Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 39: Nana Bertaruh



Mulut Cynthia sudah terbuka, siap untuk melontarkan lagi ucapannya tadi. Tapi tatapan menusuk dari Jerry dan sorot kebencian serta aura darinya benar-benar terasa tidak mengenakkan.


"Katakan sekali lagi dan aku tidak akan segan untuk membunuhmu disini sekarang juga."


Mereka dengan susah payah menelan ludah mereka. Takut tentu saja. Memangnya siapa yang tidak takut ketika di ancam seperti ini. Apalagi yang mengancam adalah Jerry, anak sulung keluarga Noordien.


Dibandingkan dengan Ray, justru Jerry yang sebenarnya lebih menakutkan. Dia jarang marah, cenderung pendiam. Ketika Ray memukuli orang yang menganggunya, dia juga hanya diam saja. Dia tidak ikut campur juga tidak menghentikan saudara kembarnya.


Dia juga yang paling sulit ditebak apa isi pikirannya. Selain itu, siapa yang berani mencari masalah dengan keluarga Noordien? Sekali dia mengucapkannya, maka pasti akan dia lakukan. Sekali mengusik dan menganggu mereka maka siap-siap untuk menerima akibatnya.


Kalau tidak kenapa banyak yang takut pada mereka. Para guru disini saja enggan untuk mengusik Noordien bersaudara itu.


Setelah mengatakan itu, Jerry segera meraih pinggang Cein dan sedikit mendorongnya untuk keluar dari sana. Dia membanting pintu ruangan dengan kasar seakan pintu itu menjadi pelampiasan dari kekesalannya.


Cein menoleh pada Jerry yang sekarang bersandar pada tembok dibelakangnya. Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dadanya dan melirik dengan tajam ke arah pintu. Mungkin rasanya pintu itu akan bolong sebentar lagi. 


"Sudah, tenang. Sabar ya." Cein mencoba mengusap lengan Jerry, berusaha untuk menenangkan amarah dari laki-laki didepannya ini. Sepertinya ini pertama kalinya dia melihat Jerry marah. Kata Eve juga Jerry sangat jarang marah. Justru dia kebanyakan memendam dan tidak menunjukkannya.


"Bagaimana aku bisa sabar kalau dia saja menghinamu seperti itu. Tidak tau malu. Apa dia tidak memiliki kaca dirumahnya? Dirinya sendiri penjilat malah menghina orang lain. Pantas saja Ray tidak mau berlama-lama didalam sampai tidak selesai memberitahukan perintah dari nenek. Berada disana lebih lama lagi maka tubuhku akan gatal-gatal juga mual. Huh!"


Cein memandang Jerry dengan sedikit menahan senyumnya. Apa Jerry ini tidak tau ya kalau dia itu terlihat menggemaskan ketika seperti ini. Mendengar Jerry mengeluarkan omelannya justru membuatnya terhibur. Selain karena ekspresi wajah Jerry yang imut, intonasi bicaranya juga tidak seperti biasanya. Lebih seperti anak kecil yang mengadu karena temannya menjahilinya. Benar-benar menggemaskan.


"Kenapa tersenyum? Aku ini sedang kesal, bukannya melucu. Kenapa kamu tersenyum?"


Cein tidak bisa menahannya lagi. Jerry sangat menggemaskan! Dia tidak tahan. Astaga apa yang harus dia lakukan? Dia tidak tau kalau Jerry yang sedang kesal justru terlihat menggemaskan dan imut. Aaaaaaa.


"Jerry, apa kamu pernah menyadari kalau kamu itu sangat menggemaskan?"


"Aku tidak!"


"Kamu iya. Utututuu, melihat mu seperti melihat Eve ketika dia sedang kesal karena diganggu oleh temannya."


Jerry memajukan bibirnya karena Cein menyamakannya dengan Eve. Hey! Dia ini lebih tua dari Eve, selain itu dia juga laki-laki. Bagaimana dia bisa menggemaskan bahkan disamakan dengan Eve.


"Sudah. Urusan perempuan tadi akan menjadi urusanku dan Nara. Enak saja dia mengataiku seperti itu. Dan kamu, jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu padanya ya!"


Cein ini benar-benar mirip dengan Nara ya. Tadi malam ketika mereka akan tidur Ray ada bercerita kalau Nara melarangnya untuk ikut dalam masalahnya dan perempuan gila tadi. Dan sekarang Cein juga. Ya bukan masalah sih. Karena dia juga akan terus menjaga Cein.


