Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 37: Kedatangan orang tidak terduga



Nara memajukan tubuhnya, menatap Cynthia dengan lekat terutama pada perban di tangan perempuan itu. Setahunya Cynthia bahkan tidak terluka kemarin karena dia yang memindahkannya sebelum dia tertimpa kayu. Lalu apa yang di perban olehnya?


Dia kembali melihat pada Cynthia yang sudah tau kemana arah tatapan Nara tadi. Sekarang perempuan itu menatap Nara dengan gugup. Melihat Nara yang tersenyum seperti itu kenapa malah membuatnya terlihat menakutkan?


"Cynthia, tadi kau bilang aku membuatmu terluka kan? Kalau begitu, apa kau berani membiarkan semua orang disini melihat lukamu?"


"K-kau sudah gila ya? Untuk apa aku membuka luka ku? Sakit tau!" Cynthia menjawab dengan terbata. Dia melihat Nara seakan mengatakan pada Nara untuk tidak melakukan hal-hal diluar nalar.


"Apa maksudmu meminta anakku untuk membuka lukanya? Apa kau sudah tidak waras? Kau sudah membuatnya terluka dan sekarang malah memintanya untuk menunjukkannya."


"Loh, memangnya kenapa? Kalau dia memang terluka maka dia pasti berani membuka lukanya. Kecuali kalau dia memang berbohong mengenai lukanya."


Nara menebarkan umpan dengan tepat. Entah kenapa dia yakin Cynthia memperban tangannya sendiri tanpa diketahui oleh orangtuanya. Karena jelas-jelas dia memang tidak terluka. Orangtuanya hanya tau kalau anaknya terluka dari perban itu. 


"Tentu saja kau tidak berani. Karena kau sama sekali tidak terluka. Lihat ini." Nara dengan tenang membuka ikatan perbannya dan melepaskan lilitan perban itu. Ketika sudah terlepas, Nara menjukkan luka di telapak tangannya pada mereka sambil tersenyum.


Obat yang diberikan oleh Bunda Ryn memang sangat ampuh. Padahal baru kemarin tangannya terluka dan melepuh, tapi sekarang lukanya sudah lebih baik walaupun masih harus terus diobati.


Semalam ada seseorang yang datang ke apartement. Dia adalah bawahan keluarga Noordien dan dia diminta oleh Bunda Ryn untuk memberikan obat salep luka bakar untuk Nara. Dia juga memberikan satu kotak obat-obatan lainnya juga vitamin untuk Nara dan Cein. Mungkin mereka akan mengunjungi kediaman Keluarga Noordien untuk mengucapkan terimakasih lagi secara langsung. Atau membawakan sesuatu juga untuknya? Akan Cein dan Nara pikirkan nanti.


"Ibu mertuaku memang sangat baik. Dia memberikan obat untukku setelah mendengar dari Ray kalau aku terluka." Nara memberikan senyuman mengejek pada Cynthia yang sepertinya kesal ketika Nara menyebut ibu Ray dengan sebutan ibu mertua. Lihatlah wajahnya sebentar lagi akan berubah menjadi monster.


"Kau! Siapa tau seenaknya menyebutnya sebagai ibu mertua? Tidak tau diri! Jangan menganggap dirimu tinggi hanya karena bisa dekat dengan Ray. Dia itu milikku! Kau pengganggu lebih baik pergi dan jauhi dia! Atau kau akan tau akibatnya!!"


Lagi-lagi Nara hanya tertawa. Cynthia memerintahnya lagi didepan orangtua dan kepala sekolah. Dia ini hidupnya memang tidak pernah susah ya. Yang dia lakukan hanya memerintah dan menyuruh. Benar-benar membuat Nara sangat...jengkel.


"Ray milikmu? Lalu saat kemarin kau keluar lebih dulu dari gedung, kenapa dia malah masuk untuk menyelamatkanku? Kenapa dia tidak segera membawamu ke rumah sakit padahal kau kan terluka. Kenapa malah aku yang dibawah ke rumah sakit dan dirawat oleh Ray bahkan dia juga mengantarku pulang. Cynthia, jangan bermimpi terlalu tinggi. Ray sama sekali tidak mengenalmu apalagi ingin kenal denganmu."


Memberikan musuhnya rasa kesal tiada akhir memang menyenangkan. Sudah tau dia sudah kalah darinya, tapi masih saja mencoba segala cara untuk mengalahkannya. Cynthia ini sama sekali bukan apa-apa bagi Nara. Dia tidak lebih dari mainan untuk mengisi kebosanannya.


Cynthia beranjak dari tempat dia duduk dan menghampiri Nara. Tangannya terkepal dengan kuat disamping tubuhnya. Dia menatap Nara dengan marah juga benci. Seharusnya dia yang berada di posisi Nara. Kedatangan Nara kemari hanyalah perusak! Jika dia tidak ada, Ray pasti akan menjadi miliknya.


Tepat ketika Cynthia melayangkan tamparannya di wajah Nara, pintu ruangan terbanting dengan keras. Mereka semua sontak menoleh dan menemukan Ray disana bersama seseorang dalam genggamannya.


Ray menatap Nara dan Cynthia bergantian. Terutama pada wajah Nara yang terdapat bercak kemerahan. Hanya dilihat dari posisinya saja dia sudah bisa menebak apa yang telah terjadi pada Nara-nya. Tikus tidak tau diri ini sepertinya benar-benar ingin mati ya.


