Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 05: Taman dan Rooftop



Di sisi lain Cein membawa Eve menuju taman sekolah mereka agar adiknya itu bisa menenangkan diri. Tapi bukannya tenang, tangisannya malah semakin kencang.


Cein kelabakan tapi juga tidak habis pikir dengan Evelyn. Dia segitu takutnya pada Nara sampai-sampai tidak berani menangis kencang hanya di depannya saja.


“Sudah Eve, berhenti menangis. Nanti Nara akan marah padamu kalau dia melihat matamu semakin sembab.” Ucap Cein sambil menyodorkan tissue pada Evelyn.


“T-tapi…tapi tadi tangan Kak Nara berdarah…hiks….”


“Lalu?” Cein dengan lembut mengusap rambut Panjang Evelyn. Dia membiarkan Evelyn untuk menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu.


“D-dan itu karena aku. Kak Nara seperti itu karena aku…hiks.”


“Bukankah dia sudah mengatakan kalau dia tidak apa-apa? Lalu apa yang kamu tangiskan lagi?”


“Kalian berdua dari dulu selalu seperti itu.”


“Seperti apa?”


“Sejak SMP kalian selalu membiarkan diri kalian terluka karena aku. Saat SMA pun kalian membiarkan diri kalian di bully oleh anak-anak lainnya hanya untuk menggantikan ku.”


“Eve, kamu masih ingat kan perjanjian kita dulu? Jika kejadian seperti ini terjadi lagi atau bahkan lebih parah dari ini, kamu akan pergi dari sana dan jangan perdulikan aku dan Nara?”


“Memangnya


kenapa? Aku tidak akan meninggalkan kalian.”


“Eve….”


“Tidak mau!”


“Evelyn!”


Mendengar nada tidak mau dibantah dari Cein membuat Evelyn mengerucutkan bibirnya. Selalu saja seperti ini.


Cein kembali mengusap lembut rambut Evelyn yang tadi ditarik oleh Azura.


“Kamu tahukan kalau aku dan Nara hanya ingin melindungi kamu. Jika ada yang menganggu kamu, maka kamu hanya harus pergi dan tinggalkan kami. Selebihnya biar kami yang akan mengurusnya, mengerti?”


“Aku mengerti. Hanya saja aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa. Aku tidak ingin melihat kalian seperti Kak Nara dulu.”


Cein menghela napas kasar. Evelyn ini mungkin terlihat ceria tapi didalam kepalanya dia menyimpan banyak pikiran-pikiran liarnya.


Nara memang dulu pernah masuk rumah sakit karena menggantikan Eve sebagai korban bully dan membuat dia harus menginap di tempat yang dia benci itu selama 2 minggu penuh. Sejak hari itu Evelyn tampak trauma dengan apa yang terjadi pada mereka. Dia akan menangis dengan kencang ketika mengetahui mereka terluka walaupun itu hanya luka kecil sedikitpun.


Karena hal itulah membuat dia dan Nara sangat ekstra hati-hati dalam bertindak dan memastikan mereka tidak terluka.


“Tenanglah Eve, luka seperti itu tidak akan membuat aku ataupun Nara mati.” Ucap Cein dengan santai seakan tidak ada yang salah dari ucapannya.


Mendengar itu sontak saja membuat Evelyn memeluk Cein dengan erat. Dia sangat membenci kata itu. Dia tidak akan pernah membiarkan orang yang sudah menganggu Nara dan Cein hidup dengan tenang. Tidak akan pernah. Jika dia sampai membuat kedua kakaknya menderita maka bersiaplah untuk menemui ajalnya. Dia akan pastikan itu akan terjadi.


Cein dan Nara adalah kakak kesayangannya setelah Ray dan Jerry. Mereka berdua sudah merawat dan menyayanginya seperti adik mereka sendiri. Dia tidak akan sanggup bila harus ditinggalkan oleh orang tersayangnya.


“Sudahlah Eve, apa kamu tidak malu dengan rumput-rumput itu? Sepertinya mereka menertawakanmu karena menangis terus? Hah apa yang kalian katakan? Eve jelek jika menangis? Apa? Nara akan marah dan tidak akan mau membuatkan kue lagi untuk Evelyn?” ucap Cein yang seorang berbicara dengan rumput yang berada di sekitar mereka.


