Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 15: Pelabuhan



Sepatu boots yang dikenakannya bertemu dengan kontainer yang sedang mereka injak. Senandung mereka diiringi dengan langkah kaki yang menggema membuat suasana terdengar sedikit menyeramkan.


Beberapa orang yang berada di dalam container keluar dari tempat persembunyian mereka. Si cantik dengan pisau tadi mengeringai dibalik maskernya saat melihat satu persatu orang yang berada di dalam kontainer yang dia injak ini keluar.


Mereka semua melihat ke atas kontainer. Pandangan mereka langsung bertemu dengan mata berwarna semerah darah diatas sana. Mereka termundur secara tiba-tiba karena terkejut dengan mata aneh itu.


Gadis itu memakai pakaian berwarna hitam secara keseluruhan sehingga sulit untuk melihatnya apalagi di kegelapan seperti ini kecuali matanya. Mereka seolah tidak bisa bergerak dan berpikir apapun setelah melihat mata itu. Tubuh mereka bergetar dengan ekspresi yang mengkerut.


Dengan gerakan seringan angin, gadis bermata merah tadi berpindah dari tempatnya berdiri. Dia dengan cepat mengeluarkan pisaunya dan berlari cepat menghampiri orang-orang itu. Sayatan demi sayatan dia arahkan bahkan tanpa dapat mereka hindari apalagi membalasnya.


Cipratan darah mengotori semen yang diinjak. Entah milik siapa darah itu karena semua dari mereka sudah terbaring tidak berdaya hanya karena satu serangan darinya.


“Kenapa? Terlalu takut dengan mataku sampai tidak bisa bergerak? Penakut sekali kalian.” Gadis itu menyindir remeh. Jumlah mereka hampir selusin, tapi hanya terdiam setelah melihat matanya. Sangat membosankan sekali. Dia kira setidaknya dia akan mendapatkan sedikit kesenangan disini, tapi ternyata tidak.


Dia berjalan masuk kedalam kontainer kosong yang telah ditinggalkan tadi. Tidak ada yang spesial didalamnya, tapi dia melihat ada sebuah kotak besar mirip sekali seperti kotak harta karun pada era bajak laut dan lagi jumlahnya ada 3. Dia membuka salah satunya dan menemukan banyak sekali pisau dengan gagang berukiran unik. Apakah mereka baru saja menyeludupkan senjata karena tempat ini terletak dekat dengan pelabuhan?


Diambilnya beberapa pisau-pisau itu dan dia letakkan pada sabuk yang terikat di pinggangnya. Disabuk tersebut ada slot yang dibuat khusus oleh dia untuk meletakkan pisau-pisau kesayangannya.


Sepertinya tidak ada salahnya mengambil beberapa untuk koleksinya walaupun jenis dan kualitasnya tidak sebagus koleksi pisau miliknya yang lain. Tapi ukirannya sangat unik, jadi kenapa tidak?


Setelah itu dia menutup kembali kotak itu. Dia mengambil tali yang berada di dekat sana lalu menarik kotak-kotak itu keluar dari sana. Dia melewati selusin orang yang tadi dia jatuhkan dengan santai, tidak perduli jika ada kepala yang terkena kotak itu.


Gadis itu pergi menghampiri rekannya yang sepertinya sedang bersenang-senang. Tampaknya dia memilih tempat yang lebih menyenangkan dibandingkan miliknya tadi. Terbukti dari suara tembakan yang tidak berhenti bersautan sejak tadi.


Sesampainya dia melihat seorang gadis dengan mata berwarna ungu menyala sedang terduduk di atas tumpukan orang-orang yang sudah tidak bernyawa. Ceceran darah berada dimana-mana termasuk di tubuh rekannya. Didekatnya terdapat satu orang yang berlutut menghadap padanya. Disampingnya lagi terdapat beberapa kotak lainnya yang mirip seperti yang dibawa oleh gadis bermata merah itu.


Gadis itu menghampiri rekannya, ikut duduk di atas tumpukan tubuh orang-orang itu. Mengapa rekannya ini mendapatkan pertunjukkan yang lebih menyenangkan? Sedangkan dia malah bertemu dengan orang-orang penakut dan pengecut.


“Harus! Mereka terlalu cepat meninggal, aku jadi tidak bisa bermain. Tidak seru! Bagaimana denganmu, Sin? Kau sepertinya bersenang-senang disini.” Ren tidak terima dengan ini. Sekali menjalankan misi, maka dia harus bersenang-senang juga karena hanya pada saat ini lah dia memiliki kesempatan untuk menyalurkan keinginannya untuk menyiksa orang.


