
Nara kembali melanjutkan ceritanya. Karena terlanjur menceritakan awalnya, maka dia juga harus menceritakan apalagi yang terjadi padanya sampai dia terluka seperti ini. Sejujurnya, seluruh ceritanya melibatkan Cynthia. Yah mau bagaimana lagi. Dia bukannya mau mendorong Ray agar membenci Cynthia, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikannya. Ray pasti akan bertanya terus padanya.
"Setelah pembicaraan itu, tiba-tiba ada yang melemparkan bom molotov dari jendela. Aku melihatnya. Bom itu dilempar dari luar gedung. Bom itu mengenai tong yang berisi bensin. Karena itu muncul ledakan yang besar tadi. Saat mendengar suaramu tadi, aku langsung berusaha untuk keluar. Aku menendang pintu dan berhasil membuat jalan keluar. Tapi saat mau keluar...."
Ray mengerutkan keningnya ketika Nara berhenti berbicara. Nara belum membicarakan mengenai lukanya, apa mungkin Cynthia yang menyebabkannya?
"Ada apa, Nara? Lanjutkan."
Sepertinya umpan Nara dimakan dengan tepat oleh Ray. Laki-laki tampan disampingnya ini pasti sudah menduga-duga apa yang terjadi selanjutnya.
"Itu...saat mau keluar Cynthia mendorongku dan tanganku tidak sengaja terkena kayu yang terbakar. Karena itu tanganku terluka."
Nara bisa melihat kemarahan diwajah Ray. Aura disekitarnya kini berubah dan terasa menakutkan, bahkan berhasil membuat Nara yang biasanya tidak takut kini merasa merinding. Ini pertama kalinya Nara melihat Ray begitu menyeramkan.
Nara juga bisa melihat hawa membunuh muncul dari Ray. Apa mungkin ini aura asli dari Ray? Auranya membuat sekitarnya menjadi dingin dan menakutkan. Jika orang yang berada di sekitarnya bukan orang yang pemberani seperti Nara maka dia pasti sudah gemetar ketakutan dan merasakan tekanan dari aura Ray.
Apa karena aura inilah orang-orang takut pada Ray? Tapi kenapa Nara malah merasa Ray menjadi semakin tampan dan seksi ketika dia seperti ini? Seakan dia menunjukkan kalau dia yang berkuasa disini dan dia yang terkuat. Tidak ada seorangpun yang bisa mengusik ataupun menganggunya.
Namun, Nara menyukainya. Dia menyukai sisi dominan Ray yang sangat kental yang seolah bisa membuat siapapun itu bertekuk lutut dihadapannya.
"Ray, tapi kamu jangan melakukan apapun ya padanya."
Ray menatap Nara dengan pandangan bertanya tapi juga tidak suka. Apa Nara berencana untuk membela perempuan aneh itu? Apa saat ini Nara sedang melarangnya untuk melindunginya?
"Aku tidak membelanya! Tapi aku ingin membalas dia sendiri. Biar aku yang membalasnya. Kamu hanya perlu melihat saja atau membantu kalau aku yang meminta. Bagaimana?"
"Kamu yakin?"
Nara menganggukkan kepalanya dengan yakin. Tangannya yang tidak terluka terkepal di depan dadanya, menandakan kalau dia juga kesal dengan Cynthia.
"Yakin! Dia seenaknya memerintahku. Dia juga membuatku terluka. Beruntung bukan wajahku yang terluka. Awas saja dia!"
Yah, benar juga. Ray hampir lupa kalau Nara bukan perempuan baik hati yang akan membela orang yang sudah berbuat jahat padanya. Dia perempuan kuat dan berani yang akan membalas orang-orang yang sudah mengusiknya. Termasuk perempuan aneh itu.
"Ingat! Jangan menghilangkannya lebih dulu. Aku yang akan membuatnya mengerti bagaimana rasanya berurusan dengan Nara." Nara menunjuk Ray dengan telunjuknya.
Hei, katakan siapa orang selain Nara yang berani menunjuk Ray seperti ini? Bahkan ditanggapi oleh kekehan dari Ray.
Bagi Ray, Nara terlihat menggemaskan ketika seperti ini. Bagaimana mungkin ada orang yang semenggemaskan ini? Ada, Nara.