“AAAA JANGANNN. HENTIKANN KAKKK.” Rengek Evelyn yang membuat Cein tertawa. Adik manisnya memang menggemaskan.


Didekat sana, terdapat Jerry yang sedari tadi mendengarkan apa yang diucapkan oleh kedua perempuan itu. dia sebenarnya tidak menyangka kalau Nara dan Cein sampai seperti itu untuk melindungi Evelyn.


----


Di tempat lain terdapat Nara yang baru saja berjalan menapaki lantai paling atas gedung ini. dia mendudukkan dirinya di pinggir dinding pembatas. Sambil bersila disana, dia mengeluarkan kotak obat dari tas Cein.


Tapi bukannya langsung mengobati tangannya, dia hanya menatap kotak obat itu lalu meletakkannya kesamping. Lalu mendongakkan kepalanya menatap langit yang penuh dengan awan-awan putih.


Dia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, mengacuhkan tangannya yang masih terus mengeluarkan darah.


Entah mengapa disaat seperti ini, dia jadi mengingat ayah dan ibunya.


Dia rindu dengan mereka. Apa kabar mereka disana? Apakah disana indah? Apakah disana ayah dan ibu bisa melihat adik kecil? Bagaimana rupanya? Apakah dia cantik? Atau tampan? Apa jenis kelaminnya? Apakah ayah dan ibu bahagia disana?


Banyak pertanyaannya yang ingin dia tanyakan sebenarnya pada ayah dan ibunya. Tapi dia pasti tidak akan mendapatkan jawaban-jawaban itu.


“Ayah…ibu…Nara rindu.” Lirih Nara. Dia menjadi emotional jika mengingat dan membicarakan ayah dan ibunya.


Tanpa Nara ketahui ada seseorang yang berdiri dekat pintu. Ada Ray yang berdiri disana mendengarkan semua yang dikatakan oleh Nara. Bahkan tanpa sadar dia sendiri ikut tersenyum saat mendengar nada merengek dari si manis. Kalimat yang dia ucapkan memang sedih tapi nada bicaranya malah membuatnya tersenyum.


Tadinya dia tidak ingin menganggu Nara, tapi melihat darah yang terus keluar dari tangan si gadis membuatnya mengurungkan niatnya. Dia berjalan masuk mendekatinya.


Nara menolehkan kepalanya dengan santai saat mendengar langkah kaki mendekat padanya. Dia kira yang datang adalah Cein karena tas milik Cein masih berada di Nara. Tapi ketika dia menoleh, matanya langsung bertemu pandang dengan obsidian hitam milik Ray. Tiba-tiba saja Ray sudah berada tepat didepannya.


Ray tidak berbohong, mata Nara sangat indah. Mata itu seolah bisa menghipnotisnya hanya dengan menatapnya saja.


Mereka sama-sama mengalihkan pandangan mereka ke arah lain berusaha untuk menghindari tatapan satu sama lain. Ray dengan canggung mengusap tengkuknya. Entah apa yang terjadi padanya, Ray pun tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan sekarang.


“Ekhem, ada apa kemari? Kamu ada perlu denganku?” Tanya Nara.


Berbeda dengan yang dilihatnya tadi saat di cafetaria, kini Nara jauh lebih memiliki kesan lembut yang terpancar dari dirinya. Belum lagi suaranya yang lembut, tidak seperti ketika dia berbicara pada Azura tadi. Nada bicaranya sekarang sama seperti kemarin ketika berada dirumahnya.


Ternyata Nara bisa menjadi mengerikan seperti itu ketika orang terdekatnya diganggu.


“Itu, tanganmu berdarah. Harus diobati.”


Nara menoleh sebentar pada Ray yang tidak menatap padanya lalu beralih menatap tangannya tanpa ada niatan untuk langsung mengobatinya.


Tiba-tiba tangannya ditarik begitu saja oleh Ray yang ternyata sudah membuka kotak obat dan mulai mengobati tangannya dengan hati-hati.


