Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 04: Nara



Ketika mereka akan melanjutkan makan mereka. tiba-tiba beberapa orang mendatangi meja mereka dan langsung menggebrak meja dengan kencang. Cein sampai tersedak oleh minumannya.


Kelima perempuan yang duduk disana menatap pada tiga orang perempuan yang menggebrak meja mereka.


Karena gebrakan kencang itu membuat seluruh perhatian orang di cafetaria menjadi tertuju pada mereka, termasuk Ray, Jerry, dan Hansel.


“Itu orangnya Ra yang aku kasih tahu ke kamu.” Ucap seorang perempuan yang menunjuk pada Evelyn.


Yang ditunjuk hanya merasa bingung, memangnya ada urusan apa mereka dengan ketiga perempuan ini? Dia bahkan tidak mengenal mereka.


“Kamu yang tadi pagi datang kesekolah bersama Ray dan Jerry kan?” kata seorang perempuan yang bernama Azura sambil menunjuk pada Evelyn.


Nara menepis tangan Azura dengan kasar karena menghalangi pandangannya. Alasan utamanya adalah dia menunjuk pada Evelyn dan itu membuatnya kesal.


“Iya, memangnya kenapa?” jawab Evelyn dengan wajah polosnya.


“Asal kamu tahu ya, Ray itu sudah punya kekasih jadi jangan kegatelan. Dan kekasihnya itu Aku, jadi lebih baik kamu jauh-jauh dari Ray.”


“Jerry juga kekasihku. Jika kamu mau hidupmu aman dan tenang, lebih baik jangan pernah dekat-dekat dengan mereka atau kamu akan tahu akibatnya.”


“Loh, karena kalian kekasih mereka, kenapa aku yang tidak boleh dekat-dekat dengan Kak Ray dan Kak Jerry? Sebuah logika darimana itu?”


“Tidak boleh! Dia kekasih kami, kalau kamu berani mendekati mereka lagi maka kamu pasti akan habis di tanganku?”


“Kalian bahkan bukan istrinya. Kalian hanya berstatus kekasih mereka, kenapa kalian melarang dia seperti ini? Dia itu---” ucapan Cein terpotong karena Nara menyenggol lengannya.


Adiknya itu menatapnya dengan sedikit melotot. Ah, dia lupa, Evelyn belum memberitahu sama sekali kalau dia adalah adik dari Ray dan Jerry. Dan dia juga tidak boleh memberitahukannya kecuali Evelyn sendiri yang memberitahu mereka.


“Aku tidak perduli! Jauhi kekasihku. Ayahku salah satu donatur disini jadi jangan macam-macam denganku! Aku bisa membuat kalian bertekuk lutut sekarang juga dihadapanku.”


“Yang berkuasa adalah Ayahmu, bukan dirimu. Kenapa kamu membanggakannya seolah-olah kau yang memiliki kuasa itu?” cibir Nara. Dia sangat membenci orang yang menggunakan kekuasan untuk menekan orang lain. Jika saja dia tidak ingat apa perjanjiannya dengan Cein maka….


“Aku tidak berbicara denganmu, tapi dengan dia. Jangan ikut campur!”


“Kau yang jangan ikut campur! Memangnya apa hak mu melarang orang untuk dekat dengan orang lain? Memangnya kau presiden atau kau Tuhan yang bisa membuat semua orang tunduk atas perintahmu?” Nara menjadi kesal sendiri mendengar gadis ini berbicara. Belum lagi karena pakaiannya yang sangat mencolok. Rasanya sehabis ini Nara harus pergi memeriksakan matanya.


“Kau!—”


Nara mendongakkan kepalanya dan menatap ketiga gadis itu tajam. Pandangannya seolah mengatakan “Apa? Berani mengangguku, maka kalian akan pergi ke neraka.”


“Kenapa berhenti? Kau takut pada saudaraku? Dia bahkan belum melakukan apapun.” Ejek Cein. Memang adiknya adalah yang terbaik. Membuat orang mengunci rapat mulutnya sebelum dia melakukan tindakan apapun yang berarti.


“Sudahlah, Kak. Jangan begitu.” Ucap Evelyn sambil menggelengkan kepalanya. Dia menjadi tidak enak pada ketiga gadis ini nanti. Bagaimana jika mereka tersinggung nanti.


