Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 41: Rumah Malaikat Kecil



Keesokan harinya pagi-pagi sekali Nara sudah mengemudikan mobilnya keluar dari kawasan apartementnya. Gadis manis itu bersenandung dengan riang sambil sesekali mengoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengikuti irama lagu yang terputar.


Dia mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat yang cukup jauh dari apartementnya. Lokasinya berada cukup jauh tapi dia rela mengemudi selama itu untuk mengunjungi tempat ini.


Nara menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah besar dimana terdapat taman yang cukup luas yang dipenuhi oleh bunga-bunga cantik dan tanaman lainnya. Taman itu terawat dengan sangat baik.


Dia berjalan memasuki rumah besar itu sambil membawa sebuah kotak besar bersamanya. Dengan perlahan dia melangkah mendekati segerombolan anak-anak mulai dari kecil, remaja, sampai dewasa sedang duduk dengan tenang memakan sarapan mereka.


Senyuman merekah di wajah manisnya memperhatikan bagaimana menggemaskannya anak-anak itu makan dengan lahap. Sudah sangat lama dia tidak datang kemari untuk berkunjung. Terakhir kali sekitar 1 tahun yang lalu bersama Cein.


Ada seorang perempuan yang memergoki Nara dan berteriak memanggilnya. Alhasil semua orang yang berada disana sontak melihatinya. Sedetika kemudian mereka semua berbondong-bondong berlari mendekati Nara sambil merentangkan tangan mereka, bersiap untuk memeluk Nara.


Nara yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa membalas memeluk mereka satu persatu. Adik-adik manisnya sudah tumbuh dewasa ya. Padahal hanya 1 tahun dia tidak datang.


"Kak Na, kenapa balu datang? Angel kangen tauu~" Seorang anak perempuan yang memanggil namanya Angel itu merengek dengan wajah cemberut.


"Iya, Jeje juga kangen sama Kak Na. Kenapa baru datang? Apa Kak Na sudah lupa dengan kami?" Anak laki-laki yang memanggil dirinya Jeje itu juga ikut cemberut.


Nara menurunkan tubuhnya, menyamakan tinggi badannya dengan anak-anak kecil didepannya.


"Loh siapa bilang? Kak Na juga kangen banget sama kalian. Cuma waktunya ngak pas. Kak Na ngak bisa datang menemui kalian. Tapi kan sekarang Kak Na sudah disini. Kak Na akan menemani kalian bermain seharian!"


Anak-anak itu berubah senang. Mereka semua bersorak ketika mendengar Nara akan menemani mereka bermain seharian.


Seorang laki-laki remaja menghampiri Nara dan mengambil alih kotak yang berada di sebelah Nara. Dia yakin kalau itu adalah barang yang ingin Nara berikan pada mereka yang tidak lain adalah buku-buku bacaan.


"Kak Na, kenapa tidak bilang kalau mau datang? Kalau begitukan aku bisa mempersiapkan kamar untuk kakak."


Gadis yang umurnya terpaut beberapa tahun dengan Nara itu mengatakannya karena merasa tidak enak.


Nara memang seringkali menginap ketika datang kemari, entah sehari atau dua hari. Dan Nara memiliki kamar sendiri di rumah ini. Sudah lama sejak Nara kemari dan Nara juga melarangnya untuk membersihkannya terus menerus karena tidak tau kapan dia akan datang lagi.


Walaupun kenyataannya mereka sering diam-diam membersihkannya ketika sedang membersihkan rumah. Tapi karena mereka sibuk akhir-akhirnya ini sehingga belum sempat membersihkannya lagi. Sekarang kamar itu sedikit berdebu dan tidak mungkin Nara menempatinya dalam keadaan seperti itu.


"Tidak perlu, Xena. Kamu juga pasti sibuk mengurus adik-adik mu ini."


Xena menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Adik-adik ayo kita bersihkan kamar Kak Na agar dia bisa beristirahat."


Ajakan itu ditanggapi dengan sangat baik. Mereka menjadi sangat bersemangat karena kedatangan Nara yang tidak terduga ini. Nara hanya bisa menghela napas pasrah. Jika adik-adiknya sudah sesemangat ini bagaimana dia bisa menolak mereka?


Memangnya siapa yang tidak tau kalau Nara sangat menjunjung tinggi makan. Semua boleh dilakukan tapi sebelum itu kalian harus makan dulu. Mereka tidak mau lagi mendengarkan ceramah panjang dari Nara mengenai pentingnya makan yang bahkan bisa seharian.


"IYAA!"


Anak-anak kecil itu kembali ke meja makan dan melanjutkan makan mereka yang sempat tertunda karena menyambut kedatangan Nara.


