Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 16: Serigala pemburu bermata merah



Ren melihat ada sebuah mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut. Lalu keluar seorang laki-laki bersama dengan gadis remaja yang terlihat ketakutan. Mata Sin menangkap sebuah kalung yang mengikat leher gadis remaja itu. Dia tertawa tidak percaya, ternyata dinegara ini pun masih ada yang memperjual belikan budak.


Kalung yang berada di leher gadis muda itu adalah kalung budak dari kalangan mafia. Mereka memiliki kalung yang sedikit berbeda dengan kalung pada penjualan budak biasa sehingga mudah untuk menyadari kalau orang itu adalah budak.


Selain itu, bos ini tampaknya membeli budak dari mafia lalu membawanya kemari untuk menyenangkan dirinya. Tapi sepertinya gadis remaja itu cukup beruntung karena malam ini dia malah bisa bebas.


Ren menatap pada Sin, sepertinya dia harus mengubah sedikit rencananya.


“Ayo, kita habisi sampah sialan itu dan bebasnya gadis malang tadi.” Sin menganggukkan kepalanya lalu melepas seatbelt yang dipakai kemudian memindahkan dirinya ke kursi belakang. Dia mengeluarkan sebuah senapan laras panjang yang tadi sempat dia ambil dari orang-orang sebelumnya. Tidak ada salahnya membunuh mereka menggunakan senjata yang mereka seludupkan sendiri.


Ren segera melajukan mobil van dengan kecepatan tinggi lalu menabrakkan mobil itu pada penjaga yang menghalanginya. Sin mengeluarkan setengah tubuhnya melalui sunroof dan menembaki mereka dengan senjata laras panjang itu.


Disela acaranya menabrak penjaga-penjaga itu, Ren tersenyum senang ketika melihat orang-orang terjatuh dengan tragisnya di atas aspal dengan keadaan jantung atau kepala yang tertembak. Kemampuan menembak Sin memang tidak perlu diragukan lagi. Dari semua orang yang ketahui, Sin adalah yang terbaik dalam menggunakan senjata jarah jauh satu itu.


Setelah puas menabrak mereka, Ren menghentikan laju mobilnya. Tidak butuh waktu lama, semua penjaga yang tersisa mendekati mobil tersebut. Tentu saja kedatangan mereka disambut dengan baik oleh senjata di tangan Sin.


“Yang didepan sini serahkan saja padaku. Ku berikan yang didalam padamu karena aku sudah puas bersenang-senang sebelumnya. Akan ku sisakan juga yang diluar untukmu siksa jika mereka masih bisa bertahan.” Ren memekik kesenangan. Rekannya ini memang yang terbaik. Dia segera keluar dari mobil lalu berjalan memasuki rumah. Semua yang menghalanginya telah diambil alih langsung oleh Sin sehingga dia hanya perlu berjalan lurus kedepan dan mengurus sisanya.


Jika memang dia sudah selesai, maka dia pasti akan membantu menyingkirkan penghalang untuknya.


Ren memasuki rumah tanpa terganggu sama sekali. Sin membukakan jalan untuknya. Saat masuk kedalam, dia melihat hanya ada beberapa penjaga yang berada disana, termasuk pria yang membawa gadis remaja tadi.


Kedatangannya disambut dengan pandangan terkejut sekaligus tidak senang dari mereka. Ya tentu saja, ini adalah wilayah mereka tapi dia masuk ke sini tanpa rasa takut sama sekali. Untuk apa juga dia takut. Dia sendiri sudah cukup untuk menghabisi mereka semua. Tapi karena dia memiliki rekan, maka tentu keduanya harus bersikap adil.


Jika salah satu sudah bersenang-senang maka dia akan membantu memberikan kesenangan juga pada yang lainnya, seperti yang dilakukan Sin tadi padanya. Jika belum, maka keduanya akan bersenang-senang bersama. Lain kali akan dia tunjukkan bagaimana mereka berdua menikmati misi mereka bersama-sama.


Tidak butuh waktu lama untuk Ren menghabisi 6 orang yang berada di dalam ruangan yang sama dengannya. Siapa bilang pisau tidak akan menang melawan pistol? Buktinya Ren bisa membunuh mereka semua tanpa tergores peluru sedikitpun. Kata-kata itu hanya berlaku untuk orang yang tidak profesional. Dia dan Sin sudah berada dalam dunia ini selama hampir 5 tahun,menurut kalian bagaimana pengalaman mereka dalam bidang ini?


“Jangan membuang-buang waktuku. Aku bukan ingin bermain dengan kalian, tapi kalian sendiri yang datang memberikan nyawa kalian padaku. Tentu saja aku tidak akan menolak, tapi sayang sekali kalian tidak cukup untuk menyenangkanku.”


Tembakan masih terdengar diluar. Rekannya itu pasti bersenang-senang lagi. Yah, ini salah satu kelebihan dari orang yang menggunakan senjata jarak jauh sebagai alatnya. Mereka bisa terus menembak orang dan bersenang-senang. Dia sendiri sangat sering melihat bagaimana rekannya itu menyeringai dibalik senapannya.