"Iya aku mengerti. Katakan kapanpun kamu butuh bantuanku ya. Aku akan selalu membantumu. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku ada disini, kamu bisa menyuruhku untuk menggantikanmu untuk bermain dengannya."
Entah kenapa senang mendengar Ray mengatakan kata bermain sebagai pengganti membalas perbuatan. Rasanya seperti memiliki pasangan yang mengerti bagaimana caramu bermain dengan musuhmu.
"Ray, kamu tidak memberitahu Eve tentang aku kan?"
Ray menggelengkan kepalanya. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil Ray. Nara memaksa ingin pulang setelah merasa keadaannya baik-baik saja. Ray yang tidak bisa menolak permintaan Nara hanya bisa mengangguk dan meng-iyakan nya.
Memangnya siapa yang bisa menolak ketika Nara sudah menunjukkan wajah imut dan memelasnya. Ray saja rasanya akan melompat dari jendela ketika melihat wajah Nara seperti itu. Okay, dia over reaction.
Tadi Ray hanya merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dia juga merasa sangat gemas dengan Nara dan ingin mengurungnya di dalam kamar untuk dirinya sendiri. Apakah jatuh cinta memang seperti ini? Rasanya seperti kehilangan kewarasannya sendiri.
Hari ini Ray sudah hampir kehilangan kewarasannya dua kali. Yang pertama ketika mengetahui Nara berada di dalam gedung dan ketika Nara pingsan. Yang kedua adalah ketika Nara menjadi sangat imut dan menggemaskan. Jika tidak ingat dengan status mereka dan Nara, mungkin dia akan menerkam Nara disana.
Oh ya, omong-omong mengenai Evelyn, Ray tadi sudah memberitahu pada Jerry untuk memberitahukan masalah Nara yang terluka pada Cein saja. Evelyn mungkin akan menangis lagi seperti hari itu jika tau Nara masuk rumah sakit karena insiden kebakaran itu.
Jerry mengatakan dia akan membuat alasan pada Evelyn agar dia tidak khawatir dan bertanya-tanya mengenai Nara.
Ray mengantarkan Nara sampai di apartemennya. Setelah mengantar Nara masuk kedalam kamar apartemennya, Ray baru pulang ke mansion keluarga Noordien.
Di mansion keluarga Noordien, para anggota keluarga satu persatu mulai berkumpul di ruang tengah. Bunda Ryn melihati mereka semua satu persatu seperti menghitung jumlah anggota keluarga mereka. Semua anak-anaknya berada disana, kecuali Ray.
Ada apa ini? Tidak biasanya Ray pergi tidak memberitahu terlebih dahulu. Biasanya anak itu akan langsung pulang setelah pulang sekolah. Jika dia memiliki urusan pun dia akan memberitahu padanya atau pada Jerry.
"Jerry, dimana Ray? Kenapa tidak pulang bersama mu?"
"Dia sedang ada urusan tadi. Tadi aku meneleponnya dan katanya dia sudah dalam perjalanan pulang."
Ryn mengerutkan keningnya lalu menatap pada suaminya dengan pandangan bertanya. Jayden yang merasa tatapan istrinya itu memiliki arti lain dibaliknya hanya menggelengkan kepalanya. Dia bukannya tidak mengerti kenapa istrinya langsung menatapnya.
Dia tidak ada memberikan tugas apapun pada Ray, jadi bukan salahnya kan kalau Ray pulang terlambat. Lagipula dia laki-laki sudah seharusnya dia pergi keluar bermain dengan teman-temannya atau kekasihnya daripada mendekam didalam rumah.
"Darimana Ray? Kenapa baru pulang?"
"Aaa...tadi ada sesuatu yang harus aku urus. Makanya aku terlambat pulang."
Ryn menangkap sesuatu yang mencurigakan dari Ray. Setelahnya dia juga melihat Jerry menoel Ray seakan mengkodenya. Hmm...ada yang aneh disini. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu.
"Kalau begitu aku akan mandi dulu." Ray segera berlari pergi ke kamarnya. Bodohnya dia. Bisa-bisanya dia berbohong didepan bundanya. Kenapa pula dia harus ragu tadi. Bunda Ryn pasti tau kalau dia bohong.
Tanpa membuang waktu, Ray segera membersihkan diri. Baru saja dia selesai memakai pakaian santainya, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ray, ini bunda. Boleh bunda masuk?"