“Hey, penggoda kecil. Kau tidak perlu sok baik seperti itu. Aku tidak akan terkecoh hanya


karena kau bertingkah seperti itu!”


“Mulutmu itu memang tidak pernah diajari sopan santun ya. Apa perlu aku yang mengajarimu?”


tanya Cein. Dia kesal karena Azura memiliki paras cantik juga anggun tapi mulutnya sama sekali tidak memiliki sopan santun. Ingin sekali rasanya dia merobek mulutnya dan menjadikannya makanan untuk Jade, peliharaan kesayangannya.


“Hoho, kalian kesal ya aku menganggu ****** sialan ini? Lalu bagaimana kalau ku beri dia sedikit pelajaran agar dia mengerti bagaimana cara untuk berhenti mendekati kekasihku?”


Sedetik kemudian terdengar teriakan yang menggelegar di seisi cafetaria. Azura menarik rambut panjang Evelyn dengan kasar. Dia menariknya sampai Evelyn berdiri lalu mendorongnya dengan kencang sampai terperosok ke lantai. Beruntung Evelyn bisa menahan dirinya sehingga kepalanya tidak membentur lantai.


Nara dan Cein sangat geram melihat apa yang mereka lakukan pada Evelyn. Nara menarik Azura dengan kasar dan menampar wajahnya. Pertempuan antar kulit itu terdengar nyaring di telinga semua orang termasuk Ray dan Jerry.


Mereka sama geramnya atau bahkan sangat-sangat marah sampai rasanya mereka ingin membunuh orang yang sudah menganggu adik mereka itu.


Semua orang dikantin termasuk Aliana dan Tery sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nara. Ketika Azura akan berteriak padanya, Nara kembali menampar satu sisi wajahnya yang lain.


“Apa? Kau ingin mengeluarkan ucapan apa lagi? Lebih baik kau tutup mulutmu sebelum aku merobeknya.” Nara menatap Azura dengan tajam.


“Kau! Berani sekali kau menamparku?” Azura mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk tepat didepan wajah Nara. Dia merasa dipermalukan. Selama ini tidak ada siapapun yang berani bersikap seperti ini padanya. Dia harus membuat Nara dipermalukan juga, jauh lebih parah.


“Kenapa aku tidak berani? Membunuhmu disini pun aku bisa, apa kau mau merasakannya? Mungkin akan saaangat sakit.”


Ucapan Nara membuat Azura meneguk ludah kasar. Belum lagi tatapan menusuk yang diarahkan Nara padanya itu sangat menyeramkan. Tapi dia tidak bisa diam saja. Harga dirinya akan tercoreng nanti jika dia diam saja setelah menerima perlakuan seperti ini.


Dia mengambil nampan yang berada di meja dan bersiap mengarahkannya pada Nara tapi tentu saja bisa dengan mudah di hentikan oleh si manis.


Ketika Nara akan kembali melayangkan tamparan lainnya, dia merasakan seseorang memegang tangannya. Dia menoleh dan menemukan Evelyn yang sudah menangis sambil menggelengkan kepalanya. Dia memegangi tangan Nara seakan tidak membiarkannya memberikan tamparan apapun lagi kepada Azura.


Disaat itu, ketika dia sedang terfokus pada Evelyn. Salah satu teman Azura yang bernama Jessica mengambil sebuah nampan lainnya yang kemudian diarahkan pada Evelyn. Nara bergerak cepat, dia melepaskan tangan Azura dan sedikit mendorongnya lalu menghentikan nampan itu dengan tangan kirinya.


Nampan itu hancur dan melukai lengan Nara. Azura yang merasa memiliki kesempatan pun melemparkan nampan yang dipegangnya dengan kencang. Hanya tinggal hitungan detik nampan itu akan mengenai Nara.


Cein maju, bermaksud untuk menghalangi nampan itu tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya sehingga termundur kebelakang. Lalu seorang laki-laki lainnya menghalangi nampan itu sehingga dia yang terkena lemparan nampan itu dan bukan Nara.


Semua orang lagi-lagi dibuat terkejut oleh siapa yang sudah membantu Nara, Cein, dan Evelyn.


