
Gadis bermata ungu ini mengeluarkan pistolnya dan menembaki mereka tanpa terkecuali. Namun disaat dia menembak ada seseorang yang ingin memukulnya diam-diam.
Sin menyadarinya tapi dia hanya diam ditempatnya. Masih menembaki orang-orang yang tersisa disana. Rekannya sudah menghabisi cukup banyak ternyata.
Sesaat sebelum sepatu berlumuran darah itu menyentuhnya, Sin berhasil menangkapnya dengan mudah. Dia tersenyum penuh arti. Apakah akhirnya ada orang yang bisa mengurangi kebosanannya?
Orang itu segera melepaskan dirinya dari Sin. Gadis bermata ungu itu berbalik dan menemukan seorang laki-laki berbadan kekar dan cukup tinggi. Dia memakai jas hitam sama seperti penjaga lainnya.
Sin memperhatikan orang itu dan menemukan Ren sudah melukainya tapi dia masih bisa bangun dan berniat untuk menyerangnya. Sepertinya dia akan menyenangkan, begitu pikir Sin.
“Ternyata benar kalian, The Reaper Sin dan The Reaper Ren. Serigala pemburu bermata merah dan ungu.”
“Kau mengenalku?” Sin menunjuk dirinya sendiri dengan mata yang menyiratkan kepolosan. Dia bodoh atau memang tidak tau sih? Jelas-jelas nama The Reaper itu sudah terkenal dimana-mana. Begitu pikir laki-laki itu.
“Apa ada orang yang tidak mengenalmu? Ada urusan apa sebenarnya kau disini? Kami tidak pernah mengusikmu sebelumnya.”
“Boss mu itu mengusik Boss ku. Dan kami yang diminta menyelesaikannya, dengan cara kami.”
“Apa sekarang kau bekerja dengan orang? Sebelumnya kau tidak pernah menganggap orang sebagai boss mu.”
Melihat laki-laki ini mengetahui hal seperti ini, berarti info dasar mengenai The Reaper memang sudah tersebar luas. Yah, kalau begini akan lebih menyenangkan lagi. Orang-orang tidak akan menduga kalau The Reaper sekarang telah menjadi anggota dari salah satu kelompok mafia terbesar disini yaitu Red Diamond.
“Apa aku harus memberitahukan hal seperti ini padamu? Lebih baik kau menyingkir sebelum berakhir sama seperti teman-temanmu itu. Targetku adalah orang dibelakangmu.”
Orang didepannya ini pintar sekali melihat tempat. Dia menyerang di belakang Sin yang dimana terdapat si pencuri itu. Dia kan jadinya harus berusaha ekstra untuk menyingkirkan laki-laki didepannya ini dulu. Dia mengantuk, ingin tidur. Tapi laki-laki ini menghambatnya.
“Tidak akan ku biarkan! Lawan aku kalau kamu bisa.”
“Jangan menantangku. Kau akan menyesal.”
“Lawan aku!”
Huft. Sepertinya memang tidak ada cara lain. Laki-laki didepannya ini malah lebih mau cara menyakitkan daripada cara mudah.
Akhirnya terjadi perkelahian antara mereka berdua. Walaupun lawannya adalah laki-laki, tapi Sin sama sekai tidak mudah dikalahkan. Pelatihannya selama ini bukanlah caranya untuk membuang-buang waktu ataupun mengisi waktu disela kebosanannya.
Laki-laki ini pikir menghadapi perempuan akan lebih mudah? Mungkin, tapi tidak untuk kali ini. Melawan pembunuh bayaran yang sudah menghabisi banyak nyawa saja Sin bisa. Masa yang seperti ini dia tidak bisa. Justru melawan orang-orang seperti ini membuatnya merasa seperti turun peringkat.
Ini sama seperti ketika seorang juara intenasional bertanding dengan pemula.
Laki-laki itu terpukul mundur saat Sin menyerang dadanya dengan keras. Mereka bertarung tangan kosong. Secara kekuatan seharusnya dia lebih kuat dari pada gadis pemburu ini. Tapi dia bisa dipukul mundur seperti ini...benar-benar mengesankan.
Sin mengeluarkan pistol dari sabuk di pinggangnya dan mengcungkannya pada laki-laki itu. Dia menembakinya sebanyak 4 peluru, tapi laki-laki itu masih berdiri dengan tegak. Pada peluru ke 6, laki-laki itu baru terduduk dan akhirnya terbaring di halaman.
Gadis bermata ungu itu berjalan menghampiri laki-laki itu lalu duduk di dada laki-laki itu secara menyamping.
“Sudah menyerah?”
“B-bunuh saja aku!”
