
Setelah makan malam, Ray kembali ke kamarnya. Dia meminta orang untuk mencaritahu mengenai kebakaran itu. Dia ingin tau siapa yang melemparkan bom molotov itu ke dalam gedung. Apa mungkin si culun itu yang melakukannya?
Ray harus segera mengetahui pelakunya. Nara terluka seperti itu bagaimana dia bisa diam saja tidak berbuat apapun. Yang di larang oleh Nara hanya perempuan aneh itu. Tapi Nara tidak melarangnya untuk menemukan pelaku dibalik ini dan membunuhnya.
Paling tidak Ray harus membuat pelakunya merasakan tangannya terbakar. Berani sekali dia menorehkan luka di tubuh Nara. Dia saja tidak berani untuk sekedar memukul. Jangan kan memukul, hanya memegang tangannya sedikit keras saja Ray tidak berani.
Ray yang terbiasa dengan kekerasan dan kerasnya dunia bawah mati-matian berusaha untuk tidak berlaku kasar pada Nara. Sebisa mungkin dia melembutkan perlakuan dan tindakannya pada Nara.
Karena Nara juga Ray berusaha untuk menekan temperamennya yang biasa meluap-luap dan sulit ditahan. Dia tidak ingin menyakiti Nara. Baginya Nara tampak seperti porselen rapuh yang bisa pecah kapan saja bahkan hanya dengan sentuhan ringan.
Tiba-tba seseorang masuk ke dalam kamarnya. Tanpa melihat pun Ray sudah tau siapa orang yang masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.
Ray menoleh, memperhatikan saudara kembarnya yang berjalan menghampiri tempat tidurnya dan kemudian melemparkan dirinya.
Dia hanya memperhatikan Jerry yang berguling-guling di atas tempat tidurnya dan memberantaki tempat tidurnya. Ada apa dengan saudara kembarnya ini? Apa obatnya habis?
"Ray."
"Hm?"
"Ray."
"Apa?"
"Ray."
"Apa Jerry??"
"Tidak ada."
Ray rasanya ingin sekali menarik rambut gondrong Jerry dan memotongnya. Biarkan saja dia meraung-raung menangis karena hasil karyanya selama ini di hancurkan hanya dalam hitungan detik oleh saudara kembarnya sendiri.
Tenang Ray, tahan. Kau harus belajar menahan diri agar tidak lepas kendali di depan Nara. Tahan. Huftt
"Ada apa? Apa ini ada hubungannya dengan Cein?"
Jerry menggelengkan kepalanya. Dia mengubah posisinya menjadi terlentang. Matanya menatap langit kamar Ray yang dipenuhi dengan gambar bintang-bintang dan awan.
Berbeda dengan kamarnya yang monoton dengan dominasi warna hitam. Kamar Ray dihias dengan warna biru tua yang atap kamarnya di gambar langit malam berisikan bintang-bintang dan bulan.
Entah darimana ayah menemukan pelukisnya, tapi setiap kali Jerry merasa hatinya sedang tidak nyaman dan tidak tenang, dia akan datang ke kamar Ray dan melihat langit-langit kamarnya. Menatap gambar itu membuatnya seolah bisa kembali tenang dan berpikir dengan baik.
"Ray, apa menurutmu Eve akan setuju Cein dan Nara menjadi kekasih kita dan masuk dalam keluarga ini?"
"Maksudmu?"
"Kau tau kan kalau hidup kita tidak jauh dari bahaya dan orang-orang jahat. Tidak sedikit yang tidak suka pada kita walaupun mereka tidak berani terang-terangan mengusik kita. Jika dia masuk kesini, mereka bisa saja menjadi santapan lezat untuk mereka. Bagaimana kalau mereka terluka atau berada dalam bahaya karena kita?"
Ray jelas mengerti dengan maksud Jerry. Mereka sudah hidup di dunia bawah sejak kecil. Keluarga mereka mengusai underground juga dunia bisnis. Alasan kenapa ayah membawanya dan Jerry masuk ke dunia gelap itu sejak kecil adalah agar mereka terbiasa.
Banyaknya musuh yang mereka miliki membuat mereka harus kuat atau nyawa mereka taruhannya. Tidak ada pantangan atau aturan apapun dalam underworld. Bunuh yang harus di bunuh.
Masuknya Nara dan Cein dalam hidup dan keluarga mereka pasti akan mengundang pihak lain untuk menjadikan mereka target sasaran mereka. Secara tidak langsung, dekat dengannya dan Jerry sama artinya dengan mengambil resiko kalau mereka akan menjadi sasaran empuk orang-orang yang tidak suka pada keluarga ini.
Karena hal ini juga ayah dan bunda menyembunyikan Eve sampai memisahkannya darinya dan Jerry.
Tapi Ray yakin kalau Nara dan Cein tidak selemah itu. Selama mereka masih berada dalam jangkauan keluarga Noordien dan Ray serta Jerry, maka mereka pasti akan baik-baik saja.
