
Sepanjang jalan menuju ke kelas, Nara dan Cein hanya mendengarkan celotehan dari Evelyn yang sangat semangat kembali ke keluarganya. Tentu saja mereka berdua dengan senang hati mendengarnya. Memangnya siapa yang bisa menolak Evelyn?
Mereka terus diperhatikan oleh orang-orang sampai mereka masuk ke dalam kelas. Bahkan di dalam kelas pun mereka tetap menjadi pusat perhatian semua orang terutama Nara, Cein, dan Evelyn.
Jangan salah, Evelyn memang lebih muda dari pada Nara, Cein, dan kedua kakaknya, tapi dia bisa masuk ke kelas yang sama dengan mereka. Selain karena otak cerdasnya, tentu saja karena koneksi dari sang ayah dan bunda tercintanya.
Memangnya siapa yang bisa membantah perintah dari keluarga Noordien? Sang kakek saja sampai sekarang masih memiliki kekuasaan walaupun memang tempat singgasananya saat ini sudah di duduki oleh Jayden. Yang nantinya akan diturunkan lagi pada Ray dan Jerry.
Saat berada di kelas, Ray dan Jerry memilih untuk duduk terpisah dari ketiga gadis yang sedari tadi terus diperhatikan oleh mereka. Mereka tidak melepaskan pandangan mereka dari ketiga gadis itu terutama Evelyn.
Disisi lain ketika Nara, Cein, dan Eve sedang berbincang atau lebih tepatnya mereka berdua yang mendengarkan Eve berbicara. Tiba-tiba ada dua perempuan yang menghampiri mereka dan mengajak mereka berkenalan.
Ah tidak, awalnya mereka memang mengajak untuk berkenalan dan tentu saja di tanggapi dengan baik oleh mereka bertiga. Tapi untuk seterusnya ketika mereka mengajak mereka untuk berbincang. Hanya Cein dan Eve yang banyak menanggapi mereka. Berbeda dengan Eve dan Cein yang memiliki kepribadian yang ramah dan tentu saja terbuka dengan semua orang. Nara hanya berada di samping, cenderung mengamati dan memperhatikan mereka dengan tajam.
Dan sepertinya mereka juga menyadari kalau Nara tidak menerima mereka dengan baik, karena itu mereka beberapa kali mencoba untuk mengajak Nara berbicara walaupun hanya dijawab beberapa kata saja oleh si empu.
Dari kejauhan, Ray dan Jerry sesekali melirik pada mereka bertiga. Jerry diam-diam meminta bawahannya untuk mencaritahu mengenai latar belakang dari kedua gadis yang mencoba mendekati Nara, Cein, dan Eve itu.
Ray yang memperhatikan, entah mengapa pandangannya malah berakhir terkunci pada Nara yang tampak memperhatikan kedua gadis baru itu dengan tajam seakan menelisik mereka sampai kedalam-dalamnya.
Belum lagi wajah datar dan bosannya yang melekat sejak mereka masuk kekelas. Beberapa kali laki-laki itu bisa menangkap Nara yang mencoba untuk tidak terlihat bosan saat Eve berbicara agar tidak membuat sang adik salah paham.
Dia sendiri bisa mengetahui apa yang membuat Nara bosan. Dia tadi mendengar apa yang Cein bisikkan pada Nara untuk tidak membolos. Seperti gadis itu bosan dengan aktivitas monoton di sini.
“Nara itu memang kayak begitu ya sifatnya, agak tertutup.” Tanya gadis berambut pirang bernama Aliana.
“Iya, Kak Nara memang begitu. Tapi Kak Nara orangnya baik kok, Cuma belum terbiasa aja.” Jawab Evelyn. Sedangkan si empu yang dibicarakan bukannya tidak mendengar, dia hanya pura-pura tidak mendengar.
“Evelyn sudah tahu letak tempat-tempat disini belum? Kalau belum, nanti kita ajak muter-muter, gimana? Mau ngak?” perempuan lainnya bernama Tery yang kini bertanya pada Evelyn.
