Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 36: Panggilan untuk Nara



Keesokan harinya, Nara yang sedang menikmati makanannya di cafetaria dengan Cein terpaksa harus menghentikan sejenak aktivitasnya karena panggilan dari kepala sekolah yang memintanya untuk pergi ke kantornya.


Namun Nara tidak mempedulikannya dan terus menghabiskan makanannya. Baginya makanan tetap paling penting. Mereka yang salah karena memanggilnya disaat dia sedang makan.


Tapi panggilan tidak kunjung berhenti. Nara sampai heran apa kepala sekolah tidak lelah atau jangan-jangan dia ada menyiapkan rekaman khusus untuk memanggilnya.


Karena panggilan itu, orang-orang yang juga berada di cafetaria merasa terganggu dan menatap tajam pada Nara. Beberapa ada yang melontarkan protesnya pada Nara. Tapi Nara tetaplah Nara, dia tetap diam menikmati makanannya. Sama sekali tidak memiliki niatan untuk beranjak ataupun pergi ke kantor kepala sekolah.


Cein yang duduk didepan Nara hanya menggelengkan kepalanya saja. Memangnya kepala sekolah itu siapa sampai-sampai bisa memerintah Nara seperti itu. Jika mau dia langsung pergi menghampirinya, paling tidak siapkan red carpet untuknya. Dengan begitu dijamin Nara akan langsung pergi.


Selesai dengan makanannya, Nara baru beranjak dan pergi menemui kepala sekolah. Dalam kepalanya dia sudah menebak kalau tujuan pemanggilan untuk apa.


Cein pergi bersama Nara tapi Nara meminta Cein untuk menunggu di depan saja. Ini masalahnya, dia hanya akan menerima hukumannya, jadi tidak perlu meributkannya. Dia juga sedang ingin libur. Jika kepala sekolah tidak membuatnya libur maka dia akan mengacak-acak ruang kepala sekolah sampai keinginannya itu dikabulkan sendiri oleh kepala sekolah.


Cein menurutinya. Nara tidak pernah membolos selama pindah ke sini. Jadi rasanya tidak ada salahnya memberikannya waktu untuk libur. Doa kan saja semoga kemauannya dituruti oleh kepala sekolah tanpa perli ada keributan.


Ketika Nara masuk kedalam ruangan, dia melihat ada Cynthia disana bersama orangtuanya. Sepertinya dia tau siapa yang menyebabkan dia diminta kesini. Hah...bagaimana dia akan membuat ini menyenangkan ya?


"Nara! Kenapa baru datang? Saya sudah memanggilmu berkali-kali apa kau tidak dengar?!!"


Nara segera mendudukkan dirinya di sofa tepat di depan Cynthia dan keluarganya. Memandang mereka dengan tatapan malas. Sejujurnya dia sedang tidak mood untuk meladeni mereka-mereka ini. Tapi bukan tipe Nara sekali jika membiarkan mereka lepas begitu saja tanpa merasa kesal.


Target utamanya hari ini adalah Cynthia. Nara tersenyum miring menanggapi Cynthia yang juga tersenyum mengejek padanya. Dia sudah salah mencari lawan.


"Nara! Apa kau sedang pura-pura tuli? Saya bertanya padamu!!"


"Berhentilah berteriak. Apa tenggorokanmu tidak sakit? Buktinya aku sudah datang, kenapa harus sampai berteriak sih! Membuat sakit telinga saja." Nara mengusap telinganya seakan mengatakan kalau telinganya sakit.


"Dasar anak nakal. Pantas saja kau berani melukai anakku dan menjebaknya dalam kebakaran itu bersamamu. Kalau mau mati ya mati saja sendiri, kenapa harus mengajak anakku?!"


Nara menatap ibu Cynthia. Wanita dengan make up tebal itu menatapnya dengan pandangan merendahkan. Kedua kakinya tersilang dan tangannya dilipat didepan dada. Belum lagi pakaian berwarna merah menyalanya yang sangat terbuka. Membuat Nara sakit mata saja.


Disamping wanita itu, ada seorang pria tua yang juga menatapnya seolah dia adalah sampah. Pria itu memakai jas dan jam tangan yang mahal.


