
Setelah melewati satu hari, akhirnya pagi kembali menyambut mereka. Di pagi ini, Nara dan Cein tampak sudah bersiap dengan pakaian kasual namun sopan. Siap untuk menjalani hari pertama mereka di tempat perkuliahan mereka nanti.
Tepat setelah mereka mengantarkan Evelyn kepada keluarganya kemarin, Nara dan Cein langsung diberitahu oleh Jayden kalau mereka sudah dimasukkan ke Universitas yang sama dengan anak-anaknya. Mereka berdua ingin menolak, tapi sayang sekali tidak ada yang bisa membantah kepala keluarga dari keluarga Noordien itu.
Bahkan Kakek dan Nenek pun menyetujui hal yang dilakukan oleh anaknya itu. Oh ya, mereka berdua diminta untuk memanggil Raymond dan istrinya dengan sebutkan Kakek dan Nenek.
Ketika mereka akan pergi pun sebenarnya mereka diminta untuk tinggal saja dirumah besar itu saja. Namun, Nara dan Cein menolaknya dengan alasan Ayah Ken sudah menyiapkan tempat untuk mereka tinggal. Evelyn bahkan sampai menunjukkan wajah memelas agar mereka tidak pergi dan tinggal saja disana bersamanya.
Sebenarnya Nara dan Cein yang sudah terbiasa dengan kehadiran Evelyn dalam kehidupan sehari-hari mereka pun sedikit tidak terbiasa karena berkurangnya satu orang diantara mereka. Tapi mereka tidak bisa egois karena Evelyn juga harus bersama dengan keluarganya yang sudah bertahun-tahun dia tinggalkan.
Lagipula mereka masih dapat saling bertemu ketika berada di universitas atau mereka bisa bermain ke rumah milik keluarga Noordien.
Didalam mobil Nara bersandar dengan bosan sedangkan kakaknya, Cein sedang mengemudi dengan santai. Jalanan ramai oleh kendaraan-kendaraan. Wajar saja, karena sekarang adalah jam masuk kerja. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat perkuliahan mereka.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka. bukan karena mereka sedang marahan, tapi mereka memang tidak banyak berbicara ketika tidak penting, apalagi sekarang masihlah pagi. Mereka perlu menghemat energy mereka untuk melakukan hal yang bisa saja terjadi nanti.
Ketika itu, tiba-tiba saja ada pengendara motor yang menyenggol kaca spion mobil yang dikendarai oleh Cein itu. Kaca spion mobil pun menjadi berubah posisi. Cein meminta tolong pada Nara untuk membenarkan posisi kaca spionnya.
Tanpa banyak protes, Nara menurunkan kaca jendela mobil dan mulai membenarkan posisi kaca spionnya. Walaupun dalam hati dia merutuki orang yang telah menyenggol kaca spion ini.
Ketika dia akan kembali menutup kaca jendela mobilnya. Panggilan seseorang membuatnya mengurungkan niatnya. Nara menolehkan kepalanya keluar jendela dan mencari orang yang telah memanggilnya.
“Kak Nara!”
Ternyata Evelyn yang tadi memanggilnya. Mobil yang ditumpangi oleh Evelyn berubah posisi menjadi disebelahnya. Saat ini mereka sedang berada di lampu merah.
“Pagi Kak Nara, pagi Kak Cein.”
“Pagi Eve.” Saut Nara dan Cein berbarengan. Cein sedikit memajukan tubuhnya mendekat pada Nara
untuk melihat pada Evelyn. Tiba-tiba matanya bertubrukan dengan mata Jerry yang posisinya dekat dengan Nara.
Disebelahnya terdapat Ray yang sedang memainkan ponselnya sambil sesekali melihat pada lampu lalu lintas yang masih saja menunjukkan warna merah.
Cein sedikit menunggingkan senyuman tipis pada Jerry diseberang sana lalu kembali pada posisinya.
Lampu lalu lintas kini berubah warna menjadi hijau. Seluruh mobil dan motor kembali menjalankan kendaraan mereka masing-masing. Saling beradu cepat agar bisa secepatnya melewati lampu lalu lintas ini untuk mencapai lokasi tujuan mereka.
Nara kembali menaikkan kaca mobilnya lalu menoleh pada Cein. Sang kakak yang merasa ditatap itu, menoleh sebentar pada orang disebelahnya dan kembali menatap kedepan.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
“Apa kau menyadarinya?”
“Tentu saja. Tapi kita tidak bisa melakukannya disini, Nara. Tidak sekarang.”
Nara membenarkan posisi duduknya dan kembali menatap kedepan.
“Menurutmu, apakah 'mereka' menyadarinya juga?”
“Apakah mungkin bagi 'mereka' untuk tidak menyadari hal semencolok itu?”
“Tenang saja. Dia akan aman, tidak perlu khawatir. Disini adalah tempat kekuasaannya. Menurutmu siapa yang berani menganggu 'mereka'?”
