
Nara akhirnya pergi mengikuti laki-laki culun itu. Dia dibawa ke sebuah gedung kosong dibelakang universitas. Terdapat sebuah gedung tidak terpakai yang didalamnya penuh dengan barang-barang tidak terpakai seperti kursi dan meja yang sudah rusak dan lapuk.
"D-dia ad-ada d-di da-dalam."
Nara melihat laki-laki culun itu sekilas lalu berjalan memasuki gedung. Dia melihat ada punggung seseorang yang sepertinya adalah orang yang menunggunya. Dilihat dari pakaiannya seharusnya dia adalah perempuan.
Langkah kaki Nara terdengar menggema. Pintu gudang sudah tertutup, sepertinya perbuatan laki-laki culun tadi.
Perempuan itu membalikkan tubuhnya menghadap Nara. Si manis menaikkan satu alisnya begitu melihat siapa orang yang ingin menemuinya. Dari beberapa orang yang pernah bermasalah dengannya, kenapa harus dia yang berada di hadapannya?
"Kamu yang ingin menemuiku? Cynthia?"
Iya, orang yang menunggu Nara dari tadi adalah Cynthia. Perempuan yang hari itu mengajak Ray untuk makan bersama tapi tidak berhasil karena Nara. Apa sekarang dia ingin balas dendam?
"Iya! Memangnya siapa lagi?"
Nara hanya menaikkan kedua bahunya. Siapa yang tau? Menurutnya banyak yang ingin menemuinya. Hanya saja dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Nara bisa menebak 100% kalau apa yang akan dibahas oleh Cynthia tidak lain adalah Ray.
"Nara, ku peringatkan ya. Jauhi Ray! Kau bukan siapa-siapa yang pantas bersanding dengan Ray. Jauhi dia atau kau akan tau apa akibatnya karena mencari masalah denganku."
"Cynthia, ku peringatkan juga pada mu. Kamu juga bukan siapa-siapa. Kamu juga tidak punya hak untuk memintaku menjauhi Ray. Memangnya kamu orangtuaku? Orangtuaku saja belum tentu melarangku sepertimu."
"Heh! Ku bilang jauhi ya jauhi. Aku lebih dulu menyukai Ray dan hanya aku yang pantas bersama dengannya."
"Kamu tidak punya hak, Cynthia. Memangnya kenapa kalau kamu yang lebih dulu menyukainya? Memangnya dia mau denganmu? Ray saja sepertinya tidak mengenalmu. Kamu saja tidak berani melakukan pendekatan padanya dan hanya berani mengancam orang-orang yang mendekati Ray untuk berhenti mendekati dan menyukainya. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang jadi ingin mendekatinya? Apa kamu mulai merasa tersaingi oleh ku?"
"Itu bukan urusanmu! Kau hanya perlu menjauhinya kalau perlu pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Aku akan memberikan apapun yang kamu ingin kan. Kamu perlu uang? Aku akan memberikannya berapa pun yang kamu mau. Dengan syarat jauhi Ray!"
Sebuah kurva terbentuk di bibir kecil Nara. Namun setelahnya dia terkekeh pelan. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Cynthia ini benar-benar lucu. Sepertinya dia salah sudah menganggap tinggi Cynthia tadi. Orang seperti dia ini hanya mengandalkan status dan harta orangtuanya. Memangnya apa lagi yang bisa mereka lakukan?
"Kenapa tertawa? Kurang? Katakan saja apa yang kamu mau. Aku akan menurutinya. Selama kau menjauhi Ray, kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau."
"Apa yang aku mau? Kalau begitu berhentilah menyuruh-nyuruh ku! Aku paling benci ada orang yang memerintahku apalagi orangnya adalah kau. Uang? Aku tidak perlu itu. Kamu ini hanya orang yang mengandalkan harta keluargamu saja. Untuk apa aku takut?"
"Kau! Dasar ******! Kamu pasti sengaja menggoda Ray untuk uangnya kan? Jauhi dia! Ku bilang jauhi dia! Pemeras sepertimu tidak pantas bersama Ray!"
"Lalu apa bedanya denganmu? Bukannya kamu mendekati Ray karena dia tampan juga kaya? Kamu juga pasti berpikir kalau dia memiliki status yang setara denganmu, karena itu kamu mau dengannya."
"Jangan sama kan aku dengan mu! Orang kaya sudah seharusnya bersama dengan yang sederajat dengannya. Itu adalah hal yang umum bagi keluarga kaya. Memangnya apa yang kamu pahami? Orang miskin sepertimu tidak akan mengerti."
