Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 20: Perasaan aneh



“Apa?” Jerry tanpa sengaja menaikkan nada suaranya. Dia hanya terkejut saja. Kalau saja dia tidak melihat ekspresi wajah Cein, dia hampir saja mengira dia salah dengar tadi.


“Kamu tidak salah dengar. Aku memang mengatakan Nara tidak percaya pada laki-laki.”


“Tapi kenapa?”


“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, tapi yang ingin ku beritahu adalah dia beranggapan kalau semua yang dilakukan dan diucapkan oleh laki-laki hanyalah tipuan belaka. Dia beranggapan kalau semua laki-laki itu kasar, selalu bermain tangan, dan hanya memanfaatkan perempuan untuk kesenangannya saja.”


“Apa itu semua karena masa lalunya?” Begini-begini dia juga sayang pada adiknya. Walaupun dia yakin dia tidak bisa menghentikan Ray, paling tidak dia bisa memberitahu Ray untuk mengantisipasinya.


“Iya. Katakan pada Ray kalau mungkin dia harus berusaha lebih keras jika ingin mendapatkan seluruh hati Nara. Jika memang dia tidak bisa, akan lebih baik jika dia menyerah sekarang juga. Karena aku tidak ingin adikku terluka untuk kesekian kalinya.”


“Sepertinya kamu tidak perlu memikirkan itu. Ray bukan laki-laki yang mudah untuk menyerah. Semua langkah yang dia ambil sudah dia pikirkan matang-matang. Apapun resiko yang akan dia dapat nanti, pasti sudah dia perhitungkan dengan baik.”


Cein mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tersenyum tipis membayangkan masa depan seperti apa yang akan di dapatkan oleh Nara dan Ray. “Kalau begitu, semoga berhasil.”


Keduanya kembali terdiam. Ditengah keheningan itu, Cein tiba-tiba teringat dengan apa yang Nara katakan tadi di telepon. Mungkin Jerry harus mengetahui tentang ini bukan?


“Oh iya, tadi saat aku menelepon Nara dia mengatakan kalau dia sedang bersama Ray sekarang. kembaranmu itu sakit, badannya panas.”


“Pantas saja perasaanku tidak enak sedari tadi, ternyata karena hal ini. Beruntung Nara yang membawanya, kalau orang lain mungkin dia sudah menjadi santapan para penjilat itu.”


“Kembaranmu itu benar-benar ya.” Cein hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya ketika mengingat apa yang telah diceritakan oleh Nara tadi. Jika ayah Ken tau anak gadisnya dipeluk seperti itu oleh laki-laki, dia mungkin akan mengamuk sekalipun itu adalah anak atasannya.


“Sudah malam, lebih baik kamu pergi tidur. Kamu tidur bersama Eve kan?” Cein menganggukkan kepalanya. Lalu menghadap pada Jerry yang saat ini sedang menatap padanya juga.


“Kamu tidak ingin menghampiri Eve?”


“Aku biasa menghampirinya ketika aku akan tidur.”


“Kalau begitu aku duluan.” Sebelum Cein pergi, Jerry sempat mengusak rambutnya sambil tersenyum. Sebenarnya jika ingin jujur Cein sedikit terpesona dengan Jerry. Siapa yang tahu wajahnya yang terkena sinar bulan membuatnya semakin tampan.


Cein segera berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Jerry disana sendirian. Laki-laki itu diam, tapi otaknya bekerja dengan keras. Banyak sekali pemikiran yang muncul dalam otaknya terutama mengenai Cein. Sepanjang percakapan mereka tadi, dia lebih beberapa kali salah fokus dan malah memperhatikan Cein daripada mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu.


Hal itu terjadi begitu saja tanpa dia sadari. Tiba-tiba saja dia sudah memperhatikan Cein dengan begitu intens. Berdekatan dengan Cein bukanlah hal yang baik. Terutama untuk kesehatan organnya.


---


Bagi Ray setiap hari adalah hari yang sama. Tidak ada perbedaan. Yang berbeda hanyalah tugas yang diberikan oleh ayahnya. Sisanya sama. Bangun pagi, pergi ke universitas, belajar, pulang, mengerjakan pekerjaannya, makan malam, kumpul keluarga, lalu tidur.


Kesenangan yang dia maksud disini bukan seperti bermain perempuan atau pergi ke klub malam. Maksudnya adalah tidak ada sesuatu yang membuatnya berpikir dan menerka-nerka apa yang akan terjadi besok.


Itu yang dirasakan oleh Ray sebelum dia bertemu dengan Nara.


