
Di sisi lain, Cein yang sedang menemani Jerry menghadiri ulangtahun temannya terus saja di berikan pertanyaan oleh teman-teman Jerry.
Mereka terus bertanya apakah dia adalah kekasih Jerry? Apakah dia menyukai Jerry? Dia bersekolah dimana? Dll.
Sejujurnya Cein merasa sedikit risih ditanya seperti itu. Beruntungnya Jerry menangkap itu dan membawa Cein ke tempat yang lebih sepi. Bukan untuk berniat macam-macam ya.
Pesta dilakukan di sebuah restoran kelas atas. Teman Jerry menyewa satu restoran untuk mengadakan ulang tahunnya. Siang di adakan di restoran dan malamnya akan di adakan lagi di club malam.
Jerry tidak berencana untuk pergi ke club malam karena itu dia datang siang di restoran.
Jerry membawa Cein keluar dari restoran ke taman kecil yang sering dijadikan objek foto oleh pengunjung. Kebetulan tidak ada orang, jadi Jerry mengajak Cein duduk di bangku yang ada disana.
“Maaf ya, teman ku membuat kamu risih.”
Jerry benar-benar tidak enak dengan Cein. habisnya teman-temannya itu sampai mengerubunginya dan menanyakan banyak hal pada Cein. Bagaimana kalau Cein menyesal karena sudah menyetujui untuk ikut dengannya.
“Tidak apa-apa. Aku yakin mereka pasti penasaran karena kamu membawa perempuan, padahal sebelumnya kamu tidak pernah dekat dengan siapa-siapa.”
“Apa mereka memberitahumu tentang itu?”
Teman-temannya itu, awas saja. Sepertinya mereka sudah lama tidak bertemu dengan Hope. Mungkin mereka rindu bermain kejar-kejaran dan cakar-cakaran dengan Hope.
“Tanpa mereka memberitahu pun aku sudah tau. Di universitas berita seperti itu sudah terdengar olehku. Mereka semua selalu menggosip dan aku kebetulan mendengarnya.”
Memangnya siapa yang tidak tau? Bahkan dia sudah mendengarnya di hari pertama mereka masuk sekolah. Aliana dan Tery menceritakan semua tentang Ray, Jerry, dan Hansel pada mereka bertiga.
Sejujurnya dia sedikit heran. Baik Jerry, Ray, dan Hansel memiliki paras yang tampan. Pasti banyak orang yang mau dengan mereka. Mereka bisa saja berganti kekasih sehari sekali atau setiap jam sekali. Tapi katanya mereka belum pernah memiliki sampai sekarang.
“Yah, lagian orang yang mendekati ku selama ini tidak lebih dari orang-orang yang haus akan kekuasaan dan harta.”
Tiba-tiba muncul ide dalam otak Cein. “Lalu bagaimana jika misalnya aku mendekatimu tapi aku hanya menginginkan hartamu juga.”
Jerry beralih memandang Cein lalu tersenyum. “Kalau kamu sepertinya aku tidak masalah.”
Laki-laki itu menjawabnya tanpa berpikir. Kalau seperti ini lalu apa alasan dia yang sebelumnya itu hanya alasan saja? Kenapa ketika mengatakan dia yang melakukannya, Jerry malah terlihat biasa saja.
“Kenapa begitu?”
“Sekali lihat juga aku tahu kamu bukan orang seperti itu. Tapi kalau menginginkan harta, aku bisa memberikannya. Aku kaya.”
“Yang kaya itu keluargamu, bukan kamu.”
Lagi-lagi Jerry tersenyum. “Aku juga kaya Cei. Aku sudah menghasilkan uang asal kamu tau.”
“Benarkah?” Cein bukannya tidak percaya. Dia tau kalau Jerry ini kaya, dia pikir mungkin laki-laki ini tidak bekerja karena tanpa dia bekerja pun rasanya hartanya masih bisa menghidupi 7 turunan.