Dasar anak orang kaya. Selalu saja membanggakan harta mereka. Apa mereka tidak terpikirkan kalau misalkan suatu hari mereka terkena karma yang selama ini mereka perbuat? Kalau tidak ada orang yang berani mencuri harta itu dari mereka, maka dia saja yang akan melakukannya. Hehe
"Cynthia. Aku bisa saja menjauhi Ray, tapi apa kamu yakin kalau setelah itu Ray akan datang padamu? Aku juga bisa saja pergi darinya, tapi apa menurutmu dia akan membiarkannya begitu saja? Kamu belum mengenal siapa Ray. Ku beritahu ya, sekali menggangu Ray maka kamu tidak akan bisa lari darinya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu karena kamu pasti akan tau nanti. Ku sarankan sih jangan sampai menganggunya. Aku tidak akan bisa membantumu nanti. Ah lebih tepatnya, aku tidak ingin membantumu."
Cynthia baru saja ingin membalas ucapan Nara, tapi ada sesuatu yang terlempar masuk dari jendela di gedung itu. Sebuah ledakan terjadi. Beberapa detik setelahnya muncul lagi benda lainnya yang setelah dilihat jelas oleh Nara ternyata adalah bom molotov.
Salah satu bom molotov itu mengarah pada mereka. Nara segera meraih Cynthia untuk menghindar sebelum perempuan itu terkena ledakan. Si manis melihat Cynthia yang terkejut dengan apa yang terjadi.
"Hei! Kamu sudah gila ya? Apa ini termasuk dalam rencanamu? Kamu ingin bunuh diri bersamaku disini?! Benar-benar idiot."
"B-bukan. Aku tidak merencanakan ini. A-aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku...aku tidak tau apa yang terjadi sekarang."
Dilihat dari raut wajah ketakutan yang terpancar darinya. Sepertinya ini memang bukan bagian dari rencananya. Lalu siapa orang gila yang berani melemparinya dengan bom molotov itu.
Satu bom lagi telempar masuk. Kali ini sasarannya adalah sebuah tong kecil yang berada di dekat pintu gedung dimana Nara masuk tadi.
Ledakan yang lebih besar terjadi sampai membuat pintu besar itu terbakar. Mata Nara membulat ketika bau menyengat tercium olehnya. Dia sudah masuk dalam rencana buatan seseorang. Ini bau bensin.
Orang yang melakukan ini benar-benar ingin membakarnya dan Cynthia hidup-hidup sepertinya.
Nara mengedarkan pandangannya ke sekitar gedung. Jendela di tempat ini tinggi dan sulit untuk menggapainya.
Nara menarik Cynthia untuk tetap dekat dengannya. Bisa-bisa di yang dituduh ingin membunuh Cynthia.
Nara menendang pintu gedung yang terbakar dengan kakinya. Sialnya pintu gedung ini sangat besar dan tebal. Sulit untuk membuat bolongan, belum lagi api yang terus menjalar.
"NARA! NARA KAMU DIDALAM?!!"
Ini suara....
"Ray! Itu suara Ray. Dia pasti datang menyelamatkan ku." Cynthia bergegas bangun dan mendekati pintu. Padahal dari tadi dia hanya terduduk dilantai sambil terbatuk-batuk karena asap. Sepertinya suara Ray bisa membuatnya ingin hidup ya?
"RAY! AKU DIDALAM! SELAMATKAN AKU RAY!"
Akibat perbuatan Cynthia, Nara terdorong dan terjatuh. Tangannya tidak sengaja mengentuh kayu yang tadi hampir menimpa mereka. Alhasil tangannya itu terbakar. Namun Nara dengan sekuat tenaga menahan rasa sakitnya dan segera bangun. Tolong ingatkan Nara nanti untuk membalas Cynthia.
Nara kembali ke dekat pintu. Dia menggeser pelan Cynthia dengan tangannya. Tanpa mendengar omelan dari Cynthia, Nara mempersiapkan tenaga di kakinya dan menendanh pintu itu dengan kuat.
Sungguh rasanya dia habis menendang batang pohon. Tapi karena yang dilakukannya. Dia berhasil membuat jalan keluar untuk mereka.
Terdengar suara orang-orang termasuk suara Ray dari balik pintu itu. Cynthia dengan terburu-buru bergegas ingin keluar dari gedung itu melalui jalan yang dibuat oleh Nara.
