
Malam ini seorang gadis berambut pendek tengah duduk di sebuah bar dengan minuman didepannya. Suasana yang ramai serta dentuman musik yang keras semakin memeriahkan malam yang menyenangkan itu.
Namun si manis tampaknya bosan dengan keadaan atau mungkin tidak nyaman? Dia terus memainkan jarinya dipinggir gelas kaca minumannya. Sesekali dia mengalihkan pandangannya ke belakang dimana semua orang yang berasal dari universitas yang sama dengannya berada.
Hari ini ada undangan ulang tahun untuk seluruh angkatan dan acara dilakukan di club malam. Cein meminta paling tidak salah satu di antara mereka berdua ada yang datang. Karena itulah dia berada di sini sekarang.
Satu club malam ini mungkin telah di booking hanya untuk acara ulangtahun seperti ini saja. lihat saja bagaimana dance floor begitu ramai penuh sesak oleh mahasiswa dan mahasiswi dari sekolah mereka. Belum lagi pakaian mereka yang kekurangan bahan. Rasanya Nara ingin sekali bertanya apa mereka kekurangan uang untuk membeli pakaian sampai memakai yang seperti itu.
“Kau tidak mau ke dance floor? Lihat saja teman-temanmu begitu lincah menari bahkan sampai naik ke atas panggung DJ.” Seorang laki-laki bertender yang sedari tadi berdiri didepan Nara mengajaknya berbicara. Matanya terus melihat betapa gilanya anak-anak seumuran gadis didepannya ini menari.
“Abaikan saja. Aku tidak mengenal orang-orang gila itu.” Nara mengibaskan tangannya. Dia lebih memilih diminta untuk meminum semua alkohol disini daripada harus bertingkah seperti orang-orang gila itu.
“Kalau tidak suka kenapa datang? Ini hanya ulangtahun dan tidak wajib. Kau seperti bukan dirimu kalau begini.” Laki-laki itu memperhatikan Nara yang menyeruput minumannya sambil mengelap gelas kaca dengan kain berwarna merah.
“Salahkan temanmu itu. Dia mengatakan padaku paling tidak harus ada diantara kita yang datang untuk menghormati pemilik acara. Jika boleh pun lebih baik aku tidak datang. Membosankan.” Nara menggembungkan kedua pipinya dan bibirnya melengkung kebawah. Dengan cuaca seperti ini benar-benar pas untuk berkendara tanpa arah dengan mobil sambil mendengarkan lagu. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara.
“Lalu kemana saudaramu itu?”
“Ada urusan.” Bartender itu menganggukkan kepalanya lalu mengarahkan matanya pada dance floor yang semakin penuh. Semua orang disana meliuk-liukkan tubuh mereka seakan tidak ada hari esok.
“Astaga lihatlah mereka. mereka seumuran denganmu tapi sudah seliar itu. Nara, apa menurutmu akan ada sesuatu yang terjadi karena acara ini?”
Nara mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. “Siapa yang tau? Mereka minum dan menari seperti orang kesetanan. Mungkin saja mereka akan melakukan hal diluar nalar mereka sendiri nanti.”
“Dasar anak-anak muda.” Bartender itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya. benar-benar membuatnya tampak seperti orang tua yang sedang melihat anak tetangganya pulang malam bersama kekasihnya.
“Bicaramu itu seperti sudah tua saja. Padahal umurmu juga sama saja dengan mereka. Kita seumuran bodoh!”
“Ah, benar juga. Aku hampir mengira aku lebih tua dari mu karena beberapa hal.”
“Sinting.”
“Ada yang datang tuh, sepertinya menghampirimu.”
Nara memutar kursinya untuk melihat siapa yang katanya datang menghampirinya. Dilihatnya seseorang berjalan menunduk kearahnya entah itu memang untuk menghampirinya atau dia ingin duduk di bar juga. Pencahayaan yang tidak terlalu bagus membuatnya sulit untuk melihat wajahnya.
Tapi dia melihat postur tubuh yang familiar untuknya. Mungkinkah teman sekelasnya? Entahlah. Dia tidak ingat.
Dia kembali memutar kursinya dan mengesap minuman miliknya. Bartender tadi kembali pada pekerjaannya yaitu membuat minuman untuk pelanggannya.
Tiba-tiba Nara merasa bahunya berat. Dia menolehkan kepalanya ke samping. Tadinya dia berniat untuk memukul orang yang sudah bersikap kurang ajar seperti ini terlebih pada orang tidak dikenal. Tapi dia mengurungkan niatnya itu setelah melihat siapa orang yang hinggap padanya.
“Ray?”
“Nara...bantu aku.” Nara dapat mendengar nada suara yang seakan tersenggal serta terpaan nafas hangat dilehernya.
Nara memutar kursinya sedikit dan menangkup wajah si tampan. Wajah Ray pucat dan berkeringat. Nara menyentuh dahi laki-laki tampan ini.
Ray kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Nara. Kedua tangannya sudah memeluk pinggang si manis. Dia memejamkan matanya, dentuman musik kencang didalam sini membuat kepalanya pusing.