Sang pangeran sekolah, Ray, Jerry, dan Hansel. Azura terbengong di tempat. Dia tidak menyangka Ray akan tiba-tiba muncul disana dan mengorbankan dirinya.


“R-Ray….”


Dia gemetar ketakutan. Dia sangat mengetahui bagaimana perangai dari Ray. Tidak ada siapapun disekolah ini yang mau berurusan dengan laki-laki itu jika masih menginginkan kehidupan yang tenang.


Ray menatap tajam Azura dan kedua temannya. Lalu dia beralih menatap pada Evelyn yang menangis di pelukan Nara. Tatapannya lalu naik pada Nara yang ternyata juga sedang menatap padanya.


Sejujurnya Ray tidak menyangka Nara adalah orang seperti ini. Mereka pertama kali bertemu saat pernikahan Bunda Ryn dan Ayah Jayden. Sepertinya saat itu Nara masihlah seorang gadis yang manis dan ramah. Lalu mereka kembali bertemu lagi kemarin dan dia sudah berubah menjadi seorang gadis yang tidak kalah cantik dari Evelyn.


“Hiks…K-kak Nara…B-berdarah.”


Ucapan Evelyn seolah menariknya kembali ke dunia. Dia beralih menatap tangan Nara yang meneteskan darah segar. Darah pun sudah menggenang di dekat kakinya. Hanya saja wajah Nara yang terlihat biasa saja membuat tidak ada yang menyadari hal itu jika Evelyn tidak mengatakannya.


“Astaga Nara, tanganmu.” Ucap Cein dengan khawatir.


“Tidak apa-apa. Bukan masalah besar. Lebih baik kamu bawa Evelyn pergi untuk menenangkan dirinya.” Evelyn menggelengkan kepalanya. Dia masih menangis terlebih lagi saat Nara terluka karenanya.


“Eihh, kenapa menangis cantik? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak apa-apa? Berhenti menangis dan rapikan dirimu. Lihat, rambut mu berantakan sekarang.” Nara menghapus air mata yang membasahi pipi Evelyn dengan tangan kanannya. Tangan kirinya dia sembunyikan dibelakang tubuhnya agar Evelyn tidak melihatnya lagi atau dia akan semakin menangis nanti.


“T-tapi….”


“Eve, aku tidak apa-apa. Kamu selalu mengatakan kalau aku kuat, masa hanya karena seperti ini saja kamu menangis seperti ini. Sekarang berhenti menangis atau matamu akan menjadi sembab nanti. Bagaimana kalau aku diomeli oleh Ayah karena tidak bisa menjagamu? Kamu mau aku diomeli?”


Evelyn menggelengkan kepalanya ribut dan kemudian berusaha untuk menghentikan tangisnya.


“Sekarang ikut dengan Cein untuk merapikan dirimu ya. Aku akan membuatkan kue kesukaanmu kalau Eve menurut.”


Evelyn menganggukkan kepalanya. Lalu Cein membawanya pergi dari sana. Sebelum itu dia mengatakan pada Nara kalau ada kotak obat di tasnya jadi bawa dan obati tangannya. Panggil dia jika membutuhkan bantuannya. Nara hanya menganggukkkan kepalanya saja.


Nara melihat Cein dan Eve pergi dari sana lalu mengambil tasnya dan tas Cein. Dia kembali menatap pada Azura. Dia mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga gadis itu.


“Jangan sekali-kali kau mencari masalah dengan kami terutama Evelyn, atau kau akan tahu akibatnya nanti. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, ingat itu.”


Setelahnya Nara berjalan pergi dengan darah yang masih menetes dari tangan kirinya. Ray terus memperhatikan Nara sedari tadi. Dia lalu ikut pergi dari cafetaria. Sedangkan Jerry, dia sudah menghilang entah kemana, dia pun tidak tahu. Toh dia juga akan menjaga dirinya dengan baik.


Hansel hanya menatap pada mereka bertiga secara intens lalu ikut pergi dari sana. Tangannya dengan sibuk mengetikkan sesuatu di ponsel pintarnya. Setelahnya dia bersenandung kecil sambil menggumamkan sesuatu.