Tapi sebelum keluar dia kembali berbalik dan mendorong Nara dengan keras. Baru setelahnya dia keluar sambil meneriaki nama Ray dengan menangis.
Nara yang belum siap terjatuh. Kepalanya terhantuk pada lantai. Cynthia ini benar-benar beban sesungguhnya. Sudah dibantu untuk keluar, dia malah ingin mencelakai orang yang membantunya keluar. Siapapun harus mengingatkan Nara untuk membalas ini pada Cynthia.
Kepala Nara terasa pusing belum lagi asap yang sedari tadi terhirup olehnya. Namun, Nara tidak menyerah begitu saja. Dia bukan orang lemah. Dia bisa keluar dari sini.
Ketika Nara bangun, dia mendengar suara kayu patah dari atasnya. Bodohnya dia malah mendongakkan kepalanya untuk memastikannya lagi. Dia melihat kayu itu akan jatuh menimpanya. Kakinya malah terasa sakit disaat yang tidak tepat akibat menendang pintu tadi.
Tapi sebelum kayu itu berhasil menimpa Nara, ada seseorang yang menariknya dan membuat Nara menubruk dada bidang seseorang. Detik itu juga Nara serasa ditarik dari lamunan dan khayalannya.
"Bodoh! Apa kamu pikir kayu itu akan pindah sendiri kalau kamu melihatinya terus?"
Nara mendongakkan kepalanya dan langsung di sambut dengan omelan dari Ray. Raut wajahnya yang biasanya datar itu kini terlihat kekhawatiran yang sangat ketara. Laki-laki ini masuk untuk menyelamatkannya?
"Ayo keluar."
Ray segera menggendong Nara dan membawanya keluar bersamanya. Sedangkan si manis masih terdiam bahkan setelah mereka sudah diluar. Entah apa yang ada di pikirannya sampai dia terdiam seperti itu.
Di luar gedung ada banyak sekali orang berkumpul termasuk guru. Sepertinya mereka datang karena mendengar ledakan juga melihat asap mengepul.
Ray mendudukkan Nara di tempat duduk panjang dekat sana. Dia membolak balikkan tubuh Nara untuk mengecek apakah kesayangannya ini terluka atau tidak. Sampai dia melihat luka melepuh di telapak tangan Nara. Luka itu cukup besar tapi dia tidak melihat Nara kesakitan atau apapun itu.
"Nara?" Ray memanggil Nara yang masih terdiam. Ada apa dengan Nara? Kenapa dia seperti ini? Apa dia syok?
"Nara? Nara!" Ray mengguncang tubuh Nara untuk membuat si manis sadar. Dan apa yang dilakukannya ternyata berhasil. Nara akhirnya tersadar dan menatap Ray dengan mata polosnya.
"Ada apa?" Jujur Ray takut terjadi sesuatu pada Nara-nya. Jantungnya hampir keluar tadi ketika mengetahui Nara berada di gedung yang terbakar. Tidak salah dia langsung menyusul Nara 5 menit setelah gadis itu pergi.
"Ray...."
"Ada apa? Katakan padaku, apa yang kamu rasakan? Hm?"
Belum sempat Ray mendengar balasan dari Nara, gadis itu sudah tidak sadarkan diri dan berhasil membuat Ray terkejut setengah mati. Tanpa berpikir dua kali, Ray segera membawa Nara pergi dari sana. Hanya satu tujuannya, membawa Nara pergi ke rumah sakit dan mengobatinya.
Cynthia yang masih berada disana mengepalkan tangannya dengan kuat. Matanya mengikuti Ray yang pergi membawa Nara dalam pelukannya. Dia kesal. Kenapa Nara tidak mati terbakar saja disana?
Tadi begitu keluar dia langsung mendekati Ray, berniat mencari simpati darinya. Tapi laki-laki itu malah mengacuhkannya dan berlari masuk untuk menyelamatkan Nara. Ada apa sebenarnya dengan Ray? Apa yang sudah Nara lakukan pada Ray sampai membuatnya seperti itu?
Seharusnya dia mendorong Nara lebih keras atau kalau perlu dia mendorongnya langsung pada api. Biarkan saja Nara mati terbakar. Dengan begitu Ray akan menjadi miliknya.
Lihat saja nanti, Nara. Dia pasti akan membuat perhitungan dengannya. Akan dia pastikan Ray menjadi miliknya. Bukan yang lain.