
Chapter 25: Ray itu...
Kalau tidak...dia akan tetap memaksa! Bahkan jika dunia menentang dia tidak perduli. Nara hanya pantas untuknya dan akan menjadi miliknya.
Ray segera mendapatkan kembali kesadarannya dan mendekati Nara dengan perlahan. Dia menepuk pelan pundak si manis untuk menarik perhatiannya.
Nara terkejut melihat Ray berada disana. Ini sebuah kebetulan dan sangat kebetulan. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Ray disini. Terlebih lagi tempat ini cukup jauh dari mansion keluarganya.
“H-hi!”
Ray hanya bisa merutuki mulutnya. Dia ingin berbicara dengan keren didepan Nara tapi kenapa dia menjadi gugup seperti ini? Habislah dia.
“Hahaha! Aku ngak nyangka kalau kita akan ketemu disini.”
“Aku juga. Kamu habis dari suatu tempat?”
“Oh, tadi aku habis pergi ke toko buku sekalian jalan kesini. Kamu sendiri?”
“Tadi Bunda Ryn memintaku untuk mengantarnya ke perusahaan. Aku bosan pulang ke rumah jadi aku pergi tanpa arah. Tau-tau sudah ada disini dan ketemu kamu.”
“Kalau begitu kita sama. Cein sedang pergi dengan kakakmu dan aku tidak memiliki teman dirumah.”
“Jerry pergi dengan Cein?”
Nara menganggukkan kepalanya. “Iya. Tadi dia datang ke apartement kami dan mengajak Cein untuk pergi dengannya. Ku dengar ada temannya yang berulang tahun dan dia bingung ingin membawa siapa sebagai pasangannya, jadi dia meminta tolong Cein. Kamu tidak tau?”
Ray menggelengkan kepalanya. Dia tidak tau kalau kakaknya akan bergerak secepat ini. Apakah kepala kakaknya terhantuk sesuatu? Dia harus menginterogasi kakaknya nanti!
“Aku hanya tau temannya mengundangnya ke pesta ulangtahunnya, tapi kau tidak tau kalau dia akan membawa Cein.”
“Kakakmu itu lucu tau. Ketika ku tanya-tanyai kemana dia mau membawa kakakku, dia malah tergagap dan bingung menjawabnya. Alhasil Cein yang menjelaskannya padaku. Apa aku semenyeramkan itu?”
Nara menunjuk dirinya sendiri. bagaimana dia bisa dibilang menyeramkan jika sekarang dia melihat Ray dengan wajah polosnya. Yang ada dia menggemaskan bukan menyeramkan.
“Tidak. Kamu menggemaskan.”
Ray maju selangkah dan menarik kedua pipi berisi Nara. Dia kemudian menekan pipi Nara dan meng-unyelnya seperti yang dia lakukan pada Hope.
Nara sampai terdiam ditempat karena perlakuan tiba-tiba Ray. Belum lagi tubuh Ray dekat dengannya. Dalam jarak sedekat ini dia bisa melihat wajah tampan Ray lebih jelas sekaligus menyadari kalau ternyata tubuh Ray itu besar.
Sepertinya dia membentuk tubuhnya dengan sangat baik. Belum lagi pundak lebarnya yang sepertinya cocok untuk dijadikan sadaran.
Oh ayolah Nara. Kendalikan dirimu dan pikiranmu. Jangan berpikiran liar seperti ini. Kenapa setelah bertemu dengan Ray pemikiranmu menjadi semakin liar saja? Astaga.
“Aku tau aku tampan. Tapi kamu jangan memperhatikan ku seperti itu. Aku juga bisa malu diperhatikan seintens itu oleh gadis cantik sepertimu.”
Nara sadar dari pemikiran liarnya dan melepaskan tangan Ray dari pipinya. Dia menangkup kedua pipinya sendiri yang sepertinya sudah memerah. Entah karena Ray atau karena dirinya yang malu.
“A-apa sih yang kamu katakan. Aku tidak!” Nara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya bergerak secara acak kemana saja asalkan bukan Ray.
“Jangan membohongi dirimu sendiri sayang. Lihatlah pipimu sudah memerah.” Ray melepaskan tangan Nara yang menutupi pipi kesukaannya itu dan mengusapnya pelan.