“Eve akan marah ketika melihatnya nanti.”


Benar juga, Eve akan marah jika melihatnya tidak mengobati lukanya. Matanya terus melihat Ray yang sekarang mulai membalut tangannya dengan perban. Berbeda dengan tampilannya, secara mengejutkan laki-laki itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati.


“Apa kau salah makan?”


Ray mendongak, menatap Nara dengan bingung. Apa maksud ucapannya? Dan mengapa sangat tiba-tiba menanyakannya?


“Maksud mu?”


“Tery mengatakan perangaimu, saudaramu, dan temanmu itu kejam dan seperti iblis. Lalu apa kau salah makan sehingga memperlakukanku seperti ini?”


Si tampan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti tadi sambil menjawab pertanyaan dari gadis manis di depannya.


“Siapa Tery? Dia bersekolah disini? Mungkin dia hanya mendengar rumor-rumor yang beredar.”


“Melihat bagaimana gaya dan postur tubuhmu, tidak salah jika mereka mengatakan kau kejam.”


Selesai membalut luka Nara, Ray kembali menatap si manis. Dia meletakkan kedua tangannya di tembok di kedua sisi Nara seakan mengurungnya dengan kedua tangannya lalu mencondongkan wajahnya tepat di depan wajah si manis.


Karena perbuatannya itu membuat Nara mau tidak mau harus melihat pahatan sempurna milik Ray, terutama hidung bangirnya yang sangat membuat Nara iri sekaligus ingin mencubitnya.


Nara terkesiap melihat senyuman tipis yang muncul di wajah Ray. Belum lagi laki-laki itu menatapnya dengan intens membuatnya tiba-tiba merasa gugup. Sepertinya dia sudah salah langkah dan memancing laki-laki ini. Seseorang tolong dia.


“Lalu, kau takut padaku?”


Suara yang dikeluarkan oleh Ray membuat Nara lagi-lagi tertegun. Ada apa dengan dirinya. Kenapa dia tiba-tiba mengeluarkan suara yang begitu dalam? Sial, kenapa dirinya menjadi seperti ini?!! Seseorang benar-benar harus datang dan membantunya untuk terbebas dari laki-laki berbahaya ini.


“Kenapa diam? Jawab aku.”


“U-untuk apa aku takut padamu?! Jauhkan wajahmu itu sebelum ku pukul!” ucap Nara sembari mendorong dahi Ray untuk menjauhkan wajahnya. Dia juga seorang perempuan. Melihat wajah tampan seperti itu dari dekat tentu bukan hal yang baik untuknya.


Namun sepertinya sifat jahil Ray yang selama ini terpendam, mulai muncul kembali dan sasaran godaan Ray adalah Nara.


“Memangnya kenapa? Apakah wajahku tampan sampai kau tidak berani menatap wajah ku terlalu lama?”


Sejujurnya Ray merasa senang ketika menggoda Nara seperti ini. atau memang dirinya saja yang ingin lebih dekat dengan gadis ini? Jika dia bisa mengatakannya secara langsung, dia ingin mengatakan kalau Nara benar-benar mempesona. Terlebih lagi matanya. Matanya sangat indah. Setiap kali Ray menatapnya, rasanya dia seakan bisa ditarik masuk untuk menyelaminya.


“Berhenti menggodaku! Dan jauhkan wajahmu Rayyy.” Ucap Nara disertai rengekan di akhir kalimatnya.


Suara tawa Ray memenuhi tempat mereka berada saat ini. Dia tidak tahu kalau suara rengekan Nara saja bisa menjadi semerdu ini di telinganya. Sedangkan Nara yang menyadari nada suaranya tadi, kini pipinya mulai memerah. Bisa-bisanya dia merengek seperti itu pada Ray. Rasanya dia ingin sekali menyembunyikan dirinya sekarang juga.


“J-jangan tertawa!”


“Hahaha, maaf maaf.”


Ray menatap wajah Nara yang sekarang tampak menggemaskan, apalagi dengan kedua pipinya dihiasi rona merah yang membuatnya semakin manis. Rasanya dia ingin sekali menggigit pipi itu.