“Banyak. Terutama untuk 'Dia'. Aku hanya mengkhawatirkannya saja. Akan banyak yang akan menargetkannya, dan kita pun harus ekstra perhatian pada sekitar kita dan juga dia.”
“Sejujurnya aku menantikan hal apa yang akan mengejutkanku disini.” Ucap Cein dengan senyum
miring tercetak jelas di wajahnya. Sedangkan gadis manis satu lagi hanya memutar bola matanya malas.
Mobil yang dikendarai oleh Cein akhirnya memasuki wilayah sekolah akan menjadi satu dari tempat yang sering mereka kunjungi mulai hari ini.
Mereka turun dari mobil dan langsung menemukan Evelyn yang tengah berlari menghampiri mereka sambil merentangkan tangannya. Tentu saja hal itu di balas dengan senang hati oleh Nara dan Cein.
Tanpa memperdulikan pandangan orang lain yang berada di sekitar mereka. Evelyn memeluk kedua kakak kesayangannya dengan begitu erat. Dia juga terus mengatakan dia merindukan mereka padahal baru satu hari terlewat tanpa kehadiran orang yang sudah merawatnya selama ini.
Dibelakangnya terdapat Ray dan Jerry yang tampak menunggu Evelyn untuk menyelesaikan kegiatannya, sama sekali tidak menganggu mereka.
“Aku rinduuu.” Rengek Evelyn. Nara begitu gemas dengan tingkah Evelyn. Dia menangkup kedua pipi Evelyn dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Bibirnya maju kedepan karena kedua pipinya di tekan oleh Nara.
“Aaaaa, Kenapa sih kamu begitu menggemaskan. Aku ingin sekali mengigitmu sekarang juga.”
“Jangan!” Ucap Evelyn sembari melindungi kedua pipinya sambil mengerucutkan bibirnya. Dia tidak tahu saja kalau apa yang dia lakukan membuatnya menjadi lebih menggemaskan.
“Sudah, ayo masuk sebelum kita terlambat di hari pertama kita.” Cein menengahi keduanya. Takut saja jika Nara dan Evelyn akan berakhir kejar-kejaran seperti dulu saat di Vancouver.
Evelyn melihat kedua kakaknya yang ikut berjalan bersama mereka dan merasa bingung.
“Kak Ray dan Kak Jerry satu kelas dengan kami?”
“Iya, ayah sengaja memasukkan kalian sama seperti kami. Ada yang salah?” jawab Jerry sembari mengusap rambut panjang Evelyn.
Si bungsu menggelengkan kepalanya ribut. Tidak ingin membuat kedua kakaknya salah paham atas ucapannya.
“Aku hanya penasaran saja.”
“Nara, tidak ada bolos-bolos lagi ya.” Cein menatap Nara tajam, memperingati sang adik.
“Tenang saja, aku tidak akan membolos hari ini. Mungkin...besok? Hahaha.”
Cein mendorong pelan kepala Nara yang sedang menyengir itu. Nara ini sejak SMP saja sudah sering membolos karena malas mendengarkan dongeng dari guru. Beruntung dia terbantu oleh otak cerdasnya sehingga bisa tetap mempertahankan nilai-nilainya.
Jika tidak, mungkin dia sudah dikeluarkan dari semua sekolah yang ada di Vancouver. Cein saja sampai lelah memperingati Nara dan memilih tidak perduli. Tapi ini adalah hari pertama mereka, setidaknya mereka harus menjaga image dulu. Walaupun pada akhirnya dia yakin image apapun yang melekat pada mereka pasti akan hancur.
Sedari tadi mereka berlima terus saja dilihati oleh semua siswi dan siswa yang ada disana. Terutama pada ketiga perempuan yang dekat dengan pangeran sekolah mereka. Tatapan mereka seolah bisa melubangi kepala mereka.
Nara yang peka terhadap sekitarnya menyadari tatapan mereka. Tapi dia tidak perduli, selama mereka tidak menganggu Eve maka tidak masalah. Tugasnya disini adalah menjaga Eve. Dia bukan tidak tahu mengapa ayah Jay membuat dia dan Cein bersekolah ditempat yang sama dengan Evelyn. Semua itu tentu saja untuk membantunya menjaga anak kesayangannya yang baru pulang.
Mengingat Evelyn yang memang sengaja dijauhkan oleh Nara dan Cein dari kekerasan. Sudah pasti Evelyn tidak begitu bisa beladiri. Walaupun sebenarnya dia tahu berapa banyak mata-mata dan penjaga yang disiapkan oleh Jayden untuk Evelyn, tetap saja tidak ada yang tahu apa yang terjadi nantinya.
Namun satu hal yang ingin mereka tekankan. Siapapun orang yang sudah menganggu Evelyn, maka dia sudah pasti menginginkan kematian.