
Nara, Cein, Eve, beserta ketiga laki-laki tampan yang sedari keluar dari kelas terus mengikuti mereka. Evelyn saja sampai bingung kenapa ketiga kakaknya seperti ini. apakah ada sesuatu yang terjadi yang tidak dia ketahui? Selain itu mengapa semua mahasiswa disekitar mereka menatap mereka seperti itu? Apakah ada yang salah dengan mereka?
“Eve, kakakmu ini sudah mulai terkenal, jadi jika ada sesuatu cepat lari kepada ketiga kakakmu ya.” Nara merangkul pundak Evelyn dan menyandarkan kepalanya di pundak yang paling muda.
“Secepat ini? Kenapa kali ini lebih cepat dari yang dulu? Pasti ada hubungannya kejadian kemarin kan?” Evelyn mengerti apa yang dimaksud Nara dengan terkenal. Apa lagi kalau bukan dia yang menjadi pusat perhatian dan pusat pembicaraan semua orang di universitas. Dan biasanya tidak akan berakhir dengan mulus. Nara pasti tidak akan membiarkannya begitu monoton dan membosankan.
“Apakah ini ada sangkutpautnya dengan Kak Ray? Haruskah aku memukulnya karena membuat Kak Nara begitu cepat terkenal?” Evelyn memandang sengit kakak kandungnya itu. Okay, sepertinya Ray sudah bisa menebak kalau tahta tertinggi dalam hidup Evelyn adalah Nara dan Cein.
Ray menggelengkan kepalanya. Sepertinya untuk seterusnya dia harus memperlakukan Nara dengan baik atau dia akan mendapatkan amukan dari adik cantiknya. Mungkin adiknya ini tidak akan berbeda jauh dari Bunda ketika sedang marah. Bahkan Ayahnya saja tidak berani membantah apapun perkataan sang Bunda. Entah karena terlalu mencintainya, atau karena tidak berani.
“Tenang saja Eve. Lagipula aku menyukainya.” Evelyn dan Cein menolehkan kepalanya dengan cepat pada Nara. mereka sedikit salah paham dengan ucapan Nara yang mengatakan dia menyukainya. Apa yang dia sukai? Dia menyukai keadaan seperti ini atau dia menyukai Ray?
“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku memang menyukainya kok. Sangat menyenangkan.” Ray ikut menatap Nara lalu pada kedua gadis lainnya yang sedang bergandengan tangan.
“Nara, apa kamu tahu kalau ucapanmu itu terdengar ambigu? Kamu menyukai situasi seperti ini atau kamu menyukai Ray?” Nara tercengang dengan pemikiran Cein. Bagaimana mereka bisa berpikiran seperti itu?
“Tentu saja situasinya. K-kenapa aku menyukai Ray? Kekasihnya ada dimana-mana.” Nara mengucapkannya untuk sekedar bercanda untuk menutupi dirinya yang entah kenapa tiba-tiba gugup.
Namun sepertinya candaan Nara ditanggapi dengan serius oleh Ray. Laki-laki itu mendorong pelan kepala si manis seakan mengatakan kalau dia tidak menyetujui ucapannya. “Apa kamu bilang? Aku? Kekasihku dimana-mana? Memangnya darimana kamu mendengarnya. Mendekati perempuan saja tidak pernah bagaimana aku bisa memiliki kekasih.”
“Gadis kemarin mengatakan dia kekasihmu. Lalu beberapa gadis lainnya juga sepertinya ingin mengatakan hal yang sama tapi aku menghentikannya. Tadinya ku pikir kamu adalah seorang player, tapi mengingat cerita Eve yang mengatakan kalau kamu begitu menyayangi Bunda, maka tidak mungkin kamu seperti itu.” Cein dan Evelyn menganggukkan kepalanya. Cein juga mengetahui betapa Evelyn sangat bangga ketika menceritakan kedua kakak kandungnya yang sangat menyayangi Bunda dan dirinya.