Yah, dalam dunia mereka biasanya yang kalah memang akan dibunuh atau meminta untuk dibunuh daripada harus menanggu rasa malu dikalahkan. Yang lebih buruk adalah mendekam dalam penjara markas musuh untuk dijadikan boneka. Mereka tidak akan langsung membunuhmu, tapi mereka membuatmu berpikir kalau kamu telah mati berkali-kali tapi nyatanya tidak.
“Boss mu itu mungkin memerintahkan mu harus membunuh kami tidak perduli apa yang terjadi. Tapi aku bisa memutuskan apa aku harus membunuhmu atau tidak.”
Keduanya terdiam. Hanya terdengar suara napas laki-laki itu dan suara api yang masih membakar tempat itu.
“Kau budak mafia?”
“B-bagaimana kau tau?”
“Kalungmu sudah menjelaskan semuanya.”
Laki-laki itu melihat pada kalungnya yang mencuat keluar dari pakaiannya. Kalung yang sudah berada di lehernya selama 2 tahun itu benar-benar sebuah mimpi buruk yang ingin sekali dia hapus dalam hidupnya.
“Kenapa tidak lari? Kemampuanmu lebih dari bossmu yang pengecut itu juga semua penjaga disini.”
“Aku tidak bisa. Keluargaku....”
Sin terdiam, tapi setelahnya mendengus. Laki-laki ini entah benar-benar polos atau bodoh.
“Orang sepertimu pantas saja berakhir seperti ini.”
“Apa maksudmu?” Laki-laki itu menatap Nara dengan pandangan bingung. Apa ada yang salah dari ucapannya? Tapi dia memang terlalu pengecut untuk melarikan diri dari tempat ini. Dia terlalu takut untuk menerima resiko.
“Keluargamu pasti sudah dibunuh bodoh.”
“A-apa?”
“Benar-benar anak yang polos. Keluargamu terutama orangtuamu pasti sudah dibunuh setelah kau diangkat menjadi anggota disini atau bahkan saat kau masih menjadi budak mafia.”
“Tapi dia bilang-”
“Itu untuk menahanmu. Kelemahanmu terlalu terbuka jelas. Mana mungkin dia membiarkan orang berpotensi sepertimu lepas darinya.”
Dia menatap Nara tidak percaya. Tidak mungkin kan? Selama ini dia memang belum pernah mendatangi keluarganya atau pulang ke rumah karena boss nya selalu melarangnya untuk pulang.
Bossnya mengatakan dia akan mengirimkan uang untuk keluarganya dan memberitahu kalau dirinya baik-baik saja. Bossnya juga akan mengirimkan orang untuk menjaga keluarganya.
Dia pikir dengan seperti itu keluarganya akan baik-baik saja dan bisa hidup nyaman. Dia tidak masalah jika harus mengorbankan seluruh hidupnya untuk bekerja disini. Tapi dia tidak tau kalau selama ini bossnya berbohong padanya. Keluarganya sudah dibunuh? Lalu surat dari siapa yang selama ini dia terima dari bossnya?
“Orang-orang ******!!”
Laki-laki itu benar-benar kesal. Selama ini dia hanya ditipu untuk diperalat saja. Orangtuanya, keluarganya, sudah benar-benar meninggal? Kalau begitu untuk apa dia hidup selama ini? Untuk apa dia bekerja pada orang yang dibencinya? Untuk apa dia tetap bekerja di tempat terkutuk ini?!!
“Bunuh aku sekarang.”
“Kau ingin mati begitu saja? Cih tidak seru!” Sin mengecurutkan bibirnya di balik masker. Orang ini mudah sekali menyerah. Bukannya marah lalu mencoba untuk bangkit justru malah memilih untuk menyusul keluarganya. Tidak seru!!!
“Apa mau mu? Katakan dengan jelas!”
Nara tidak suka dengan kalimat perintah yang diucapkannya. Tapi mungkin dia harus menahannya untuk sekarang. Lihat saja bagaimana dia akan membuat laki-laki ini menurut padanya seperti Keenan.
“Aku akan memberimu satu kesempatan. Cari tahu mengenai kedua orangtuamu. Jika mereka benar-benar meninggal, maka cari penyebabnya.”
Laki-laki itu mengerutkan keningnya. “Caranya?”
“Masuklah ke dalam kelompokku dan ikut aku membasmi tikus-tikus menjijikkan itu.”
Laki-laki itu terdiam. Bukankah baru tadi mereka terlihat saling ingin membunuh. Tapi kenapa sekarang gadis ini memberikannya kesepatan? Apa mungkin ini adalah siasatnya?