Entah mengapa setelah pertemuannya dengan Nara hari itu, dia jadi menantikan hari esok dan hari-hari lainnya. Dia menantikan pertunjukan seperti apa yang akan ditampilkan oleh Nara nanti.


Di matanya sosok Nara sendiri sudah menarik mata dan pikirannya. Suatu malam ketika dia tidak bisa tidur, dia pernah menerka warna pakaian apa yang akan dipakai oleh Nara atau sepatu apa yang akan dipakai oleh gadis manis itu.


Ray memang belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Tapi dia juga bukan anak smp yang tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Dia tahu kalau dia menyukai Nara atau bahkan mencintainya.


Ingatan tentang bagaimana Nara yang menampar Azura hari itu terlihat elegan dimatanya. Ayunan tangannya yang pasti dan seberapa kuatnya dia menampar gadis itu. Ray benar-benar terpesona oleh Nara. Benar-benar aneh kan?


Biasanya orang akan terpesona pada kelembutan atau keramahan atau kesopanannya. Tapi Ray justru menyukai sisi Nara yang kasar dan kuat.


Sejak dulu dia pernah berpikir kalau dia ingin memiliki pasangan yang kuat dan bisa melindungi dirinya sendiri. Walaupun dia pasti juga akan menjaganya. Tapi dia ingin perempuan yang tidak mudah ditindas begitu saja oleh orang lain.


Alasannya karena dia tahu bagaimana kerasnya kehidupan dalam dunianya. Bukan tanpa alasan Ayah dan Kakeknya melatihnya dan kakak kembar untuk menjadi kuat secara fisik dan mental. Taruhan mereka adalah nyawa. Jika mereka lemah maka mereka kalah. Selain itu dia juga akan kehilangan orang yang dia sayangi.


Karena itu juga dia berusaha untuk menjadi lebih kuat lagi agar bisa melindungi orang-orang disekitarnya. Sehingga tidak ada yang akan meninggalkan siapa pun disini.


Nara adalah suatu objek yang benar-benar dirasanya sesuai dengan tipe idealnya dari dulu sampai sekarang. Dia juga baru kepikiran tentang hal ini. Sebelum kedatangan Nara, dia selalu berlaku kasar pada siapapun yang menganggunya. Entah itu laki-laki maupun perempuan. Dia tidak perduli.


Sekali dia menganggu ketenangannya maka bersiap untuk dibentak. Ray tidak akan segan sama sekali untuk bersikap kasar seperti memukul. Dia bahkan bisa untuk membunuh mereka saat itu juga jika dia mau.


Hanya saja dia masih berusaha untuk menahan diri karena bunda Ryn sudah memberikan amanah padanya untuk menahan diri selama disekolah. Jangan sampai membunuh orang seperti saat dia masih SMA dulu.


Percayalah, temperamen Ray memang sangat sangat sulit terkendali. Dia paling tidak suka ada yang berdekatan dengannya apalagi sampai menyentuhnya. (Tentu saja hal ini tidak berlaku untuk Nara)


Dia tidak suka disentuh oleh gadis-gadis bermuka dua dan penjilat itu. Apalagi pada gadis yang terang-terangan menggodanya dengan pakaian terbuka. Sungguh Ray muak dengan itu. Jika ingin memamerkan tubuh kenapa tidak lakukan saja di jalan raya atau jika dia punya uang maka lakukan exhibition.


Selama ini Ray dikenal anti dengan perempuan. Karena semua perempuan yang akan mendekatinya (yang bahkan masih berada dalam jarak 10 meter) sudah dipelototi oleh mata tajam Ray yang memiliki kesan menyeramkan. Karena itu banyak yang takut untuk mendekatinya atau sekedar menyapa.


Ray sendiri juga berpikir kalau dia membenarkan rumor tentang dia yang tidak memiliki hati karena selama ini dia memang tidak merasa tertarik dengan perempuan manapun yang pernah ditemui maupun yang mendekatinya.


Tapi lagi-lagi itu sebelum dia bertemu Nara. Sekarang dia sudah bisa meyakinkan dirinya kalau dia benar-benar mencintai Nara dan ingin menjadikan gadis itu miliknya. Dia ingin merengkuh gadis itu dan menjaganya.


Hanya saja dia tidak tau apakah Nara memiliki perasaan yang sama padanya atau tidak. Dia tidak ingin memaksa Nara dan membuatnya tidak nyaman ketika mereka saling berhubungan nanti. Mungkin dia akan membicarakan ini dengan Nara nanti.