Selain itu mereka adalah anak Ken, orang kepercayaan ayah. Nara dan Cein juga selama ini yang sudah menjaga Eve bersama Ken. Apakah mungkin ayah akan membiarkan Eve begitu saja bersama mereka jika mereka lemah dan hanya bisa bersembunyi ketika musuh datang? Rasanya tidak.
"Tenang lah. Aku yakin mereka akan baik-baik saja. Mereka itu kuat. Kalau Nara saja seperti itu, pasti Cein juga tidak jauh berbeda."
Sejujurnya Jerry masih sedikit bingung dengan Cein. Dibandingkan Nara, Cein lebih banyak diam dan membiarkan Nara menghadapi orang-orang yang menganggu mereka.
Tapi dia juga berpikiran sama seperti Ray. Cein pasti tidak jauh berbeda dari Nara. Atau bahkan lebih parah. Hanya saja dia menunggu momentum yang tepat. Dia mungkin membiarkan Nara maju menghadapi mereka, tapi kita tidak tau apa yang ada dalam kepalanya.
"Kita hanya perlu menjaga mereka. Mereka perempuan kuat, bukan orang lemah yang mudah di tindas dan direndahkan. Jika ada yang menganggu mereka, mereka pasti akan membalasnya dengan lebih parah. Sama seperti kita."
Jerry menganggukkan kepalanya. Ray ikut merebahkan diri di samping Jerry. Matanya menatap langit kamarnya yang indah. Walaupun tidak seindah mata Nara. Dulu dia pikir gambar langit di kamarnya yang indah. Tapi setelah bertemu Nara, mata Nara adalah hal paling indah yang pernah Ray lihat.
"Jerry."
"Kenapa?"
"Sepertinya aku ingin mengatakan perasaanku pada Nara."
Jerry menoleh ke samping. Dia bisa melihat saudara kembarnya tersenyum dengan bodohnya. Jerry yakin dia pasti sedang memikirkan Nara. Benar-benar ya. Dia tidak menyangka kalau Ray akan menjadi laki-laki budak cinta bodoh seperti ini. Apalagi perempuan yang dijadikan dunianya adalah Nara. Orang yang selama ini diceritakan terus oleh Nara ketika mereka melakukan video call.
Dia bukan meragukan cinta dan rasa sukanya pada Cein. Dia hanya takut gagal melindungi orang yang dicintainya. Dia takut ditinggalkan lagi oleh orang tersayangnya.
Ray mengubah posisinya menjadi menghadap pada saudara kembarnya. "Jerry, kau tidak keberatan kalau aku menjadikan Nara kekasih ku lebih dulu?"
"Kenapa aku harus keberatan?"
"Kata mama, kau lebih tua 5 menit daripadaku. Berarti sama saja kau lebih tua dariku walaupun hanya beberapa menit saja. Apa kau tidak keberatan aku menduluimu?"
Jerry tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ray masih ingat saja dengan itu. Padahal selama ini mereka berdua tidak pernah menggunakan aturan kakak adik itu walaupun dia tau Ray tetap menghormatinya sebagai yang lebih tua diantara mereka.
"Aku tidak pernah menggangap hal seperti itu ada. Dibandingkan mengingat aku lebih tua 5 menit, aku lebih suka kita berlaku seperti kita lahir di waktu yang sama. Tanpa ada anggapan siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda. Aku tidak masalah kau mendahuluiku. Lagipula ini bukan kau akan meninggalkanku untuk menikah lebih dulu."
Ray mengerutkan keningnya tidak suka. "Bukannya kita pernah setuju untuk menikah dihari yang sama? Kita bahkan sudah mengikat janjinya dengan jari kelingking kita. Kau ingin mengingkarinya?"
Silahkan anggap saja dia seperti anak kecil. Tapi dia akan berusaha tetap memegang teguh janji ini bahkan kalaupun Jerry lupa. Dia akan mengingatkannya kalau memang dia lupa.
Selain itu dia merasa tidak enak kalau harus mendahului Jerry. Bagaimanapun dia yang lebih tua di antara mereka. Walaupun Jerry sama sekali tidak memusingkan mengenai sopan santun dan yang tua dan muda diantara mereka.
"Yah siapa tau kau tiba-tiba ingin menikah lebih dulu dari aku."
"Kalaupun aku ingin, aku pasti akan mengatakannya padamu. Tapi aku akan berusaha memegang janji itu. Kita juga bisa saling berunding kan? Seperti sekarang ini."
Jerry menganggukkan kepalanya. Yah, tidak salah sih. Sejak dulu mereka memang tidak selalu berunding jika ada sesuatu yang menganggu salah satu dari mereka.
"Katakan saja pada Nara mengenai perasaanmu. Aku mendukungmu."
"Lalu bagaimana denganmu? Masih ragu dengan diri sendiri?"
Jerry hanya terdiam. Ray menghela napas panjang. Jerry selalu menyimpan semuanya dalam kepalanya. Semua keraguannya juga selalu disimpan sendiri. Beruntung mereka adalah kembar dan memang selalu bersama sejak kecil. Sehingga mudah bagi Ray untuk membaca pikiran Jerry.
