
Sejak sampai dirumah pikiran Ray hanya tertuju pada satu hal. Bahkan setelah keluarganya yang lain mungkin sudah terlelap, dia masih duduk di ruang tengah memikirkannya. Ini mengenai Sin.
Apa yang Sin lakukan tadi benar-benar membuat Ray terkejut. Dia tidak menyangka kalau apa yang dia pikir tidak mungkin dilakukan oleh Sin, ternyata benar-benar dilakukan.
Memangnya siapa yang menyangka kalau dia benar-benar akan melompat turun dari gedung?
Gadis itu serasa melakukan parkour tadi. Dia mengemas kembali senapannya dan mengendongnya di punggungnya. Lalu dia melompat turun dari gedung itu. Hampir saja Nenek terkena serangan jantung ditempat.
Dia melompat turun lalu melompat lagi ke dahan pohon besar. Dia melompat dari pohon ke pohon seperti seekor monyet yang bergelantungan dari pohon satu ke yang lain. Dia melompat lagi ke tembok pembatas dan masih bisa menembak disana. Padahal lebar tembok itu tidak terlalu lebar. Dia sepertinya masih bisa melihat dengan jelas.
Selain itu kemampuan menembaknya benar-benar mengesankan. Semua tembakannya tepat sasaran. Tidak meleset sedikitpun. Padahal jaraknya cukup jauh. Dia bahkan bisa bertarung tangan kosong dengan laki-laki bahkan mengalahkannya.
Tidak heran kenapa dia bisa masuk kedalam jajaran orang yang di takuti. Kemampuan seperti itu siapa yang tidak takut.
Bukan berarti dia takut dengan Sin ya. Kemampuan gadis itu masih berada di bawahnya. Itu wajar karena dia secara tidak langsung adalah bossnya.
Selain itu ada sesuatu yang lain yang muncul dalam pemikirannya. Kenapa dia Sin ini terasa familiar baginya? Ini adalah pertemuan pertama mereka tapi kenapa dia merasa pernah bertemu dengannya? Ketika dia berjalan mendekati mereka, dia merasa cara berjalannya mirip seperti seseorang tapi dia tidak tau siapa.
Apa mungkin itu hanya pemikirannya saja? Tapi benar-benar terasa familiar. Apa mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya tapi dia tidak mengenalinya karena Sin memakai masker saat melakukan misinya?
Disaat Ray tenggelam dengan pemikirannya, Jerry turun dari lantai dua. Tadinya dia ingin ke dapur mengambil air karena tenggorokannya terasa kering. Tapi dia malah menemukan saudara kembarnya duduk diam di ruang tengah. Jelas sekali dia sedang memikirkan sesuatu dalam otaknya
Dia berjalan menghampiri Ray dan menepuk pundak saudara kembarnya. Ray segera tersadar dari lamunannya dan melihat Jerry berada di sebelahnya.
“Ada apa? Ada yang menganggu pikiranmu?”
“Hanya terpikirkan tentang Sin tadi.”
“Kau terkejut kan saat dia melompat tadi? Ku pikir dia ingin bunuh diri tadi.”
Ray tertawa mendengar penuturan kakak beda beberapa menitnya. Habisnya gadis itu juga main lompat saja. Benar-benar membuat orang terkejut.
“Tapi kemampuan mereka cukup baik kan? Tidak banyak perempuan yang bisa melawan sekumpulan orang-orang tanpa terluka sedikitpun. Bahkan menumbangkan semuanya. Memang ya, kedatangan The Reaper pasti akan berakhir hancur dan berantakan.”
“Ku rasa mempercayakan markas pada mereka memang tidak rugi.”
“Percayakan saja pada mereka. Tidak banyak pemimpin yang mau turun tangan langsung melakukan misi bahkan tanpa membawa anak buahnya. Mereka benar-benar melakukan semuanya berdua saja.”
“Tapi yang ku pikirkan dari tadi adalah aku merasa Sin itu sangat familiar. Apa aku pernah bertemu dengannya?”
“Sejujurnya aku juga merasa familiar dengan Ren. Entah kenapa aku merasa dia mirip Cein.”
Ray memandang Jerry dengan terkejut. Setelah dia ingat lagi, Sin sedikit mirip dengan Nara. Cara berjalan mereka mirip. Tapi apa mungkin itu mereka?
“Aku juga tidak yakin. Ini hanya perasaan ku saja. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja.”
Ray kembali mengangguk. Percuma juga jika dia berpikir semalaman, dia juga tidak akan menemukan apapun. Yang ada dia pusing sendiri dan kurang tidur juga.
“Sudah pergi ke kamarmu dan tidur. Jangan banyak berpikir. Nanti juga terjawab sendiri.” Jerry menepuk paha Ray beberapa kali.
“Iya. Kau juga tidur sana.” Jerry menganggukkan kepalanya.
Ray segera naik menuju kamarnya dan Jerry pergi ke dapur untuk minum. Setelahnya dia baru menyusul naik ke kamarnya dan tidur.
Keesokan harinya, Selesai kelas Nara didatangi oleh laki-laki culun. Mereka tidak terlalu dekat. Bahkan Nara tidak mengenal siapa orang yang menyapanya ini. Bagaimana dia bisa mengenalnya dan tau namanya?
"Apa aku mengenalmu?"
"A-aku, ki-kita be-berada d-di k-kelas ya-yang s-sama."