Kalau mereka berani melakukan sesuatu yang menurutnya diluar batas, maka bersiap saja untuk merasakan amukannya. Dia tidak akan menahan diri untuk menghabisi mereka semua. Ray justru mungkin akan senang ketika diajak melakukannya bersama. Atau mungkin dia harus mengajak Hope juga? Kasian dia sudah lama tidak ikut berburu.


"Ayo kita ke cafetaria. Eve mungkin sudah menunggu. Akan susah nanti kalau Eve mengambek karena dimenunggu terlalu lama." Kini berganti menjadi Cein yang menarik tangan Jerry untuk pergi. Beruntung Cein cukup kuat untuk menarik Jerry dan si tampan juga membiarkan begitu saja tangannya ditarik. Habisnya tangan Cein sangat lembut, dia suka.


Di sisi lain, Ray membawa Nara ke taman belakang Universitas. Sepanjang jalan ada banyak orang yang melihatinya karena menggendong Nara. Tapi apa dia peduli? Tidak! Baginya Nara yang terpenting.


Ray mendudukkan Nara dengan hati-hati. Setelahnya dia ikut duduk disebelahnya dan mengambil kotak obat dari tas Nara. Dengan lembut dan pelan, Ray mengobati luka tangan Nara. Dia berusaha keras agar tidak semakin menyakiti Nara.


Nara menoleh memperhatikan Ray yang mengobati tangannya dalam diam. Melihat Ray benar-benar membuatnya teringat dengan ibu dan ayahnya. Ketika kecil dia sering terluka karena terjatuh. Ayahnya selalu mengobati lukanya dan ibunya mengomelinya karena tidak berhati-hati.


Ingatan itu adalah ingatan terakhir antaranya dan kedua orangtuanya. Dan Nara selalu mengusahakan agar tidak pernah melupakannya.


Ray...kenapa dia memperlakukannya seperti ini? Kenapa harus seperti ini? Dia tidak merasa melakukan perbuatan baik sampai-sampai harus menerima perlakuan ini? Ini bukan pertama kalinya dia merasakan perasaan ini.


Setiap kali Ray memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian, Nara akan tiba-tiba teringat pada mendiang orangtuanya. Bahkan ketika orang lain menyinggung mengenai kelurga pun, Nara tidak akan seperti ini.


Hatinya merasa sangat nyaman namun ada perasaan sedih yang selalu ikut bersamanya ketika berhubungan dengan orangtuanya. Walaupun dia selalu menekan perasaannya karena dia tidak ingin terlihat menyedihkan.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Ray kembali melihat pada Nara. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Nara menangis. Dia segera menangkup wajah Nara dan menatapnya dengan khawatir.


Nara menggelengkan kepalanya ribut. Air matanya tidak bisa berhenti padahal dia sudah berusaha untuk berhenti menangis.


"Ada apa? Jangan menangis. Aku minta maaf ya." Nara kembali menggelengkan kepalanya lagi. Tidak, ini bukan salah Ray. Kenapa dia harus meminta maaf? Ini salahnya karena tidak bisa menahan perasaannya sendiri sampai-sampai seperti ini dihadapan Ray.


Ray kelabakan karena si manis masih terus menangis. Dengan ragu-ragu dia menarik Nara dalam pelukannya. Membiarkan Nara menangis di dadanya. Tangan kanannya sibuk mengusap rambut si manis. Sesekali dia mengecup puncak kepala Nara.


Dia sangat tidak suka kesayangannya menangis seperti ini. Apa yang menyebabkan Nara-nya sampai menangis? Apa karena dia? Atau karena orang-orang tadi? Atau karena hal lain? Astaga dia tidak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaannya sendiri.


Setelah merasa Nara mulai tenang, Ray melonggarkan pelukan mereka. Dia menangkup wajah manis Nara yang dibasahi oleh air matanya. Omg! Ray tidak suka Nara menangis tapi kenapa sekarang Nara malah terlihat semakin menggemaskan? Mata dan hidung yang merah, dan bibirnya yang melengkung ke bawah.


Sebisa mungkin Ray menahan dirinya agar tidak menggigit pipi Nara dan mengecupi setiap inci wajah Nara yang selama ini telah menjadi objek favoritnya.


Si tampan mengusap sisa air mata di wajah Nara dengan ibu jarinya. Dia lalu mengecup kedua mata Nara yang masih sedikit berair.


"Jangan seperti ini. Nanti aku akan menangis lagi."