“Ya, aku sedikit bersenang-senang. Walaupun tidak ada dari mereka yang bisa bertahan lebih dari tiga tembakan. Yah, paling tidak ini sedikit meredakan kebosananku.” Dibandingkan dengan yang dulu mereka lakukan, membunuh orang-orang ini benar-benar menurunkan level kesenangan mereka.


Apakah semua mafia saat ini semakin lemah? Mana ada mafia yang lemah. Jika lemah untuk apa bergabung dengan kelompok mafia? Hanya untuk mengagungkan namanya dan menakuti orang lain? Pengecut!


“Darimana ini semua? Penyeludupan senjata lagi?” Sin, gadis dengan mata ungu tadi menganggukkan kepalanya. Dia juga menemukan ada empat kotak senjata api. Setelah dia bertanya pada salah satu orang diantara mereka, memang benar mereka baru saja menyeludupkan senjata karena mereka berencana untuk menyerang sebuah kelompok mafia.


“Kau mau tahu? Mereka berencana untuk menyerang Red Diamond. Hahaha, mendengarnya saja sudah membuat perutku sakit. Orang-orang lemah seperti ini ingin menyerang kelompok mafia besar itu? Bermimpilah!” Ren (gadis yang memiliki mata berwarna merah darah) ikut tertawa. Mereka ini benar-benar. Sudah lemah, tidak tahu diri pula. Mereka saja sudah dengan mudah dilumpuhkan oleh mereka berdua. Apakah menurut mereka, mereka bisa melawan kelompok besar itu hanya dengan mengandalkan senjata sampah seperti ini?


“Selain itu, aku ingin memberitahukan satu hal. Kalian tidak akan bisa melawan kelompok itu. Kenapa? Karena kalaupun kami berdua tidak mendatangi kalian, kami tetap akan bertemu dengan kalian. Karena kami...berasal dari kelompok itu juga. Pada akhirnya kalian tetap akan mati ditangan kami atau bahkan lebih buruk lagi? Seharusnya kalian berterimakasih pada kami. Kematian kalian datang lebih cepat dan lagi aku berbaik hati untuk tidak membuat kalian lebih menderita lagi. Aku baik kan?” Ren hanya menggelengkan kepalanya mendengar racauan Sin. Tapi dia


membenarkan ucapan rekannya itu.


“Sebenarnya aku ingin membuat kalian menyebarkan berita dinegara ini kalau kami, The Reaper telah tiba disini, jadi perhatikan tindakan kalian atau kami akan mendatangi kalian. Tapi sepertinya kalian tidak akan bisa memberitahukannya.” Dibalik maskernya dia tersenyum sangat lebar. Terdengar dari nada suaranya yang riang menandakan dia begitu menikmati apa yang dia lakukan.


Sebelum pergi menuju tujuan mereka berikutnya, Sin menembakkan peluru tepat dikepala orang yang diajak bicara tadi (yang tadi berlutut). Mereka berdua kembali menarik kotak-kotak berisi senjata itu dan dimasukkan kedalam sebuah mobil van yang berada di sana. Tidak ada salahnya mencuri mobil van untuk membawa barang seperti ini. Lagipula seluruh tempat ini dan juga kendaraannya akan dimusnahkan.


 ---


Mobil van yang dikendarai oleh Ren tiba di sebuah rumah singgah yang diketahui milik bos dari kelompok yang tadi dibunuh oleh mereka berdua. Lampu masih menyala dengan banyak orang berpakaian hitam yang berjaga di sekitar rumah tersebut.


Dilihat pun sepertinya mereka berada di kelompok yang sama dengan orang-orang yang sebelumnya. Dengan apa kali ini mereka berdua akan membunuh mereka semua agar terasa lebih menyenangkan. Paling tidak diantara mereka ada satu yang bisa membuat misi malam ini menjadi lebih seru. Jika tidak, maka mereka berdua akan mengajukan protes pada orang yang telah memberikan misi ini pada mereka.


“Lalu, bagaimana kau ingin memulainya?” Ren menyeringai dengan menyeramkan. Di dalam kepalanya, sudah terdapat skenaria yang akan membuat malam ini semakin menyenangkan. Semua orang pasti akan senang dengan pesta yang dibuatnya nanti.