Ren juga bukannya tidak bisa menggunakan senjata jarak jauh satu itu, hanya saja dia tidak merasa puas ketika menggunakannya jadi dia beralih pada pisau. Siapa sangka kalau ternyata menguliti dan memotong-motong bagian tubuh orang akan begitu menyenangkan. Dia jadi tidak bisa beralih dari senjata ini.


Gadis dengan mata berwarna merah itu meraih seorang penjaga yang sudah tidak bernyawa dan menyeretnya mendekati pintu kamar yang tadi dijaga oleh orang-orang ini. Dia sedikit menjauh dari pintu itu lalu mengambil ancang-ancang untuk melemparkan orang ini.


Pintu yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka setelah tadi dibuka dengan paksa oleh Ren. Didalam kamar itu, seorang pria yang telanjang dada menatap pada orang yang tadi di lemparkan kedalam kamar itu.


Mengapa orang yang menjadi tangan kanannya menjadi seperti ini? Siapa juga yang sudah melemparkannya? Pandangannya teralihkan pada suara langkah sepatu yang memasuki kamar itu. Pria itu menajamkan indra penglihatannya untuk melihat siapa orang yang sudah mengusiknya.


“Siapa disana? Berani sekali mengangguku. Apakah kau sudah bosan hidup?” Suara tawa menggelegar memasuki indra pendengaran semua orang.


“Aku yang sudah bosan hidup, atau kau yang sudah bosan hidup?” Muncul seorang gadis bermata merah yang tidak lain adalah Ren. Di balik maskernya, dia tersenyum sangat lebar. Sepertinya orang ini sedikit lebih baik dari pada bawahan-bawahannya.


“Kau?!”


“Oh? Kau mengenalku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Maaf sekali, aku tidak pernah mengingat sampah sepertimu.” Lagi-lagi Ren tertawa. Ekspresi pria ini sangat lucu. Dia jadi tidak bisa menahan tawanya karena ini.


“Kau! Serigala pemburu bermata merah, Ren dan rekanmu serigala pemburu bermata ungu, Sin. Pembunuh bayaran terkenal dari Vancouver, The Reaper!” Ren bertepuk tangan dengan heboh. Dia berjalan mendudukkan dirinya disofa yang berada disana. Sebelum itu dia menginjak tubuh orang yang tadi dia lemparkan karena menghalangi jalannya.


Dia menyilangkan kedua kakinya dan terduduk dengan angkuh, memandang rendah pria yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Di sudut ruangan terdapat seorang gadis muda yang ketakutan.


“Kenapa seorang pembunuh bayaran sepertimu datang ketempat ini bahkan mengangguku. Apakah kita pernah saling menyinggung sebelumnya?” masih dengan telanjang dada, pria itu menunjuk-nunjuk Ren. Sial, Ren menjadi sangat ingin membelah perut pria itu dan mengeluarkan ususnya untuk dia potong-potong nanti.


Tahan Ren, tahan.


“Kau memang tidak menyinggungku, tapi kau sudah menyinggung bosku. Jadi aku sebagai salah satu anak buahnya harus membalasmu dengan baik bukan? Bosku mengatakan kalau aku harus memperlakukan mu dengan baik karena kau memang tidak menganggunya secara langsung.” Ren menyandarkan tubuhnya malas pada sandaran sofa.


Mengapa semua orang yang akan dibunuhnya pasti menanyakan hal ini? Apakah mereka memang tidak tahu apa saja kesalahan yang sudah mereka perbuat dan siapa saja yang sudah mereka singgung?


Dia kan malas menjelaskan. Tapi sebagai hadiah terakhir sebelum kematiannya, ya sudah silahkan. Dia akan meladeninya sebaik dan sebisanya. Siapa tahu dewa kematian mendengar pembicaraan mereka dan akan langsung menarik mereka ke dalam pintu neraka untuk di proses nantinya.


“Siapa bosmu? SIAPA YANG SUDAH MENGIRIMMU KEMARI?!” Ren mengusap kedua telinganya. Rasanya telinganya sempat berdengung sebentar tadi. Siapa sangka pria ini memiliki suara teriakan yang melengking, berbanding terbalik dengan tubuhnya.


“Tidak perlu berteriak, bodoh! Aku tidak tuli. Dengan kau berteriak-teriak seperti itu hanya mengatakan pada orang lain kalau kau akan mati dan meminta orang datang menolongmu.”


Pria itu mengambil sebuah pisau lipat dari laci nakas dan menodongkannya pada Ren. “Jangan mengalihkan pembicaraan! Siapa bos sialanmu itu?!”


Sayang sekali dia tidak takut dengan benda satu itu. Pisau adalah mainan sekaligus temannya. Apa yang perlu ditakutkan darinya? Kalau terkena ya paling berdarah.


“Siapa bosku? Kau mau tahu? Baiklah ku beritahu padamu, siapa orang yang sudah kau singgung sampai membuat nasibnya berubah menjadi begitu sial.” Ren menumpukan kepalannya dengan satu tangannya. Dia memandang pada pria itu dengan pandangan bosan. Dia sudah bosan, apakah dia sudah bisa memulai untuk membunuh orang ini?


Hah, bagaimana dia harus membunuhnya ya? Sepertinya menyenangkan jika memotong kedua tangan dan kakinya menjadi beberapa bagian. Jangan lupakan jari-jari tangannya yang terlihat lucu.


“Dia adalah...