“Aku dan Ray sudah mengambil bagian dari perusahaan. Walaupun belum sepenuhnya kami urus, tapi pemasukan kami tentu saja lancar.” Jerry menaik turun kan alisnya pada Cein. Laki-laki tampan itu menggoda Cein!
“Yah lagipula untuk apa juga aku berdebat denganmu mengenai uang. Kamu bisa saja menghabiskan uang seakan kamu hanya perlu memetik daun dari pohonnya.”
“Ku pikir Ayah Ken memiliki penghasilan yang cukup untuk mu dan Nara.”
Ayah Ken adalah orang kepercayaan Ayah Jay. Gajinya tentu saja besar. Tidak mungkin itu tidak mencukupi kebutuhan Cein dan Nara. Belum lagi pekerjaan Ayah Ken itu bagus, dia juga berhasil mendapatkan The Reaper untuk masuk pada Red Diamond, harusnya ayahnya memberikan bonus yang besar.
“Memang benar. Tapi aku dan Nara tentu saja harus mulai mandiri. Sayang sekali kami harus meninggalkan cafe kami disana. Andai saja aku memiliki kekuatan super, aku ingin memindahkan cafe itu ke sini bersama ku.”
“Kamu ingin memiliki cafe disini?”
Cein menganggukkan kepalanya. Dia rindu menjadi pelayan di tempat itu. Dia juga rindu dengan pekerja-pekerja yang dulu dia dan Nara ambil dari jalanan.
Jerry melihat Cein yang terlihat begitu menginginkan cafe seperti saat gadis itu masih di Vancouver. Apa dia harus membuatkan satu untuknya? Tapi bagaimana kalau gadis ini tidak suka? Dia juga tidak tau bagaimana wujud cafenya dulu.
“Mau membuatnya?”
Cein menoleh dengan terkejut. Apa maksudnya? Membuat apa?
“Hah?”
“Kamu mau membuatnya disini?”
“Maksudmu membuat Cafe seperti milikku dulu disini?”
Jerry menganggukkan kepalanya dengan santai. Dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Cein. Dia menyangga kepalanya pada satu tangannya dan memperhatikan Cein dari samping.
“Aku belum memiliki uang sebanyak itu untuk membeli tempat disini.” Cein ingin tapi untuk menyewa atau membeli tempat disini pasti tidak murah. Dia belum memiliki uang sebanyak itu.
“Aku memiliki sebuah tempat yang cukup strategis jika kamu mau membangun cafe disana. Lokasinya juga tidak jauh antara apartement mu dan Universitas. Kalau kamu mau aku bisa memberikannya untukmu.”
Cein menoleh dengan cepat pada Jerry. Jerry takut saja gadis didepannya ini akan melukai lehernya sendiri.
“Kamu mau memberikannya? Kamu yakin? Tidakkah kamu menyiapkan tempat itu untuk sesuatu?”
“Tidak juga. Aku sedang bosan hari itu dan tidak sengaja melihat tempat itu dijual. Lokasinya strategis jadi aku membelinya. Walaupun aku tidak tau untuk apa tempat itu.”
“Untuk apa membelinya dari ku. Aku akan memberikannya padamu.”
“Hah? Bagaimana kamu bisa memberikannya begitu saja padaku?” Cein memandang Jerry dengan mata berbinar. Jerry mau memberikannya padanya? Dia tidak salah dengar kan?
“Karena kamu terlihat menginginkannya jadi kuberikan.”
“Kamu tidak takut aku membohongimu dan berpura-pura saja untuk mengambil hatimu?”
“Sudah ku bilang. Hanya dengan sekali lihat juga aku bisa tau kalau kamu bukan tipe orang seperti itu. Tapi kalau kamu memang mau menipu ku, maka tipu saja. Ambil semua yang kamu mau, aku tidak keberatan.”
Cein mencebik, memandang Jerry dengan cemberut.
“Dasar orang kaya semuanya sama saja. Memperlakukan uang seolah mereka bukan apa-apa.”
“Loh? Aku menghasilkan uang juga sebenarnya tidak terlalu perlu. Aku bisa saja tidak perlu bekerja dan masih bisa menikmati kehidupan yang menyenangkan.”