Cynthia terkejut dengan kedatangan tidak terduga dari Ray. Dia menoleh lagi pada Nara menunjukkan senyuman mengejek padanya. Sial, apa Nara sudah menduga kalau Ray akan datang? Apa dia menghubungi Ray tadi? Apa dia sengaja memprovokasinya dan membuatnya terlihat buruk didepan Ray? Benar-benar bermuka dua!!


Sejujurnya Nara juga tidak menduga Ray akan datang. Mereka tidak bertemu sedari pagi dan dia juga tidak menghubunginya. Dia hanya merasa ada seseorang dibalik pintu. Dan untuk provokasinya pada Cynthia, dia memang sengaja ingin memanas-manasinya.


Tapi darimana Ray tau kalau dia dipanggil kepala sekolah? Apa Cein yang memberitahukannya? Entahlah. Lagipula keadaannnya berbalik jadi menguntungkan untuknya.


"T-tuan muda Ray. Ada apa datang kemari?" Kepala sekolah itu berkata dengan gugup. Kenapa Ray datang kemari? Apa memang benar beritanya kalau Nara sedang dekat dengan Ray?


Atau dia datang untuk membela Cynthia? Yang mana satu yang harus dia bela sekarang? Bahkan kedudukan milik keluarga Cynthia pun bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Ray. Habislah sudah jika dia salah membela orang.


Ray berjalan mendekati mereka dan tiba-tiba melemparkan orang yang dibawanya ke meja yang berada di tengah-tengah antara Nara dan orangtua Cynthia.


Benturan antara meja dan tubuh orang itu terdengar sangat keras. Ray menatap tajam pada mereka yang berada disana satu persatu. Matanya lalu tertuju pada Nara yang juga menatapnya sambil tersenyum.


Pandangannya beralih pada tangan Nara dan perban yang berada tidak jauh dari kaki gadis manis itu. Dia lalu menatap tajam pada Cynthia yang sudah menelan ludah gugup.


"R-ray. K-kenapa kau kemari?"


Ray tidak menjawab tapi melihat pada orang yang dilemparnya tadi. Dia membalikkan tubuh orang itu dan terlihatlah siapa yang sudah dibawa oleh Ray. Bahkan Cynthia sangat terkejut melihat siapa dia.


Dia adalah Aufa, laki-laki culun yang kemarin dia minta untuk membawa Nara untuk menemuinya. Apa yang terjadi padanya? Apa Ray yang sudah memukulinya habis-habisan sampai seperti ini? Matilah dia kalau dia sampai mengatakan yang sebenarnya. Mereka akan tau kalau dia memutar balikkan fakta mengenai kejadian kemarin.


"Hoi! Cepat katakan apa yang sudah kau ceritakan padaku tadi! Kalau ada yang sengaja kau tutupi, maka aku tidak akan segan membunuhmu sekarang juga." Aufa meringis dan hanya menganggukkan kepalanya ribut. Memangnya siapa yang berani mencari masalah dengan Ray jika sudah seperti ini.


"K-kemarin a-aku d-di mi-nta o-leh C-cynthia u-untuk me-membawa Na-ra ke ge-gedung be-belakang. Se-setelahnya ak-aku pe-pergi. Ta-tapi te-terdengar su-ara le-dakan da-dari sa-sana. Sa-saat sam-pai ge-gedung su-sudah ter-terbakar d-dan a-aku meng-mengintip le-lewat lu-lubang d-di tem-bok ka-kalau Na-nara mem-membantu Cyn-cynthia a-agar ti-tidak ter-terluka. Ta-tapi di-dia men-mendorong Na-ra ka-karena i-itu Na-nara ter-terluka."


Cynthia sudah pucat ditempatnya. Habislah sudah. Ray dan orangtuanya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hancur semua. Ini semua karena Nara dan laki-laki culun ini! Bisa-bisanya dia tertangkap oleh Ray. Hisss


"R-ray. Aku...aku-"


"Berhenti bersikap seakan kita dekat. Aku tidak mengenalmu!" Ray berjalan mendekat pada Nara dan berlutut didepannya.


Dia menangkup wajah Nara dan meneliti setiap inci wajah cantik Nara. Hanya ada bercak kemerahan di bagian pipi yang benar-benar menarik perhatian Ray. Warnanya sangat kontras dengan wajah putih Nara.


"Mereka tidak melukaimu lebih dari ini kan? Katakan apa yang sudah mereka lakukan padamu." Ray berkata dengan lembut, dia bahkan mengusap pipi Nara yang tadi di tampar oleh Cynthia.


Nara sampai terdiam karena perlakuan Ray. Dia tidak pernah diperlakuan selembut ini selain oleh Cein dan Ayah Ken. Melihat Ray seperti ini malah mengingatkannya akan kerinduannya pada kedua orangtuanya yang sudah tiada. Apa Ayahnya juga akan bersikap seperti ini jika masih hidup? Dibela dan diperlakukan seperti ini oleh Ray rasanya Nara jadi ingin meluapkan semua yang tersimpan dalam hatinya.


Rasanya dia ingin sekali meluapkan emosinya dan tangisannya didepan Ray. Entah mengapa dia bisa merasa yakin kalau Ray tidak akan membiarkannya menderita sendiri dan berjuang sendirian seperti saat ini.