"Boleh Bunda."
Ryn masuk ke kamarnya Ray dan menutup lagi pintunya. Dia menghampiri anak tampannya yang terlihat gugup. Padahal dia belum melakukan apapun.
"Ada apa bunda? Aku baru saja akan turun."
"Ray, anak tampan bunda. Masih ingat kan apa yang selama ini bunda ajarkan pada Ray dan anak-anak bunda yang lain?"
Ray yang ditatap oleh Ryn hanya bisa menundukkan kepalanya. Bunda Ryn memang tidak membentaknya atau memarahinya memintanya untuk jujur. Tapi justru dengan dia yang berkata lembut seperti ini membuat Ray malah semakin merasa bersalah karena sudah membohongi bundanya.
"Ingat."
"Lalu kenapa tidak jujur pada bunda? Apa bunda orang luar bagi Ray? Apa bunda bukan keluarga Ray?"
Ray menggelengkan kepalanya ribut. Kepalanya masih menunduk dan tangannya saling meremas. Jari-jari kakinya bergerak-gerak, menunjukkan rasa gugup dan cemas yang dirasakan Ray.
"Stop putting your head down. You know my rule. It's all love in this house."
Ray mendongakkan kepalanya dengan gerakan kaku. Matanya tidak berani menatap pada Ryn. Entah sadar atau tidak, bibir Ray melengkung ke bawah.
"Katakan. Apa yang anak bunda lakukan sampai tidak memberi kabar? Bunda bukan melarang kamu pergi bermain di luar. Tapi bunda tidak suka anak tampan bunda berbohong pada bunda."
"Aku menemani Nara di rumah sakit."
"Ada apa dengan Nara? Apa dia sakit? Kenapa tidak memberitahu bunda?"
"Tadi di sekolah terjadi kebakaran. Gedung belakang terbakar dan Nara ada didalam. Saat berhasil keluar Nara pingsan, jadi aku membawanya ke rumah sakit untuk mengobati luka bakar di tangannya juga. Maaf tidak jujur pada bunda. Aku dan Jerry tidak memberitahu mengenai ini pada Eve karena takut dia menangis lagi. Aku pikir nanti aku akan mendatangi bunda dan menceritakannya saat tidak ada Eve. Maaf, Ray sudah berbohong."
Ryn mengehela napasnya. Dia belum mendengar berita apapun mengenai kejadian kebakaran itu. Kalau seperti ini alasannya, Ryn juga tidak bisa memarahi Ray.
Putranya melakukan hal yang menurutnya benar. Dia memiliki pemikiran sendiri mengenai bagaimana cara menyelesaikan masalah. Selain itu alasannya juga membawa Eve didalamnya.
Dia tau bagaimana Ray menyayangi Eve dan dia juga tau bagaimana Eve dekat dengan Nara. Eve pasti akan menangis dan memaksa ingin pergi ke rumah sakit menemui Nara saat itu juga.
Ryn berjalan mendekati Ray dan memeluk tubuh besar Ray. Rasanya dulu Ray hanya seorang anak lucu dan menggemaskan yang bahkan tingginya tidak sampai pinggangnya, kenapa sekarang dia menjadi sangat tinggi dan besar?
Ray segera membalas pelukan bundanya. Wajahnya masih cemberut dengan bibir melengkung ke bawah.
"Untuk kali ini bunda maafkan. Tapi bunda tidak mau Ray berbohong lagi."
"Iya, maaf bunda."
Ryn melonggarkan pelukan mereka dan mengusap rambut Ray yang sedikit basah.
"Bagaimana dengan Nara? Apa dia masih di rumah sakit?"
Ray menggelengkan kepalanya. "Keadaannya sudah baik-baik saja, hanya tangannya yang terluka. Tadi aku mengantarnya pulang ke apartementnya karena dia memaksa pulang."
"Kenapa tidak menginap saja di rumah sakit? Mau bunda panggilkan dokter atau perawat ke apartement Nara?"
"Tadi aku sudah menawarkan untuk memanggilkan perawat, tapi Nara menolak. Katanya dia tidak perlu perawat. Katanya dia bisa mengobati lukanya sendiri atau meminta bantuan Cein."
Ryn hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo turun. Yang lain sudah menunggu kita. Bunda tidak akan menceritakan mengenai Nara pada Eve, jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Iya bunda."