Ray menatap Nara dengan pandangan bingung juga bertanya. Apa maksudnya? Apakah memang ada hubungannya dengannya? Apa dia telah melakukan sesuatu yang tidak Nara sukai? Apa setelah ini Nara akan membencinya?


"Jangan bersikap lembut lagi padaku. Kalau tidak aku akan mengingat orangtuaku dan berakhir menangis seperti tadi."


Hah? Apa?


"Kamu menangis karena aku mengingatkanmu dengan orangtuamu?"


Nara menganggukkan kepalanya.


"Jarang ada yang berbuat selembut itu padaku selain Cein, Ayah Ken, dan mendiang kedua orangtuaku. Jadi saat kamu seperti tadi padaku aku jadi ingat mereka. Kalau kamu terus berlaku seperti itu padaku, maka bisa-bisa aku akan menjadi serakah dan egois. Aku akan terus mau diperlakukan seperti itu dan di manja."


Si manis menundukkan kepalanya. Sejujurnya dia merasa malu mengungkapkannya pada Ray seperti ini. Tapi dia harus melakukannya. Jika dia terus diperlakukan seperti itu. Dia akan merasa ingin terus diperlakukan dengan lembut oleh Ray, ingin terus dibela olehnya, dan ingin dimanja.


Ray menatap Nara lekat. Perlahan dia mendongakkan kepala Nara. Mata mereka saling bertubrukan. Ray mengusap pipi Nara dengan lembut.


"Aku tidak keberatan. Kamu boleh serakah dan egois mengenai ku. Nara...aku ingin menjagamu, aku ingin melindungimu, aku ingin membelamu, aku juga ingin terus berada di samping mu, berjalan beriringan denganmu. Apa kamu bisa mengizinkanku untuk terus bersamamu? Aku ingin menjadi tempat mu bercerita dan bersandar juga ingin menjadi tempat dimana kamu bisa bermanja. Aku ingin melakukannya, bisa kamu mengizinkanku?"


Nara menatap Ray dengan pandangan tidak percaya. Pikirannya seketika kosong. Apa yang baru saja di katakan oleh Ray? Dia tidak salah dengar kan? Ini bukan jawaban yang dipikirkan oleh Nara.


Bagaimana ini? Dia...dia tidak yakin. Apa...apa dia bisa memiliki hubungan dengan orang lain? Apa...dia bisa mempercayai Ray dan bisa membiarkannya masuk dalam kehidupannya yang kelam?


Nara tiba-tiba teringat dengan ucapan Cein selama ini. Mencobanya. Mencoba untuk mempercayai Ray dan membiarkannya mengetahui mengenai masa lalunya? Ray bahkan belum mengetahui mengenai identitasnya. Apa bisa?


Apa...apa Ray bisa menariknya keluar dari lubang iblis itu dan melepaskan rantai yang selama ini mengikat tubuhnya? Bisakah Ray melalukannya? Ah bukan, bisakah dia melakukannya?


Ray menangkap sebuah keraguan dalam mata Nara. Dia tidak tau apa yang dipikirkan oleh Nara juga apa yang di sembunyikannya darinya. Tapi apapun itu, Ray yakin dia bisa mengatasi setiap keraguan yang dimiliki Nara.


"Nara, apapun itu yang menjadi keraguanmu. Kamu bisa mempercayakannya padaku."


Ada keyakinan terdengar dari Ray. Nara menarik napas dan membuangnya. Dia...akan membuat taruhan. Dia akan mencobanya. Dia akan mencoba untuk membiarkan Ray mengetahui tentang dirinya, membiarkannya mengajaknya keluar dari balik pintu besar yang selama ini membuatnya terkurung.


Nara menganggukkan kepalanya pelan. Dia akan mempercayakannya pada Ray. Sebuah kurva terbentuk di wajah Ray. Dia tidak bisa menahan senyumnya. Nara mengizinkannya.


"Boleh aku memelukmu?"


Tentu saja Ray harus bertanya pada Nara. Tadi saja tidak tidak yakin ingin memeluk Nara karena takut membuat kesayangannya risih. Tapi dia tidak tau cara lain untuk menenangkan Nara. Jadi dia melakukannya.


Setelah mendapat anggukan dari Nara, Ray baru menarik kekasihnya ke dalam pelukannya. Jujur saja pelukan Ray itu nyaman dan hangat. Nara menyukainya. Tapi jangan bilang-bilang pada Ray ya. Biarkan Nara saja yang menyimpannya sendiri.