Hal itu diceritakan oleh Evelyn ketika dia sedang kesal dengan laki-laki yang menganggunya dan tidak menghormati perempuan.
“Bagus kalau kamu mengetahuinya. Ayah tidak pernah mengajarkan kami untuk mempermainkan perempuan. Jika aku tidak menyukainya untuk apa aku mendekati dan menjadikannya kekasihku? Buang-buang waktu saja.” Jerry dan Hansel tertawa mendengar perkataan Ray. Sepertinya Ray sedang menyebarkan umpan, entah ikan yang diinginkannya akan mengambil umpannya atau justru melemparkannya kembali pada Ray.
Nara menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Ray. Dia juga berpikiran sama dengan si tampan ini. Selama hidupnya, dia belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun.
Selain karena trauma masa lalu, dia merasa tidak memiliki waktu senggang untuk menjalin hubungan. Dia harus menjaga Evelyn. Jika dia memiliki hubungan dengan orang lain, dia pasti harus membagi waktu. Kalau begitu bagaimana dia bisa menemani Evelyn secara maksimal.
Cein yang melihat adiknya tidak menangkap umpan yang dilemparkan oleh Ray hanya bisa menggelengkan kepalanya. Adiknya sangat tidak peka dalam hal perasaan apalagi dalam percintaan. Berbeda dengannya yang pernah berpacaran sebelumnya, Nara benar-benar tidak pernah.
Dia bisa melihat Jerry dan Hansel yang tertawa dibelakang mereka. Dia mungkin tidak tahu kalau akan lebih baik langsung berkata terus terang jika bersama Nara karena adiknya itu lebih suka to the point dibandingkan bertele-tele.
Tiba di parkiran, mereka melihat ada segerombolan orang yang mengerumuni sesuatu. Evelyn yang penasaran menarik Cein dan Nara untuk mendekat. Apa yang membuat mahasiswa lain sampai berkerumun seperti itu.
Ketika mereka berhasil menerobos (berkat Ray, Jerry, dan Hansel yang mengikuti mereka alhasil semua menyingkir memberikan jalan), mereka melihat ada banyak bagian dari komponen motor yang tampak seperti di bongkar satu persatu sampai tidak berbentuk lagi.
Kalau memang benar motor ini adalah motor tadi pagi. Tapi kenapa bisa sampai seperti ini? siapa yang sesenggang itu untuk membongkar motor sampai tidak berbentuk lagi. matanya sedikit melirik pada Jerry yang hanya menatap bongaran motor itu tanpa minat. Apakah mungkin laki-laki itu yang telah melakukan ini? Tidak mungkin kan?
Merasa tidak ada yang spesial dari itu, Nara mengajak Evelyn untuk pergi saja. Karena tadi pagi dia dan Cein datang bersama dengan Ray, maka saat pulang mereka juga akan di antar oleh laki-laki itu. Eve sempat mengajak Nara dan Cein untuk pulang ke mansion saja. Tapi Nara mengatakan kalau mereka ada sesuatu yang harus dikerjakan, jadi dia tidak bisa hari ini, mungkin lain kali.
Selama perjalanan Nara dan Cein membujuk Evelyn. Mereka berdua berjanji kalau lain kali mereka akan datang ke mansion untuk menemui Evelyn. Sebenarnya mereka berdua sangat ingin menghabiskan waktu lagi dengan Evelyn seperti dulu. Tapi mereka tidak boleh membiarkan Evelyn terus bergantung pada mereka.
Sekarang Evelyn telah pulang ke keluarganya, sudah seharusnya dia menghabiskan waktu bersama keluarganya dibandingkan mereka berdua. Dia harus membiasakan diri untuk bergantung pada keluarganya, pada ketiga kakaknya, pada orangtuanya, dan anggota keluarganya yang lain.
