Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 07: Rapuh



Cahaya matahari berganti menjadi terang bulan yang menyinari malam hari. Di malam hari yang tenang ini, Nara terlihat sedang bersantai di ruang tamu apartement yang ditempat olehnya dan Cein. Ketika sedang menonton siaran tv, dia tiba-tiba saja teringat dengan kejadian yang terjadi antara dia dan Ray tadi siang.


Wajahnya merona ketika mengingat dia terjatuh di atas tubuh Ray. Dia masih mengingat ketika tubuhnya menempel dengan tubuh Ray yang kekar berotot itu. Ditambah wangi parfum vanilla yang masih diingatnya.


Oh my god. Seseorang tolong sadarkan dia. Apa yang terjadi padanya. Bagaimana bisa laki-laki bernama Ray itu mengambil atensi dan pemikirannya. Dan lagi, sejak kapan pemikirannya menjadi seperti ini?!


Nara menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya memukul kepalanya sendiri berusaha untuk menghilangkan sosok Ray dari kepalanya.


Cein yang baru keluar dari kamarnya, melihat sang adik berperilaku sedikit lain dari biasanya. Dia berjalan menghampiri Nara dan melihat rambut adiknya yang sedikit berantakan juga kedua pipi yang memerah.


“Kau kenapa seperti itu? Sudah mulai gila?” Nara menghentikan apa yang dia lakukan tadi dan beralih menatap kakaknya yang berdiri didekat sofa.


“Hanya berusaha menghilangkan sesuatu yang tidak seharusnya ada.”


Cein mendudukkan dirinya disebelah Nara. Tangannya mengambil bantal sofa untuk dia letakkan diatas pahanya. Dia menatap sang adik dengan pandangan penuh arti.


“Kenapa? Kau mulai memikirkan Ray? Kamu benar-benar menyukainya?” tanya Cein, menggoda si adik yang akhirnya mulai merasakan jatuh cinta.


“Apa yang kau bicarakan sih. Aku tidak!”


“Lalu apa yang kau pikirkan sampai membuat kedua pipi mu ini memerah seperti tomat? Tidak mungkin kan kau memikirkan aku.” Cein mencolek pipi Nara yang masih sedikit mengeluarkan rona merah. Dia sangat senang ketika menggoda Nara apalagi ini pertama kali nya dia melihat Nara menunjukkan ekspresi seperti ini. Tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan ini.


“A-aku tidak memikirkan apapun kok. Aku hanya kepanasan saja.” Nara mulai mengipasi wajahnya seakan dia memang kepanasan. Dia berusaha untuk menutupi dirinya yang salah tingkah karena ulah kakaknya.


“Nara, perlu ku ingatkan satu hal, aku kakakmu dan aku sudah memahamimu luar dalam. Jika seperti ini saja aku tidak bisa menangkapnya, maka jangan panggil aku kakakmu.” Nara melirik pada Cein yang memasang wajah menggodanya. Dia mengerucutkan bibirnya dan menatap kakaknya dengan cemberut.


Si empu yang dilihat hanya tertawa. Cein mengacak-acak rambut Nara dengan gemas membuat rambut adiknya yang tadinya sudah berantakan semakin berantakan karena ulahnya. Adiknya memang menggemaskan.


“Okay, coba ceritakan padaku apa yang kamu pikirkan tadi. Apa kamu memiliki hubungan dekat dengan Ray?”


“Aku tidak!” jawab Nara terburu-buru. Dia tidak ingin Cein salah paham karena melihat kejadian tadi.


“Aku tidak akan memotong ucapanmu, kenapa menjawab sangat terburu-buru? Ceritakan, aku ingin dengar, apa yang sebenarnya terjadi pada adikku.” Cein menatap Nara seakan mengatakan kalau dia siap mendengarkannya. Dia mengusap rambut pendek Nara dengan penuh kasih sayang.


“Kejadian tadi siang itu terjadi secara tidak sengaja. Dia terdiam didepanku, dia hanya melihatku bahkan sampai matanya tidak berkedip sama sekali. Aku kan takut dia dirasuki hantu atau jangan-jangan dia mati berdiri. Aku menepuk pundaknya tapi dia terkejut lalu tiba-tiba saja dia menarikku. Aku tidak sempat berpijak dan berakhir aku terjatuh diatas tubuhnya. Terus kalian datang.” Nara menceritakan kejadian itu sambil memainkan kedua jari telunjuknya sendiri. Kepalanya menunduk dan bibirnya mengecurut lucu.


“Lalu apa yang kau pikirkan tadi sampai merona seperti itu?” Cein pikir dirinya bisa saja gila karena Nara yang terlalu lucu untuknya. Bisa-bisa dia akan berbalik menjadi menyukai adiknya sendiri nanti. Beruntung dia sudah terbiasa dengan kepribadian Nara yang berubah menggemaskan ketika didepannya.


“I-itu, aku hanya berpikir kalau ternyata Ray itu s-sangat k-kekar.” Nara menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan dia tenggelamkan dibantal sofa yang sedari tadi berada diantara kakinya.


Mulut Cein terbuka, matanya sedikit melotot. Dia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. Dia memandang adiknya tidak percaya. Dia tidak tahu kalau adiknya bisa seperti ini.


“Berhenti, jangan dilanjutkan! Aku maluuu!” Suara Nara yang sedikit teredam oleh bantal sofa. Dia sendiri tidak percaya apa yang sudah dia pikirkan. Bagaimana dia bisa memiliki pemikiran seliar ini? Semuanya salah Ray. Siapa suruh Ray menariknya sampai dia terjatuh di atas tubuhnya tadi. Pokoknya semuanya salah Ray!


