Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 33: Ray Marah



Saat ini Ray sedang menunggu dengan khawatir. Kakinya sedari tadi terus bergoyang begitu juga tangannya yang tida bisa diam. Nara-nya sudah diperiksa dan diobati oleh dokter kenalannya. Tapi sampai sekarang Nara masih belum membuka matanya.


Ray terus berada di samping Nara, berharap gadis itu segera membuka matanya. Dokter memang mengatakan keadaannya baik-baik saja. Tapi selama Nara belum membuka matanya, Ray tidak akan bisa berhenti khawatir.


Belum lagi matanya terus saja tertuju pada tangan Nara yang terluka. Lukanya begitu besar dan melepuh tapi Nara tidak berteriak kesakitan. Dengan gerakan selembut mungkin, dia mengambil tangan Nara yang terluka. Dia mengusapnya pelan dan mengecupnya.


Dalam pikirannya, Ray memikirkan beberapa hal. Yang pertama, kenapa Nara bisa bersama gadis aneh (Read Cynthia) itu? Kemana perginya laki-laki culun itu? Apa dia meninggalkan Nara?


Yang kedua, bagaimana gedung itu bisa terbakar? Darimana juga asal ledakan itu berasal? Apa ada yang melemparkan bom?


Yang ketiga, kalau memang ada yang sengaja membakar gedung itu dengan bom, lalu siapa dia? Siapa yang berani-beraninya mencoba untuk mencelakai Nara-nya? Siapa yang menyebabkan Nara-nya terluka seperti ini? Siapapun orang itu, Ray pastikan dia akan menerima pembalasan yang lebih menyakitkan dari ini. Ray ingin melihat siapa orang bodoh yang sudah membuat kesayangannya terbaring seperti inim


Setelah itu, Ray merasakan pergerakan dari tangan Nara. Dia segera melihat Nara yang sedang menerjabkan matanya beberapa kali.


"Ray...."


"Ada apa? Apa ada yang sakit? Kamu bisa memberitahuku mana yang tidak nyaman."


Ray bangun dan mengusap rambut Nara. Dia menatap Nara dengan lembut. Masih terlihat dengan jelas kekhawatiran di mata Ray. Nara pingsan begitu saja tadi, bagaimana dia tidak khawatir? Dia takut ada luka lain di tubuh Nara.


Nara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Hanya tanganku sedikit sakit. Apa melepuh?"


"Iya. Dokter bilang kamu harus rutin mengobatinya. Apa perlu aku menyewakan perawat untuk membantumu mengobati luka mu?"


Nara hanya menggelengkan kepalanya dan sedikit terkekeh. Ray ini benar-benar over reacting ya. Dia bukannya patah kaki atau tidak bisa bangun. Ini hanya luka lepuh. Bukan sesuatu yang serius. Untuk apa sampai menyewa perawat?


"Jangan membuang-buang uangmu untuk hal yang tidak perlu Ray. Aku bisa mengobatinya sendiri atau meminta Cein membantuku. Atau kamu mau membantu ku mengobatinya?"


Sebenarnya Nara hanya menggodanya saja. Niatnya hanya ingin bercanda. Tapi lagi-lagi candaannya selalu di tanggapi dengan serius oleh Ray. Laki-laki tampan ini malah menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Kalau kamu yang memintanya tentu saja akan aku turuti dengan senang hati. Bagaimana aku bisa membiarkan kesayanganku kesakitan sendiri."


Ray ini benar-benar ya. Selalu saja berhasil membuat tembok yang dibuatnya perlahan retak. Padahal dia pikir tembok itu tidak akan pernah bisa didobrak oleh siapapun tapi Ray tiba-tiba hadir dan meninjunya perlahan sampai retak.


Mengenai perasaan, setelah mendengarnya beberapa kali dari Cein yang mengatakan kalau Ray menyukainya dan ingin mendekatinya. Dia melakukan pengujian(?) untuk melihat apa benar yang dikatakan oleh Cein. Pada akhirnya dia berencana untuk mengakuinya saja. Membiarkan dirinya mengakui kalau Ray menyukainya juga membiarkan dirinya menanggapi perasaan Ray.


Jujur, dia tidak tau kalau Ray adalah orang seperti ini. Dia tidak pernah menyangka kalau dibalik sikap dingin dan wajah datarnya, Ray bisa berubah menjadi selembut dan seperhatian ini. Dia juga tidak tau kalau Ray bisa membuat dia yang anti dengan laki-laki ini, menerima segala perhatiannya dengan senang hati.


Ray dengan segala tindakan, kelembutan, dan mulut manisnya selalu bisa membuat dirinya tersenyum. Apa mungkin dirinya juga sudah mulai menyukai Ray? Atau dia saja yang tidak bisa menolaknya? Lihat saja bagaimana dia terus mengusap rambutnya dan menatapnya dengan lembut. Seolah dia adalah sebuah porselen rapuh yang bisa pecah kapan saja.