“Awas saja ya kalau kamu sombong lagi aku tidak akan ragu untuk menghabiskan uangmu.” Tentu saja itu tidak benar.
Mana mungkin dia bisa menghabiskan uang Jerry, diberikan uang olehnya saja dia tidak mau mengambilnya. Memangnya dia siapa Jerry sampai laki-laki itu harus memberikannya uang.
“Habiskan saja.” Jerry mengeluarkan dompetnya yang berada di saku belakangnya. Dia mengambil tangan Cein dan meletakkan dompetnya disana.
Gadis itu hanya terbengong ditempat. Jerry ini benar-benar memperlakukan uang seolah itu bukan lah hal besar. Selain itu bagaimana dompetnya bisa setebal ini?
“Isinya kebanyakan kartu, jadi kalau kamu membutuhkan uang cash silahkan ambil dulu di atm.”
“Aku tidak butuh. Aku masih memiliki uang. Lagipula kita tidak berada dalam hubungan dimana kamu bisa memberikan uang padaku seperti ini.” Cein mengembalikan dompet itu pada Jerry.
“Lihatlah. Bagaimana kamu bisa mengatakan kalau kamu berniat menipuku dan hanya menginginkan uangku kalau saat ku berikan dompetku padamu saja kamu tolak.”
“Itu kan hanya pemisalan.”
“Ya, pemisalan yang sangat tidak cocok padamu.”
“Simpan uangmu baik-baik atau nanti aku akan kalap dan menghabiskannya.”
“Sudah ku bilang juga, habiskan saja.”
Kenapa Jerry malah menjadi yang ingin dia menghabiskan uangnya? Apakah dia terlihat se materialistis itu? Dia memang suka uang, karena semua yang ada di dunia ini butuh uang. Tapi tidak perlu Jerry memberikannya, seperti suami saja.
“Jerry kamu...menyebalkan!!”
“Terimakasih.”
“Aku tidak sedang memuji mu bodoh!” Cein memutar matanya malas. Jerry ini benar-benar aneh ya. Spesies baru yang dia temui.
“Aku tetap akan berterimakasih.”
Tiba-tiba ponsel Jerry berbunyi. Melihat nama ayahnya tertera disana, dia segera mengangkatnya. Siapa tau hal penting.
“Tapi aku sedang bersama Cein.”
“....”
“Okay.”
Cein melihat Jerry dengan bingung. Namanya barusan di sebut. Apa ada sesuatu?
“Ada apa?”
Jerry kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. “Ayah memintaku untuk menemuinya, tapi aku sedang bersamamu.”
“Kalau begitu cepat temui Ayah. Aku bisa pulang sendiri.” Panggilan dari Ayah Jay itu berarti panggilan yang penting kan? Kalau tidak mana mungkin dia akan menelepon seperti ini.
“Daripada itu. Bagaimana kalau kamu ikut denganku? Kamu mau?”
“Aku boleh ikut?”
“Kenapa tidak? Akan ku beritahu siapa aku sebenarnya. Setelah ini jangan takut padaku ya.”
“Kenapa harus takut? Apa pekerjaan mu menangkap hantu? Kalau itu mungkin aku akan takut.”
Jerry hanya tertawa mendengar guyonan dari gadis didepannya. Okay, kedepannya dia akan menjauhkan sesuatu yang berbau hantu dari gadis ini.
“Ayo. Kita pergi.”
Tanpa sadar Jerry mengambil tangan Cein dan membawanya keluar dari restoran. Cein hanya bisa diam-diam merona karena perlakuan Jerry. Tapi setelahnya dia memukul kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Mereka langsung pergi dari sana dengan mobil Jerry. Cein tidak tau kemana laki-laki itu akan membawanya. Tapi mengingat peringatan Jerry tadi padanya. Apa yang selama ini dia dan orang-orang lihat dari Jerry itu bukan dirinya yang asli atau masih ada hal lain yang tersembunyi dari laki-laki ini?