelahnya, Jerry menatap Cein yang sedang memainkan ponselnya sambil sesekali melihat pada Evelyn, takut-takut gadis itu sudah kembali ke dunia nyata setelah berpetualang di dunia fantasi miliknya.


Cein juga sesekali melihat pada Nara yang sedang berbincang dengan Ray. Dia tersenyum menahan tawa. Adiknya mungkin mengatakan kalau dia tidak yakin bisa menyukai apalagi memiliki hubungan dengan laki-laki. Tapi melihat bagaimana Nara terlihat begitu nyaman dan santai berbicara dengan Ray, sudah bisa membuktikan kalau keberadaan Ray tidak membuat Nara tidak nyaman apalagi takut karena mengingat masa lalunya.


Merasa ada yang menatapnya, dia menoleh ke sebelah kanannya dan menemukan Jerry sedang terbengong sambil menatapnya. Melihat Jerry malah membuatnya mengingat kejadian tadi ketika di parkiran. Apa ini? Apakah dia juga mulai menyukai Jerry? Entahlah, biar waktu saja yang menjawabnya. Dia tidak perduli.