Laki-laki didepannya ini berbicara dengan tergagap. Belum lagi sedari tadi dia terus membenarkan letak kacamatanya yang merosot turun. Matanya bergerak-gerak, sama sekali tidak melihat pada Nara sedikitpun.
Tolong cepat lah. Dia lapar, ingin makan. Dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang ini. Jelas sekali dia memiliki maksud dibalik kedatangannya menemuinya. Tidak mungkin dia tiba-tiba mendekatinya untuk sekedar mengajak berkenalan saja.
"I-itu...emm...it-itu...."
"Katakan dengan jelas! Atau aku pergi!"
"I-itu, a-ada o-orang ya-yang m-mau b-bertemu deng-dengan mu."
"Siapa?"
"I-ikut sa-saja d-dengan ku d-dan ka-kau a-kan ta-tau."
Nara melipat kedua tangannya didepan dada. Dalam kepalanya dia memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi kalau dia ikut dengan laki-laki didepannya.
Sejujurnya dia cukup bosan dengan kegiatan monoton ini dan butuh sedikit waktu libur. Apa lebih baik dia ikut saja dan berpura-pura bodoh untuk mengikuti alurnya?
Nara terdiam cukup lama. Matanya terus menatap pada laki-laki culun didepannya. Padahal orang itu sudah dibanjiri oleh keringat karena ditatap seperti itu oleh Nara. Lagipula siapa yang tidak takut ditatap dengan tajam. Dia merasa seperti seekor kucing yang ketahuan mencuri ikan.
"Nara, kamu sedang apa disini? Kenapa lama sekali? Eve sudah menunggumu di cafetaria."
Ray tiba-tiba kembali masuk ke kelas lagi. Dia melihat Nara bersama seorang laki-laki culun. Hatinya terasa terbakar melihat mereka berdua di kelas kosong seperti ini. Berani sekali dia mendekati Nara nya ketika kelas sudah kosong seperti ini.
Si tampan berjalan dengan langkah lebarnya mendekati Nara. Tanpa berpikir dua kali dia meraih pinggang Nara dan membuat tubuh mereka berdua berdempetan. Dia bisa merasaka Nara yang terkejut karena perlakuan tiba-tibanya.
Tidak biasanya Nara terkejut seperti ini. Setiap kali dia melakukan apapun yang bisa saja mengejutkan, seperti menepuk pundaknya, Nara tidak terkejut. Memangnya apa yang dia pikirkan sampai begitu serius? Apa dia memikirkan si culun ini?
Ray menatap laki-laki culun itu dengan tajam, seakan ingin melubangi kepalanya.
"Kenapa kembali kemari?" Nara tentu saja bingung dengan Ray. Kenapa laki-laki ini kembali lagi? Padahal sebelum pelajaran selesai saja dia sudah pergi kemana tahu bersama kedua saudaranya.
"Mencarimu. Eve menunggumu daritadi tapi kamu tidak kunjung datang, jadi aku yang mencarimu."
Ray kembali menatap tajam pada laki-laki culun itu. Tadi saja ketika melihat pada Nara tatapannya berubah lembut. Tapi ketika melihat laki-laki culun itu, tatapannya kembali berubah tajam dan menakutkan.
Laki-laki culun itu semakin dibanjiri dengan keringat. Baginya harus berbicara dengan Nara saja sudah menakutkan dan sekarang apa dia harus berurusan juga dengan pangeran sekolah mereka yang terkenal dengan temperamennya yang menyeramkan dan sulit dikendalikan?
"Apa yang dia lakukan disini? Apa dia menganggumu?"
Nara kembali melihat pada laki-laki culun didepannya sebentar lalu menggelengkan kepalanya. Dia sudah mendapatkan jawabannya. Dia akan mengikutinya saja dan berpura-pura bodoh. Siapa tau dia benar-benar mendapatkan waktu libur.
"Tidak. Ray, kamu duluan saja kembali ke cafetaria. Ada yang ingin dia bicarakan dengan ku. Kamu tidak perlu menungguku."
Ray memandang Nara dengan pandangan tidak suka. Apa dia bilang? Ada yang ingin mereka bicarakan? Dan dia memintanya untuk meninggalkan mereka berdua? Tidak! Itu tidak akan terjadi! Bagaimana dia bisa meninggalkan mereka bersama? Tidak! Tidak! Tidak!
"Untuk apa memperdulikan dia? Kalau mau bicara, katakan sekarang biarkan aku mendengarnya juga."
Nara bingung dengan sikap Ray. Ada apa dengan si tampan ini? Kenapa dia terdengar posesif belum lagi wajah tidak sukanya yang sangat ketara. Selain itu dia bisa merasakan Ray semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggangnya.
Tapi dia tidak bisa membawa Ray bersamanya. Bagaimana kalau Ray terseret bersamanya nanti? Atau bagaimana kalau orang yang mau menemuinya tidak jadi menemuinya karena melihat Ray ikut?
"Ray, aku tidak akan lama. Setelahnya aku akan segera menemui kalian di cafetaria."
"Tapi-"
"Stt, jangan banyak protes! Kalau ada apa-apa aku akan segera menghubungimu. Bagaimana?"
"Pastikan kamu menghubungiku!"
Ray kembali menatap tajam laki-laki culun itu. Dia akan mengingat dengan jelas wajahnya dan akan membuat perhitungan dengannya nanti. Apalagi kalau sampai Nara kenapa-kenapa.