Mungkin dulu Evelyn masih bisa bergantung pada mereka karena hanya ada mereka dan Ayah Ken yang bisa diandalkan oleh Evelyn. Tapi disini, ada banyak yang bisa dia andalkan. Jika Evelyn terus seperti ini, bisa-bisa keluarganya akan cemburu pada Nara dan Cein nanti. Mencari masalah dengan keluarga Noordien sama saja mencari kematian.
Selain itu, mereka berdua juga memiliki urusan yang benar-benar harus diselesaikan hari ini juga.
Jerry mengikuti mobil milik Ray dari belakang. Tadinya dia ingin ikut dalam mobil, tapi tidak muat, jadi dia ikuti saja dari belakang.
Sesampainya di apartement, Evelyn masih terlihat sedih karena lagi-lagi harus berpisah dengan kedua kakak kesayangannya. Nara beralih mendekati Ray yang mengemudikan mobil. Dia menurunkan jendela mobilnya dan Nara segera menundukkan tubuhnya untuk berbisik pada si tampan.
“Ajak Evelyn pergi untuk berbelanja atau ke tempat lain. Kalian perlu menghabiskan lebih banyak waktu dengan Evelyn. Dia juga harus lebih banyak menghabiskan banyak waktu dengan keluarga mu yang lain. Aku hanya menyarankan, bukan menggurui. Aku hanya takut Evelyn terlalu bergantung pada aku dan Cein padahal dia sudah
kembali pada keluarganya. Nanti kalian cemburu.” Ray menatap Nara dengan lembut.
Dia tidak menyangka kalau Nara sampai berpikiran seperti itu. Dia ingin agar Evelyn bisa membiasakan diri dengan keluarganya, bukan pada Nara dan Cein lagi. Karena kini dia memiliki orang yang lebih kuat lagi untuk melindungi dan menjaganya.
Ray menganggukkan kepalanya, dibalas dengan senyuman manis oleh Nara. Si manis kembali pada disebelah Cein yang sudah selesai membujuk Evelyn. Mereka melambaikan tangannya sambil berjalan masuk ke dalam gedung apartement.
Di dalam mobil, Ray membalikkan tubuhnya dan melihat pada Evelyn. Jerry sudah masuk ke dalam mobil, dia meninggalkan motornya di parkiran apartement ketika Ray memberitahunya kalau mereka akan mengajak Evelyn pergi berbelanja dulu sebelum pulang.
“Eve, bagaimana kalau kita pergi berbelanja untukmu? Pakaianmu tidak banyak kan dirumah? Bunda yang meminta.” Evelyn terlihat berpikir. Mulutnya mengerucut kedepan. Dia tidak tahu saja kalau dia menjadi terlihat lucu saat ini.
Beberapa saat kemudian, Evelyn menganggukkan kepalanya. Sudah lama dia tidak pergi berbelanja. Dia juga ingin berjalan-jalan bersama ketiga kakaknya, jadi tentu saja dia tidak menolaknya.
Ray tersenyum tampan lalu membenarkan posisi duduknya dan menjalankan mobilnya menuju pusat perbelanjaan. Mereka membelika apapun yang diinginkan oleh Evelyn. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, aksesoris sampai barang elektronik seperti ponsel, ipad, dan laptop untuk dia pakai. Apapun yang diinginkan oleh Evelyn akan dibelikan oleh Ray dan Jerry.
Percayalah, diumur mereka yang masih muda, mereka sudah diberikan kepercayaan oleh Jayden untuk mengelola perusahaan walaupun belum sepenuhnya karena mereka masih harus berkuliah. Tentu saja uang milik mereka mengalir dengan lancar. Bahkan keduanya sudah bisa memberikan barang mahal untuk Ryn dan Veronica, nenek mereka.
Jadi untuk membelikan semua barang-barang Evelyn tentu bukan hal yang sulit dilakukan. Keluarga mereka sudah kaya dan mereka juga jarang menghabiskan uang. Setidaknya dengan adanya Evelyn, dia bisa membantu mereka untuk menghabiskannya. Mungkin nanti Evelyn akan diberikan Black card oleh Jayden.