
Hari ini seluruh keluarganya entah pergi kemana. Yang ada di mansion hanya Ray, Bunda Ryn, Eve, Zea, Hansel, dan Hope. Dia tidak tau kemana kakak kembarnya itu pergi. Karena ketika dia bangun tadi dan pergi ke kamarnya, Jerry sudah tidak ada.
Saat ini Ray sedang bosan. Ini hari libur dan dia tidak memiliki rencana keluar rumah. Dia bahkan masih mengenakan piyama tidurnya.
Laki-laki tampan itu berada di ruang tengah sambil bermain dengan Hope yang sedang berguling kesana kemari, mencari perhatian dari pemiliknya.
Hari ini adalah jadwal Hope keluar kandang. Sebenarnya dia tidak diperbolehkan untuk ada di ruang tengah karena takut Eve ada disana. Tapi karena Ray bosan dan Eve juga belum bangun akhirnya si tampan memperbolehkan peliharaan kesayangannya untuk ke ruang tengah.
Setelah kepulangan Eve, Hope hanya akan berada di paviliun sebelah dekat kandangnya. Eve mungkin tidak mengetahuinya karena jarang kesana. Letaknya pun agak jauh dari ruang tengah dan tempat dimana mereka sering berkumpul.
Paviliun itu hanya terhubung dengan lorong dekat taman mansion mereka. Dan sejak kepulangannya, Eve belum sempat untuk menelusuri mansion besar mereka.
Oh! Kalian ingat kan Hope itu apa? Untuk yang tidak ingat biar aku ingatkan lagi. Dia adalah harimau putih peliharaan Ray dan Jerry.
Okay kembali pada saat ini.
Ray sedang menonton televisi dengan Hope berada di pangkuannya. Laki-laki itu mengusap bulu putih bercampur loreng hitam itu selayaknya mengusap anjing.
Makhluk berbulu itu juga menikmati usapan di punggungnya sembari menonton tayangan televisi mengenai saudaranya.
Ya, Ray sedang menonton dokumentasi mengenai harimau. Sungguh tontonan yang sangat bermanfaat bukan? Ray membiarkan Hope untuk menonton saudaranya di televisi dan binatang berbulu ini menikmati tayangannya.
“Hope, apa ku ajak Nara jalan-jalan keluar saja?” Hope yang diajak berbicara menengokkan kepalanya pada Ray. Wajahnya begitu polos dan menatap Ray seakan dia tidak mengerti.
“Nara adalah orang yang ku suka. Aku ingin menjadikannya milikku, tapi sepertinya dia belum siap dan aku juga tidak ingin memaksanya. Ku pikir aku harus melakukan pendekatan lagi padanya. Jadi apa aku harus mengajaknya jalan-jalan? Hitung-hitung lebih mengenalnya.”
Hope mengaum kecil. “Apa itu artinya aku akan mendapatkan tuan baru? Cantik?”
“Dia cantik dan kuat. Sepertinya kamu akan menyukainya.” Ray menguyal wajah Hope dengan gemas. Tidak salah dia dan Jerry memutuskan untuk memelihari Hope dulu. Dia sangat menggemaskan.
Pertama kali Ray dan Jerry bertemu dengan Hope adalah ketika binatang itu masih kecil. Mereka ditangkap secara ilegal dan akan dijual di pelelangan secara ilegal juga.
Ray dan Jerry saat itu sedang menjalankan misi dan bertempat di pelelangan itu. mereka berdua menghancurkan pelelangan itu. Namun hal tidak terduga terjadi. Ketika mereka selesai dengan pekerjaan mereka dan sedang dalam perjalanan pulang dengan mobil.
Ternyata Hope juga berada di dalam mobil. Dia berhasil kabur dan mengikuti mereka berdua. Entah bagaimana dia berhasil menyelinap masuk tanpa sepengetahuan mereka. alhasil mereka sepakat untuk memelihara Hope.
Ray sangat ingat, saat itu Hope masih kecil. Dia bahkan bisa mengangkat Hope hanya dengan satu tangannya. Tapi sekarang, binatang berbulu ini sudah besar. Bahkan dia perlu sedikit usaha untuk benar-benar menggendong tubuh besar Hope.
“Hope ketika dia datang nanti dan bertemu dengannya, kamu jangan nakal dan jangan menakuti dia ya. Yah, walaupun belum tentu dia akan takut tapi aku tidak yakin apa dia berani pada mu atau tidak.”
Hope mengusal pada Ray dengan manja. Dia seakan menyetujui apa yang Ray katakan. Tapi bukan berarti dia akan ikut begitu saja.
