
Waktunya telah tiba, mereka sudah bersiap ditempatnya masing-masing. Di depan rumah pencuri itu terdapat gedung yang tidak terlalu tinggi. Gedung itu sudah tutup jam segini dan Sin menggunakannya sebagai tempat yang pas untuknya menembak.
Keluarga Noordien juga ikut bersama Sin karena dari sana memang tempat yang sesuai untuk menonton.
Sejujurnya yang menjadi pertanyaan Ray sejak tadi adalah bagaimana Sin akan pergi ke rumah? Apa mungkin dia turun terlebih dahulu dari gedung ini baru menghampiriya? Tidakkah itu membuang waktu? Ray sempat terpikir kalau mungkin Sin akan memanjat turun dari sini, tapi rasanya tidak mungkin.
Sin dan Ren sudah saling terhubung dengan earpiece di telinga mereka masing-masing. Padahal sebenarnya mereka tidak benar-benar perlu menggunakannya. Mereka bisa saling bekerja sama bahkan tanpa saling berkomunikasi.
Sin mulai mengeluarkan senapan laras panjangnya. Dia merakitnya. Setelahnya membidik pada para penjaga-penjaga yang berkeliaran di halaman rumah yang menjadi sasaran mereka.
Dia memeriksa setiap letak tempat di rumah itu untuk melihat para penjaganya sekaligus melihat dimana seharusnya dia menembakkan peluru peledak nanti.
Selesai dengan pengecekkan, dia hanya tinggal menunggu Ren memulainya. Dia yakin rekannya itu pasti sedang berpikir bagaimana dia akan membuat misi kali ini menjadi menyenangkan.
Ren dengan santai berjalan mendekati pagar rumah sebelum menemui penjaga-penjaga di halaman rumah. Dia ingin masuk dengan sopan, karena itu dia lewat pagar. Seperti biasanya dia memainkan pisau di tangannya. Memutar-mutarnya seakan itu hanyalah kunci motor.
“Kau siapa?! Ini bukan tempat yang bisa kau masuki sembarangan. Pergi!”
“Sin!”
Orang-orang ini hanya menunda waktunya saja. daripada dia harus repot-repot menghabisi mereka, lebih baik Sin yang melakukannya.
Tanpa menunggu lama, pagar rumah didepan Ren hancur karena peluru peledak yang ditembakkan oleh Sin. Penjaga yang tadi menahan Ren ikut terkena dampak ledakan.
Dia melangkahkan kakinya melewati api yang membakar pagar, memasuki halaman rumah. Disana para penjaga yang ada terkejut karena ledakan yang terjadi tiba-tiba.
Dari balik api, terdapat bayangan seperti seseorang yang berjalan. Tapi setelah ditunggu tidak ada siapapun yang muncul. Beberapa orang berjalan mendekatinya, namun belum sempat memeriksa mereka sudah tergeletak dengan keadaan leher tersayat.
Mereka semua segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Mengarahkannya pada bayangan yang muncul lagi.
Keluar Ren dari balik api. Berjalan dengan santai bahkan melewati orang-orang yang barusan dia serang. Dia berjalan dengan kepala yang menunduk sehingga mereka tidak bisa melihat siapa dia.
“Siapa kamu? Berani-beraninya mengacau disini!!”
“Siapa aku? Apa itu penting? Kalau berani, maju hadapi aku.”
“Sombong sekali! Akan ku buat kamu memohon-mohon untuk tidak dibunuh.”
“Membuat ku memohon? Kau yakin? Cobalah. Itupun kalau kamu bisa mengalahkan ku.”
Ren mengangkat kepalanya. Mata berwarna merah darahnya sangat mencolok di malam yang gelap ini. mata itu benar-benar membuat Ren tampak menyeramkan. persis seperti binatang buas yang ingin segera memakan mangsanya.
“Maju! Jangan biarkan dia pergi sebelum membunuhnya!”
Ren mengangkat seseorang yang tergeletak dekat kakinya. Dia tidak tau apakah dia masih bernapas atau tidak. Tanpa membuang waktu, dia melemparkan orang itu kepada penjaga yang sedang berlari menghampirinya.
Penjaga itu terlihat terkejut dengan kecepatan tangan Ren. Bagaimana dia bisa menyerang tapi juga mengambil senjata mereka?
“Kenapa tidak bisa melawan lagi karena senjata kalian sudah ku ambil?” Ren memandang orang-orang itu dengan remeh. Hanya mengandalkan senjata saja sudah begitu sombong. Sangat menggelikan.