“Nara...kau menyukai Ray?” Cein sedikit tidak percaya sebenarnya. Tapi melihat adiknya berperilaku seperti ini, maka bisa dikatakan adiknya ini mungkin saja menyukai Ray. Atau adiknya hanya kagum karena bentuk badan Ray kekar?


“Aku tidak memiliki hubungan dengannya!” Nara mengangkat wajahnya. Cein berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah Nara sepenuhnya memerah bahkan sampai ke telinganya. Dia belum pernah melihat Nara sekacau ini sebelumnya.


“Jangan tertawa!” Tawa Cein seketika menguar begitu saja.


Nara membenarkan posisi duduknya, menghiraukan rambutnya yang berantakan. Dia memainkan jari-jari tangannya sambil menunduk.


“Lagipula sepertinya aku tidak bisa menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Aku...aku tidak yakin bisa….”


Atmosfir seketika berubah begitu Nara mengatakan itu. Cein menghentikan tawanya dan beralih menatap adiknya dengan serius. Atmosfir diantara mereka memang bisa berubah dengan cepat terutama ketika menyangkut hal seperti ini.


Cein menghela napas. Tangannya kembali bertengger di atas kepala adiknya. Dia dengan telaten merapikan rambut sang adik yang berantakan. Adiknya ini memang terlihat sangat kuat diluar, tapi dia juga tahu kalau Nara yang sebenarnya sangat rapuh.


Semua sikap dan kepribadian yang ditunjukkan sangat bertolak belakang dengan sifat asli Nara. Melihat Nara yang sekarang membuat dia benar-benar merindukan Nara ketika kecil. Ketika itu dia masihlah seorang gadis yang manis dan penuh dengan keceriaan.


“Kak, apa aku terlihat rapuh sekarang?” Nara menatap Cein dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Tapi semakin diperhatikan, didalam mata yang indah itu terdapat sebuah kesedihan dan ketakutan.


“Untuk apa memikirkan itu? Kamu bisa bersikap seperti apapun dihadapan ku. Hanya aku yang berada disini. Tidak akan ada siapapun yang melihat kerapuhanmu, Nara.”


“Nara, aku tahu kamu masih belum bisa mempercayai laki-laki karena masa lalumu. Aku juga tidak memaksamu kalau kamu harus dekat dengannya atau kamu harus menyukainya. Aku sangat paham dirimu. Kita sudah bersama sejak kecil, dan aku yang paling mengenal dirimu. Tapi, tidak ada salahnya perlahan menghilangkan kenangan buruk mu dan menggantikannya dengan kenangan baik. Tidak seharusnya kita terus mengenang kenangan buruk dan mengabaikan begitu saja kenangan baik yang seharusnya lebih pantas untuk diingat.” Nara terdiam sambil memandang wajah kakaknya. Dia berusaha untuk mencerna segala perkataan kakaknya.


Walaupun Cein sudah sering mengatakannya tapi entah mengapa dia tidak pernah memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya ini. Entah dia yang tidak berani atau dia memang menunggu orang untuk membantunya lepas dari rantai yang terikat erat diseluruh tubuhnya.


“Aku lihat Ray bukan laki-laki yang brengsek yang hanya tahu bagaimana cara mempermainkan perempuan lalu membuangnya begitu saja ketika bosan. Dia juga tidak terlihat seperti akan menyakiti perempuan tanpa alasan yang jelas. Kalau kamu memang merasa dia adalah orang yang tepat dan bisa membantumu untuk lepas dari masa lalumu. Siapa tahu persepsimu mengenai laki-laki akan berubah, walaupun hanya pada satu orang saja.” Cein berusaha untuk memberikan pengertian pada adiknya.


Bukan karena dia sangat ingin Nara memiliki hubungan dengan Ray. Anggap saja Ray sebagai percobaan untuk Nara. Kalau laki-laki itu bisa membuat Nara keluar dari masa lalunya, maka dia adalah orang yang tepat untuk Nara. tapi jika tidak, maka anggap saja itu hanya kegiatan untuk mengisi waktu luang.


Memang jahat. Tapi selama ini berhubungan dengan Nara, Cein akan melakukan apa saja selama adiknya ini senang. Selama adiknya bisa keluar dari lingkaran setan yang telah memenjarakannya selama ini, Cein tidak perduli dengan yang lainnya.


“Aku...aku tidak yakin. Apa aku bisa?” Nara kembali menatap Cein dengan memelas. Dia tidak yakin pada dirinya. Apa dia siap untuk mencoba kemungkinan yang masih belum jelas akhirnya? Dia takut jika dia mencoba dan gagal, dia malah menyakiti pihak lainnya yang tidak memiliki sangkut paut dengan masalahnya.


“Kenapa bertanya padaku? Tanya pada dirimu sendiri. Aku hanya menyarankan, bukan memaksa. Sisanya aku serahkan padamu. Semua keputusan ada pada dirimu. Ingat, apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Kakakmu ini akan selalu berada di pihakmu, mengerti?” Cein memberikan pengertian secara perlahan.


Dia paham bagaimana kepribadian Nara. Adiknya ini akan melakukannya jika yang meminta adalah orang tersayangnya. Sedangkan dia tidak ingin memaksa Nara untuk mengikuti apa yang dia katakan, tapi meminta dia untuk menentukan pilihannya sendiri.


Nara menganggukkan kepalanya. Dia segera melesak masuk kedalam dekapan sang kakak dan tentu saja dibalas oleh yang tua. Nara merasa bersyukur masih memiliki Cein dan Ayah Ken di dunia ini. Kalau tidak, dia tidak tahu lagi pada siapa dia harus bertumpu. Karena nyatanya tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa hidup sendiri, termasuk Nara.