Hope bukan hewan yang bisa dengan mudah ramah pada orang lain karena pada dasarnya dia memiliki insting berburu. Tapi setelah selama ini dilatih Hope sudah berhasil dikendalikan dan insting berburunya muncul ketika bertemu orang baru saja yang menurutnya jahat.
Hope suka dengan tantangan. Dia biasanya akan menakut-nakuti orang baru yang datang ke rumah ini untuk melihat seberapa berani dia padanya.
Pada orang biasa yang datang kerumah saja dia akan mengetesnya. Tentu saja dia juga harus mengetes orang yang kata Ray akan menjadi tuan barunya. Mana mungkin dia memperbolehkan orang lemah dan penakut untuk bersama dengan Ray.
Ray terus mengajak Hope untuk berbicara walaupun jelas-jelas tidak akan mendapatkan balasan apapun dari Hope.
Bunda Ryn yang baru turun dari kamarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anak tengahnya seperti ini. Mana dia masih memakai piyama dan rambutnya pun berantakan. Padahal ini sudah siang. Bagaimana bisa anaknya yang seperti ini menjadi most wanted di universitasnya.
“Ray.”
Ray segera menoleh dan mendapati Bunda Ryn berpakaian dengan formal seperti ketika dia ingin ke perusahaan.
“Bunda mau pergi?”
“Iya, menggantikan ayahmu untuk mengikuti meeting. Kamu antarkan bunda ya.” Ray hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Sekarang?”
“Satu tahun lagi! Ya sekarang dong ganteng. Bunda udah siap masa perginya nanti malam.”
“Hehehe. Kalau gitu Ray mandi dulu ya.”
Ray mengecup pipi Ryn lalu berlalu pergi ke kamarnya untuk bersiap. Ryn hanya menggelengkan kepalanya. Dia lalu melihat ke kakinya yang terdapat Hope disana.
Sebentar lagi Eve mungkin akan bangun. Lebih baik Hope segera diungsikan lagi ke paviliun sebelah.
Bunda Ryn menuntun Hope ke paviliun persis seperti menuntun anak kecil. Bedanya Hope tidak berdiri.
Setelah membujuk dan menempatkan Hope disana. Bunda Ryn kembali ke mansion dan menuju ke ruang makan. Sepertinya dia akan menikmati teh hangat lebih dulu sambil menunggu anak tampannya bersiap-siap.
Ray mengantarkan Ryn sampai di perusahaan ayahnya. dia tidak ikut masuk karena malas. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan tumpukan kertas-kertas yang menurutnya menyebalkan itu. Dia juga tidak ingin mengikuti rapat direksi yang hanya berisikan kumpulan penjilat.
Jika saja bukan karena ayahnya memintanya untuk menjadi penerus perusahaannya, mungkin dia lebih memilih untuk mengurus mafia ayahnya. Kehidupan underground lebih cocok untuknya daripada memakai setelan jas dan berpakaian formal.
Setelah mengantarkan Ryn, dia yang bosan memilih untuk menjalankan mobilnya tidak tentu arah. Dia tidak memiliki tujuan dan hanya menjalankan mobilnya kemanapun dia mau sambil melihat jalanan yang ramai.
Ini hari libur tentu saja banyak orang yang akan berjalan-jalan. Entah itu dengan keluarganya, dengan kekasihnya, dengan temannya, atau sekedar berjalan-jalan menikmati waktunya sendiri.
Ray tiba-tiba memberhentikan mobilnya disebuah tempat parkir. Tempat parkir itu mengarah langsung pada sungai yang belum lama ini direnovasi untuk dijadikan taman juga. Dia hanya diam didalam mobil dan melihati orang-orang berlalu lalang.
Bukan, dia bukannya iri dengan mereka. Dia sudah cukup bahagia dengan kehidupannya. Keluarganya juga tidak hanya terpaku pada pekerjaan dan masih sering meluangkan waktu untuk berkumpul keluarga. Tapi melihat orang berlalu lalang itu sesuatu terasa menyenangkan bagi Ray.
Ketika itu, dia melihat seseorang yang sangat familiar untuknya. Tubuhnya serasa bergerak sendiri untuk keluar dari mobil dan mendekati orang yang dia perhatikan.
Tanpa sadar dia sudah berada beberapa langkah saja darinya. Gadis itu sedang melihati sungai yang penuh dengan ikan-ikan. Dia bahkan melambaikan tangannya dan menyapa ikan itu lalu tertawa sendiri.
Melihat gadis itu tertawa, membuat Ray juga ikutan tertawa. Tadi pagi dia memikirkan gadis ini dan sekarang dia bertemu dengannya. Sepertinya semesta memang berada dipihaknya.
Semoga saja semesta juga mendukungnya untuk mendapatkan gadis itu. Kalau tidak...