Dandannya memang menunjukkan kalau mereka berasal dari kalangan atas. Tapi perilaku dan ucapan mereka tidak mencerminkan status mereka. Bagi Nara, mereka lebih terlihat seperti orang kaya baru. Sombong dan berpikir segalanya bisa diselesaikan dengan kekuasaan dan uang.


Memang tidak salah sih. Tapi bukan berarti dia kalah. Pikirkan satu hal. Menurut kalian apa yang akan terjadi jika Nara memberitahu Ray mengenai ini. Apa mungkin dia akan segera mendatanginya? Atau jangan-jangan seluruh ruangan ini akan di rata kan oleh Ray? Entahlah.


"Anak ini benar-benar tidak tau sopan santun ya. Berani sekali melihat ku seperti itu. Harusnya kau menundukkan kepalamu dan memohon maaf pada kami terutama anak ku."


Nara mendengus. Memintanya menundukkan kepala dan memohon maaf? Hahaha! Mereka ini terlalu banyak berkhayal. Seharusnya mereka yang harus menundukkan kepalanya padanya. Mereka ini sama sekali bukan tandingannya.


Sekali dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, maka karena semua akan terbaring tidak berdaya didepannya.


"Untuk apa aku melakukannya? Aku tidak bersalah. Seharusnya anakmu yang memohon maaf padaku." Nara menunjuk pada Cynthia dengan tangannya yang terluka. Dia sengaja ingin menunjukkan lukanya pada Cynthia, entah apakah ini benar-benar bekerja pada mereka atau tidak.


"Kenapa aku?! Kau menjebakku untuk bertemu denganmu di gedung belakang. Kau mengancamku untuk menjauhi Ray, padahal dia adalah kekasihku. Lalu kau menemparkan sesuatu padaku dan terjadilah kebakaran itu. Ini semua salahmu sampai-sampai aku harus terluka!!"


Cynthia menunjukkan lengannya yang terbalut dengan perban dengan wajah seolah menahan tangis.


Nara rasanya ingin sekali mengapresiasi akting Cynthia yang sangat pandai memutar balikkan fakta. Jika saja Cynthia tidak mengusiknya dan berada di pihaknya, maka dia pasti akan merekrutnya untuk membantunya bermain dengan pengganggu-pengganggu itu.


"Nara! Lancang sekali kau berani berbuat hal semacam itu disini. Apa menurutmu kau memiliki kekuasaan untuk melakukannya? Baru satu bulan kau masuk, tapi kau sudah membuat keonaran sebesar ini. Gedung yang terbakar itu harus kau pertanggung jawabkan!!"


Nara tersenyum miring lalu menatap pada kepala sekolah yang masih duduk di kursi kebanggaannya.


"Apa anda selalu seperti ini?"


"Apa maksudmu?"


"Menjilati sepatu orang kaya baru yang sombong dan tidak punya tata krama. Apa itu benar-benar menguntungkan untukmu? Harga dirimu ternyata serendah itu." Cibir Nara. Ucapan Nara berhasil membuat mereka naik pitam.


"Apa kau bilang?! Anak tidak tau sopan santun! Apa kau tidak pernah diajari oleh orangtuamu? Apakah kau diajarkan seperti ini oleh orangtuamu?!! Anak seperti mu seharusnya tidak boleh masuk kesini. Mengotori Universitas ini saja!"


Nara tertawa sangat keras, saking kerasnya tawanya sampai menggema didalam ruangan itu. Mungkin Cein yang berada di luar pun bisa mendengar tawa Nara.


Ini benar-benar terdengar lucu bagi Nara. Mereka menyebutkan sopan santun padahal mereka sendiri tidak memilki sopan santun.


Yang satu terlalu sombong dan merendahkan orang lain. Menganggap diri mereka sangat tinggi dan bisa melakukan semua dengan kekuasaan dan uang. Sedangkan yang satu lagi terlalu pandai menjilat atau itu memang kebiasaannya?


"Lalu apa menurut kalian, kalian semua memiliki sopan santun dan tata krama? Apa orangtuamu mengajarkanmu untuk merendahkan orang seperti itu, nyonya? Atau kau menurukan sifatmu pada anakmu sampai-sampai dia pandai sekali memutar balikkan fakta."


Mereka semua menatap Nara dengan marah. Tapi yang ditatap malah santai saja. Dia bahkan masih bisa menebarkan senyuman manis miliknya. Haruskah dia memulainya?