“Terserah kau ingin berpikiran seperti apa. Tapi aku bisa saja membunuhmu kapan saja aku mau. Berpikirlah dengan cerdas. Itupun kalau kau masih bisa berpikir.”
Laki-laki itu terdiam memikirkan penawaran yang diberikan oleh Sin. Jika dia mati sia-sia disini, orangtuanya mungkin tidak akan tenang jika dia belum mengetahui apa yang terjadi pada mereka.
Ah, tidak! Bukan mereka yang tidak tenang tapi dia yang tidak akan tenang. Dia harus tau dimana keluarganya dan apa yang sudah terjadi pada mereka. Jika mereka benar-benar terbunuh, maka dia harus mencari siapa keparat yang sudah melakukannya.
“Aku...akan mengambil kesempatan itu. Aku akan masuk kedalam kelompok mu dan membantumu menghabisi tikus-tikus itu.”
Sin tersenyum dengan senang dari balik maskernya. Orang berpotensi sepertinya mana bisa dibiarkan mati begitu saja. jarang ada yang bisa menahan tembakannya sampai 6 kali disaat dia sudah terluka akibat pisau Ren dan pertarungan mereka tadi.
Tidak lama setelahnya Ren keluar dari rumah itu sambil membawa sebuah tas besar dengan Keenan dibelakangnya. Laki-laki yang menjadi bawahannya itu menyeret dua orang bersamanya. Sepertinya Ren akan mendapatkan mainan tambahan.
“Maaf tidak menyisakan banyak untukmu. Si pencuri itu ku berikan padamu.”
“Hanya pencuri itu? lalu bagaimana dengan orang yang kau duduki itu?”
“Dia akan menjadi bawahan kita.”
Ren mengangguk-anggukkan kepalanya. Masalah merekrut orang, Sin memang tidak diragukan. Dia memiliki mata yang bagus. Buktinya Keenan saja menjadi penurut seperti ini.
Orang-orang dari markas mulai masuk kedalam halaman, termasuk Ravi. Mereka sudah tidak terkejut lagi seperti saat itu ketika melihat tempat itu begitu hancur seperti di terpa badai api.
Ravi berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri Keenan yang sudah ketakutan. Dia sudah tau ajalnya akan segera tiba jika orang-orang dari markas datang.
“Bagus! Kau mencuri barang milikku dan menggunakannya tanpa seizinku. Kau memang harus ku pukul!” Keenan hanya terdiam. Ravi yang marah benar-benar mengerikkan.
“Chris! Bawa dia kembali ke markas dan obati dia!”
“Apa kau merekrutnya?”
“Ya. Latih dia juga. Aku ingin tau seberapa besar potensinya.”
“Baik!”
Laki-laki itu dibawa oleh Chris. Ravi mengikutinya sambil menyeret Keenan bersamanya. Benarkan tebakan Sin tadi? Mana mungkin Ravi akan membiarkan Keenan begitu saja setelah mencuri barangnya.
Sin dan Ren ikut berjalan keluar dari sana. Mereka menghampiri Jayden dan keluarganya yang sudah berada di dekat mobil mereka. Ren menyerahkan tas itu kepada Queen, dan tentu saja diterima dengan senang hati. Barangnya kembali.
“Terimakasih.”
“Bukan masalah besar. Lagipula yang ku lakukan hanya membobol pintunya dan mengambilnya. Selebihnya adalah bawahanku.”
“Tetap saja aku berterimakasih pada kalian.”
“Kalau begitu misi sudah selesai. Kami boleh pulang kan? Aku mengantuk.”
Ren memukul kepala Sin untuk kedua kalinya hari ini. Rekannya ini benar-benar tidak bisa memfilter ucapannya ya.
“Misi sudah selesai, untuk apa juga kami menahan kalian. Terimakasih karena sudah mendapatkan barangnya kembali.”
“Kalau kami tidak mendapatkannya, yang ada kami bisa dipenggal olehmu nanti.”
“SIN! KU PUKUL KAU YA!”
“AAA, JANGAN PUKUL AKU LAGI! AKU INI REKANMU TAU!!”
“KARENA KAU REKANKU LAH AKU HARUS MEMUKULMU! HEI JANGAN LARI!!!”
“MANA MUNGKIN AKU TIDAK LARI!! AA TOLONG ADA NENEK SIHIR!!”
“SIAPA YANG KAU SEBUT NENEK SIHIR HAH?!!!”
Dibalik nama Sin dan Ren yang menakutkan, kepribadian mereka tidak jauh berbeda dari anak kecil. Tapi kemampuan mereka dalam menyiksa dan menghancurkan benar-benar tidak bisa dianggap remeh.