Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 38: Bayi Besar



Ray yang melihat Nara terdiam juga mata Nara yang mulai berkaca-kaca tidak bisa menahan dirinya untuk tidak khawatir. Apa Nara diperlakukan buruk oleh mereka? Apa mereka telah melakukan sesuatu yang menyakiti perasaan Nara? Apapun itu, habislah mereka semua ditangan Ray. Tidak akan dia biarkan orang yang sudah menyakiti Nara-nya lepas begitu saja!


"Hey! Nara? Sayang? Ada apa? Katakan padaku, apa mereka menyakitimu? Hm?"


Nara tersadar dari lamunannya dan menggelengkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya. Namun tangan Ray masih menangkup wajahnya, sehingga Ray kembali mendongakkan wajahnya dan membuatnya kembali menatap Ray. Tolong jangan seperti ini. Kalau seperti ini terus dia jadi ingin menangis. Dia tidak ingin menangis disini.


"Jangan menundukkan kepalamu sayang. Mereka tidak akan bisa melakukan apapun padamu. Ada aku disini."


Nara bahkan tidak merespon dengan kata sayang yang diucapkan oleh Ray. Maka itu berarti Nara sedang tidak fokus. Ray menangkap hal itu dengan baik. Ray segera bangun. Dia menatap tajam pada kepala sekolah penjilat itu.


"Kau, lebih baik segera bereskan barang-barang mu. Mulai hari ini kau sudah tidak memiliki kepentingan apapun lagi disini."


Ray beralih menatap pada satu keluarga disana. Untuk Cynthia, mungkin Nara akan membereskannya sendiri. Sedangkan untuk kedua orangtuanya, dia sudah mendapatkan perintah yang turun langsung dari pemilik universitas ini. Tapi itu pekerjaan Jerry untuk mengatakannya, tugasnya hanya sampai disini saja.


Ray kembali melihat Nara yang masih menundukkan kepalanya. Tanpa aba-aba dia menggendong Nara untuk keluar dari sana. Karena dia merasa Nara akan tetap fokus pada pikirannya sendiri dan dia tidak mau meninggalkan Nara disini bersama orang-orang ini. Baunya busuk. Bisa-bisa Nara tersiksa jika terap disini.


Didepan ruangan, ada Cein yang masih menunggui Nara. Sejujurnya dia terkejut tadi ketika melihat Ray datang sambil menyeret Aufa. Hampir saja dia mengira Ray menyeret mayat, tapi ternyata orang itu masih hidup. Entah kalau sekarang.


Begitu melihat Ray keluar bersama Nara di gendongannya, jelas membuat Cein terkejut sekaligus khawatir. Apa terjadi sesuatu pada adiknya?


"Dia tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya dia terlalu fokus dengan pikirannya. Aku akan membawanya ke tempat yang lebih tenang. Boleh kan?"


Terlihat Nara memang sedang tidak fokus sekarang. Entah apa yang ada dipikirannya. Tapi sepertinya tidak ada salahnya membiarkan Nara bersama Ray. Walaupun dia belum sepenuhnya mempercayai Ray tapi dia tau kalau dia tidak akan melakukan apapun pada Nara. Jadi dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Didalam tasnya ada kotak obat, tolong obati juga tangannya ya." Cein menangkap perban ditangan Nara sudah tidak ada. Bagaimanapun lukanya masih harus diobati dengan baik. Lukanya belum sepenuhnya mengering.


Ray menganggukkan kepalanya dan setelahnya membawa dirinya dan Nara pergi darisana. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan berbalik.


"Eve sedang ada di perpustakaan bersama Hansel. Katanya dia akan menunggumu dan Nara di Cafetaria. Kau bisa pergi lebih dulu dengan Jerry." Ucapnya lalu kembali berjalan pergi darisana.


Cein mengerutkan keningnya. Apa tadi? Dengan Jerry? Memangnya dia berada disini? Perasaan hanya ada dia saja disini.


Tapi omong-omong Nara terlihat sangat serasi dengan Ray. Ray juga terlihat mencintai Nara kalau tidak apa mungkin dia akan berbuat seperti tadi bahkan disaat tidak ada status apapun diantara mereka.


Yah baginya selama Nara bahagia maka dia juga. Jika melalui Ray, Nara akhirnya bisa bebas dari jeratan masa lalunya, maka dia akan mendukungnya sepenuhnya. Apapun, selama adiknya bahagia, maka akan dia lakukan.


Cein berharap kalau Ray adalah pilihan yang tepat. Semoga Ray bisa membantu Nara dan mengobati luka di hatinya.


Saat dia berbalik, dahinya langsung bertubrukan dengan dada bidang seseorang. Ketika dia mendongak, dia melihat Jerry berada di hadapannya. Sejak kapan dia berada disini? Kenapa dia tidak menyadarinya?


"Sejak kapan kamu ada disini?"


"Sejak tadi. Kamu terlalu asik memperhatikan Ray dan Nara sampai-sampai tidak menyadari aku disini sih. Huph!" Jerry melipat tangannya didepan dada lalu mengalihkan wajahnya ke arah lain seakan ingin mengatakan kalau dia ngambek.


Cein berhasil dibuat tertawa dengan sikap Jerry yang kelewat acak.