"Kita sudah berlatih selama ini, menurutmu untuk apa kita melakukannya?"
"Untuk melindungi keluarga kita dan orang tersayang kita."
"Selama ini kita sudah banyak berkembang. Bahkan ayah akan segera menurunkan tahtanya di Red Diamond pada kita. Lalu apa menurutmu Ayah akan membiarkan kita mengambil alih Red Diamond jika kemampuan kita masih belum kuat? Kita sejak kecil berlatih untuk ini. Jangan meragukan kemampuan dirimu. Kalau aku kuat, maka kau juga kuat. Melihatku sama seperti melihat dirimu sendiri, begitu juga sebaliknya."
Jerry hanya diam menyerap dan merenungkan ucapan Ray yang menurutnya memang benar. Hanya saja selalu ada sedikit keraguan yang membuatnya kembali menahan dirinya.
"Lawan keraguan mu. Kakek dan Ayah akan sedih kalau mengetahui kau meragukan kekuatan mu sendiri. Tidakkah kau ingat apa yang di ajarkan oleh Kakek? Seorang penerus keluarga Noordien tidak boleh ragu-ragu. Kita harus yakin dengan kekuatan dan diri kita. Dengan begitu kita pasti akan bisa memenangkan segala pertarungan."
Lagi-lagi Jerry menganggukkan kepalanya. Kali sambil tersenyum. Berbicara dan bertukar pikiran dengan saudara kembarnya memang adalah pilihan yang tepat. Rasanya tidak akan ada orang yang akan memahaminya sebaik Ray. Atau mungkin Cein bisa? Entahlah.
Jerry tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh besar Ray seperti bayi. Malam ini dia ingin tidur disini saja bersama Ray. Dia bisa memeluk Ray juga.
Terkadang Jerry merasa Ray itu benar-benar berbeda dengan adik atau saudara lainnya. Tampangnya memang terkesan menyeramkan. Tapi diam-diam Ray itu sangat suka dimanja terutama oleh Bunda Ryn dan Jerry. Dia senang dipeluk.
Jerry juga senang memeluk Ray. Walaupun mereka laki-laki tapi rasanya juga menyenangkan memeluk saudara sendiri. Rasanya hubungan antara keduanya semakin terikat. Tapi terkadang mereka juga merasa aneh jika terus seperti itu. Karena itu mereka melakukannya kadang-kadang saja.
"Aku tidur disini malam ini. Aku bosan tidur di kamar ku terus."
"Bukannya kau juga sering menginap di kamarku karena alasan yang sama?"
"Memangnya aku bisa membuat alasan apalagi? Ingat katamu dulu, kamarmu juga kamarku, kamarku juga kamarmu. Jadi aku juga boleh tidur disini."
"Ya ya terserah. Lepas dulu pelukanmu. Aku ingin ke kamar Eve dulu."
Ray melepaskan pelukan Jerry dan beranjak keluar kamar untuk ke kamar Eve. Rutinitas baru mereka adalah menghampiri Eve sebelum tidur.
"Ikuttt." Jerry segera bangun dan berlari mengusul Ray yang sudah keluar lebih dulu.
Tanpa mereka sadari, ada Ryn yang bersembunyi di balik tembok didekat sana. Pintu kamar Ray tidak tertutup rapat dan Ryn mendengar apa yang dibicarakan oleh anak-anaknya.
Walaupun terkadang bersikap seperti anak kecil, tapi mereka sebenarnya memiliki pemikiran yang dewasa. Atau lebih tepatnya sejak kecil mereka sudah dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
Jika saja dia bisa mengembalikan waktu, dia pasti akan berusaha mengubah semua yang telah terjadi di masa lalu. Dengan begitu kedua anaknya tidak akan memiliki luka menganga di hati mereka.
Tapi jika dia melakukannya, maka tidak akan ada Jerry dan Ray yang sekarang. Tidak akan ada juga dirinya yang sekarang.
Semua memiliki konsekuensinya. Jika ada orang yang memintanya untuk memilih, maka dia akan memilih yang bisa membuat anak-anaknya bahagia. Tidak masalah apakah dia yang akan terluka, selama anak-anaknya bahagia, maka dia juga.
Selesai dengan pemikirannya, Ryn segera berlalu dari sana sebelum diketahui oleh anak kembar itu. Anak kembarnya itu terkadang bisa menjadi sangat jahil ketika dalam keadaan seperti ini.
Mereka pernah memergokinya sekali menguping pembicaraan mereka dan berakhir digoda oleh Jerry dan Ray. Mereka juga memintanya untuk ikut saja berbincang dengan mereka. Mereka bisa berbagi cerita mengenai Jayden yang sering melihati foto pernikahan mereka yang difigura besar-besar di kamarnya dan Ryn. Atau mengenai Jayden yang menangis karena ditinggal pergi oleh Ryn ke luar negeri selama 1 minggu. Suaminya memang sedikit aneh, tapi dia menyukainya.