Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 11: Cein merona



Masakan milik Cein sudah matang. Semua lauk sudah tersedia di atas meja makan. Nara menatap sengit pada kedua kakak beradik didepannya. Baru saja dia juga sudah memarahi Evelyn karena meninggalkan sarapannya untuk datang ke apartementnya.


Selama makan, dia terus menatap pada keduanya, memastikan dua orang itu makan yang cukup. Hansel yang duduk di sofa ruang tengah hanya bisa menahan tawa melihat Ray yang tampak begitu menurut pada Nara. Bahkan memakan apa saja yang diambilkan gadis itu untuknya.


Dia kembali memotret kejadian itu untuk dikirimkan pada Bunda Ryn. Dia harus berbagi hal baik seperti ini. Akhirnya ada orang yang bisa membuat Ray tunduk dan mau memakan makanannya.


Selesai dengan kegiatan pagi itu, Nara dan Cein bersiap untuk pergi ke kampus. Ray mengatakan kalau mereka berdua akan ikut dengan mobilnya saja. Awalnya mereka berdua menolak, tapi Evelyn memaksa. Akhirnya mereka hanya menuruti saja permintaan yang paling muda diantara mereka.


Sampai sekarang Evelyn tidak ingin menceritakan mimpinya karena dia takut akan menjadi kenyataan. Di dalam mobil Evelyn terus berceloteh ria menceritakan kalau kemarin dia terkena jet lag dan tertidur sangat lama. Dia juga bercerita kalau dia terkejut ketika melihat Zea tidur dengannya karena tadi malam saat tidur dia hanya sendirian.


Beberapa kali Ray mencoba untuk mencuri-curi pandang pada Nara yang duduk dibelakangnya. Entahlah hanya saja, dia merasa terus ingin melihat pada gadis itu. Seakan seluruh atensinya diambil alih oleh gadis itu. Apalagi setelah gadis itu bertindak seperti tadi, memaksanya untuk makan. Mengingat wajah kesal Nara yang malah terlihat imut untuknya.


Evelyn menyadari hal itu dan hanya membalas menatap kakaknya yang sepertinya tidak bisa menahan diri lagi. Awas saja jika kakaknya ini menyakiti Kak Nara. Akan dia pastikan kakaknya akan dihukum oleh Ayah, Bunda, Kakek, dan Nenek!


---


Mobil yang dikendarai oleh Ray memasuki lahan parkir Universitas. Disana sudah ada banyak mahasiswa lainnya yang berkumpul di dekat parkiran. Kedatangan Nara dan Cein membuat mereka semua terkejut. Nara menatap mereka semua dengan bingung. Mengapa mereka semua berbisik sambil menatapnya? Apakah dia sudah menjadi topik pembicaraan mereka dihari ketiga dia di negara ini?


Dia mengangkat kedua bahunya tidak perduli. Bicarakan saja silahkan. Lagipula selama ini dia memang selalu dibicarakan dimana dia berada, bahkan ketika di Vancouver.


“Eve, kamu masuk duluan saja dengan Nara dan kedua kakakmu ya. Aku ingin mengangkat telepon dulu, nanti aku akan menyusul.” Nara menatap Cein dengan pandangan bertanya. Cein menggoyangkan ponselnya lalu tersenyum pada sang adik.


“Selesaikan cepat. Kalau ada yang menganggumu, telepon aku.” Cein menganggukkan kepalanya. Dia menunggu sampai mereka berempat sedikit jauh, baru dia mengangkat panggilan di ponselnya.


“....”


“Maaf tadi ada Eve, jadi aku tidak bisa langsung menjawab. Ada apa?”


“....”


“Okay. Serahkan saja padaku. Nanti malam kabarnya sudah akan diketahui olehmu.”


“....”


Cein menutup panggilan teleponnya. Ketika dia ingin masuk, dia melihat Jerry yang baru saja datang dengan motor berwarna merah menyala. Kalian mungkin tahu motor macam apa yang pasti dipakai oleh sulung keluarga Noordien. Cein menyebutnya motor pencuri kesempatan atau motor modus.


Cein berniat menyapanya karena itu dia mendekati Jerry yang sedang membuka ponselnya entah melihat apa. Dia menepuk pundak Jerry dari belakang. Si empu terkejut melihat siapa yang menepuk pundaknya itu.


“I-iya. Tadi pagi Eve datang menemuimu bersama Ray dan Hansel bukan? Maaf sudah merepotkanmu untuk dua orang tidak diundang lainnya.” Cein tertawa ketika mendengar Jerry menyebut Ray dan Hansel sebagai orang merepotkan.


