
Langit semakin lama semakin menggelap. Sebentar lagi mereka akan segera melaksanan misi mereka. Jayden dan yang lainnya masih berada disana. Mereka benar-benar berencana untuk menonton pertunjukkan yang ditampilkan oleh Sin dan Ren nanti.
Jerry sudah mengantar Cein pulang tadi sebelum langit menggelap. Kini dia sudah bermain game diponselnya bersama Ray dan Hansel. King, Queen, dan Jayden sedang menonton sesuatu di layar.
Tidak jauh dari sana ada Sin yang duduk didepan sebuah komputer. Tapi matanya memperhatikan gambar-gambar yang bergerak di layar monitor besar disana.
Tiba-tiba seorang gadis dengan pakaian serba hitam berjalan memasuki ruangan. Suara langkah sepatunya terdengar dengan jelas di ruangan yang entah kenapa hening itu.
Matanya yang berwarna merah menyala langsung menyelusuri ruangan dan menemukan rekannya disana. Tanpa membuang waktu dia segera menghampiri rekannya itu.
Dia melihat rekannya benar-benar fokus melihat tayangan di layar monitor besar didepannya. Benar-benar tidak teralihkan sama sekali.
Dia menyingkan tangannya didepan dada dan ikut menonton layar monitor tersebut.
“Ganti filmnya, aku tidak suka.”
“Sabar nanti dulu. Ini sebentar lagi akan *******.”
Tidak mengherankan kenapa sekitarnya begitu hening. Pasti ulah rekannya ini. Bisa-bisanya dia menonton film horror dimarkas menggunakan layar monitor besar yang seharusnya digunakan untuk memantau targetnya.
Belum lagi anggota lainnya juga ikut menonton. Benar-benar ya. Padahal saat mereka datang untuk pertama kalinya hari itu, tempat ini terasa begitu serius dan menegangnya.
Tapi sekarang, mereka bahkan bisa menonton film bersama disini. Rekannya ini benar-benar luar biasa ya.
“Rekanku tersayang. Bukankah kau harus bersiap?”
“Bersiap? Aku sudah siap. Mau pergi sekarang pun aku bisa. Tapi tunggu aku menyelesaikan bagian ******* ini dulu.” Sin sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar. Walaupun begitu dia tetap menjawab pertanyaan dari rekannya.
Sebenarnya bagaimana dia bisa tetap fokus pada film disaat dia diganggu seperti ini. Sebenarnya bagaimana otak Sin bekerja?
“Selain itu memangnya kau berani memutus film ini begitu saja?” Kini Sin menoleh sebentar pada Ren.
Yang ditanya hanya mengerutkan keningnya bingung. Kenapa dia tidak berani? Jabatannya disini setara dengan Sin, selain itu mereka rekan. Jadi tentu saja dia berani melakukannya.
“Memangnya kenapa?”
Sin mengarahkan ibu jarinya ke belakang. “Ada Pak tua dan atasan kita disini dan mereka juga sedang menonton dibelakang.”
Ren mengikuti arah jari Sin dan dia menemukan satu keluarga disana sedang menonton film dengan serius. Tidak berbeda jauh dengan Sin.
Setelahnya dia kembali melihat pada Sin yang malah menaik turunkan alisnya seakan menantang Ren apakah dia berani melakukannya atau tidak. Ingin sekali rasanya dia memukul wajah menggelikan itu.
Tidak lama film yang ditonton selesai. Sin merengangkan tubuhnya. Memang menonton film di markas lebih baik daripada menontonnya di bioskop yang penuh sesak. Untuk apa mereka perlu pergi jauh-jauh ke bioskop jika disini memiliki layar monitor yang besar dengan speaker dimana-mana. Memang Jayden yang terbaik.
Jangan tanya siapa yang mengusulkan ide untuk memasang speaker yang terhubung dengan layar juga letaknya dimana-mana. dan jangan tanya juga siapa yang mengeluarkan uang untuk semua ini. Yang jelas bukan Sin atau pun Ren. Tapi pengusulnya adalah salah satu dari mereka berdua.
“Apa ini alasanmu ingin datang cepat hari ini? Karena mau menonton film di layar monitor ini?”
Sin memasang wajah seolah dia tidak melakukan apapun. “Tidak ada salahnya kan?”
“Tau begini aku tunda saja urusanku, jadi bisa menonton disini juga. Lain kali ajak aku!”
“Aku mengerti. Sekarang sepertinya kau harus menyapa atasanmu itu dulu.”
Sin dan Ren menoleh pada satu keluarga disana. Terlihat Jayden dan Raymond sedang berdebat tentang sesuatu.
Mereka berdua berjalan menghampiri mereka. Karena tidak mungkin juga membiarkan mereka yang menghampiri. Jelas-jelas mereka yang mempekerjakan mereka dan menggaji mereka.
“Selamat malam King and Queen, Big Boss Miel, dan tuan muda Noordien.”
“Kau Ren?”
Sebenarnya tanpa bertanya pun mereka sudah bisa menebaknya. Yang punya mata berwarna merah darah hanya Ren, dan yang mempunyai mata berwarna ungu hanya Sin. Mereka bisa dengan mudah dibedakan.
“Tidakkah sudah jelas? Untuk kau apa bertanya lagi?” Raymond ini merasa anaknya benar-benar aneh. Jelas-jelas sudah tertebak tapi dia masih bertanya. Aneh.