"Kak Na, ayo ikut makan. Aku memasak banyak hari ini."


Nara menganggukkan kepalanya dan ikut makan bersama dengan adik-adiknya. Suasana di meja makan memang tidak pernah sepi karena mereka sangat senang bertukar candaan satu sama lain. Ditambah lagi sekarang ada Nara, anak-anak itu senang membagikan kisah yang selama ini mereka lakukan di rumah ini.


Nara sangat senang berada disini. Begitu juga Cein. Berada bersama dengan anak-anak kecil yang tidak tau apapun mengenai gelapnya dunia ini membuat mereka merasa menyenangkan. Merasakan bagaimana hangatnya keluarga yang diciptakan untuk malaikat-malaikat kecil tidak berdosa seperti mereka.


Sayang sekali dia tidak bisa sering menemui mereka apalagi tinggal bersama mereka. Keberadaan mereka terlalu berbahaya untuk mereka yang tidak tau apa-apa mengenai kegelapan yang dimiliki dunia ini.


Setelah selesai makan, mereka mulai melakukan aktivitas yang sudah mereka rencanakan tadi. Mereka membersihkan debu di kamar itu, mengganti seprai, selimut, dan bantal. Anak-anak kecil ini membantu dengan senang hati karena mereka memang sering mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini bersama Aeril.


Mereka memang tidak bersekolah. Tapi mereka selalu belajar. Mereka memiliki jadwal belajar setiap hari bersama anak-anak yang sudah remaja. Karena itu juga Nara selalu membawa buku setiap kali di kemari. Adik-adiknya ini senang membaca dan belajar.


Dia tidak memiliki uang untuk menyekolahkan mereka semua. Nara dan anak-anak remaja yang tinggal disana juga takut mereka akan dikucilkan karena status mereka. Karena itu mereka belajar sendiri sampai sekarang.


Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan kamar Nara, mereka semua bermain ditaman sekaligus berjemur. Berjemur matahari itu bagus untuk kesehatan. (Tapi jangan jam 12 juga ya).


Ketika sedang menemani adik-adiknya bermain, mata Nara tidak sengaja melihat sebuah mobil yang tampak familiar untuknya. Mobil mahal seperti itu apa mungkin berada disana? Apa jangan-jangan ada orang yang sedang memperhatikan tempat ini dan berniat untuk berbuat jahat pada adik-adiknya? Tidak bisa dibiarkan. Dia harus mengeceknya!


Nara perlahan berjalan mendekati mobil itu dan melihat  siapa yang berada di dalam mobil itu. Apa itu Ray? Dia tidak salah lihat kan? Kenapa dia bisa berada disini? Apa dia mengikutinya? Atau Cein memberitahunya saat dia datang ke apartement? Lalu kenapa dia tidak masuk saja?


Nara menyipitkan matanya untuk melihat kalau Ray sepertinya sedang bekerja. Ada laptop dan kertas-kertas entah apa di depan dan tangan Ray. Kalau begitu dia jadi tidak berani mendekatinya.  Dia takut menganggu Ray. Nanti saja dia akan menghampiri Ray ketika laki-laki itu sudah selesai dengan pekerjaannya.


Setelah memastikan kalau itu bukan orang jahat melainka Ray, gadis manis itu kembali bermain dengan adik-adiknya. Disaat matahari mulai naik, mereka berpindah ke teras rumah mereka yang cukup luas.


Nara merasa sangat beruntung dia dan Cein bisa mendapatkan rumah besar ini sehingga adik-adiknya tidak perlu takut kehujanan dan kepanasan, juga tidak perlu takut terus didatangi untuk meminta uang sewa.


Mereka berdua saat itu menggunakan seluruh uang tabungan mereka untuk membeli rumah ini dan membawa adik-adiknya pergi dari panti asuhan yang kejam. Nara tidak ingin menyebut tempat ini sebagai panti asuhan, tapi dia lebih ingin menyebut dan menganggapnya sebagai rumah.


Rumah untuk malaikat-malaikat kecilnya tinggal. Rumah untuk anak-anak tidak bersalah tinggal. Juga rumah untuknya dan Cein bisa pulang. Kalau saja bukan karena identitas keduanya, mereka pasti sudah memilih untuk tinggal disini. Tapi Nara dan Cein tidak bisa dan tidak ingin membahayakan mereka semua.


Bersama dengan anak-anak ini membuat Nara merasa kalau dia bisa melupakan sejenak mengenai masalah-masalahnya. Rumah ini adalah tempat yang nyaman untuknya juga untuk Cein. Tidak akan dia biarkan ada orang yang menghancurkan rumah ini. Kalaupun ada maka bersiaplah untuk bertemu dengan malaikat maut!