Omong-omong dia tiba-tiba jadi ingat dengan Cynthia. Perempuan itu berlari keluar dan meninggalkannya untuk Ray tapi sekarang laki-laki yang dia harapkan untuk menyelamatkannya malah berada disini bersamanya. Menunjukkan perhatian dan kelembutannya untuknya. Haruskah dia menyombongkan ini nanti ketika bertemu dengan Cynthia? Bisa dicoba. Hehe


Setelah dipikir lagi, Ray pasti penasaran kan dengan apa yang terjadi? Bagaimana kalau dia memberitahukannya pada Ray? Kira-kira bagaimana tanggapannya ya? Bagaimana kalau setelah mendengarnya, Ray malah ingin segera mencari Cynthia dan membalasnya? Tidak-tidak. Kalau begitu kan dia jadi tidak punya kesempatan untuk membalas Cynthia nanti. Tapi haruskah dia sedikit berakting untuk menambahkan sedikt bumbu? Dia sedikit penasaran ingin melihat bagaimana tanggapan Ray.


"Hey, ada apa? Kenapa melamun?"


Nara segera memasang wajah memelas. Dia memandang Ray dengan wajah yang dibuat khawatir.


Ray mengerutkan keningnya. Siapa Cynthia? Apa mungkin Nara sedang membicarakan perempuan aneh tadi? Setelahnya Ray mendatarkan wajahnya dan memandang Nara dengan pandangan tidak suka. Dia tidak suka Nara membahas perempuan aneh itu.


"Ray? Apa dia baik-baik saja?" Nara bertanya lagi karena Ray hanya diam saja.


"Aku tidak tau. Nara sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kemana si culun itu? Kenapa juga perempuan aneh itu ada disana? Apa dia menganggumu? Apa dia yang membuatmu terluka? Apa-."


Nara menahan bibir Ray dengan telunjuknya, membuatnya untuk berhenti berbicara.


"Jangan bertanya lagi. Aku akan menceritakannya."


"Katakan." Saat ini Ray benar-benar serius. Dia sangat ingin tau siapa yang sudah membuat Nara-nya seperti ini. Lihat saja nanti, jika dia sudah tau siapa orangnya, akan dia pastikan orang itu menerima akibatnya.


"Tadi Aufa membawaku ke gedung belakang sekolah, kat-."


Baru beberapa kata Nara ucapkan, Ray sudah memotongnya.


"Siapa Aufa?"


"Laki-laki yang tadi bersamaku. Namanya Aufa."


Ray menaikkan satu alisnya. "Maksudmu Si culun itu?"


Nara menganggukkan kepalanya. Si culun itu memang bernama Aufa. Dia tadi bertanya pada laki-laki itu untuk berjaga-jaga. Siapa tau berguna.


"Aku lanjutkan ya. Dia membawa aku ke gedung belakang, katanya ada seseorang yang ingin menemuiku. Setelah mengantarku, Aufa pergi. Ternyata orang yang ingin menemui aku adalah Cynthia."


Saat melihat Ray akan membuka mulutnya, Nara kembali menahan bibir Ray dengan jarinya. Dia tau apa yang ingin ditanyakan oleh laki-laki tampan ini. Namun Ray menggenggam jarinya dan menjauhkannya dari bibirnya.


"Apa yang dia katakan? Apa dia mengancammu lagi? Katakan sejujurnya Nara, jangan ada yang kamu tutupi dariku. Aku tidak mau kamu menutupi perbuatan semena-menanya!"


Nara memang tidak memiliki keinginan untuk menutupinya dari Ray. Untuk apa dia menutupi kesalahan Cynthia? Justru dia ingin Ray tau. Dia ingin tau bagaimana tanggapan Ray. Tapi sepertinya sekarang pun dia sudah tau kalau Ray kesal. Namun dia menahannya didepannya.


"Dia memintaku untuk menjauhimu Ray. Dia bilang aku tidak pantas bersanding denganmu. Dia bilang dia lebih dulu menyukai mu, jadi dia yang pantas bersamamu. Dia mau aku pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Katanya orang kaya hanya pantas bersanding dengan yang sederajat. Dia bilang dia akan memberikan apapun yang aku inginkan. Dia juga bilang ingin memberikan aku uang selama aku menjauhimu."


Nara menduga kalau begitu dia selesai bicara, Ray akan segera meledak dan dugaannya benar. Ray memalingkan wajahnya. Ray sudah melepaskan tangannya yang terluka dan beralih mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Sialan! Berani-beraninya memintamu seperti itu. Peringatan ku hari itu sepertinya belum cukup ya untuk menghentikannya. Lihat saja nanti. Akan ku tandai dia!"


"Aku belum selesai Ray. Masih ingin dengar?"


Ray menganggukkan kepalanya. "Lanjutkan."


"Dia mengatakan itu padaku. Tapi aku menolaknya. Aku mengatakan kalau dia tidak punya hak untuk memerintahku seperti itu. Aku bilang memangnya kenapa kalau dia yang lebih dulu menyukaimu. Kamu saja mungkin tidak mengenalnya."


Ray berhasil dibuat tersenyum ketika mendengar Nara bisa menjawab perempuan aneh itu dengan berani. Gadisnya memang harus seperti ini. Ini baru Nara-nya.