“Hanya memastikan ayah.”
“Iya, aku Ren. Senang bisa bertemu dengan atasanku.”
“Itu jika orang yang tidak penting yang ingin bertemu dengan kami. Tapi kalian adalah atasan kami yang mengaji kami, apa mungkin kami bisa mengirimkan bawahan kami untuk menemui kalian?” Sin menjawabnya dengan sangat lugas dan santai. King dan Queen sampai menahan tawanya. Menurut mereka apa yang dikatakannya memang tidak salah, tapi dia terlalu jujur.
Ren mendorong kepala rekannya itu. bisa-bisanya berkata seperti itu langsung pada atasannya. Apa mau didepak dia?
“Hey! What was that for?”
“Bodoh. Setidaknya filter perkataanmu. Jangan terlalu jujur.”
“Memang benar kan? Lagipula Keenan juga tidak berada disini, jadi tidak bisa mengirimkan dia.”
Sin tiba-tiba mendudukkan dirinya di sofa tepat disebelah Ray diikuti Ren yang mendudukkan dirinya didepan Sin. Disebelahnya ada Ken yang hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan mereka.
Ditengah-tengah ada Jayden yang sedang memperhatikan mereka. memang benar-benar seorang The Reaper ya. Tidak takut pada apapun termasuk atasannya sendiri. Bisa-bisanya mereka berdebat seperti ini di depan atasannya.
“Kemana Keenan? Tidak biasanya kau mengirimnya pergi.”
“Aku mengirimnya ke rumah pencuri itu.”
Ren mengerutkan keningnya. Untuk apa dia dikirimkan ke rumah pencuri itu? apa ada sesuatu yang lain yang ingin diketahui? Pencuri itu bukan mafia tapi termasuk orang kaya yang memiliki banyak penjaga disekitar rumahnya.
Tapi melihat banyaknya penjaga sebanyak itu, pasti didalamnya ada banyak benda berharga. Seperti pisau dengan ukiran unik mungkin? Atau senapan laras panjang?
“Kau akan masuk kedalam mengambil senjata itu, dia tidak mungkin meletakkannya begitu saja di samping tempat tidurnya kan? Dia pasti meletakkannya di tempat lain yang tersembunyi. Aku mengirim Keenan untuk membantumu mencaritahu dimana tempat pastinya.”
“Kau tidak perlu mengirimnya juga tidak masalah.”
“Aku tau, tapi aku tidak ingin berlama-lama disana. Aku mengantuk, ingin tidur.”
Ren memutar matanya malas. Rekannya ini hanya tau tidur saja. dia itu bukannya kurang tidur, justru dia kebanyakan tidur.
“Bagaimana dia bisa masuk kesana? Bukannya rumah pencuri itu memiliki banyak sekali orang?
“Kau lupa Keenan itu siapa?”
Ren mendongakkan kepalanya seolah ingat dengan sesuatu. “Ah, iya juga. Mana mungkin mantan penipu sepertinya tidak bisa masuk kesana. Sebenarnya bagaimana kau merekrutnya sih?”
“Tentu saja dengan...menipunya.” Sin tersenyum di balik masker wajahnya.
“Herannya penipu sepertinya malah takut denganmu. Aneh.”
“Lalu, bagaimana kau ingin memulainya?” Lanjut Ren. Misi kali ini Sin yang akan menyusun rencana. Tapi biasanya jika Sin yang menyusun maka tidak akan berakhir baik.
Tidak akan berakhir baik dalam artian paling tidak ada yang hancur. Entah itu sebagian rumahnya atau seluruh rumahnya hancur. Rekannya itu sangat menyukai kehebohan. Tidak akan dia biarkan targetnya tidak rugi sedikitpun.
“Kau yang akan muncul lebih dulu dan aku akan membantumu menembaki dari jauh. Setelah berhasil memancing mereka keluar, aku akan membuat jalan masuk untukmu. Sementara aku menangani yang diluar, kau masuk kedalam dan mengambil barangnya. Keenan akan membantumu.”
“Okay.”
Tiba-tiba seorang laki-laki dengan rambut mulletnya mendatangi mereka sambil membawa sebuah tas bersamanya.
“Sin! Ini kesayanganmu. Aku juga sudah menyiapkan peluru peledak didalam.”
“Nice! Memang kau yang terbaik.”
Benarkan tebakan Ren. Sin tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. dia pasti akan mendramatisir cara masuknya atau mendramatisir caranya membuka jalan untuknya.
Selain itu sekali Sin mengeluarkan senjata kebangsaannya itu, pasti akan menyenangkan. Apa lagi dia sudah meminta Ravi untuk mengganti pelurunya.
“Sin, setelah selesai, pastikan Keenan bodoh itu menemuiku. Si penipu itu berani sekali mengambil barangku tanpa seizinku. Akan ku hajar dia.”
Sin hanya menganggukkan kepalanya saja. Pada akhirnya Ravi sendiri yang akan menyeret Keenan nanti. Dia tidak perlu turun tangan sama sekali.
“Kalau begitu sampai nanti.”
Mereka yang ada disana benar-benar hanya mendengarkan Sin dan Ren berbicara. Sama sekali tidak memiliki niatan untuk menginterupsi. Lagipula menyenangkan mendengar mereka berdebat. Rasanya seperti melihat Jayden dan Raymond versi perempuan.