Mata Evelyn berbinar dan dia menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum dengan cerah, bahkan orang-orang disekitarnya pun bisa dibuat tertegun oleh kecantikannya.
“Mau! Tapi sama Kak Cein dan Kak Nara juga ya.”
“Pasti dong.”
Baik Cein maupun Nara tidak akan membiarkan Evelyn kemanapun tanpa pengawasan dari mereka. Apalagi di lingkungan yang baru ini. Selain itu yang membuat mereka berdua mengawasi Evelyn secara protektif adalah karena Evelyn itu sama sekali tidak pernah menaruh curiga sedikit pun pada siapapun. Seharusnya paling tidak dia
Karena itu, Nara seringkali menasihati Evelyn agar tidak mudah percaya begitu saja kepada orang yang baru dikenalnya. Tapi beruntungnya karena seringnya Evelyn bersama Nara dan Cein, membuat si bungsu akan selalu mengajak kedua kakak perempuannya itu untuk pergi bersamanya.
Dosen pengajar yang akan mengajar di kelas mereka pun akhirnya masuk. Diantara banyaknya orang disana, ada dua orang yang setidaknya bisa bernapas lega. Kedatangan dua orang tidak diundang memang sangat menguras energi dan tenaga mereka.
Saat ini Nara, Cein, dan Eve sudah duduk santai di cafetaria bersama dengan Aliana dan Tery yang tadi memaksa untuk mengajak mereka berkeliling sekolah dan berakhir di cafetaria.
Ketika mereka sedang menikmati makanan mereka, suara berisik mulai bermunculan dari segala penjuru cafetaria. Sontak Cein mengerutkan kening karena bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi.
“Itu kenapa ya? Kok pada berisik gitu?” tanya Evelyn mewakili Cein. Aliana ikut melihat pada focus utama orang-orang dikantin.
“Oh, itu prince.”
“Prince? Siapa?”
“Kamu tahu kan kalau di sekolah itu pasti ada aja anak-anak famous atau yang gantengnya kelewat batas. Disini juga aja dan yang paling terkenal itu mereka, Prince.” Jelas Tery pada mereka.
“Yang wajahnya datar dan tatapan mata tajam yang bisa mengintimidasi siapapun yang melihatnya itu Ray. yang disebelahnya yang wajahnya sedikit lebih ramah daripada Ray itu Jerry, kakak kembar Ray. sedangkan laki-laki berwajah dingin itu yang berada di sebelah Jerry adalah Hansel.”
“Mereka bertiga itu agak kejam orangnya. Jadi mendingan kalian hati-hati dan jangan dekat-dekat sama mereka deh.”
“Kejam gimana?” tanya Nara. Pertanyaan Nara itu membuat Aliana dan Tery bingung dan terdiam. Sepertinya ini pertama kali mereka mendengar suara Nara atau mendengar Nara berbicara. Hampir saja mereka berpikir kalau Nara itu bisu karena sama sekali tidak berbicara.
“Kok kalian diam? Nara nanya itu.” Cein menjentikkan jarinya didepan wajah Aliana dan Tery sehingga membuat mereka berdua terdasar kalau ternyata mereka melamun sejak tadi.
“O-oh itu. mereka dibilang begitu bukan Cuma asal sebut. Mereka memang kejam. Perangai mereka itu bikin orang takut apalagi Ray. tapi ngak sedikit orang yang mencoba mendekati mereka, tapi semuanya gagal. Bahkan ada yang mencoba hal nekat dan berakhir dapat pukulan dari Ray.”
“Tapi walaupun begitu, mereka masih ganteng kan.” Aliana menangkup wajahnya dan menatap kearah Ray, Jerry, dan Hansel dengan tatapan memuja.
“Ganteng tapi iblis buat apa, Aliana? Kayak ngak ada laki-laki lain saja di dunia ini.” sarkas Tery. Dia memutar matanya malas. Sudah bosan dia melihat tingkah laku temannya yang tergila-gila dengan ketiga laki-laki tampan tadi.
Sudut bibir Nara berkedut tapi dia dengan segera mengendalikan dirinya dan melanjutkan kegiatan makannya.
“Iblis ya?”