“Mereka tidak merepotkan kok. Lagipula yang mengurus Ray bukan aku, Nara yang menyeretnya untuk makan bersama ketika mengetahui dia belum makan. Sepertinya saudara kembarmu itu sangat terkejut dengan Nara yang sangat sensitif terkait makan.” Cein menceritakannya dengan riang. Lagipula berkat itu dia mendapatkan tontonan menarik di pagi dan dia juga memiliki alasan untuk menggoda Nara lagi nanti.


Jerry termenung ditempat. Wajah ceria Cein benar-benar membuatnya berkali-kali lebih cantik. Belum lagi pipi gembilnya yang terlihat lucu. Sangat menarik perhatiannya. Pipinya membuat Jerry ingin sekali menggigitnya.


Cein melambaikan tangannya di depan wajah Jerry lalu membuat si empu segera sadar. Jerry mengambil tangan Cein yang melambai itu lalu tiba-tiba mencubit kedua pipi gembil itu.


Gadis berpipi gembil itu terkejut melihat apa yang sudah dilakukan oleh Jerry. Dia terdiam menatap pada wajah Jerry yang tampan. Dibandingkan Ray, Jerry mungkin tampak lebih ramah. Tapi dia yakin perilakunya tidak jauh berbeda dengan saudara kembarnya.


“A-ah, maaf. Aku tidak tahan untuk mencubit pipimu.” Jerry terlihat salah tingkah. Dengan cepat dia menurunkan tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Suasana di antara mereka menjadi canggung. Belum lagi kedua pipi Cein yang sedikit mengeluarkan rona merah.


Ketika itu, Jerry melihat dibelakang Cein ada sebuah motor yang mengarah kepada mereka. Jaraknya mungkin tidak pas pada Cein, tapi motor itu bisa saja menyenggol gadis berpipi gembil itu.


Jerry segera menarik tubuh Cein untuk mendekat padanya, tepat setelah itu motor tersebut lewat. Benar saja perhitungan Jerry. Jika dia tidak menarik Cein maka kemungkinan gadis ini akan tersenggol motor itu.


Karena tiba-tiba ditarik seperti itu, kepala Cein menubruk dada Jerry dan menempel disana. Wajahnya semakin merona ketika mendengar suara detak jantung Jerry yang begitu cepat. Diperlakukan seperti ini tentu saja membuat jantungnya mau tidak mau ikut berdetak dengan kencang. Tubuhnya mendadak kaku.


“J-jerry....” panggil Cein dengan gugup.


Jerry seketika menyadari apa yang terjadi dengan mereka berdua. Dia tadi terlalu fokus pada motor tadi sehingga tidak menyadari posisi diantara mereka berdua. Dia melepaskan tangannya dan dengan cepat Cein segera menjauhkan tubuhnya dari Jerry. Memberikan jarak diantara kedua. Suasana menjadi semakin canggung diantara kedua.


“Maaf, tadi ada motor yang hampir menyenggolmu. Karena itu aku menarikmu.” Cein menggigit bibirnya gugup. beruntung Nara tidak berada disini, kalau tidak dia juga akan menggodanya seperti sebelum-sebelumnya.


“I-itu, terimakasih. Kalau begitu, aku duluan.” Cein langsung melangkah cepat memasuki gedung universitasnya. Jerry memukul kepalanya sekali lalu ikut masuk kedalam gedung.


---


Di sisi lain, Nara merasa risih terus diperhatikan oleh semua orang bahkan sampai di dalam kelas. Tapi dia mengabaikan itu semua. Lagipula jika ada yang bermacam-macam dengannya maka dia bisa membalasnya kapan saja.


Saat di masuk kedalam kelas, seluruh atensi kelas langsung tertuju padanya tanpa terkecuali. Dia dan Evelyn memilih tempat duduk. Kali ini Evelyn sedang ingin diajak bekerja sama jadi dia mau saja ketika Nara mengajaknya untuk duduk agak belakang.


Sesampainya dikelas tadi, Evelyn sudah sibuk membaca buku novel miliknya sampai tidak memperdulikan Aliana dan Tery yang pindah tempat duduk di depan mereka untuk mengajak Evelyn berbicara. Namun, sekali Evelyn sudah tenggelam dalam dunianya, maka tidak ada siapapun yang bisa menganggunya. Bahkan jika kalian memanggilnya sekeras apapun, dia tidak akan pernah menjawabnya.