Tanpa sadar Cein juga mencubit kedua pipi Jerry dan mengoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Si empu yang  mengerucutkan bibirnya, masih dengan acara ngambeknya pada Cein.


"Memangnya aku anak kecil yang bisa dibujuk dengan permen dan balon?"


"Loh, bukan ya? Lalu aku harus membujukmu dengan apa?"


"Temani aku masuk kedalam dulu untuk membereskan orang-orang itu. Setelahnya aku akan memberitahumu apa yang aku mau."


Cein memiringkan kepalanya. Dia malas bertemu dengan serangga didalam. Yang ada dia jadi kesal dan berakhir memiliki keinginan untuk merobek-robek mulut besar mereka. Berani sekali tadi dia mencemooh Nara dan ingin membuat Nara dihukum. Padahal itu bukan salahnya. Adiknya saja sampai terluka begitu.


Beruntung bukan wajahnya yang terluka. Kalau sampai wajahnya yang terluka, maka siap-siap saja menerima amukan dari adiknya tersayang. Terakhir kali ada yang memukulnya dan membuat wajahnya terluka, Nara mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan orangnya sampai harus menginap di rumah sakit.


Dia pernah menanyai Nara, dan dijawab kalau harga perawatannya itu mahal. Berani sekali dia mencoba untuk melukai wajahnya. Alasan lain dari Nara yang sangat tidak menyukai wajahnya dilukai adalah karena Ayah Ken. Ayah mereka pasti akan mengomelinya sepanjang hari bahkan tidak perduli jika dia memiliki pekerjaan. Seakan baginya yang terpenting adalah mengomeli Nara.


Selain itu, jangankan wajah, ada bagian dari tubuhnya yang terluka saja atau dia mengetahui Nara terluka saja dia akan berusaha untuk pulang walaupun dia sibuk hanya untuk mengomel pada Nara untuk berhati-hati.


Dia bahkan tidak pulang di hari biasa, tapi kemarin malam dia pulang. Katanya dia mendengar dari Bunda Ryn yang mengatakan kalau Nara terluka, jadi dia pulang lalu mengomel sepanjang malam. Meminta agar Nara berhati-hati. Berbuat onar boleh, tapi jangan sampai melukai diri sendiri.


Itu yang selalu diterapkan oleh Nara dan Cein. Nakal bolej, berbuat onar boleh, tapi jangan sampai terluka. Tubuh kita ini adalah sesuatu yang berharga. Bagaimana kita bisa melukai tubuh yang diberikan oleh orangtua kita. Jika kita melukai tubuh kita, maka itu sama saja berarti kita tidak menghargai orangtua kita. Bukan begitu?


Kalau Nara, dia mempercayai itu begitu juga Cein. Karenanya dia selalu berusaha untuk tidak terluka. Walaupun terkadang ada saja hal-hal yang terjadi diluar rencana mereka.


Okay kembali pada Jerry dan Cein sekarang. Tanpa menunggu jawaban dari Cein, Jerry segera mengambil tangannya dan membawanya masuk kedalam ruangan kepala sekolah. Upss, lebih tepatnya mantan kepala sekolah. Hihihi.


Orang-orang didalam sedari tadi entah meributkan hal apa. Terutama keluarga Cynthia. Mungkin mereka ingin balas dendam pada Nara atau Ray. Haha! Dalam mimpi. Memangnya mereka siapa? Menjatuhkan mereka itu semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan Zea saja bisa.


"Maaf tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian. Saya disini hanya ingin menyelesaikan ucapan Ray tadi."


Mereka semua sontak menoleh ketika suara Jerry terdengar. Bagaimana mereka tidak menyadari kedatangan Jerry? Kenapa dia kedatangannya tidak terasa? Apa karena mereka yang terlalu sibuk berdebat tadi?


Cein yang mengikuti Jerry di belakangnya, memilih untuk bersembunyi saja tidak mau melihat mereka. Yang ada dia kadi kesal.


"Tidak perlu banyak omong. Aku hanya ingin mengantarkan berita dari Nenekku untuk kalian. Untuk bapak mantan kepala sekolah, sepertinya anda sudah dengar tadi dari Ray. Sedangkan untuk tuan dan nyonya ini, nenek mengatakan kalau kalian telah dikeluarkan dari jajaran donatur disini. Ayahku juga mengatakan kalau dia akan menghentikan kerja sama tidak jelas antara kalian."


Setelah mengatakannya, Jerry kemudian berbalik berencana untuk pergi bersama Cein. Sampai suara seseorang berhasil menghentikan jalan mereka terutama Jerry.


"Tidak ku sangka. Dia dan Nara sama saja. Senang sekali menempeli keluarga Noordien, seperti lintah saja. Apa kalian semiskin itu sampai berusaha memeras mereka. Kasihan sekali mereka ditempeli oleh kalian berdua."


Genggaman tangan Jerry pada Cein mengerat. Cein bisa merasakan aura tidak mengenakkan dari Jerry. Auranya persis seperti saat dia dan Jerry berada di markas entah apa hari itu. Jerry mengeluarkan aura ini ketika melihat Sin datang menghampiri mereka.


Jerry kembali berbalik tanpa melepaskan genggaman tangan antaranya dan Cein. Dia menatap Cynthia dengan wajah datarnya. Matanya menusuk dan terlihat niat membunuh pada Jerry.


"Katakan sekali lagi."