“Mau aku antar pulang? Ke mansion?”
“Jangan. Ada Eve dirumah. Tolong antar aku ke apartement ku saja, alamatnya ada di GPS mobilku. Tolong...hanya kamu yang aku percaya disini.” Nara terdiam. Matanya melirik pada laki-laki bertender yang tadi berbincang dengannya. Dia mengkode dengan tatapan mata seakan mengatakan semuanya baik-baik saja.
Nara kemudian menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Ray tadi. Lagipula dia juga tidak mungkin menolak apalagi Ray sudah seperti ini. Bisa-bisa dia jadi santapan para gadis-gadis gila disini.
“Bisa berjalan? Mau ku bantu papah?” Ray menganggukkan kepalanya pelan tapi dia tidak menjauhkan tubuhnya sedikitpun dari Nara.
Perlahan Nara berdiri dari kursinya. Terlihat perbedaan tinggi badan yang cukup mencolok antara kedua insan berbeda gender tersebut.
Walaupun begitu, Nara berhasil membawa Ray ke mobil dan membawanya pergi dari sana. Dia mengikuti GPS mobil Ray menuju apartement milik laki-laki itu sesuai dengan yang dikatakan sebelumnya.
“Kepalamu pusing? Mau aku belikan obat untukmu?” Ray menggelengkan kepalanya pelan. Matanya terpejam dengan kerutan-kerutan di dahinya. Nara jadi tidak tega melihatnya.
Si manis mempercepat laju mobil yang dikendarainya sehingga bisa cepat sampai di apartement yang dimaksud Ray. Dia membantu Ray untuk turun dari mobil dan memapahnya. Sampai di kamar apartement, dia membaringkan si tampan di sofa ruang tengah.
Dilepaskannya jaket serta sepatu Ray. Dia berlalu pergi ke kamar mandi dan mengambil baskom serta handuk untuk mengompres. Dia kembali dan menemukan Ray bersandar di sofa dengan kepala mendongak ke atas. Lengannya menutupi matanya
“Kenapa bangun? Berbaring saja.”
Nara menyentuh dahi Ray yang semakin panas. Dia mendorong tubuh kekar Ray untuk kembali berbaring kemudian mengompresnya.
“Kamu sudah makan?” Ray menganggukkan kepalanya. Sebelum kembali tadi, Nara sudah mencari kotak obat Ray dan membawanya juga bersamanya. Dia pergi mengambilkan air hangat dan kembali untuk memberikan obat pada si tampan.
Ray memejamkan matanya, membiarkan Nara merawatnya sambil sesekali si manis akan mengusap kepala Ray ketika melihatnya tidak nyaman dalam tidurnya.
---
Tadi setelah mandi, Cein mendapatkan panggilan telepon dari adik kesayangannya dan Nara yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah Evelyn. Adik cantiknya itu berkata ingin dimasakkan makanan olehnya dan disinilah dia berada sekarang. Di mansion besar keluarga Noordien.
Keempat orangtua yang biasanya berada di mansion ini sedang pergi keluar kota karena ada pertemuan bisnis dan mempercayakan seluruh yang ada di sini untuk di urus oleh ketiga anak laki-laki keluarga ini.
Saat ini si cantik Evelyn tengah memperhatikan Cein yang sedang memasak untuknya dari meja makan. Walaupun sudah sering melihatnya, tetap saja Evelyn sangat senang memperhatikan kakaknya itu memasak.
Melihat betapa cekatannya dalam memasak, sering kali membuat Evelyn menjadi ingin belajar memasak. Tapi sampai sekarang makanan yang bisa dia buat bisa dihitung dengan jari.
Evelyn dilarang ikut oleh kakak-kakaknya untuk menghadiri acara di club malam itu, dan dia dengar kalau Cein tidak ikut dengan Nara ke acara lalu meneleponnya dan memintanya untuk datang. Selain karena dia ingin dimasakkan sesuatu oleh Cein, dia juga tidak tenang meninggalkan Cein sendirian di apartement tanpa seorangpun.
Evelyn melihat kesamping dan melihat ada tamu tidak diundang berada disana. Kakak keduanya, Jerry duduk dimeja bar yang memang terhubung dengan dapur. Evelyn mendelik tidak suka pada kakaknya. Dia yakin pasti ada alasan kakaknya mau berada disini, padahal biasanya saja dia enggan untuk masuk ke area dapur.
Selain itu, entah kenapa kakaknya yang tadi meminta izin untuk menyusul Ray pergi menghadiri acara di club malam bisa tiba-tiba pulang dengan membawa Cein bersamanya. Padahal dia menelepon Cein setelah kakaknya pergi. Dari mana kakaknya ini tau?
Dia belum bertanya-tanya lagi mengenai apa yang terjadi dengan mereka berdua sehingga Cein bisa bersama Jerry. Nanti saja dia akan bertanya dengan Cein. Jerry mana mau menceritakannya, yang ada dia yang ditanya-tanya.