“A-aku tidak! S-selain itu s-siapa yang kamu panggil sayang hah?!!” Pipi Nara semakin memerah. Ray ini benar-benar penggoda ulung ya. Memangnya siapa yang dia panggil sayang. Status saja belum ada di antara mereka tau-tau sudah memanggil sayang.
“Tentu saja kamu. Memangnya siapa lagi yang akan menjadi kesayanganku dan yang akan ku panggil sayang? Kamu Nara.”
“A-apa-apaan sih?! Jauh-jauh dariku. Aku tidak mengenalmu.”
Nara melepaskan tangan Ray lagi dan berusaha untuk menjauh dari laki-laki itu. Tapi tangan Ray lebih cepat. Dia memeluk pinggang Nara dan membuat gadis manis itu tidak bisa pergi darinya.
“Benarkah? Kalau begitu perkenalkan. Aku Ray, calon kekasihmu dan juga calon suamimu nanti.”
“S-SIAPA YANG CALON KEKASIH DAN CALON
SUAMIKU??!! PERGI! JAUH-JAUH DARIKU!!” Nara berusaha untuk melepaskan dirinya tapi Ray benar-benar kuat. Dia bahkan tidak bisa melepaskan tangan Ray dari pinggangnya.
Setahunya dia tidak selemah ini. Dia bahkan bisa memukuli laki-laki gemuk bahkan membantingnya. Tapi kenapa dia tidak bisa melepaskan diri dari Ray? Dia yang melemah atau Ray yang sangat kuat? Seseorang tolong dia atau dia akan mati karena jantungnya yang berdetak tidak normal.
“Hahaha! Jangan berteriak sayang. Nanti orang-orang akan mengira aku berbuat macam-macam padamu.”
“Kamu berani?!! Aku teriak sekarang juga! TO-.”
Ray menghentikan Nara dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Nara. Alhasil gadis itu terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya.
Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Nara dan berbisik disana. “Sttt. Kamu berteriak juga tidak ada yang akan menolongmu sayang. Bagaimana?”
“M-mesum! Ray...K-kamu! Hueeee Cein, tolong aku....”
Nara benar-benar menggemaskan. Sungguh. Ray bisa saja terus menggoda Nara sepanjang hari. Sepertinya dia harus semakin sering menggoda Nara agar dia bisa melihat wajah lucu nan menggemaskan dari calon kekasihnya ini.
“Hahaha! Sudah. Aku hanya menggodamu saja.”
Nara menggembungkan pipinya dan menatap Ray dengan cemberut. Dia memandang si tampan dengan sengit seakan ingin mengibarkan bendera permusuhan antara mereka.
“Jahat!”
“Begitukah? Kalau begitu kamu mau aku melakukan apa agar kamu tidak ngambek padaku?”
Nara terlihat tergoda dengan penawaran Ray, jadi dia berpikir apa yang seharusnya dia minta. Oh! Jangan lupa kalau mereka masih berada di posisi yang cukup dekat. Bahkan tangan Ray masih berada di pinggang ramping Nara.
“Ice cream....”
Nara mengatakannya dengan pelan. Tiba-tiba saja dia ingin makan Ice cream mumpung laki-laki tampan dan kaya didepannya ini ingin membelikannya kenapa tidak?
“Ice cream? Hanya itu? Aku bisa membelikan pabriknya kalau kamu mau.”
Nara mengerutkan keningnya dan mencubit perut laki-laki itu. “Kamu ingin membuatku diabetes? Aku mau ice cream! Belikan aku ice cream dan aku akan memaafkanmu.”
“Okay. Kita beli Ice cream sekarang.”
Ray melepaskan tangannya dari pinggang Nara dan beralih mengambil tangan si manis yang sepenuhnya terbungkus oleh tangan Ray.
Tiba-tiba saja Nara teringat kalau sejak tadi mereka berada di tempat umum dan banyak orang yang melihati mereka karena Nara berteriak tadi.
Banyak orang melihat tapi kenapa tidak ada yang membantunya. Tidak tau saja Nara hampir menjadi korban mulut manis Ray.
Orang-orang disana tidak menolong ya tentu saja karena tingkah manis mereka. Sekali lihat juga mereka tau kalau Nara berteriak itu bukan untuk benar-benar minta tolong. Tapi hanya kelepasan saja. Belum lagi tingkah keduanya yang seakan ada gelembung merah muda disekitar mereka.
Membuat orang iri saja. Huph!