“Kau!-“
Tiba-tiba teman dari orang yang sedang berbicara itu terjatuh dan tergeletak begitu saja. diikuti dengan temannya yang disebelah kanan. Ada apa ini? gadis didepannya tidak berbuat apa-apa tapi kenapa mereka seperti ini?
Dia membalikkan tubuhnya dan sedetik kemudian sebuah benda tajam menembus dadanya.
“Jangan pernah memalingkan wajahmu dari targetmu atau kau bisa saja terbunuh.”
Ren menarik senjata di tangannya dan penjaga itu terjatuh. Penjaga lainnya yang melihat kesal karena temannya terbunuh. Mereka semua berbondong-bondong maju menghadapi Ren. Namun tentu saja Ren tidak menghadapi mereka semua sendirian.
Sin membantunya dari belakang. Selama dia menghadapi orang-orang ini, Sin beberapa kali mencuri kesempatan untuk menembakkan peluru peledak pada bangunan rumah itu.
Tiba-tiba saja Sin dengan aneh mengarahkan sasarannya pada jendela besar berwarna hitam di lantai dua. Dia menembakkan dua peluru peledak kesana.
Ren tidak terkejut dengan improvisasi yang diberikan oleh Sin. Pada dasarnya Sin itu menyukai kehancuran. Tidak mungkin dia mengizinkan bangunan didepannya ini berdiri dengan kokoh tanpa kerusakan sedikit pun.
Reruntuhan dari bangunan itu jatuh dan menimpa beberapa penjaga yang berjaga di dekat pintu masuk. Ternyata dari lantai dua, jatuh beberapa orang. Sepertinya ini yang di inginkan oleh Sin.
Total sudah 5 peluru peledak di tembakkan oleh Sin. Penjaga-penjaga didalam rumah sudah keluar dari rumah mengepung Ren. Di lantai 2 tepat dimana jendela tadi hancur, terdapat seseorang yang adalah pemilik rumah. Dia adalah orang yang disebut pencuri oleh Sin dan Ren.
Dia memandang halaman rumahnya dengan santai malah seolah menantang. Dengan semua penjaganya yang banyak itu mana mungkin satu orang penyusup bisa menang. Dia hanya satu sedangkan mereka ada puluhan.
Rentetan tembakan muncul entah dari mana menghujam pada penjaga-penjaga itu. Sasarannya tepat mengenai kepalanya. Tembakan itu berhasil menjatuhkan setengah dari mereka dan masih belum berhenti. Hanya saja arah tembakan ini berubah arah.
Ren tersenyum miring dari dalam maskernya. Rekannya ini memang bisa diandalkan. Peluru peledak kembali ditembakkan. Kali ini lebih besar dari sebelumnya dan menyingkirkan batu-batu yang menghalangi pintu masuk, termasuk menghancurkan pintu.
Ada seseorang yang berhasil menemukan asal tembakan dan menembakinya. Hanya saja dia kalah cepat dari Sin. Gadis itu sudah menyelinap masuk.
Dia menuruni gedung tadi dengan memanjat turun dan melompat pada pohon besar dekat sana. Dia lalu masuk ke lingkungan rumah itu dari pohon-pohon yang berjajar. Alih-alih masuk ke halaman rumah menemui rekannya, dia melewati tembok pembatas dan memanjat rumah itu.
Saat ini dia tepat berada di atap rumah tersebut. Berburu di malam hari memang kesukaannya.
“Tembakanmu terlalu asal, tidak akan bisa mengenaiku!” Sin mengucapkannya dengan lantang. Dia memberitahukan pada orang-orang dimana keberadaan dia. Pemilik rumah menengokkan kepalanya kepada Sin dengan terkejut. Bagaimana dia bisa berada disana?
Sin melompat turun pada si pencuri. Dia meraih lehernya dan melompat lagi menuruni rumah itu. Dia membanting tubuh pencuri itu dengan keras di halaman rumah. Sin kemudian menginjak kedua kaki si pencuri itu dengan keras. Paling tidak dia akan patah tulang.
Sin telah membuat perhatian mereka teralihkan. Mereka sampai tidak sadar Ren sudah menghilang dari tempatnya. Rekan Sin itu pasti sudah menyelinap masuk kedalam rumah. Kini orang-orang ini akan menjadi santapan makan malam untuknya. Hehehe.